Sabtu, 29 April 2023

EKSISTENSI THEOS OLEH ARISTOTELES DENGAN GENGGONALANGI DI MASYARAKAT SANGIR TALAUD DAN SITARO DALAM DIMENSI FILSAFAT TEOLOGI

Oleh : Fredrik Dandel, ST, STh.

(Gembala GBI PETRA Talawid, Mahasiswa STT Magister Pastoral Konseling Bethel Indonesia dan Mahasiswa Magister Teologi STT RMK Bitung)

ABSTRAK

Konsep Theos menurut Aristoteles berangkat dari pemikirannya tentang gerak, dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya, maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan. Konsep Tuhan oleh Aristoteles tersebut mempunyai relevansi dengan konsep Tuhan dalam masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro, yang disebut sebagai Genggonalangi. Dalam korelasinya, Tuhan oleh Aristoteles dengan Genggonalangi maka ditemukan revelansi tentang eksistensi Tuhan meliputi beberapa hal diantaranya yaitu: 1) kesadaran akan adanya Tuhan, 2) Genggonalangi sebagai Zat yang tidak berwujud, 3) Genggonalangi sebagai Penguasa Tertinggi.


Kata kunci: Filsafat Aristoteles,Genggonalangi. 

PENDAHULUAN 

Pro dan kontra tentang filsafat dan teologi telah tergores dalam sejarah Kekristenan. Meskipun demikian, kita tidak dapat menyangkali bahwa peran penting filsafat dalam teologi demikianpun sebaliknya telah dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Refleksi terhadap relasi antara filsafat dan teologi dirasa sangat membantu umat Kristen dalam menajamkan dan mengembangkan teologinya. Ilmu filsafat dan teologi merupakan dua ilmu yang saling menguatkan dan menajamkan. Keduanya digunakan untuk saling membangun dalam tugasnya sebagai sarana pengenalan akan Allah serta sebagai kerangka dalam membangun wawasan dunia Kristen yang injili. Filsafat Teologi merupakan salah satu cabang dari filsafat yang membahas konsep-konsep dasar tentang filsafat (epistemologi, ontologi, aksiologi), hubungannya dengan teologi Kristen, dan manfaat praktisnya bagi cara berpikir dan cara hidup orang Kristen, juga menyoroti berbagai isu teologi kontemporer yang melibatkan penggunaan cara berpikir filsafat. Aristoteles merupakan seorang filsuf Yunani Kuno (384 SM - 322 SM) yang pemikirannya sangat mempengaruhi pemikiran barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Sumbangsih pemikiran Aristoteles terhadap teologi bermula ketika ia mencetuskan ide tentang gerak. Menurut Aristoteles semua benda bergerak menuju satu tujuan. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya, maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan. Eksistensi Sang Penggerak oleh Aristoteles dibuktikan melalui adanya pembuktian-pembuktian ilmiah. Sebagai sebuah pernyataan tentang Tuhan maka segala hal yang berkaitan dengan keberadaan-Nya harus bisa dibuktikan melalui pembuktian-pembuktian yang bersifat objektif sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan, bahwasannya segala pernyataan harus diikuti oleh pembuktian secara ilmiah. Dalam makalah ini penulis akan memfokuskan pada topik bahasan tentang eksistensi Tuhan oleh Aristoteles yang diistilahkan dengan Theos dan korelasinya dengan konsep I Genggonalangi dalam kehidupan masyarakat Sangir Talaud. Sehingga rumusan masalah yang dijadikan acuan dalam penulisan makalah ini adalah Bagaimana eksistensi Tuhan dalam pemikiran Aristoteles dalam kaitannya dengan pemikiran tentang I Genggonalangi pada masyarakat Sangir Talaud ?

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Tuhan Dalam Pandangan Filsuf Yunani Kuno Pemikiran tentang eksistensi Tuhan telah ada sebelum Aristotel. Thales yang hidup sekitar tahun 624-546 SM dipercayai merupakan orang pertama yang memikirkan tentang adanya Tuhan. Pertanyaan seriusnya tentang : Apakah sebenarnya bahan alam semesta ini ? awalnya memang bercorak rasionalisme, namun tidak dapat dipungkiri dalam pertanyaan ini iman atau kepercayaan tetap kelihatan memainkan peranannya. Menurut Thales alam ini penuh dengan dewa-dewa yang menggerakkan setiap yang bergerak entahkan itu makhluk hidup ataupun benda mati. Sesuatu argumen yang masih terlihat dipengaruhi oleh kepercayaan pada mitos.[1] Thales berpendirian bahwa substansi segala sesuatu adalah materi yakni “air‟ yang berarti pembuktian ontologis ini dibangun masih dibatasi oleh fisik (matters), dengan kata lain konstruksi ontologis yang dibutuhkan saat itu sebatas menjawab pertanyaan “what is the nature of the word stuff ?” atau “what is the basic principle of universe”. [2]

Pemikiran tentang Tuhan selanjutnya berasal dari Anaximander atau Anaximandros. Anaximandros (610-546 SM) adalah seorang filsuf dari Mazhab Miletos dan merupakan murid dari Thales.[3] Ia mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari benda pertama, tetapi benda pertama itu bukan air, bukan api, bukan tanah, dan bukan udara, melainkan berasal dari asal yang lebih dahulu dari padanya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa masalah penciptaan (kejadian) bagi dia adalah masalah perpindahan dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu rupa ke rupa lain, dan bukan masalah mengadakan atau menciptakan dari tiada. Jelaslah bahwa benda-pertama, di mana semua wujud akan kembali kepadanya. Dewa adalah sumber penggerak dan perkara-perkara yang bergerak. [4]

Filsuf berikutnya adalah Herakleitos. Herekleitos berasal dari Ephesos, sebuah kota perantauan di Asia Kecil.[5] Ia hidup di sekitar abad ke-5 SM (sekitar 540-480 SM).[6] Ia mengatakan tentang tidak butuhnya semua yang wujud kepada Zat yang mewujudkannya. Akan tetapi ia mengatakan tentang kebutuhannya terhadap keadilan Tuhan yang tidak bisa tidak harus ada bagi wujud-wujud tersebut. Berbicara tentang Tuhan, seperti halnya berbicara tentang Zat yang mengatur dan berkemauan, kata Herakleitos. Di antara kata-kata Herakleitos adalah sesungguhnya Tuhan tanpa diragukan lagi adalah kunci keadilan pada alam semesta keseluruhannya dan sesungguhnya perbuatan-perbuatan manusia kosong dari akal fikiran, tetapi perbuatan-perbuatan Tuhan tidak kosong daripadanya. Manusia tidak lain adalah seperti kanak-kanak dibanding dengan Allah. Manusia yang paling berakal adalah seperti hewan nas-nas dibanding dengan Tuhan. Jika ia dibandingkan dengan Tuhan, maka ia buruk-cacat, seperti buruk-cacatnya kera yang terbagus dibanding dengan manusia.[7]

Pemikiran filsafat selanjutnya tentang eksistensi Tuhan berasal dari Plato. Plato (427-347 SM) dilahirkan di Athena dalam kalangan bangsawan, merupakan seorang pengagum Sokrates sejak masa mudanya dan ia sangat dipengaruhi oleh Sokrates.[8]  Tuhan menurut Plato adalah sumber segala sesuatu dan tempat kembali segala sesuatu. Dia ada dengan sendirinya sebelum ada masa dan akan tetap ada sesudah masa, tidak ada hubungannya dengan masa dan tidak ada pengaruh masa bagi diriNya. Daripadanya terbit segala kebenaran yang kekal. Selanjutnya ia mengatakan alam ini mempunyai pembuat yang amat indah, pembuat itu bersifat azali, wajib ada Zatnya, pembuat itu mengetahui sekalian keadaan. Plato menyebutkan bahwa ada beberapa perkara yang tidak pantas bagi manusia tidak mengetahuinya, antara lain bahwa manusia itu mempunyai Tuhan yang membuatnya. Tuhan itu mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh sesuatu.[9]

Berdasarkan uraian sebagaimana dimaksud diatas, diketahui bahwa pemikiran tentang eksistensi Tuhan telah ada pada masa filsafat Yunani Kuno, yakni sejak filsuf pertama Thales. Artinya, pemikiran tentang Tuhan oleh para filsuf telah ada sebelum Aristoteles. Mereka mengakui adanya kekuatan di luar kekuatan yang dimiliki manusia, yang menggerakkan segala sesuatu yang bergerak, alam ini ada karena ada pembuatnya dan pembuat itu bersifat azali, wajib ada zatnya, dan pembuat itu mengetahui sekalian keadaan. Pembuat itu oleh Plato dinamakan Tuhan.

B.  Eksistensi Tuhan Dalam Pandangan Aristoteles

Aristoteles merupakan filsuf Yunani Kuno yang hidup pada tahun 384 - 322 SM, ia berasal dari Stageira di daerah Thrake, di Yunani Utara. Pada usia 17 tahun, Aristoteles dikirim ke Athena untuk belajar di Academia Plato. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan Plato selama kurang lebih 20 tahun lamanya hingga Plato meninggal. Aristoteles juga sempat mengajar logika dan retorika di Academia selama beberapa waktu.[10] Selama dua tahun ia menjadi guru pribadi Pangeran Alexander Agung, yang kemudian setelah Alexander Agung dilantik sebagai Raja, Aristoteles kembali ke Athena dan membuka Lykeilon (Latin : Lyceum). Meskipun Aristoteles selalu menjunjung tinggi Plato sebagai pemikir dan sastrawan,  namun dalam filsafatnya Aristoteles mempunyai pemikiran sendiri. Perkataan “Amicus Plato, magis amica veritas” (Plato memang sahabatku, tetapi kebenaran lebih akrab bagiku) secara harafiah tidak berasal dari Aristoteles, namun cukup baik mengalimatkan maksudnya. Terdapat pula perbedaan besar dalam sikap ilmiah kedua pemikir Yunani ini. Plato terutama mementingkan ilmu pasti, sedangkan perhatian Aristoteles secara khusus diarahkan kepada ilmu pengetahuan alam dengan sedapat mungkin menyelidiki dan mengumpulkan data-data konkrit. [11]

Sebagaimana dipaparkan sebelumnya bahwa Aristoteles bukanlah filsuf pertama yang memikirkan tentang eksistensi Tuhan, namun pemikirannya tentang Tuhan sangat mempengaruhi pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas di abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 – 1198). Maimoides, pemikir paling terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan yudaisme. Di luar daftar ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang terpengaruh demikian dalamnya oleh Aristoteles. Bahkan di jaman dulu dan jaman pertengahan, hasil karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis, Ibrani, Jerman dan Inggris. [12]

Selanjutnya penyelarasan pemikiran tentang Eksistensi Tuhan berdasarkan pandangan Aristoteles juga dilakukan oleh Endar Fajar Ramadhan, yang berkesimpulan bahwa : 1). Perspektif Aristoteles tentang Tuhan sefrekuensi dengan perspektif orang Jawa tentang Sang Suwung. Kesadaran logika tentang keberadaan Tuhan pada diri sendiri merupakan hal yang sama dalam perspektif masing-masing;  2). Aku berfikir, maka aku ada. Kalimat tersebut tergambar dalam sudut pandang Aristoteles tentang keberadaan tuhan. Hal ini sinkron dengan konsep Sang Suwung yang dapat mengenali Tuhan dengan cara memusatkan fikiran untuk meraih kesadaran murni; 3). Aristoteles sadar akan keberadaan Sang Penggerak yang menjadikan sebuah objek mempunyai tujuan. Hal ini sinkron dengan pepatah Jawa yang mengatakan tentang Sangkan Paraning dumadi. [13]

Lalu bagaimana sesungguhnya pemikiran Aristoteles tentang Theos atau Tuhan yang oleh banyak kalangan sangat mempengaruhi pemikiran mereka dan kemudian banyak yang melakukan penyelarasan tentangnya ?. Konsep Theos menurut Aristoteles berangkat dari pemikirannya tentang gerak, dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya, maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.[14] Pemikiran Aristoteles juga menjelaskan, Penggerak Yang Tidak Bergerak bukan dzat yang personal, melainkan impersonal. Waktu tidak menjadi masalah pokok, apakah Tuhan mengadakan dari ada atau tidak ada. Penggerak Pertama, dalam pengertian Aristoteles adalah zat yang immateri, abadi dan sempurna. Bagi Aristoteles, Tuhan berdiri sendiri dan abadi, sebab Dia adalah penyebab dari semua benda yang ada yang akan berproses menuju tujuan, namun bukan berarti efficient cause tetapi adalah final cause. Aristoteles menyebutnya dengan teori actus purus. Bahwa Tuhan tidak menggerakkan dan memindahkan semua benda, namun Tuhan memberikan tujuan final dan arah akhirnya. Karena alam berpotensi untuk merealisasikan dirinya sesuai dengan tujuannya.[15]

 

C.    Korelasi Eksistensi Tuhan oleh Aristoteles dengan Ghenggonalangi pada Masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro

Sebagaimana kebanyakan suku-suku primitive yang ada di Indonesia, masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro di Provinsi Sulawesi Utara di masa lampau diyakini menganut agama suku. Pendapat ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Labobar, bahwa sejak awal manusia ada di bumi, agama suku telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Agama suku yang juga disebut sebagai agama primitive telah menjadi agama-agama tradisional sejak awal yang hadir dalam sejarah hidup manusia dan diyakini oleh manusia diberbagai suku bangsa untuk menghubungkan dirinya pada apa yang diyakininya sebagai Tuhan.[16]

Meskipun usaha untuk membentuk suatu gambaran yang tepat tentang agama dari penduduk kepulauan Sangihe Talaud pada masa dahulu kala, akan dipersulit oleh kenyataan bahwa penduduk yang hidup di sana telah berabad-abad berhubungan dengan agama Kristen dan Islam, namun dengan melihat kembali sampai ke pertengahan abad ke-16, dapat dilihat satu pandangan hidup, yang dahulu umumnya dinyatakan dengan kata “animisme”; tapi yang lebih tepat lagi dinyatakan sebagai suatu campuran yang khas antara “kepercayaan mana”, penyembahan orang mati dan kepercayaan pada roh-roh dan dewa-dewa. [17]

Selain kepercayaan terhadap roh-roh halus, arwah orang mati, benda-benda sakti, kekuatan-kekuaran gaib, mereka juga mempunyai satu kepercayaan, bahwa ada suatu kekuatan yang lebih besar, yang berkuasa melebihi segala kuasa yang ada di bumi. Kuasa inilah yang disebut Ghenggona Langi Duata Saluruang, yang artinya “Dia yang di atas langit penguasa alam semesta”. Ghenggona Langi diyakini dan dipercayai sebagai sesuatu yang suci dan memberikan keselamatan bagi manusia. Mereka tidak sembarangan menyebut Ghenggona Langi. Itulah sebabnya mereka menyebut Ghenggona Langi dengan Mawu Ruata atau Mawu Duata. Sebutan Ghenggona Langi hanya dapat dijumpai dalam kata-kata permohonan doa, yang terungkap pada pelaksanaan ritual, termasuk ritual Tulude. Ghenggona Langi-lah yang disembah dan dipuji. Itulah sebabnya Ghenggona Langi sering dikatakan “I Ghenggona Langi Duata Saluruang Manireda Bihingang”, yang artinya “Dia yang di atas langit penguasa alam semesta melindungi kita semua”. [18]

Pemikiran tentang Eksistensi Tuhan oleh Aristoteles berkorelasi dengan pemikiran masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro tentang Tuhan yang disebut sebagai Genggonalangi. Keterkaitan tersebut secara lengkap akan diuraikan pada pokok bahasan dibawah ini :

1)         Kesadaran Akan Adanya Tuhan

Kesadaran akan adanya Tuhan merupakan kunci utama orang mengenal dan mengakui adanya Tuhan. Menurut Aristoteles, Tuhan ada ketika kita berfikir, karena Tuhan merupakan Aktus Murni. Tidak konkrit dan tidak berwujud materi.[19] Ketika Aristoteles berpikir tentang suatu Penggerak Sejati yang menggerakkan segala sesuatu, karena menurutnya suatu benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya, maka hal ini berpuncak kepada pengakuan tentang eksistensi Tuhan. Sebagai penganut agama suku sejak dahulu kala, masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro telah memiliki pemikiran dan kesadaran tentang adanya Penggerak Sejati sebagaimana yang dipikirkan oleh Aristoteles.

Menurut D. Brilman, sejak dahulu masyarakat Sangihe Talaud (dan Sitaro) mengakui adanya suatu “tenaga sakti penuh rahasia” yang berada dalam seluruh alam, dalam manusia dan binatang, dalam pepohonan dan tumbuhan, ya dalam segala sesuatu dan bisa mengerjakan baik kebahagiaan maupun pemusnahan. Segala sesuatu yang istimewa dan luar biasa dan tak dapat diterangkan, dianggap bersumber pada kuasa ini. Jika di dalam alam dan masyarakat tidak terjadi sesuatu yang luar biasa, kuasa itu tetap ada, tapi tak menampak. Tapi bagaikan arus listrik pada suatu saat tidak mengalirkan arus dan tidak berbahaya, tapi oleh suatu sebab kecil – umpamanya ditekannya suatu tombol – dapat mengakibatkan maut dan kemusnahan pada setiap orang yang terkena sentuhannya, demikian pula halnya menanti suatu hal kecil terjadi untuk menggerakkkan kuasa terpendam ini, sehingga udara dan awan-awanpun mengalami pegaruhnya dengan akibat : kekeringan dan kerusakan tanaman bahkan manusiapun dapat kehilangan nyawanya.[20]

Kesadaran masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro tentang adanya “tenaga sakti penuh rahasia” atau kuasa supranatural ini, membawa mereka kepada upaya untuk mengusahakan bagaimana supaya kuasa tersebut dapat melunak, dalam artian tidak menimbulkan kerugian yang teramat dalam bagi manusia. Mereka kemudian melakukan berbagai ritual, termasuk didalamnya terdapat berbagai pantangan atau larangan-larangan (periode tabu). Perbuatan seperti demikian, meskipun termasuk dalam kategori perbuatan mistis, namun arahnya sangat jelas kepada pemikiran yang tergolong kepada pengakuan tentang eksistensi Tuhan sebagai “tenaga sakti penuh rahasia” yang menggerakan segala sesuatu dalam alam semesta di luar kemampuan atau kuasa manusia.

 2)         Genggonalangi Sebagai Zat Yang Tidak Berwujud

Pemahaman Aristoteles tentang keberadaan Tuhan yang dimulai dari pemikiran tentang adanya Tuhan, tidak terpisahkan dengan suatu kenyataan bahwa sesungguhnya Aristoteles tidak pernah melihat fisik daripada Tuhan itu sendiri. Dengan perkataan lain ia merefleksikan Tuhan sebagai Aktus Murni, tidak konkrit dan tidak berwujud materi.  Penggerak Pertama, dalam pengertian Aristoteles adalah zat yang immateri, abadi dan sempurna. Demikianpun halnya dengan pemahaman atau kepercayaan masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro tentang eksistensi Tuhan yang disebutkan sebagai Genggonalangi.

Genggonalangi yang dipercayai oleh masyarakat Sangihe Talaud tidaklah berwujud seperti sebuah patung, batu, kayu, gunung atau apapun dalam bentuk yang kelihatan secara fisik lainnya. Genggonalangi merupakan penguasa dunia gaib atau dunia supranatural. Jammes J. Takaliuang, menjelaskan bahwa Orang SaTas (Sangir Talaud dan Sitaro) memiliki kepercayaan terhadap satu dunia yang berada di luar dan diatas dunia yang didiami sekarang yaitu dunia gaib (supranatural). Dalam dunia gaib ini ada dewa yang tertinggi dan satu-satunya dewa yang mendiami dunia gaib yaitu Ghenggonalangi. Dewa ini adalah mahakuasa, pencipta, dan berkuasa atas semua dewa yang ada. [21] Ghenggona Langi Duata Saluruang, yang artinya “Dia yang di atas langit penguasa alam semesta”.

Sebagai penguasa dunia supranatural Genggonalangi tidak berwujud secara fisik.  Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Amos Batasina Tulentang, salah seorang tokoh masyarakat Kampung Talawid yang mengatakan bahwa : “Genggonalangi bukanlah sosok yang kelihatan, Ia tidak berwujud, Genggonalangi adalah Roh yang tidak kelihatan, namun diyakini keberadaan-Nya”. [22]   

3)         Genggonalangi Sebagai Penguasa Tertinggi

Bertens, dalam bukunya Sejarah Filsafat Yunani yang ditulisnya, menjelaskan Allah sebagai penggerak pertama. Tapi ini adalah rujukan ia beliau ambil langsung dari karya Aristoteles dalam Metaphysica, buku XII. Dalam buku tersebut juga diakui sebagai gerak abadi yang terdapat di dunia. Bagi Aristoteles, gerak alam jagat raya tidak mempunyai awal ataupun akhir. Sebab, sesuatu yang bergerak, digerakkan oleh sesuatu yang lain. Tetapi ada satu penggerak yang menyebabkan segala sesuatu bergerak tapi ia sendiri tidak digerakkan. Maka, penggerak pertama bersifat abadi, dan begitu juga gerak yang disebabkan oleh penggerak tersebut. Penggerak ini rupanya terlepas dari materi, karena segalanya yang mempunyai materi, mempunyai juga potensi untuk bergerak. Allah sebagai penggereak pertama tidak mempunyai potensi apapun juga. Allah harus dianggap sebagai Aktus Murni, yakni ia yang mengada secara murni, tanpa potensialitas menjadi yang lain. [23] Pandangan Aristoteles tentang Tuhan sebagai penggerak pertama (prime mover) yang tak bergerak dan menggerakan penggerak lainnya yang membuat suatu benda atau materi bergerak, dapat diartikan bahwa Penggerak Pertama tersebut merupakan Penguasa Tertinggi, sebab setelah Dia tidak ada lagi yang lain.

Konsep ini, pada kenyataanya menimbulkan multi tafsir antara paham yang menyatakan bahwa Airosteteles menganut monoteisme sebagaimana yang dipercaya oleh Bertens, dan penulis-penulis lainnya, karena di akhir buku XII, Bertens menegaskan bahwa hanya ada satu penggerak yang tidak digerakkan. Meskipun Bertens juga mencatat bahwa dalam karya-karya yang lain Aristoteles menyebut juga allah-allah lain dalam bentuk jamak. Demikian juga dalam kritik yang disampaikan oleh Much Hasan Darojat terhadap pendapat Osman Bakar mengklaim di antara dari mereka (Socrates, Plato dan Aristoteles), memilik akidah tauhid dengan mengutip seorang tokoh ilmuan Muslim, al-Ghazali. Much Hasan Darojat membantah pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa penyebutan Aristoteles sebagai seorang monoteis adalah justifikasi yang kurang tepat, karena bertentangan dengan sistem kepercayaan dan keyakinan (teologi) masyarakat Yunani pada waktu itu. Sebagaimana diketahui, orang-orang Yunani kuno adalah polytheist. Mereka percaya adanya banyak tuhan; Zeus (tuhan ketua), Hera (istri tuhan Zeus), Poseidon (tuhan laut), Athena (tuhan perempuan yang memberi pengetahuan dan mengatur peperangan), Apollo (tuhan matahari), dan Demeter (tuhan perempuan yang memberikan kesuburan). [24]

Demikianpun konsep masyarakat Sangir Talaud dan Sitaro tentang eksistensi Genggonalangi sebagai Penguasa Tertinggi. Ghenggonalangi adalah dewa tertinggi yang dipercaya masyarakat suku Sangihe Talaud di masa lalu. Ia mahakuasa, maha pencipta, dan berkuasa atas semua dewa yang ada. Ghenggonalangi adalah duatangsaluluang (dewa alam semesta).[25] Hal ini dapat diartikan sebagai monoteisme ataupun politeisme. Pemahaman monoteisme tentang konteks Genggonalangi, karena memang masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro mengakui Genggonalangi sebagai Penguasa Tertinggi, yang kekuasaanNya tidak dapat dibandingkan dengan dewa-dewa lainnya. Sebagai Penguasa Tertinggi, tentunya dia hanya satu dan di atas Dia tidak ada lagi penguasa yang lain, sebab Ia telah sempurna.

Namun dari sudut pandang yang lain dapat juga berarti politeisme, sebab selain sebagai Penguasa Tertinggi, Genggonalangi dikatakan berkuasa atas semua dewa yang ada. Selain Ghenggonalangi sebagai mahadewa, terdapat pula dewa-dewa yang melingkupi kekuasannya masing-masing. Dewa-dewa tersebut menguasai lapangan-lapangan hidup, duatan langitta adalah dewa yang menguasai dan mengurusi segala hal yang ada di langit, duata mbinangunanna adalah dewa alam barzach dimana ia yang mengatur kehidupan setelah meninggal dunia, mawendo adalah dewa laut yang menjaga keseimbangan alam, aditinggi gunung api Siau yang juga menjaga keseimbangan alam di suku Talaud, ngakasuang adalah raja orang mati, dan dewa lainnya. [26]

Meskipun demikian, terlepas dari perbedaan pandangan antara monoteisme dan politeisme, pendapat Aristoteles tentang Penggerak Pertama yang dapat diartikan sebagai Penguasa Tertinggi, selaras dengan pemikiran masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro tentang Genggonalangi sebagai Penguasa Tertinggi.

D.        Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah diuraikan penulis sebagaimana tersebut diatas, maka dapat disimpulkan, hal-hal sebagai berikut :

  1. Kesadaran pemikiran masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro tentang adanya “tenaga sakti penuh rahasia” atau kuasa supranatural selaras dengan pemikiran Aristoteles tentang Penggerak Sejati. Semuanya bermula dari berpikir.
  2. Aktus Murni, yang direfleksikan oleh Aristoteles sebagai yang tidak konkrit dan tidak berwujud materi sinkron dengan pemahaman atau kepercayaan masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro tentang eksistensi Tuhan yang disebutkan sebagai Genggonalangi Sebagai penguasa dunia supranatural yang tidak berwujud secara fisik.
  3. Pendapat Aristoteles tentang Penggerak Pertama yang dapat diartikan sebagai Penguasa Tertinggi, selaras dengan pemikiran masyarakat Sangihe Talaud dan Sitaro tentang Genggonalangi sebagai Penguasa Tertinggi..

 

DAFTAR PUSTAKA

[1]  Waris (2014). Pengantar Filsafat. STAIN Po PRESS, Ponorogo – Indonesia. Hal. 17.
[2] Aprilinda Matondang Harahap (2019) “Metode Filosuf Yunani Menemukan Tuhan”. Jurnal Ushuludin, sumber : http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/ushuluddin/article/view/5711 . Diakses pada 25 April 2023.
[3]  https://id.wikipedia.org/wiki/Anaximandros, diakses 25 April 2023.
[4]     Waris (2014). Pengantar Filsafat. STAIN Po PRESS, Ponorogo – Indonesia. Hal. 18.
[5]     K. Bartens (1991). Ringkasan Sejarah Filsafat. Kanisius, Yogyakarta – Indonesia. Hal. 9.
[6]     https://id.wikipedia.org/wiki/Herakleitos diakses 25 April 2023.
[7]     Waris (2014). Pengantar Filsafat. STAIN Po PRESS, Ponorogo – Indonesia. Hal. 19.
[8]     K. Bartens (1991). Ringkasan Sejarah Filsafat. Kanisius, Yogyakarta – Indonesia. Hal. 12.
[9]     Waris (2014). Pengantar Filsafat. STAIN Po PRESS, Ponorogo – Indonesia. Hal. 19.
[10]    Muliadi (2020). Filsafat Umum. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bandung – Indonesia. Hal. 187
[11]    K. Bartens (1991). Ringkasan Sejarah Filsafat. Kanisius, Yogyakarta – Indonesia. Hal. 14.
[12]    Dini Anggraeni Saputri. Aristoteles; Biografi dan Pemikiran. Sumber : http://staffnew.uny.ac.id/upload/132051059/pendidikan/aristoteles_ed.pdf . Diakses pada 25 April 2023.
[13]    Endar Fajar Ramadhan. Eksistensi Theos oleh Aristoteles Dengan Sang Suwung di Masyarakat Jawa dalam Dimensi Filsafat Ilmu; Jurnal Dinamika Sosial Budaya, Vol . 24, No.1, Juni 2022.
[14]    Harianto GP (2023) “Filsafat Teologi”. Diktat. Sekolah Tinggi Teologi Rumah Murid Kristus, Bitung. Hal. 43.
[15]    Aprilinda Matondang Harahap (2019) “Metode Filosuf Yunani Menemukan Tuhan”. Jurnal Ushuludin, sumber : http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/ushuluddin/article/view/5711 . Diakses pada 25 April 2023.
[16]    Kresbinol Labobar (2022). Agama Suku Dalam Sejarah dan Fakta. Penerbit Lakeisha. Klaten – Jawa Tengah. hal. 22.
[17]    D. Brilman (1986). Wilayah-Wilayah Zending Kita, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud. Penerbit Badan Pekerja Sinode Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud. Manado. hal. 54.
[18]    Masronly Himan Makainas (1986). Perubahan Identitas Dalam Ritual Tulude. Tesis. Program Studi Magister Sosiologi Agama Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga. hal. 43.
[19]    Endar Fajar Ramadhan. Eksistensi Theos oleh Aristoteles Dengan Sang Suwung di Masyarakat Jawa dalam Dimensi Filsafat Ilmu; Jurnal Dinamika Sosial Budaya, Vol . 24, No.1, Juni 2022.
[20]    D. Brilman (1986). Wilayah-Wilayah Zending Kita, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud. Penerbit Badan Pekerja Sinode Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud. Manado. hal. 54.
[21]    Jammes J. Takaliuang. Kristologi Bahari. Jurnal Missio Ecclesiae, 8(1), April 2019, hal. 4
[22]    Wawancara lisan dengan Bapak Amos Batasina Tulentang pada tanggal 26 April 2023.
[23]     Wiliams Roja. (2017) "Memahami Penggerak Abadi menurut Aristoteles", Artikel Kompasiana yang diakses pada 25 April 2023 melalui : https://www.kompasiana.com/wiliamsroja/5a1970a763b2481d19044fa2/memahami-penggerak-abadi-menurut-aristoteles?page=all#section3
[24]    Much Hasan Darojat. Benarkah Aristoteles dan Konfusius Menganut Ajaran Tauhid ? Journal TSAQAFAH Volume 16, Number 2, November 2020.
[25]    https://www.dgraft.com/outline/traveldraft/2014/02/suku-sangihe-talaud/ diakses pada 25 April 2023.
[26]    https://www.dgraft.com/outline/traveldraft/2014/02/suku-sangihe-talaud/ diakses pada 25 April 2023.


Selasa, 21 Maret 2023

Buku Adat Istiadat Daerah Sulawesi Utara

Pertama kali saya menjumpai buku ini di Perpustakaan Daerah Maluku sekitar Tahun 1996. Saya ingat karena tahun tersebut, saya masih tercatat sebagai Mahasiswa Teknik Sipil pada Universitas Kristen Maluku (UKIM ) Ambon, dan seringkali ke Perpustakaan Daerah Maluku untuk membaca serta meminjam buku yang saya sukai. Untuk meminjam buku dan membawa pulang ke rumah tentunya harus memiliki Kartu Perpustakaan.

Kondisi bukunya agak Kumal, dan terkesan kurang diperdulikan, mungkin karena sedikit sekali orang yang tertarik membaca buku seperti ini. Pustakawan pun menaruhnya hanya pada rak buku yang paling belakang, diantara buku2 lainnya yang senasib, bukan pada deretan rak buku Budaya atau sejenisnya. Meskipun demikian harus diakui bahwa buku ini masih tercatat dalam indeks buku milik Perpusda Maluku, sehingga dapat diketahui masih ada, bahkan terdapat 2 buku. 

Yang membuat saya tertarik akan buku tersebut, adalah karena isinya yang juga membahas tentang Adat Istiadat Daerah Sangir Talaud, yang memang diakui sangat sedikit dieksplorasi dan dieksploitasi hingga menjadi sebuah buku bacaan maupun referensi bagi yang membutuhkannya. Salah satu adat yang masih membekas dalam ingatan saya, yang tertulis dalam buku ini adalah tentang tatacara adat "dumaleng u wera" yakni upacara adat peminangan atau biasa juga disebut "maso minta". Praktek mana, ketika masih kanak-kanak, saya menjadi saksi mata akan keberadaanya yang khas. Yang sekarang telah bergeser nilai keasliannya. 

Hampir setahun yang lalu, tepatnya pada 25 Juli 2022, saya akhirnya mendapatkan buku ini, setelah mensearchnya di Aplikasi Belanja on line Shopee. Kemudian meminta bantuan anak saya yang Sulung di Jakarta untuk memesannya dan mengirimkannya kepada saya. Maklum untuk memesan buku dari Shopee ke Siau, tidak segampang dari Lazada. Disamping masa itu belum ada agen untuk Shopee di Siau, Ongkirnya juga cukup mencolok. Tapi apa mau dikata, hanya di Shopee lah keberadaan buku ini dapat ditemukan, itupun stoknya sangat terbatas, hanya 1. 

Hmmmmmm..... Semoga buku ini dapat kembali naik cetak, sebab saya yakin masih diperlukan.

Kamis, 16 Maret 2023

”EKSEGESIS DAN MENYUSUN KHOTBAH EKSPOSITORI 1 RAJA-RAJA 11:1-13”

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh.

(Gembala Jemaat GBI PETRA Talawid / Mahasiswa Magister Teologi STT RMK Bitung). 

I. BACAAN FIRMAN ALLAH 

Bacaan Firman Allah yang dipilih adalah dalam keseluruhan Perikop Kitab 1 Raja-Raja 11:1-3 yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi Judul Salomo Jatuh Ke Dalam Penyembahan Berhala. Yang keseleruhannya berbunyi sebagai berikut : 

11:1 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, 11:2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. 11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. 11:4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. 11:5 Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, 11:6 dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. 11:7 Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. 11:8 Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. 11:9 Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, 11:10 dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. 11:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. 11:12 Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. 11:13 Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih." 

II. ESKEGESE 1 RAJA-RAJA 11:1-13 

Latar Belakang Kitab 

Kitab 1 Raja-Raja ini tergolong ke dalam Kitab Sejarah, bersama dengan Kitab 2 Raja-Raja yang melanjutkan sejarah dalam Kitab 1 Samuel dan 2 Samuel. Kitab-Kitab dalam PL yang tergolong dalam Kitab Sejarah adalah sebanyak 12 Kitab, yang dimulai dari Kitab Yosua s/d Kitab Ester. Lengkapnya adalah sebagai berikut : Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Esra, Nehemia, dan Ester. 

Menurut Alkitab Sabda (https://alkitab.sabda.org/article.php?id=11") 1 dan 2 Raja-Raja secara kronologis meliput empat abad sejarah tersebut -- sejak masa Raja Salomo (970 SM) hingga masa pembuangan di Babel (586 SM); 1 Raja-Raja sendiri meliput sekitar 120 tahun -- masa pemerintahan Salomo selama 40 tahun (970-930 SM), dan sekitar 80 tahun sejarah kerajaan yang terpecah (sekitar 930-852 SM). 1 dan 2 Raja-Raja bermula menjadi satu kitab dalam PL Ibrani; oleh karena itu masalah kepenulisan berkaitan dengan keduanya sebagai satu kitab. Peristiwa terakhir yang tercatat (2 Raj 25:27) ialah pembebasan Raja Yoyakhin dari penjara Babel (sekitar 560 SM). Oleh karena itu 1 dan 2 Raja-Raja secara lengkap mungkin tertulis dalam dasawarsa 560-550 SM. 

Sebagaimana kebanyakan kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama, maka Kitab 1 Raja-Raja inipun tidak diketahui siapa penulisnya. Tradisi Yahudi yang terpelihara dalam Talmud (Baba Bathra 15a) berpendapat bahwa kedua Kitab Raja-Raja (1 Raja-Raja dan 2 Raja-Raja) ditulis oleh Nabi Yeremia. Menurut Wiliam Sanford La Sor dalam buku Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 1 (2000, hal 509) hal ini dikarenakan Yeremia hidup sesaman dengan Yosia dan dengan sisa raja-raja hingga jatuhnya Yerusalem. Sedangkan hubungan ini menurut Andre E. Hill dan John H. Walton dalam Buku Survey Perjanjian Lama (2021, hal. 287) barangkali didasarkan pada kesamaan antara Yeremia 52 dan II Raja-Raja 24-235. Juga diperhatikan bahwa sejarah yang tercatat dalam Kitab Raja-Raja memberikan tempat yang menonjol pada kehidupan para nabi Perjanjian Lama dan kecermatan perkataan nubuat dalam kaitannya dengan Kerajaan Israel dan Yehuda. 

Konteks

Kitab 1 Raja-Raja yang merupakan Kitab Sejarah dipahami dalam konteks dan teksnya sebagai sebuah narasi / cerita. Tokoh utama yang dikisahkan dalam bacaan ini adalah tentang Salomo. Raja Salomo yang merupakan Raja ketiga yang memerintah Bangsa Israel setelah Saul bin Kish, dan ayahnya Daud bin Isai.  Salomo merupakan anak Raja Daud dari Iseri Uria yang bernama Batsyeba binti Eliam. Ibunya Batsyeba berselingkuh dengan Raja Daud, oleh karena Raja Daud yang saat itu berada di atas sotoh rumahnya melihat Batsyeba yang sedang mandi. Lalu karena keinginan hatinya untuk memiliki Batsyeba, Daud dengan liciknya menginginkan kematian Uria, seorang prajuritnya yang sangat setia kepadanya. Salomo merupakan anak kedua, anak yang pertama dari buah perzinahan Daud dan Betseba mati, sebagai hukuman Allah atas pelanggaran atau dosa yang diperbuat oleh Daud. Namun kemudian Allah mengampuni dosa Daud, setelah Daud menunjukkan pertobatannya yang sungguh atas kesalahan yang diperbuatnya melawan kehendak Tuhan. 

Salomo kemudian menjadi Raja Israel menggantikan Daud ayahnya, karena janji Daud kepada Batsyeba, meskipun sebenarnya ada anak yang lain dari Raja Daud yakni Adonia yang berhak setelah kakaknya Absalom yang telah mati karena pemberontakannya kepada Daud. Raja Salomo awalnya merupakan seorang Raja yang berkenaan kepada Tuhan oleh karena ia hidup menurut ketetatapan-ketetapan Daud ayahnya dan yang kemudian dianugerahkan oleh Allah, himat dan kebijakan yang melebihi setiap manusia baik yang hidup sebelum maupun sesudahnya, sebagaimana permohonan yang disampaikannya kepada Allah (1 Raja-Raja 3:9-13). Dimasa kejayaannya inilah, diperkirakan Salomo menulis Kitab Amsal (970 SM) dan kemudian Kitab Kidung Agung (+960 SM). 

Namun kemudian ia jatuh dalam suatu praktik hidup yang menjauh dari Tuhan, melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, yakni dengan mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon; mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amonm; mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem; dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon; bahkan bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, ia mendukung mereka mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. Hal ini jelas sangat menyakiti hati Tuhan, dan membuat Tuhan menunjukkan murka-Nya kepada Salomo.  

Meskipun Salomo dihukum oleh Allah, namun karena Allah mengingat janjiNya kepada Daud ayah Salomo, maka Allah tetap menunjukkan kasihNya kepada keturunan Daud, dengan tetap mengkokohkan takhta Israel dari Keturunan Daud. Dimasa-masa akhir hidupnya inilah, Salomo diperkirakan menulis ”Kitab Pengkhotbah” (+935 SM). 

Struktur 

Teks 1 Raja-Raja 11:1-13 menurut saya dibagi menjadi 4 (empat) bagian, yakni : 
  1. Salomo mencintai banyak sekali perempuan asing (perempuan yang tidak mengenal Allah Israel), yang kemudian menjadi isteri dan gundik-gundiknya (ay. 1-3). 
  2. Di masa tuanya, perempuan-perempuan asing tersebut mencondongkan hatinya sehingga ia jauh dari Allah (ay. 4-8). 
  3. Allah menghukum Salomo atas perbuatannya tersebut (ay. 9-11). 
  4. Allah tetap mengingat janjiNya kepada Daud, ayah Salomo (ay.12-13). 

Penjelasan Singkat Isi Teks 

Kisah dalam Kitab 1 Raja-Raja 11:1-13 diawali dengan kecenderungan hati Raja Salomo yang menginginkan atau mencintai banyak perempuan asing. Disamping isteri pertamanya yang merupakan anak dari Raja Firaun (Raja Bangsa Mesir), Salomo juga mencintai dan mempersunting perempuan-perempuan yang berasal dari Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het. Padahal tentang bangsa-bangsa ini Allah telah berfirman kepada Bangsa Israel supaya tidak bergaul dengan mereka karena sesungguhnya mereka hanya akan mencondongkan hati Bangsa Israel kepada allah-allah yang mereka sembah. (Lihat Kel. 34:11-16; Ul. 7:1-4; dan 2 Kor. 6:14; bandingkan dengan salah satu kisah, yakni Simson dalam Hakim-Hakim 14-16). Adapun jumlah keseluruhan dari isteri Salomo adalah tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; berarti jumlah total isteri dan gundiknya adalah sebanyak 1000 orang. Meskipun di jaman PL, tidak ada larangan secara eksplisit untuk berpoligami, namun sesungguhnya pada awal penciptaan, Allah secara implisit menjadikan monogami sebagai bentuk pernikahan yang ideal. (Kej. 2:24; Mat. 19:5; Mrk. 10:8; Ef. 5:31). Demikian juga dalam Ul. 17:14-20, Tuhan memberi peringatan bahaya poligami bagi raja-raja.

Apa yang difirmankan oleh Allah tentang larangan-Nya terhadap Bangsa Israel supaya tidak bergaul dengan bangsa asing serta bahaya poligami bagi raja-raja tersebut ternyata terbukti dalam bagian yang kedua, yakni dalam ayat 4-8. Salomo karena tidak mengindahkan perintah Tuhan, di masa tuanya kemudian terseret kepada perzinahan dengan Allah lain. Isteri-isteri yang dicintainya tersebut, mencondongkan hati Salomo kepada allah yang disembah isteri-isterinya tersebut, yakni Asytoret dewi orang Sidon, Milkom dewa kejijikan sembahan orang Amon, Kamos dewa kejijikan sembahan orang Moab, dan Molokh dewa kejijikan sembahan bani Amon. Salomo berbuat kejijikan dan menyakiti hati Tuhan. Allah tidak menghendaki umat-Nya berpaling dari padaNya. Ingat perintah Tuhan dalam 10 Hukum (Keluaran 20:3-5) yang harus ditaati oleh Bangsa Israel. Mengikuti dan mempersembahkan korban allah lain atau dengan kata lain penyembahan kepada berhala merupakan suatu bentuk perzinahan yang sama sekali tidak berkenaan di hati Tuhan. (Kel.34:15-16; Ul. 31:16; Hak. 2:17). 

Oleh karena pelanggaran besar yang diperbuat Raja Salomo sebagaimana dimaksud di atas, maka dalam bagian yang ketiga, yakni pada ayat 9-11, Allah menyatakan hukuman-Nya kepada Raja Salomo. Tuhan sekali-sekali tidak akan membiarkan orang yang bersalah dari hukuman (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Maz. 39:12; Ams. 11:21). Maka atas pelanggaran yang diperbuat oleh Salomo tersebut, Allah kemudian menghukum Salomo dengan mengoyakkan Kerajaan Israel itu menjadi dua bagian. (2 Samuel 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia). Hal ini terjadi pada masa pemerintahan anaknya Rehabem. Kerajaan Israel terbagi menjadi 2 (dua) yakni Kerajaan Utara yang disebut sebagai Kerajaan Israel yang beribukotakan Samaria, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Kesalahan yang dilakukan oleh Salomo sebagai seorang Raja Israel ternyata bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi berdampak pula kepada keturunannya dan kepada Bangsa Israel secara keseluruhan. Meskipun Salomo telah berlaku tidak setia kepada Tuhan, namun demikian Allah tetap setia terhadap janji yang telah diucapkan-Nya kepada Daud hamba yang dikasihi-Nya. (Lihat perjanjian Allah dengan Daud yang disebut Perjanjian Daud, dalam 2 Sam. 7:9-16). Sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak dapat menyangkal diri-Nya. (Ul.7:9; 2; Tim. 2:13). 

Dalam bagian yang keempat, yakni pada ayat yang ke 12 dan 13, Allah tidak mengoyakan semua kerajaan itu, ada satu suku yang diberikan kepada anak Salomo yang akan menguasai sebagian dari Kerajaan itu. Juga Salomo masih dibiarkan memerintah Bangsa Israel sampai pada akhir hayatnya. Janji tentang Keturunan Daud yang akan tetap kokoh memerintah tahkta Kerajaan Israel digenapi pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang disebut “Anak Daud”. Adapun Kerajaan yang tetap diberikan kepada keturunan Daud adalah Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Kerajaan ini hanya terdiri atas 2 (dua) suku yakni Suku Yehuda dan Suku Benyamin (Lih. 1 Raja-Raja 12:19-25), tepat seperti yang difirmankan Tuhan kepada Salomo. Kemudian sering terjadi peperangan antara Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan. Kerajaan Israel (Utara) berdiri sebagai sebuah negara merdeka selama kira-kira 200 tahun, hingga sekitar tahun 720 SM, saat ditaklukkan oleh Kekaisaran Asyur. Alkitab mengisahkan bahwa seluruh orang Israel dibuang, yang kemudian dikenal dengan "Sepuluh suku yang hilang". Sedangkan Kerajaan Yehuda (Selatan) bertahan hingga 586 SM, saat kerajaan tersebut diserbu oleh Kekaisaran Babilonia di bawah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal Nebukadnezar. Dalam penyerbuan tersebut banyak penduduk menjadi tawanan, termasuk diantaranya Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego serta penghancuran Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo.

III. CATATAN UNTUK KHOTBAH EKSPOSITORI 

Salah satu tema yang dapat diberikan untuk perikop dalam 1 Raja-Raja 11:1-13 ini misalnya : ”Teladan Seorang Pemimpin”. 

Pendahuluan : 

Salomo sebagai seorang pemimpin atau Raja Israel sangat termasyur oleh karena hikmatnya. Kemasyurannya bahkan terdengar sampai ke negeri yang jauh seperti Etiopia (+2.500 km - Lihat Ratu Negeri Syeba, dalam 1 Raja-Raja 10). Hal ini tentunya membawa keuntungan baik bagi dirinya, maupun bagi kesejahteraan Bangsa Israel secara keseluruhan. Banyak upeti dibawa oleh Raja-Raja dan kaum bangsawan untuk dipersembahkan kepada Raja dan Kerajaan Israel. Namun sayangnya, awal hubungannya yang baik dengan Tuhan, ternyata tidak mampu dipertahankan sampai akhir hayatnya. Salomo di masa tuanya, meninggalkan kesetiaannya kepada Tuhan dan jatuh ke dalam perzinahan dengan allah bangsa asing yang tidak mengenal Allah Israel. Karena kejatuhannya tersebut, Salomo, keturunannya, bahkan Bangsa Israel menerima penghukuman dari Tuhan, Allah Israel. Dari kehidupan seorang Raja Salomo inilah, kita dapat belajar tentang kebenaran Firman Allah yang diberi judul : ”Teladan Seorang Pemimpin”. 

Seorang Pemimpin (baik pemimpin dalam keluarga, jemaat, pekerjaan, maupun dalam pemerintahan) selalu menjadi panutan bagi umat (bawahan, jemaat, ataupun masyarakat) yang dipimpinnya. Kepemimpinan yang baik, tentunya berdampak baik pula bagi dirinya, keluarga dan umat atau bangsa yang dipimpinnya, demikian pula sebaliknya, kepemimpinan yang tidak baik akan berdampak tidak baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan juga orang yang berada di bawah pimpinannya. Oleh sebab itu, sebagai seorang pemimpin kita perlu menjadi teladan bagi umat dan kemudian melalui keteladan itu, umat dapat diberkati dan bukan menerima kutuk dari Tuhan. 

Beberapa prinsip rohani yang dapat kita pelajari dari bacaan Firman Allah dalam 1 Raja-Raja 11:1-13 ini, agar supaya seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi umatnya diantaranya adalah : 

1. Seorang Pemimpin Harus Mengetahui Kehendak Tuhan (Berhikmat). 

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani oleh umatnya, maka pertama sekali bahwa pemimpin tersebut harus mengetahui kehendak Tuhan (berhikmat – Amsal 1:5). Mengetahui kehendak Tuhan, berarti bahwa orang tersebut harus belajar memahami kebenaran Firman Allah (Alkitab), sebab dalam Alkitablah kita mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah.

Sebagai seorang raja yang sangat berhikmat, tentunya Raja Salomo sangat mengetahui bahkan sangat memahami apa yang menjadi kehendak Allah bagi dirinya dan juga bagi Bangsa Israel secara keseluruhan. Ketika Allah melarang seorang raja memiliki banyak isteri (Ul. 17:14-20), Raja Salomo mengetahui dan memahami itu. Ketika Bangsa Israel dilarang oleh Allah untuk menjalin hubungan dengan bangsa lain (ay. 2; Kel. 34:11-16; Ul. 7:1-4), Raja Salomo pun sangat mengetahui dan memahami itu. 

Sesungguhnya sebagai seorang raja yang sangat berhikmat, Salomo telah menjadi sosok yang sangat pantas untuk diteladani dan disegani. Hal ini sangat terbukti dengan hikmat yang luar biasa yang Tuhan anugerahkan kepadanya, Salomo cakap memutuskan banyak perkara, tentang hal ini yang paling terkenal dicontohkan dalam kisah tentang dua orang perempuan yang membawa persoalan tentang anak mereka yang masih hidup dan yang telah mati (1 Raja-Raja 3:16-28). Keputusan hukum yang diberikan oleh Salomo membuat orang Israel menjadi takut kepada Salomo, sebab mereka melihat hikmat dari Allah ada dalam hati Salomo untuk melakukan keadilan. Karena hikmatnya inipula, Salomo disegani bukan hanya oleh orang Israel, tetapi bahkan sampai kepada Raja-Raja negeri asing yang datang kepadanya untuk melihat secara langsung keagungan Raja Salomo. Bahkan ia menulis Kitab Amsal, Pengkotbah dan Kidung Agung yang mampu menjadi berkat yang luar biasa bagi Bangsa Israel dan kepada banyak orang sampai saat ini. 

2. Seorang Pemimpin Harus Hidup Sesuai Perintah Tuhan (Taat). 

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani oleh umatnya, maka selain pemimpin tersebut mengetahui kehendak Tuhan (berhikmat), maka iapun harus mau menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak atau perintah Tuhan tersebut, atau dengan kata lain pemimpin tersebut harus taat kepada kehendak Allah. Hal inipun ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam suatu perumpamaan tentang dua macam dasar (Mat. 7:24-27), bahwaorang yang bijaksana adalah orang yang mendengar firman Allah dan yang mau melakukannya. Tetapi orang yang mendengar firman Allah namun tidak melakukannya disamakan dengan seorang yang bodoh.

Sangat disayangkan, keagungan hikmat yang dimiliki oleh Raja Salomo tidak dibarengi dengan ketaatannya dalam melakukan kehendak / perintah Tuhan. Salomo sepertinya telah tergiur dengan keagungan yang dimilikinya. Harta, kedudukan, kebesaran, kekuasaan yang dia dapatkan oleh karena hikmatnya yang luar biasa tersebut, membuat Raja Salomo menjadi lupa diri. Ia mengabaikan perintah Tuhan. Dua hal yang paling mendasar dalam pelanggarannya ini kepada Allah adalah bahwa Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Ia bukan saja memiliki banyak Isteri dan selir (dicatat dalam  ayat 3, Salomo memiliki tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; berarti jumlah total isteri dan gundiknya adalah sebanyak 1000 orang); tetapi isteri-isteri dan gundik-gundiknya tersebut juga berasal dari bangsa lain yang tidak mengenal Allah Israel (ay. 1, Mesir, Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het).


Ketidaktaatan Salomo kepada perintah Allah ini, membuat Salomo di masa tuanya terseret kepada kejatuhan yang sangat dalam. Isteri-isteri dan gundik-gundiknya tersebut menyeret Raja Salomo kepada penyembahan terhadap allah mereka. Salomo mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. (ay.4); Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon. (ay.5); Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. (ay.7); Salomo juga melakukan bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka (ay. 9). 

3. Seorang Pemimpin Harus Siap Menerima Konsekuensi Dari Setiap Keputusan / Langkah Yang Dilakukannya. 

Seorang pemimpin yang mau menjadi teladan bagi umatnya, adalah seorang pemimpin yang siap menerima resiko. Apapun keputusan, kebijakan yang akan dia ambil dan lakukan, pasti akan mengandung resiko atau konsekuensi. Ketika seorang pemimpin benar dalam mengambil tindakan atau keputusan, maka resikonya pastilah baik. Tetapi apabila seorang pemimpin salah dalam mengambil keputusan, maka sudah barang tentu resikonya negatif. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik harus hati-hati dalam bertindak, sebab kesalahan yang dilakukan oleh seorang pemimpin tentunya akan sangat berdampak besar, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan bagi umat atau bangsa yang dia pimpin. 

Kesalahan yang dilakukan oleh Raja Salomo dengan melanggar firman Allah, berdampak kepada hukuman Allah kepadanya, dan juga keluarga dan bangsa Israel. Tuhan murka kepada Raja Salomo (ay. 9). Dan murka Allah itu diwujudkan dalam keputusan-Nya untuk mengoyakkan Kerajaan Israel. Tuhan sekali-sekali tidak akan membiarkan orang yang bersalah dari hukuman (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Maz. 39:12; Ams. 11:21). Maka atas pelanggaran yang diperbuat oleh Salomo tersebut, Allah kemudian menghukum Salomo dengan mengoyakkan Kerajaan Israel itu menjadi dua bagian. (2 Samuel 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia). Hal ini terjadi pada masa pemerintahan anaknya Rehabem. Kerajaan Israel terbagi menjadi 2 (dua) yakni Kerajaan Utara yang disebut sebagai Kerajaan Israel yang beribukotakan Samaria, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Sebelumnya dalam lanjutan kisah dalam 1 Raja-Raja 11:14-29, berbagai peristiwa pemberontakan terjadi di jaman Raja Salomo, diantaranya : Pemberontakan Hadad orang Edom, Rezon bin Elyada dari Damsyik, kemudian Yerobeam bin Nebat. Semua peristiwa ini merupakan hukuman atas pelanggaran yang dibuat oleh Salomo.

Kesalahan yang dilakukan oleh Salomo sebagai seorang Raja Israel ternyata bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi berdampak pula kepada keturunannya dan kepada Bangsa Israel secara keseluruhan. Itulah sebabnya Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menasihati mereka dengan tegas supaya mereka tetap berjaga-jaga, berdiri dengan teguh dalam iman, dan bersikap sebagai seorang laki-laki, dan tetap kuat. (I Kor. 16:13). Karena setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siapapun juga, akan berdampak kepada penghukuman. Roma 6:23 berkata : ”Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.

4. Seorang Pemimpin Harus Mau Memperbaiki Kesalahannya (Bertobat).

Sesuatu yang diharapkan oleh Tuhan dalam kejatuhan manusia adalah supaya manusia itu menyadari kesalahannya, memperbaiki kesalahannya tersebut dan kembali kepada Allah. (Yoel  22:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya). Hal itulah sesungguhnya yang diinginkan oleh Allah kepada Adam dan Hawa ketika mereka telah jatuh ke dalam dosa. Namun Adam dan Hawa malah memilih bersembunyi dari Allah, bahkan tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat oleh masing-masing mereka. Adam menyalahkan Hawa dan bahkan menyalahkan Tuhan yang menempatkan Hawa disampingnya, sedangkan Hawa menyalahkan Ular. (Kej. 3:12-13).


Suatu teladan yang baik dari seorang pemimpin ketika ia jatuh ke dalam dosa, dapat kita lihat dalam pribadi Raja Daud. Dikisahkan dalam Kitab 2 Samuel 11-12, bahwa ketika Raja Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba (Ibu Salomo), Raja Daud yang tatkala itu ditegur oleh Nabi Natan, menerima dan menyadari kesalahannya, serta menunjukkan pertobatannya yang sungguh atas kesalahan yang diperbuatnya melawan kehendak Tuhan. Sehingga meskipun Tuhan tetap menghukum Raja Daud, namun Raja Daud mendapatkan pengampunan dari Tuhan. (2 Sam. 12:1-17). Berbeda halnya dengan Raja Saul, ketika ia berdosa kepada Tuhan, dia sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seseorang yang mengakui dan menyadari kesalahannya  tersebut, malah ia terkesan membenarkan tindakannya dan menyalahkan menyalahkan Nabi Samuel yang terlambat datang sehingga ia sendiri mengambil langkah untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, karena ia takut melihat bangsa Israel telah berserak-serak, sedangkan orang Filistin telah berkumpul untuk menyerang Israel. (I Sam. 13:6-14); dalam kisah selanjutnya ketika Raja Saul diperintahkan menumpas orang Amalek dan segala yang ada padanya, Saul tidak mematuhi perintah Tuhan tersebut. Saul menyelamatkan Agag Raja Amalek, serta kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga. Ketika ia ditegur oleh Nabi Samuel ia malah menyalahkan orang Israel dengan alasan apa yang mereka ambil tersebut untuk dipersembahkan kepada Tuhan. (I Sam. 15:19-21).

Lalu bagaimana dengan kehidupan Salomo, apakah ia menyadari kesalahan yang diperbuatnya dan kembali kepada Allah ?. Tidak ada catatan Alkitab yang menjelaskan bahwa Raja Salomo diakhir hidupnya mendapat perkenaan dari Allah sebagaimana Daud ayahnya. Salomo mati setelah ia memerintah Israel selama 40 tahun, selama itu pula Raja Salomo melewati masa pemerintahan yang penuh dengan hal-hal yang bermakna, baik ketika Tuhan mengangkat dia maupun ketika ia jatuh kedalam dosa yang menjatuhkan seluruh Israel. Akhir hidup Raja Salomo tercatat dalam I Raja-Raja 11:43. Diceritakan bahwa dia mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya dan dikuburkan di Kota Daud. Alkitab Sabda memberi keterangan bahwa Farrar menceritakan tradisi yang berlaku di antara orang-orang Yahudi mengenai kematiannya. Diceritakan bahwa Salomo pergi ke Bait Allah untuk beribadah. Dia berdiri di sana asyik berdoa, tokoh yang jelas seperti dalam lukisan dengan rambutnya yang putih dan panjang tergerai di atas jubah kebesaran raja, dan mengenakan mahkota emas pemberian ibunya, Batsyeba. Sementara dia berdiri ditopang tongkatnya maka kematian menimpa dia, tetapi tongkat tetap menopang mayat yang masih berdiri itu. Para imam mengetahui bahwa raja sudah meninggal, tetapi takut untuk menyentuhnya, sebab di tangannya yang sudah mati terdapat cincin terkenal yang dengannya dia melakukan perbuatan-perbuatan sihir yang ajaib. Tetapi, seekor tikus keluar dari lobangnya dan mengerat kulit yang terdapat pada kaki tongkat itu hingga tergelincir dan raja agung itu jatuh ke lantai dan mahkotanya menggelinding dalam debu.

Meskipun Salomo tidak mendapat perkenaan Allah sebagaimana ayahnya Daud, namun karena keteladanan ayahnya Daud yang mau mengakui kesalahannya dan memperbaiki kelakuannya dengan setia mengikuti perintah Tuhan, maka Allah setia kepada janji yang Dia ucapkan kepada Daud, hamba yang dikasihi-Nya. (Lihat perjanjian Allah dengan Daud yang disebut Perjanjian Daud, dalam 2 Sam. 7:9-16).  Sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak dapat menyangkal diri-Nya. (Ul.7:9; 2 Tim. 2:13). Pada ayat yang ke 12 dan 13, Allah tidak mengoyakan semua kerajaan itu, ada satu suku yang diberikan kepada anak Salomo yang akan menguasai sebagian dari Kerajaan itu. Juga Salomo masih dibiarkan memerintah Bangsa Israel sampai pada akhir hayatnya.  Janji tentang Keturunan Daud yang akan tetap kokoh memerintah tahkta Kerajaan Israel digenapi pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang disebut “Anak Daud”.


DAFTAR PUSTAKA 

Alkitab Sabda yang diakses melalui https://alkitab.sabda.org

Andre E. Hill dan John H. Walton (2021). Survey Perjanjian Lama. Penerbit Gandum Mas.

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z (2002). Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF

Hasan Sutanto, D.Th (2007). Hermeneutik – Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Penerbit Literatur Saat. Malang

Lembaga Alkitab Indonesia (2002). Alkitab, Cetakan Kesepuluh. Penerbit Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Pustaka. Jakarta.

Susandi (2023). Bahasa Ibrani Untuk Mengajar dan  Berkhotbah. Diktat. Sekolah Tinggi Teologi Rumah Murid Kristus. Bitung.