Tampilkan postingan dengan label OBJEK WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OBJEK WISATA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2019

PANTAI BAHU - TALAWID, KEC. SIAU BARAT SELATAN

Oleh : Fredrik Dandel, ST.
(Ditulis kembali dari postingan 04-03-2018 di Group FB Kec. Siau Barat Selatan)

Pantai Bahu Kampung Talawid Kec. Siau Barat Selatan merupakan salah satu tempat tujuan wisata di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Provinsi Sulawesi Utara.
Pantai dengan hamparan pasir putih yang membentang sepanjang kurang lebih 200 meter ini pada setiap hari libur tidak pernah sepi dari pengunjung.

Salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi selain beach milik Ibu Dorkas Bogar adalah beach milik Bpk. Benjamin Kanarang, SH (salah seorang anggota DPRD Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro) yang telah mengelola beach ini selama kurang lebih 7 tahun.

Berbagai fasilitas pendukung yang ada diantaranya adalah tenda untuk acara ibadah pantai, kursi, Keyboard lengkap dengan sound sistem dan pemain musik, kamar mandi/wc, maupun banana boat dll, dapat disewakan di tempat ini. Sudah tentu dengan harga yang dapat dijangkau oleh wisatawan yang kebanyakan adalah wisatawan domestik, masyarakat yang berada di Pulau Siau.

Seiring dengan perkembangan akses informasi tentunya, tidaklah menutup kemungkinan, Wisata Pantai Bahu ini akan menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara berkunjung di negeri 47 Pulau ini, mengingat jarak dari Pulau Mahoro terbilang dekat, hal ini telah mulai dirasakan, beberapa wisatawan mancanegara terlihat acapkali menyambangi tempat ini.

Yang tertarik untuk menikmati keindahan Pantai Bahu, silahkan menghubungi pengelola.

PANTAI TALAWID / MAHUNENI, KEC. SIAU BARAT SELATAN

Oleh : Fredrik Dandel, ST.
(Ditulis kembali dari postingan 25-03-2018 di Group FB Kec. Siau Barat Selatan)

Pesisir pantai yang sekarang ini, dahulunya merupakan habitat yang subur dari tanaman sagu, sehingga orang tua kami menamai tempat ini "dalhung humbia". Dari "dalhung humbia" ini sejauh kurang lebih 100 meter ke arah laut adalah wilayah pesisir pantai yang merupakan hutan mangrove (sisa2 tanaman mangrove masih dapat ditemukan terbenam dalam pasir).

Sekitar tahun 80an, pesisir pantai ini banyak ditumbuhi dengan tanaman menjalar "batata pante" yang dalam bahasa Siau dibilang "derere". Buah dari derere ini dipakai oleh anak2 masa itu sebagai peluru untuk "pepiti". Sebuah permainan perang yang sebenarnya cukup berbahaya, tapi kami sukai.

Perubahan demi perubahan terjadi, pesisir pantai semakin hari semakin menjorok ke darat. Untuk mengurangi abrasi yang berkepanjangan, Pemerintah Kab. Kepl. Sitaro saat ini telah membangun talut penahan ombak. Hasilnya telah dirasakan oleh masyarakat baik sebagai pengaman badan rumah dari terjangan ombak, tempat rekreasi, pun sebagai tempat berenang yang nyaman bagi anak-anak.

Pulau Mahoro, Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro : Wisata Alam nan Menakjubkan.

Oleh : Fredrik Dandel, ST.

Pulau Mahoro

Pantai Pulau Mahoro.






Nampak sebuah Kubur di atas Batu.

Kubur di Mahoro, tampak dari dekat.

Sumur Gali yang dibuat Pemerintah Kampung Tapile pada Tahun 1996.

Minggu, 03 Maret 2013

Objek Wisata Pantai Firdaus Kema Minahasa Utara

Oleh Fredrik Dandel, ST.
Pintu Masuk Objek Wisata Pantai Firdaus Kema.
Menghadap Ke Utara adalah jalan masuk ke rekreasi Jet Sky.

Pesisir Pantai sebagai sarana rekreasi Jet Sky.




Objek Wisata di Kema, Kab. Minahasa Utara


Oleh : Fredrik Dandel, ST.
Kema adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kota Bitung, sebelah Timur dengan Laut Maluku, sebelah selatan dengan Kecamatan Kombi (Kabupaten Minahasa) dan sebelah barat dengan Kecamatan Kauditan (Kab. Minahasa Utara).  Kecamatan Kema sendiri terbagi atas 8 (delapan) Desa yang terdiri atas : Kema Dua, Kema Satu, Kema Tiga, Lansot, Lilang, Makalisung, Tontalete dan Waleo.

Kema merupakan Ibukota Kecamatan Kema dan Kota Pelabuhan Ikan di belahan Minahasa Timur, disamping sebagai Kota Pelabuhan Ikan, Kema juga terkenal sebagai tempat kelahiran salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yakni Maria Walanda Maramis.

Asal nama Kema.
Misionaris Belanda, Domine Jacobus Montanus dalam surat laporan perjalanannya pada 17 November 1675, menyebutkan bahwa nama Kema, yang mengacu pada istilah Spanyol, adalah nama pegunungan yang membentang dari Utara ke Selatan. Ia menulis bahwa kata ‘Kima’ berasal dari bahasa Minahasa yang artinya Keong. Sedangkan pengertian ‘Kema’ yang berasal dari kata Spanyol, ‘Quema’ yaitu, nyala, atau juga menyalakan. Pengertian itu dikaitkan dengan perbuatan pelaut Spanyol sering membuat onar membakar daerah itu. Gubernur Robertus Padtbrugge dalam memori serah terima pada 31 Agustus 1682 menyebutkan tempat ini dengan sebutan "Kemas of grote Oesterbergen, " artinya adalah gunung-gunung besar menyerupai Kerang besar. Sedangkan dalam kata Tonsea disebut ‘Tonseka,’ karena berada di wilayah Pakasaan Tonsea. Hendrik Berton dalam memori 3 Agustus 1767, melukiskan Kema selain sebagai pelabuhan untuk musim angin Barat, juga menjadi ibu negeri Tonsea. Hal ini terjadi akibat pertentangan antara Manado dengan Kema oleh sengketa sarang burung di pulau Lembeh. Pihak ukung-ukung di Manado menuntut hak sama dalam bagi hasil dengan ukung-ukung Kema. Waktu itu Ukung Tua Kema adalah Xaverius Dotulong. (dikutip dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_indonesia)

Kesampaian Daerah.
Untuk mencapai Kema, dapat ditempuh dengan transportasi darat baik dari Kota Bitung melalui Girian, Tanjung Merah sejauh kira-kira 14 Km dan juga dari Kauditan, Minahasa Utara sejauh kira-kira 12 Km.

Daerah Tujuan Wisata di Minahasa Utara.
Oleh pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, saat ini kema dijadikan sebagai salah satu daerah tujuan wisata dengan objek  wisata pantai Batu Nona, Pantai Pasir Putih Lilang, Pantai Firdaus dan objek wisata sejarah Penjara Tua Kema. Berikut saya sajikan pesona wisata di Kema, Kabupaten Minahasa Utara :
Objek Wisata Pantai Firdaus.
Objek Wisata Sejarah Penjara Tua Kema.
Objek Wisata Pantai Batunona.


Senin, 25 Februari 2013

Tugu Perang Tondano

Perang Tondano
(Ditulis kembali dari relief di Tugu Perang Tondano, Oleh : Fredrik Dandel, ST)
Akhir Oktober 1808, S. Rapung Kepala Walak Tondano Touliang dan Korengkeng Kepala Walak Tondano Toulimambot dan dibantu Kepala Walak lain di Minahasa mengangkat senjata hendak mengusir Pemerintah Belanda yang bertindak sewenangnya.
Setelah berperang sampai Pebruari 1809, maka 13 walak dikalahkan Belanda 100 orang tewas di pihak Tondano dan 50 rumah keluarga besar terbakar. Namun Belanda sulit kalahkan rakyat di belakang Moraya (Benteng) dari bambu.
4 Agustus 1809 baru Belanda dapat memasuki induk negeri Tondano yang terpaksa ditinggalkan rakyat karena kekurangan makanan.
Tahun 1812, Tondano dibangun kembali di sebelah Utara Negeri Lama (Minawanua).

Pimpinan Belanda :
Residen C.D. Prediger
Residen M. Balfour
dan Letnan J. Herder.







Rabu, 05 Desember 2012

Gunung Api Karangetang di Siau

Koleksi Gambar : Fredrik Dandel, ST.

Gunung Api Karangetang nampak juga Pelabuhan Pehe Siau.

Gunung Api Karangetang nampak dari Tepi Jalan Salili Siau.
Jalan Masuk ke Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang di  Kampung Salili.



Kantor Desa Salili berada tepat di depan Pos Pengamatan G.A. Karangetang.

Jumat, 23 November 2012

Pantai Bahu Kampung Talawid Kec. Siau Barat Selatan

Koleksi Foto : Fredrik Dandel, ST.


Beberapa meter ke arah barat adalah Pantai (Apeng Dasi).

Ingin menikmati Kelapa Muda, hubungi Pemiliknya (Bpk. Benjamin Kanarang, SH).
Beberapa meter ke arah Timur akan dijumpai Pantai Enemawira
Hamparan Pasir Putih yang menawan untuk dikunjungi.

Kamis, 22 November 2012

Pantai Enemawira Kampung Talawid Kec. Siau Barat Selatan.


Koleksi Foto : Fredrik Dandel, ST.

Beberapa meter ke arah Barat adalah Pantai Bahu.

Nikmati kelapa muda atau ikan bakar deng dabu-dabu.

Batu ini yang menjadi icon Pantai Enemawira.

Kelihatan dari Jauh Pulau Tagulandang.

Ke Timur adalah Dusun Medang, Kampung Kapeta.