Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.
Pendahuluan
Dalam sejarah gereja mula-mula, pertumbuhan iman sering kali berjalan seiring dengan tekanan dan penganiayaan. Ketika Injil diberitakan dengan berani, kekuatan dunia mencoba membungkamnya dengan kekerasan. Kisah Para Rasul 12 memperlihatkan salah satu titik gelap dalam sejarah pelayanan para rasul: kematian Yakobus dan penangkapan Petrus. Namun justru dari kegelapan inilah terang pengharapan bersinar, karena iman sejati tidak bisa dibungkam oleh ancaman manusia.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa menjadi pengikut Kristus bukan berarti lepas dari penderitaan. Bahkan, dua dari murid terdekat Yesus: Yakobus dan Petrus menjadi sasaran kekuasaan politik yang jahat. Namun, kita akan melihat bagaimana Allah tetap memegang kendali dan bagaimana gereja merespons dengan doa, bukan dengan kepanikan. Kematian Yakobus bukanlah akhir dari berita Injil, tetapi bagian dari karya Allah yang lebih besar.
Melalui teks ini, kita akan belajar tiga pelajaran penting: (1) Kekuasaan dunia bisa menindas tubuh, tetapi tidak bisa membungkam Injil; (2) Kematian orang benar ada dalam kendali Allah; (3) Doa adalah kekuatan terbesar gereja dalam menghadapi ancaman. Mari kita renungkan bagian ini secara mendalam.
I. Kekuasaan Dunia Bisa Menindas Tubuh, Tapi Tidak Bisa Membungkam Injil (Ay. 1–2)
“Waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.”
Herodes Agripa I adalah penguasa yang cerdik secara politik. Ia tahu bahwa untuk memenangkan hati orang Yahudi, ia harus memperlihatkan sikap anti-Kristen. Maka ia mulai menyerang jemaat, dan korbannya yang pertama adalah Rasul Yakobus. Pembunuhan Yakobus adalah bentuk penindasan terhadap gereja yang tidak hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga strategis secara politik. Namun tindakan ini justru menjadi bukti bahwa Injil tidak bisa dihentikan oleh kekuasaan dunia.
Yakobus, anak Zebedeus dan saudara Yohanes, adalah salah satu dari tiga murid terdekat Yesus. Ia menyaksikan kemuliaan Kristus di gunung transfigurasi dan berada di taman Getsemani bersama-Nya. Namun kini ia menjadi rasul pertama yang mati syahid. Dunia mungkin melihat ini sebagai kekalahan, tetapi bagi Allah, ini adalah pemenuhan nubuat Yesus: “Cawan-Ku akan kamu minum” (Markus 10:39). Yakobus telah menjalani panggilannya sampai akhir.
Kematian Yakobus tidak menyurutkan Injil. Justru sebaliknya, catatan sejarah menunjukkan bahwa semakin besar penindasan, semakin kuat pertumbuhan iman. Orang Kristen tidak hidup untuk mempertahankan nyawa, tetapi untuk menyelesaikan tugas dari Kristus. Inilah kekuatan Injil yang tidak bisa dibungkam oleh pedang, penjara, atau ancaman sekalipun (Roma 8:35–39).
II. Kematian Orang Benar Ada dalam Kendali Allah (Ay. 3–4)
“Ketika Herodes melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan dengan menangkap Petrus juga... Lalu ia menyuruh menaruh Petrus dalam penjara.”
Tindakan Herodes menunjukkan motif politik yang kejam. Setelah Yakobus, ia menangkap Petrus, pemimpin utama jemaat. Niatnya jelas: menghabisi kepemimpinan gereja. Ia menyuruh empat regu prajurit menjaga Petrus, sebuah pengamanan berlebihan untuk seorang pemberita Injil yang tidak bersenjata. Tetapi kita tahu bahwa Herodes hanya bisa bertindak sejauh yang Allah izinkan. Tuhan mengizinkan Yakobus mati, tetapi Dia akan menyelamatkan Petrus, karena rencana-Nya belum selesai bagi Petrus.
Pertanyaannya: Mengapa Yakobus mati, tapi Petrus diselamatkan? Ini bukan soal favoritisme Allah, tetapi soal kedaulatan rencana-Nya. Tuhan punya waktu-Nya bagi setiap orang. Yakobus sudah menyelesaikan panggilannya; Petrus belum. Kita tidak bisa mengukur kasih Allah berdasarkan panjang umur atau keselamatan fisik. Yang pasti, kematian orang benar di tangan Tuhan adalah hal yang berharga (Mazmur 116:15).
Kita juga belajar bahwa musuh Injil bisa merencanakan banyak hal jahat, tetapi Allah tetap memegang kendali akhir. Apa yang tampak sebagai kemenangan musuh, seringkali adalah pintu masuk bagi campur tangan Allah yang luar biasa. Kita tidak perlu takut akan keputusan politik atau kekuatan militer, sebab Tuhan tetap berdaulat di atas segalanya (Amsal 21:1).
III. Doa Adalah Kekuatan Terbesar Gereja (Ay. 5)
“Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.”
Respon gereja bukan dengan protes jalanan, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan doa yang tekun. Doa adalah bentuk iman aktif yang percaya bahwa Tuhan bisa bertindak di luar batas logika dan rencana manusia. Mereka tidak pasrah, tetapi juga tidak membalas. Mereka memilih jalan rohani: berseru kepada Tuhan.
Kata “dengan tekun” menunjukkan intensitas dan kesinambungan. Jemaat tidak sekadar berdoa satu kali, melainkan terus-menerus. Ini mencerminkan bahwa doa bukanlah pelengkap, tetapi senjata utama gereja. Mungkin saat itu mereka tidak tahu bagaimana Tuhan akan menyelamatkan Petrus, tetapi mereka tahu siapa yang harus mereka panggil: Allah yang hidup.
Hasil dari doa itu akan terlihat dalam ayat-ayat berikutnya (Kis. 12:6–11), saat Allah mengutus malaikat dan melepaskan Petrus secara supranatural. Ini mengingatkan kita bahwa tidak ada rantai yang terlalu kuat bagi Tuhan, dan tidak ada pintu besi yang tidak bisa Dia buka. Tetapi sebelum kelepasan itu terjadi, doa adalah jembatannya. Inilah kekuatan gereja sejati — gereja yang berdoa, bukan yang panik.
Penutup
Kematian Yakobus dan penahanan Petrus mengajarkan kita bahwa mengikut Kristus bisa sangat mahal. Tetapi dalam setiap tantangan, Allah tetap memegang kendali. Dunia bisa mengambil tubuh kita, tapi tidak bisa memadamkan Injil. Kita dipanggil bukan untuk takut, melainkan untuk setia sampai akhir dan percaya bahwa kuasa doa lebih besar daripada kuasa manusia.
“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena mereka lah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5:10)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar