Kamis, 16 Maret 2023

”EKSEGESIS DAN MENYUSUN KHOTBAH EKSPOSITORI 1 RAJA-RAJA 11:1-13”

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh.

(Gembala Jemaat GBI PETRA Talawid / Mahasiswa Magister Teologi STT RMK Bitung). 

I. BACAAN FIRMAN ALLAH 

Bacaan Firman Allah yang dipilih adalah dalam keseluruhan Perikop Kitab 1 Raja-Raja 11:1-3 yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi Judul Salomo Jatuh Ke Dalam Penyembahan Berhala. Yang keseleruhannya berbunyi sebagai berikut : 

11:1 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, 11:2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. 11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. 11:4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. 11:5 Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, 11:6 dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. 11:7 Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. 11:8 Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. 11:9 Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, 11:10 dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. 11:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. 11:12 Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. 11:13 Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih." 

II. ESKEGESE 1 RAJA-RAJA 11:1-13 

Latar Belakang Kitab 

Kitab 1 Raja-Raja ini tergolong ke dalam Kitab Sejarah, bersama dengan Kitab 2 Raja-Raja yang melanjutkan sejarah dalam Kitab 1 Samuel dan 2 Samuel. Kitab-Kitab dalam PL yang tergolong dalam Kitab Sejarah adalah sebanyak 12 Kitab, yang dimulai dari Kitab Yosua s/d Kitab Ester. Lengkapnya adalah sebagai berikut : Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Esra, Nehemia, dan Ester. 

Menurut Alkitab Sabda (https://alkitab.sabda.org/article.php?id=11") 1 dan 2 Raja-Raja secara kronologis meliput empat abad sejarah tersebut -- sejak masa Raja Salomo (970 SM) hingga masa pembuangan di Babel (586 SM); 1 Raja-Raja sendiri meliput sekitar 120 tahun -- masa pemerintahan Salomo selama 40 tahun (970-930 SM), dan sekitar 80 tahun sejarah kerajaan yang terpecah (sekitar 930-852 SM). 1 dan 2 Raja-Raja bermula menjadi satu kitab dalam PL Ibrani; oleh karena itu masalah kepenulisan berkaitan dengan keduanya sebagai satu kitab. Peristiwa terakhir yang tercatat (2 Raj 25:27) ialah pembebasan Raja Yoyakhin dari penjara Babel (sekitar 560 SM). Oleh karena itu 1 dan 2 Raja-Raja secara lengkap mungkin tertulis dalam dasawarsa 560-550 SM. 

Sebagaimana kebanyakan kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama, maka Kitab 1 Raja-Raja inipun tidak diketahui siapa penulisnya. Tradisi Yahudi yang terpelihara dalam Talmud (Baba Bathra 15a) berpendapat bahwa kedua Kitab Raja-Raja (1 Raja-Raja dan 2 Raja-Raja) ditulis oleh Nabi Yeremia. Menurut Wiliam Sanford La Sor dalam buku Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 1 (2000, hal 509) hal ini dikarenakan Yeremia hidup sesaman dengan Yosia dan dengan sisa raja-raja hingga jatuhnya Yerusalem. Sedangkan hubungan ini menurut Andre E. Hill dan John H. Walton dalam Buku Survey Perjanjian Lama (2021, hal. 287) barangkali didasarkan pada kesamaan antara Yeremia 52 dan II Raja-Raja 24-235. Juga diperhatikan bahwa sejarah yang tercatat dalam Kitab Raja-Raja memberikan tempat yang menonjol pada kehidupan para nabi Perjanjian Lama dan kecermatan perkataan nubuat dalam kaitannya dengan Kerajaan Israel dan Yehuda. 

Konteks

Kitab 1 Raja-Raja yang merupakan Kitab Sejarah dipahami dalam konteks dan teksnya sebagai sebuah narasi / cerita. Tokoh utama yang dikisahkan dalam bacaan ini adalah tentang Salomo. Raja Salomo yang merupakan Raja ketiga yang memerintah Bangsa Israel setelah Saul bin Kish, dan ayahnya Daud bin Isai.  Salomo merupakan anak Raja Daud dari Iseri Uria yang bernama Batsyeba binti Eliam. Ibunya Batsyeba berselingkuh dengan Raja Daud, oleh karena Raja Daud yang saat itu berada di atas sotoh rumahnya melihat Batsyeba yang sedang mandi. Lalu karena keinginan hatinya untuk memiliki Batsyeba, Daud dengan liciknya menginginkan kematian Uria, seorang prajuritnya yang sangat setia kepadanya. Salomo merupakan anak kedua, anak yang pertama dari buah perzinahan Daud dan Betseba mati, sebagai hukuman Allah atas pelanggaran atau dosa yang diperbuat oleh Daud. Namun kemudian Allah mengampuni dosa Daud, setelah Daud menunjukkan pertobatannya yang sungguh atas kesalahan yang diperbuatnya melawan kehendak Tuhan. 

Salomo kemudian menjadi Raja Israel menggantikan Daud ayahnya, karena janji Daud kepada Batsyeba, meskipun sebenarnya ada anak yang lain dari Raja Daud yakni Adonia yang berhak setelah kakaknya Absalom yang telah mati karena pemberontakannya kepada Daud. Raja Salomo awalnya merupakan seorang Raja yang berkenaan kepada Tuhan oleh karena ia hidup menurut ketetatapan-ketetapan Daud ayahnya dan yang kemudian dianugerahkan oleh Allah, himat dan kebijakan yang melebihi setiap manusia baik yang hidup sebelum maupun sesudahnya, sebagaimana permohonan yang disampaikannya kepada Allah (1 Raja-Raja 3:9-13). Dimasa kejayaannya inilah, diperkirakan Salomo menulis Kitab Amsal (970 SM) dan kemudian Kitab Kidung Agung (+960 SM). 

Namun kemudian ia jatuh dalam suatu praktik hidup yang menjauh dari Tuhan, melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, yakni dengan mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon; mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amonm; mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem; dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon; bahkan bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, ia mendukung mereka mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. Hal ini jelas sangat menyakiti hati Tuhan, dan membuat Tuhan menunjukkan murka-Nya kepada Salomo.  

Meskipun Salomo dihukum oleh Allah, namun karena Allah mengingat janjiNya kepada Daud ayah Salomo, maka Allah tetap menunjukkan kasihNya kepada keturunan Daud, dengan tetap mengkokohkan takhta Israel dari Keturunan Daud. Dimasa-masa akhir hidupnya inilah, Salomo diperkirakan menulis ”Kitab Pengkhotbah” (+935 SM). 

Struktur 

Teks 1 Raja-Raja 11:1-13 menurut saya dibagi menjadi 4 (empat) bagian, yakni : 
  1. Salomo mencintai banyak sekali perempuan asing (perempuan yang tidak mengenal Allah Israel), yang kemudian menjadi isteri dan gundik-gundiknya (ay. 1-3). 
  2. Di masa tuanya, perempuan-perempuan asing tersebut mencondongkan hatinya sehingga ia jauh dari Allah (ay. 4-8). 
  3. Allah menghukum Salomo atas perbuatannya tersebut (ay. 9-11). 
  4. Allah tetap mengingat janjiNya kepada Daud, ayah Salomo (ay.12-13). 

Penjelasan Singkat Isi Teks 

Kisah dalam Kitab 1 Raja-Raja 11:1-13 diawali dengan kecenderungan hati Raja Salomo yang menginginkan atau mencintai banyak perempuan asing. Disamping isteri pertamanya yang merupakan anak dari Raja Firaun (Raja Bangsa Mesir), Salomo juga mencintai dan mempersunting perempuan-perempuan yang berasal dari Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het. Padahal tentang bangsa-bangsa ini Allah telah berfirman kepada Bangsa Israel supaya tidak bergaul dengan mereka karena sesungguhnya mereka hanya akan mencondongkan hati Bangsa Israel kepada allah-allah yang mereka sembah. (Lihat Kel. 34:11-16; Ul. 7:1-4; dan 2 Kor. 6:14; bandingkan dengan salah satu kisah, yakni Simson dalam Hakim-Hakim 14-16). Adapun jumlah keseluruhan dari isteri Salomo adalah tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; berarti jumlah total isteri dan gundiknya adalah sebanyak 1000 orang. Meskipun di jaman PL, tidak ada larangan secara eksplisit untuk berpoligami, namun sesungguhnya pada awal penciptaan, Allah secara implisit menjadikan monogami sebagai bentuk pernikahan yang ideal. (Kej. 2:24; Mat. 19:5; Mrk. 10:8; Ef. 5:31). Demikian juga dalam Ul. 17:14-20, Tuhan memberi peringatan bahaya poligami bagi raja-raja.

Apa yang difirmankan oleh Allah tentang larangan-Nya terhadap Bangsa Israel supaya tidak bergaul dengan bangsa asing serta bahaya poligami bagi raja-raja tersebut ternyata terbukti dalam bagian yang kedua, yakni dalam ayat 4-8. Salomo karena tidak mengindahkan perintah Tuhan, di masa tuanya kemudian terseret kepada perzinahan dengan Allah lain. Isteri-isteri yang dicintainya tersebut, mencondongkan hati Salomo kepada allah yang disembah isteri-isterinya tersebut, yakni Asytoret dewi orang Sidon, Milkom dewa kejijikan sembahan orang Amon, Kamos dewa kejijikan sembahan orang Moab, dan Molokh dewa kejijikan sembahan bani Amon. Salomo berbuat kejijikan dan menyakiti hati Tuhan. Allah tidak menghendaki umat-Nya berpaling dari padaNya. Ingat perintah Tuhan dalam 10 Hukum (Keluaran 20:3-5) yang harus ditaati oleh Bangsa Israel. Mengikuti dan mempersembahkan korban allah lain atau dengan kata lain penyembahan kepada berhala merupakan suatu bentuk perzinahan yang sama sekali tidak berkenaan di hati Tuhan. (Kel.34:15-16; Ul. 31:16; Hak. 2:17). 

Oleh karena pelanggaran besar yang diperbuat Raja Salomo sebagaimana dimaksud di atas, maka dalam bagian yang ketiga, yakni pada ayat 9-11, Allah menyatakan hukuman-Nya kepada Raja Salomo. Tuhan sekali-sekali tidak akan membiarkan orang yang bersalah dari hukuman (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Maz. 39:12; Ams. 11:21). Maka atas pelanggaran yang diperbuat oleh Salomo tersebut, Allah kemudian menghukum Salomo dengan mengoyakkan Kerajaan Israel itu menjadi dua bagian. (2 Samuel 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia). Hal ini terjadi pada masa pemerintahan anaknya Rehabem. Kerajaan Israel terbagi menjadi 2 (dua) yakni Kerajaan Utara yang disebut sebagai Kerajaan Israel yang beribukotakan Samaria, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Kesalahan yang dilakukan oleh Salomo sebagai seorang Raja Israel ternyata bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi berdampak pula kepada keturunannya dan kepada Bangsa Israel secara keseluruhan. Meskipun Salomo telah berlaku tidak setia kepada Tuhan, namun demikian Allah tetap setia terhadap janji yang telah diucapkan-Nya kepada Daud hamba yang dikasihi-Nya. (Lihat perjanjian Allah dengan Daud yang disebut Perjanjian Daud, dalam 2 Sam. 7:9-16). Sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak dapat menyangkal diri-Nya. (Ul.7:9; 2; Tim. 2:13). 

Dalam bagian yang keempat, yakni pada ayat yang ke 12 dan 13, Allah tidak mengoyakan semua kerajaan itu, ada satu suku yang diberikan kepada anak Salomo yang akan menguasai sebagian dari Kerajaan itu. Juga Salomo masih dibiarkan memerintah Bangsa Israel sampai pada akhir hayatnya. Janji tentang Keturunan Daud yang akan tetap kokoh memerintah tahkta Kerajaan Israel digenapi pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang disebut “Anak Daud”. Adapun Kerajaan yang tetap diberikan kepada keturunan Daud adalah Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Kerajaan ini hanya terdiri atas 2 (dua) suku yakni Suku Yehuda dan Suku Benyamin (Lih. 1 Raja-Raja 12:19-25), tepat seperti yang difirmankan Tuhan kepada Salomo. Kemudian sering terjadi peperangan antara Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan. Kerajaan Israel (Utara) berdiri sebagai sebuah negara merdeka selama kira-kira 200 tahun, hingga sekitar tahun 720 SM, saat ditaklukkan oleh Kekaisaran Asyur. Alkitab mengisahkan bahwa seluruh orang Israel dibuang, yang kemudian dikenal dengan "Sepuluh suku yang hilang". Sedangkan Kerajaan Yehuda (Selatan) bertahan hingga 586 SM, saat kerajaan tersebut diserbu oleh Kekaisaran Babilonia di bawah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal Nebukadnezar. Dalam penyerbuan tersebut banyak penduduk menjadi tawanan, termasuk diantaranya Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego serta penghancuran Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo.

III. CATATAN UNTUK KHOTBAH EKSPOSITORI 

Salah satu tema yang dapat diberikan untuk perikop dalam 1 Raja-Raja 11:1-13 ini misalnya : ”Teladan Seorang Pemimpin”. 

Pendahuluan : 

Salomo sebagai seorang pemimpin atau Raja Israel sangat termasyur oleh karena hikmatnya. Kemasyurannya bahkan terdengar sampai ke negeri yang jauh seperti Etiopia (+2.500 km - Lihat Ratu Negeri Syeba, dalam 1 Raja-Raja 10). Hal ini tentunya membawa keuntungan baik bagi dirinya, maupun bagi kesejahteraan Bangsa Israel secara keseluruhan. Banyak upeti dibawa oleh Raja-Raja dan kaum bangsawan untuk dipersembahkan kepada Raja dan Kerajaan Israel. Namun sayangnya, awal hubungannya yang baik dengan Tuhan, ternyata tidak mampu dipertahankan sampai akhir hayatnya. Salomo di masa tuanya, meninggalkan kesetiaannya kepada Tuhan dan jatuh ke dalam perzinahan dengan allah bangsa asing yang tidak mengenal Allah Israel. Karena kejatuhannya tersebut, Salomo, keturunannya, bahkan Bangsa Israel menerima penghukuman dari Tuhan, Allah Israel. Dari kehidupan seorang Raja Salomo inilah, kita dapat belajar tentang kebenaran Firman Allah yang diberi judul : ”Teladan Seorang Pemimpin”. 

Seorang Pemimpin (baik pemimpin dalam keluarga, jemaat, pekerjaan, maupun dalam pemerintahan) selalu menjadi panutan bagi umat (bawahan, jemaat, ataupun masyarakat) yang dipimpinnya. Kepemimpinan yang baik, tentunya berdampak baik pula bagi dirinya, keluarga dan umat atau bangsa yang dipimpinnya, demikian pula sebaliknya, kepemimpinan yang tidak baik akan berdampak tidak baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan juga orang yang berada di bawah pimpinannya. Oleh sebab itu, sebagai seorang pemimpin kita perlu menjadi teladan bagi umat dan kemudian melalui keteladan itu, umat dapat diberkati dan bukan menerima kutuk dari Tuhan. 

Beberapa prinsip rohani yang dapat kita pelajari dari bacaan Firman Allah dalam 1 Raja-Raja 11:1-13 ini, agar supaya seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi umatnya diantaranya adalah : 

1. Seorang Pemimpin Harus Mengetahui Kehendak Tuhan (Berhikmat). 

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani oleh umatnya, maka pertama sekali bahwa pemimpin tersebut harus mengetahui kehendak Tuhan (berhikmat – Amsal 1:5). Mengetahui kehendak Tuhan, berarti bahwa orang tersebut harus belajar memahami kebenaran Firman Allah (Alkitab), sebab dalam Alkitablah kita mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah.

Sebagai seorang raja yang sangat berhikmat, tentunya Raja Salomo sangat mengetahui bahkan sangat memahami apa yang menjadi kehendak Allah bagi dirinya dan juga bagi Bangsa Israel secara keseluruhan. Ketika Allah melarang seorang raja memiliki banyak isteri (Ul. 17:14-20), Raja Salomo mengetahui dan memahami itu. Ketika Bangsa Israel dilarang oleh Allah untuk menjalin hubungan dengan bangsa lain (ay. 2; Kel. 34:11-16; Ul. 7:1-4), Raja Salomo pun sangat mengetahui dan memahami itu. 

Sesungguhnya sebagai seorang raja yang sangat berhikmat, Salomo telah menjadi sosok yang sangat pantas untuk diteladani dan disegani. Hal ini sangat terbukti dengan hikmat yang luar biasa yang Tuhan anugerahkan kepadanya, Salomo cakap memutuskan banyak perkara, tentang hal ini yang paling terkenal dicontohkan dalam kisah tentang dua orang perempuan yang membawa persoalan tentang anak mereka yang masih hidup dan yang telah mati (1 Raja-Raja 3:16-28). Keputusan hukum yang diberikan oleh Salomo membuat orang Israel menjadi takut kepada Salomo, sebab mereka melihat hikmat dari Allah ada dalam hati Salomo untuk melakukan keadilan. Karena hikmatnya inipula, Salomo disegani bukan hanya oleh orang Israel, tetapi bahkan sampai kepada Raja-Raja negeri asing yang datang kepadanya untuk melihat secara langsung keagungan Raja Salomo. Bahkan ia menulis Kitab Amsal, Pengkotbah dan Kidung Agung yang mampu menjadi berkat yang luar biasa bagi Bangsa Israel dan kepada banyak orang sampai saat ini. 

2. Seorang Pemimpin Harus Hidup Sesuai Perintah Tuhan (Taat). 

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani oleh umatnya, maka selain pemimpin tersebut mengetahui kehendak Tuhan (berhikmat), maka iapun harus mau menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak atau perintah Tuhan tersebut, atau dengan kata lain pemimpin tersebut harus taat kepada kehendak Allah. Hal inipun ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam suatu perumpamaan tentang dua macam dasar (Mat. 7:24-27), bahwaorang yang bijaksana adalah orang yang mendengar firman Allah dan yang mau melakukannya. Tetapi orang yang mendengar firman Allah namun tidak melakukannya disamakan dengan seorang yang bodoh.

Sangat disayangkan, keagungan hikmat yang dimiliki oleh Raja Salomo tidak dibarengi dengan ketaatannya dalam melakukan kehendak / perintah Tuhan. Salomo sepertinya telah tergiur dengan keagungan yang dimilikinya. Harta, kedudukan, kebesaran, kekuasaan yang dia dapatkan oleh karena hikmatnya yang luar biasa tersebut, membuat Raja Salomo menjadi lupa diri. Ia mengabaikan perintah Tuhan. Dua hal yang paling mendasar dalam pelanggarannya ini kepada Allah adalah bahwa Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Ia bukan saja memiliki banyak Isteri dan selir (dicatat dalam  ayat 3, Salomo memiliki tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; berarti jumlah total isteri dan gundiknya adalah sebanyak 1000 orang); tetapi isteri-isteri dan gundik-gundiknya tersebut juga berasal dari bangsa lain yang tidak mengenal Allah Israel (ay. 1, Mesir, Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het).


Ketidaktaatan Salomo kepada perintah Allah ini, membuat Salomo di masa tuanya terseret kepada kejatuhan yang sangat dalam. Isteri-isteri dan gundik-gundiknya tersebut menyeret Raja Salomo kepada penyembahan terhadap allah mereka. Salomo mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. (ay.4); Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon. (ay.5); Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. (ay.7); Salomo juga melakukan bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka (ay. 9). 

3. Seorang Pemimpin Harus Siap Menerima Konsekuensi Dari Setiap Keputusan / Langkah Yang Dilakukannya. 

Seorang pemimpin yang mau menjadi teladan bagi umatnya, adalah seorang pemimpin yang siap menerima resiko. Apapun keputusan, kebijakan yang akan dia ambil dan lakukan, pasti akan mengandung resiko atau konsekuensi. Ketika seorang pemimpin benar dalam mengambil tindakan atau keputusan, maka resikonya pastilah baik. Tetapi apabila seorang pemimpin salah dalam mengambil keputusan, maka sudah barang tentu resikonya negatif. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik harus hati-hati dalam bertindak, sebab kesalahan yang dilakukan oleh seorang pemimpin tentunya akan sangat berdampak besar, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan bagi umat atau bangsa yang dia pimpin. 

Kesalahan yang dilakukan oleh Raja Salomo dengan melanggar firman Allah, berdampak kepada hukuman Allah kepadanya, dan juga keluarga dan bangsa Israel. Tuhan murka kepada Raja Salomo (ay. 9). Dan murka Allah itu diwujudkan dalam keputusan-Nya untuk mengoyakkan Kerajaan Israel. Tuhan sekali-sekali tidak akan membiarkan orang yang bersalah dari hukuman (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Maz. 39:12; Ams. 11:21). Maka atas pelanggaran yang diperbuat oleh Salomo tersebut, Allah kemudian menghukum Salomo dengan mengoyakkan Kerajaan Israel itu menjadi dua bagian. (2 Samuel 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia). Hal ini terjadi pada masa pemerintahan anaknya Rehabem. Kerajaan Israel terbagi menjadi 2 (dua) yakni Kerajaan Utara yang disebut sebagai Kerajaan Israel yang beribukotakan Samaria, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Sebelumnya dalam lanjutan kisah dalam 1 Raja-Raja 11:14-29, berbagai peristiwa pemberontakan terjadi di jaman Raja Salomo, diantaranya : Pemberontakan Hadad orang Edom, Rezon bin Elyada dari Damsyik, kemudian Yerobeam bin Nebat. Semua peristiwa ini merupakan hukuman atas pelanggaran yang dibuat oleh Salomo.

Kesalahan yang dilakukan oleh Salomo sebagai seorang Raja Israel ternyata bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi berdampak pula kepada keturunannya dan kepada Bangsa Israel secara keseluruhan. Itulah sebabnya Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menasihati mereka dengan tegas supaya mereka tetap berjaga-jaga, berdiri dengan teguh dalam iman, dan bersikap sebagai seorang laki-laki, dan tetap kuat. (I Kor. 16:13). Karena setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siapapun juga, akan berdampak kepada penghukuman. Roma 6:23 berkata : ”Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.

4. Seorang Pemimpin Harus Mau Memperbaiki Kesalahannya (Bertobat).

Sesuatu yang diharapkan oleh Tuhan dalam kejatuhan manusia adalah supaya manusia itu menyadari kesalahannya, memperbaiki kesalahannya tersebut dan kembali kepada Allah. (Yoel  22:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya). Hal itulah sesungguhnya yang diinginkan oleh Allah kepada Adam dan Hawa ketika mereka telah jatuh ke dalam dosa. Namun Adam dan Hawa malah memilih bersembunyi dari Allah, bahkan tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat oleh masing-masing mereka. Adam menyalahkan Hawa dan bahkan menyalahkan Tuhan yang menempatkan Hawa disampingnya, sedangkan Hawa menyalahkan Ular. (Kej. 3:12-13).


Suatu teladan yang baik dari seorang pemimpin ketika ia jatuh ke dalam dosa, dapat kita lihat dalam pribadi Raja Daud. Dikisahkan dalam Kitab 2 Samuel 11-12, bahwa ketika Raja Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba (Ibu Salomo), Raja Daud yang tatkala itu ditegur oleh Nabi Natan, menerima dan menyadari kesalahannya, serta menunjukkan pertobatannya yang sungguh atas kesalahan yang diperbuatnya melawan kehendak Tuhan. Sehingga meskipun Tuhan tetap menghukum Raja Daud, namun Raja Daud mendapatkan pengampunan dari Tuhan. (2 Sam. 12:1-17). Berbeda halnya dengan Raja Saul, ketika ia berdosa kepada Tuhan, dia sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seseorang yang mengakui dan menyadari kesalahannya  tersebut, malah ia terkesan membenarkan tindakannya dan menyalahkan menyalahkan Nabi Samuel yang terlambat datang sehingga ia sendiri mengambil langkah untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, karena ia takut melihat bangsa Israel telah berserak-serak, sedangkan orang Filistin telah berkumpul untuk menyerang Israel. (I Sam. 13:6-14); dalam kisah selanjutnya ketika Raja Saul diperintahkan menumpas orang Amalek dan segala yang ada padanya, Saul tidak mematuhi perintah Tuhan tersebut. Saul menyelamatkan Agag Raja Amalek, serta kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga. Ketika ia ditegur oleh Nabi Samuel ia malah menyalahkan orang Israel dengan alasan apa yang mereka ambil tersebut untuk dipersembahkan kepada Tuhan. (I Sam. 15:19-21).

Lalu bagaimana dengan kehidupan Salomo, apakah ia menyadari kesalahan yang diperbuatnya dan kembali kepada Allah ?. Tidak ada catatan Alkitab yang menjelaskan bahwa Raja Salomo diakhir hidupnya mendapat perkenaan dari Allah sebagaimana Daud ayahnya. Salomo mati setelah ia memerintah Israel selama 40 tahun, selama itu pula Raja Salomo melewati masa pemerintahan yang penuh dengan hal-hal yang bermakna, baik ketika Tuhan mengangkat dia maupun ketika ia jatuh kedalam dosa yang menjatuhkan seluruh Israel. Akhir hidup Raja Salomo tercatat dalam I Raja-Raja 11:43. Diceritakan bahwa dia mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya dan dikuburkan di Kota Daud. Alkitab Sabda memberi keterangan bahwa Farrar menceritakan tradisi yang berlaku di antara orang-orang Yahudi mengenai kematiannya. Diceritakan bahwa Salomo pergi ke Bait Allah untuk beribadah. Dia berdiri di sana asyik berdoa, tokoh yang jelas seperti dalam lukisan dengan rambutnya yang putih dan panjang tergerai di atas jubah kebesaran raja, dan mengenakan mahkota emas pemberian ibunya, Batsyeba. Sementara dia berdiri ditopang tongkatnya maka kematian menimpa dia, tetapi tongkat tetap menopang mayat yang masih berdiri itu. Para imam mengetahui bahwa raja sudah meninggal, tetapi takut untuk menyentuhnya, sebab di tangannya yang sudah mati terdapat cincin terkenal yang dengannya dia melakukan perbuatan-perbuatan sihir yang ajaib. Tetapi, seekor tikus keluar dari lobangnya dan mengerat kulit yang terdapat pada kaki tongkat itu hingga tergelincir dan raja agung itu jatuh ke lantai dan mahkotanya menggelinding dalam debu.

Meskipun Salomo tidak mendapat perkenaan Allah sebagaimana ayahnya Daud, namun karena keteladanan ayahnya Daud yang mau mengakui kesalahannya dan memperbaiki kelakuannya dengan setia mengikuti perintah Tuhan, maka Allah setia kepada janji yang Dia ucapkan kepada Daud, hamba yang dikasihi-Nya. (Lihat perjanjian Allah dengan Daud yang disebut Perjanjian Daud, dalam 2 Sam. 7:9-16).  Sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak dapat menyangkal diri-Nya. (Ul.7:9; 2 Tim. 2:13). Pada ayat yang ke 12 dan 13, Allah tidak mengoyakan semua kerajaan itu, ada satu suku yang diberikan kepada anak Salomo yang akan menguasai sebagian dari Kerajaan itu. Juga Salomo masih dibiarkan memerintah Bangsa Israel sampai pada akhir hayatnya.  Janji tentang Keturunan Daud yang akan tetap kokoh memerintah tahkta Kerajaan Israel digenapi pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang disebut “Anak Daud”.


DAFTAR PUSTAKA 

Alkitab Sabda yang diakses melalui https://alkitab.sabda.org

Andre E. Hill dan John H. Walton (2021). Survey Perjanjian Lama. Penerbit Gandum Mas.

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z (2002). Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF

Hasan Sutanto, D.Th (2007). Hermeneutik – Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Penerbit Literatur Saat. Malang

Lembaga Alkitab Indonesia (2002). Alkitab, Cetakan Kesepuluh. Penerbit Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Pustaka. Jakarta.

Susandi (2023). Bahasa Ibrani Untuk Mengajar dan  Berkhotbah. Diktat. Sekolah Tinggi Teologi Rumah Murid Kristus. Bitung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar