Tampilkan postingan dengan label PASTORAL KONSELING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PASTORAL KONSELING. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2022

LAPORAN VIDEO PEMBELAJARAN : PENDEKATAN INTEGRATIF GARY COLLINS DAN SIGNIFIKANSINYA DALAM PELAYANAN KONSELING KRISTEN

Oleh : Fredrik Dandel, ST, STh, M.Ag. (Cand.) 
(Mahasiswa Magister Pastoral Konseling di STT Bethel Indonesia Jakarta)

Pendahuluan :

Metode pembelajaran dengan menonton video merupakan suatu metode pembelajaran yang masuk dalam kategori daring (dalam jaringan). Istilah ini dalam KBBI berarti terhubung melalui jaringan computer, internet dan sebagainya.Metode ini menjadi sangat popular dan lasim digunakan dalam pembelajaran semenjak maraknya pandemic Covid-19 di semua belahan bumi termasuk Indonesia.

Video pembelajaran yang direkomendasikan oleh Dosen pengampu Mata Kuliah “Integrasi Teologi dan Psikologi” yakni Bpk. Junifrius Gultom, PhD tersebut setelah ditonton melalui link : https://www.youtube.com/watch?v=UT4vQ6RbQh4 dengan  judul Pendekatan Intergratif Gary Colins dan Signifikasinya dalam Pelayanan Konseling Kristen, penjeleasan umum tentang video ini adalah sebagai berikut:

  • Video pembelajaran tersebut merupakan suatu acara Webinar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Konselor Kristen Indonesia (AKKI) pada tanggal 2 Maret 2022 yang baru lalu (sesuai tanggal upload Video), 
  • Video tersebut berdurasi 1 jam 43 menit dan 59 detik. Dengan rincian : 1 menit pertama merupakan pengantar dari moderator, dilanjutkan kemudian dengan presentase materi oleh Bpk. Pdt. Yakub B. Susabda PhD selama kurang lebih 1 jam 6 menit dan kemudian Tanya jawab hingga penutup selama kurang lebih 35 menit.
  • Pendekatan Integratif Gary Collins dan Signifikansinya dalam pelayanan konseling Kristen adalah topik yang di bawakan oleh Pdt. Yakub B. Susabda Ph.D yang sangat mengenal alm Gary Collins. Pdt. Yakub B. Susabda PhD bukan hanya menjelaskan tentang konsep Integratif dari Gary Collins, tetapi juga menjelaskan tentang konsep pendekatan Integratif yang di bangun oleh Pdt. Yakub B. Susabda berdasarkan konsep Integratif dari Gary Collins.

Secara kualitas materi yang disampaikan melalui video ini, sangat baik dan menarik, tentunya sangat membantu banyak konselor, para hamba Tuhan dan mahasiswa termasuk saya  untuk memahami dan menjadi tahu tentang Integrasi Teologi dan Psikologi. Pdt. Yakub B. Susabda PhD adalah seorang Evangelis Christian Conselor yang sangat professional di bidangnya, telah menulis banyak buku terkait Pastoral Konseling, beliau termasuk salah seorang Dosen pada  STT RI.

Materi Pembelajaran Dalam Video :

Penyampaian materi yang sangat terstruktur yang disajikan oleh Pdt. Yakub B. Susabda PhD, telah membantu saya untuk memahami :

  • Mengenal Salah seorang tokoh dalam Bidang Konseling Kristen, yakni Gary L. Collins, PhD, yang dinobatkan oleh Psychotherapy Networker Magazine sebagai Bapak Konseling Kristen, menulis banyak buku Konseling dan salah satu buku yang dalam edisi Bahasa Indonesianya “Konseling Kristen Yang Efektif” (buku ini saya sudah pesan di Lazada, karena kendala teknis baru akan tiba pada tanggal 15 Maret nanti). Gary L. Collins, PhD merupakan seorang Evangelis Christian Counseling yang juga sangat memberi pengaruh besar kepada Pdt. Yakub B. Susabda PhD, seorang yang dikenal dekat dengan Pdt. Yakub B. Susabda PhD.
  • Prinsip Dasar Konseling Kristen menurut Gary L. Collins :
  1. Conseling is all about stories : stories about people lives include early experience, beliefs, trumps, tragedies, decisions, disappointments, crises and time off great joy.
  2. Dengan Basic Premise That “All Truth is God’s Truth” Garry Collins mengingatkan semua psikolog dan Konselor Kristen untuk lebih mempercayai Alkitab dan Teologi Injili daripada Psikologi.
  3. Garry Collins Approach on Integration : Transformed Integration (Psychology and Theology) Jelas sekali tujuannya semata-mata adalah memakai Psichology untuk melengkapi Theology.

  • Integrasi Teology dan Psikhology adalah realita yang tak terhindarkan. Itulah sebabnya Garry Collins Develop His Approach on Integration (Transformed Integration) dengan Tujuan Melengkapi iman Kristen dengan Filter (alat untuk menyaring) yaitu 6 working principle pada saat konselor Kristen memakai Ilmu Psikologi :

  1. Expanded Empiricism
  2. Determinism and Freewill
  3. Biblical Absolutism
  4. Modified Reductionism
  5. Biblical Antropology
  6. Christian Supernaturalism

  • Dengan kesadaran baru yang Gary Collins hadirkan : Bahwa intergrasi adalah untuk melengkapi kehidupan orang beriman. Yang paling utama dari integrasi teologi dan psikologi adalah apa yang dialami oleh the Integrator yaitu individu orang beriman. 
  • Tidak Ada Teologi Tanpa Psikologi. Kalau kita mampu mengupayakan Integrasi Teologi dan Psikologi maka kitapun dapat menghasilkan KEMENANGAN ORANG PERCAYA. 
  • Integrasi adalah perjumpaan antara “kebernaran Firman Allah”dan “Psychological reality jiwa kita masing-masing”sebagai integratornya. Integrasi adalah perjumpaan Firman Allah dengan diri kita yang sesungguhnya. 
  • Tanpa psikologi semua bagian Alkitab yang bicara tentang manusia, tak mungkin dapat dijelaskan oleh Teologi. Signifikasinya dalam prinsip Pelayanan Konseling Kristen :

  1. Dengan Basic Premise “All Truth God’S Truth,” Then, Pelayanan Konseling Kristen harusnya didasarkan pada konsep “embodied integration” dimana konselor haruslah menjadi the Integrator between Teologi dan Psikologi.
  2. Meskipun Setiap Konselor Kristen Juga “a Wounded Healer”ia tetap dipanggil untuk menolong setiap klien nya juga untuk mengalami “The Truth That Set Them Free.”
  3. Objektif pelayanan Konseling bukan Cuma “membebaskan klien dari gangguan masalah”tetapi menciptkan kondusif atmosfer to grow toward self-actualization sebagai orang beriman yang dapat berdiri mempertanggungjawabkan hidupnya seutuhnya di hadapan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus.

Penutup

Ketika telah memahami hal-hal sebagaimana dimaksud diatas, faedah video pembelajaran ini bagi saya baik selaku mahasiswa maupun pembantu Gembala dalam pelayanan Konseling Kristen adalah mampu mengapilkasikan kaidah-kaidah dalam Ilmu Integrasi Teologi dan Psikologi ini kedalam pelayanan yang lebih berkualitas, terutama dalam melakukan konseling kepada jemaat atau umat yang tentunya dengan tetap mengutamakan Roh Kudus dan Kebenaran Firman Allah dalam kehidupan kita.

Demikian Laporan Menonton Video Pembelajaran ini saya sampaikan kepada Pak Dosen, Tuhan Yesus memberkati………….. Amin.

Minggu, 19 Desember 2021

MENELUSURI PRAKTEK PASTORAL KONSELING DALAM KITAB PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh. 

            Pastroral Konseling merupakan sesuatu yang hal sangat penting dalam perjalanan kehidupan umat manusia di sepanjang sejarah dan abad. Sadar atau tidak sadar, setiap orang membutuhkan pelayanan pastoral konseling ini. Alkitab mengkisahkan bahwa pelayanan Pastoral Konseling ini dimulai dari Allah, tatkala manusia pertama Adam dan Hawa terjerumus masuk ke dalam dosa. Ketika mereka menyadari bahwa mereka telah berbuat sesuatu yang melanggar kehendak Allah Sang Pencipta, keduanya sangat ketakutan, bahkan cenderung untuk menghindari diri dari Allah. Namun demikian, Allah sendiri yang karena kasih-Nya mau mencari dan menjumpai manusia. (Kej. 3). Allah bertindak sebagai Konselor, untuk mengatasi persoalan hidup yang dialami oleh manusia.

Demikianpun halnya ketika pada suatu peristiwa yang terjadi antara Kain dan Habel, dimana Kain membunuh adiknya Habel. Allah juga bertindak sebagai Konselor dengan menjumpai Kain. Dosa pembunuhan pertama yang dilakukan oleh Kain, telah mempengaruhi kejiwaannya, ia cenderung menjadi bertambah jahat, setelah hatinya cemburu kepada Habel dan membunuh adiknya Habel, ia kemudian berupaya untuk menyembunyikan kesalahannya tersebut dari hadapan Allah yang sesungguhnya Sang Maha Tahu. Darah adiknya Habel menuntut pembelaan kepada Tuhan atas tindakan tidak adil dari sang kakak. Allah bertindak sebagai Konselor untuk menyelesaikan persoalan hidup yang dialami oleh Kain dengan cara menghukum dia atas perbuatan dosanya tersebut. (Kej. 4).

Masih terdapat juga sederetan kisah dalam Perjanjian Lama dimana Allah bertindak sebagai Konselor untuk mengatasi persoalan hidup manusia yang dikasihi-Nya, diantaranya : Persoalan hidup yang dialami oleh seseorang yang sangat dikasihi Allah, yakni Abraham yang belum memiliki keturunan; persoalan keluarga antara kedua anak Abraham, yakni Ishak dan Ismael; juga bagaimana ketika Allah menguji iman Abraham dengan memintanya untuk mengorbankan anaknya Ishak; berbagai persoalan hidup yang dialami oleh bangsa Israel ketika mereka berada di Mesir bahkan sampai mereka berada dalam pengembaraan di Padang Gurun; bagaimana beban tanggungjawab besar yang dialami oleh hamba-Nya Musa dalam memimpin Bangsa Israel; sampai kepada persoalan hidup yang dialami oleh Bangsa Israel ketika bangsa tersebut telah menjadi suatu bangsa yang besar dimasa kepemimpinan Hakim-Hakim bahkan Raja-Raja; dan yang tak kalah menariknya adalah suatu pergumulan besar yang dialami oleh seorang Ayub. Semua persoalan hidup tersebut sangat membutuhkan peran penting seorang Konselor, dan Allah sebagai Konselor Sejati, tak pernah membiarkan umat-Nya berada dalam keadaan krisis yang berkepanjangan tanpa ada penyelesaian. Ia dengan sabar dan setia, menjumpai, menegur, menunjukkan jalan keluar kepada umat-Nya, sehingga mereka dapat menjadi pemenang dalam menghadapi krisis yang mereka alami.

Demikianpun halnya dalam Perjanjian Baru. Sejarah di masa Perjanjian Baru memberi kesaksian kepada kita sampai saat ini, dimana Allah dalam pribadi Yesus Kristus, senantiasa mau bertindak sebagai Konselor dalam mengatasi persoalan hidup manusia. Pergumulan hidup yang sangat beragam dialami oleh manusia, baik melalui kelemahan tubuh jasmani : lumpuh, buta, tuli, bisu, juga kematian, kelaparan, perzinahan, pernikahan, dan lain sebagainya, dapat diselesaikan oleh Yesus dengan kasih-Nya.

Suatu hal yang menjadi teladan bagi kita dalam pendekatan Konseling yang dilakukan oleh Yesus adalah bahwa apa yang Ia kerjakan terhadap orang-orang merupakan suatu proses, dimana Ia dengan sabar menjumpai dan melewatkan waktu dengan orang-orang yang mengalami pergumulan hidup. Ia menolong orang-orang mengatasi masalah hidup dengan perhatian yang dalam. Ia tidak hanya melihat kesulitan-kesulitan mereka, tetapi Ia juga melihat kemampuan mereka dan pengharapan-pengharapan serta iman yang mereka miliki. Ia melakukan pendekatan konseling dengan dasar belas kasih-Nya kepada orang lain (lihat Markus 8 : 2).

Akhirnya melalui refleksi singkat ini, saya mengajak kita semua selaku calon Konselor ataupun Konselor Kristen, baiklah kita meneladani Allah dalam pribadi Yesus Kristus, sehingga kita mampu menjadi Konselor yang baik, dan berguna bagi banyak orang. Amin.

Sabtu, 18 Desember 2021

Merubah Konflik Menjadi Berkat

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh.

 Pendahuluan

Ketika dua insan yang berlainan jenis (pria dan wanita) saling mencintai, mereka tentunya menginginkan supaya hubungan yang mereka jalani diikat dalam suatu pernikahan yang kudus. Pernikahan tersebut terbentuk dengan suatu harapan / damba untuk mendapatkan kebahagian. Saling membahagiakan satu dengan yang lainnya, demikianlah yang terpartri dalam janji pernikahan sehidup dan semati.

Seiring dengan berjalannya waktu, dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tidaklah terlepas dari adanya konflik. Pemicu konflik tersebut sangatlah bermacam-macam, mulai dari persoalan yang kecil, sedang sampai ke persoalan yang besar, jika tidak diselesaikan dengan baik oleh kedua suami dan isteri, maka berpotensi kepada perceraian / hancurnya rumah tangga yang pastinya akan berakibat buruk baik kepada kedua suami isteri tersebut, terlebih kepada anak-anak sebagai buah nikah mereka.

Tidak ada seorangpun yang menginginkan kehancuran dalam rumah tangganya, tidak ada seorangpun yang mau menikah untuk kemudian bercerai. Tetapi kebanyakan pernikahan yang berujung pada perceraian, memiliki suatu alasan yang klasik, yakni untuk kebahagiaan masing-masing pribadi. Benarkah demikian ?

Pengertian Konflik dan Penyebab Terjadinya Konflik

Menurut Cassell Concise English Dictionary, 1989; konflik bisa didefinisikan sebagai “suatu pertarungan; suatu benturan; suatu pergulatan; pertentangan kepentingan-kepentingan, opini-opini, atau tujuan-tujuan; pergulatan mental; penderitaan batin”. Sedangkan Menurut Cornelius et al, 1992, konflik adalah: “dua jajaran kebutuhan atau lebih yang menarik dari arah-arah yang berlainan”. Konflik dapat disimpulkan sebagai berikut: “Ketidaksetujuan atau ketidaksepakatan yang muncul ketika kepentingan/paham dua pihak yang bertentangan. Untuk memuaskan kepentingan-kepentingan tersebut dipengaruhi oleh sumber daya yang dimiliki terbatas, komunikasi antar pihak lemah dan tidak adanya itikad untuk mencari jalan keluar terbaik”. (Jaliaman Sinaga, dkk (2015).

Menurut Jaliaman Sinaga, dkk (2015), Konflik dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut : Perbedaan karakter/kepentingan, perbedaan paham / pemahaman / persepsi / interpretasi, perilaku yang kurang menghargai orang lain, kompetisi nyata ataupun tersembunyi untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan/di luar jangkauan; serta Tugas dan tanggung jawab yang tidak dirumuskan secara jelas.

Sedangkan menurut Hadisubrata dalam Nurul Atieka (2011), konflik dalam perkawinan yang menyebabkan keretakan hubungan suami-istri atau bahkan menyebabkan  perceraian, biasanya bersumberkan pada kepribadian suami istri dan hal-hal yang erat kaitannya dengan perkawinan. Konflik yang bersumber pada kepribadian pada umumnya disebabkan oleh  : Ketidakmatangan kepribadian, Adanya sifat-sifat kepribadian yang tidak cocok untuk menjalin hubungan perkawinan, dan adanya kelainan mental. Sedangkan Konflik yang bersumber pada hal-hal yang erat kaitannya dengan perkawinan, menyangkut masalah sebagai berikut : Keuangan, Kehidupan social, Pendidikan anak, Masalah Agama, Hubungan dengan Mertua-Ipar, Penyelewengan dalam Hubungan Seksual, serta Ketidakpuasaan seksual.

Mengatasi dan Meminimalisir Konflik

Pasangan suami isteri Kristen, menyadari bahwa perceraian bukanlah sesuatu hal yang dikehendaki Allah. Mat. 19:5-6 : “Dan firman-Nya : Sebab itu laki-laki akan menginggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Dan lagi Lukas 16 : 18 ditekankan : “Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.”

Suami isteri Kristen yang mengasihi Tuhan dan taat kepada kebenaran Firman Allah, tidak akan pernah menginginkan perceraian sebagai solusi untuk menyelesaikan konflik dalam pernikahan mereka. Jangankan dilakukan, dipikirkan ataupun diperkatakan saja, akan membuat ketidaknyaman dalam hati keduanya. Bagaimana mengatasi konflik dalam rumah tangga itulah yang merupakan solusi terbaik bagi kebahagiaan rumah tangga mereka.

Jika kita menyadari bahwa konflik dalam rumah tangga itu tidak bisa dihindari, maka satu-satunya cara yang dapat kita lakukan adalah menghadapi konflik tersebut dan mau berupaya untuk mengatasinya, atau dengan kata lain kita berusaha untuk “mengubah konflik menjadi berkat” sehingga kebahagiaan dalam pernikahan akan tetap dapat kita nikmati bersama pasangan suami atau isteri kita, dan kita terhindar dari sesuatu keputusan yang membuat kita lebih menderita.

Jaliaman Sinaga, dkk (2015), menawarkan tujuh langkah mengubah konflik menjadi berkat berdasarkan Firman Tuhan, yaitu : Meminta hikmat dari Tuhan; Memiliki sikap mau belajar; Membangun komunikasi; Mengintrospeksi diri; Memiliki jiwa besar; Mempersingkat konflik; dan Mengendalikan Emosi. Tujuh langkah tersebut jika kita implementasikan dengan baik, tentunya akan membawa kita keluar dari konflik yang berkepanjangan.

Konflik memang tidak bisa kita hindari, namun sesungguhnya konflik dalam pernikahan itu bisa saja kita minimalisir. Beberapa hal yang dapat kita lakukan uintuk meminimalisir konflik dalam pernikahan diantaranya adalah sebagai berikut :

1.             Memiliki Hidup Yang Bergaul Karib dengan Tuhan.

Seorang yang memiliki hubungan karib dengan Tuhan, pasti akan mampu mengendalikan dirinya melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan dan sesama. Bergaul karib dengan Tuhan dibuktikan dengan pemberian waktu setiap hari menyembah Tuhan, berdoa dan membaca kebenaran Firman Allah.

2.             Berusaha Meluangkan Waktu Bersama Pasangan.

Beberapa keuntungan ketika suami dan isteri memiliki waktu untuk bersama, adalah : Terjalinnya komunikasi yang baik antara suami dan isteri; Menumbuhkan perasaan cinta kasih kepada pasangannya, dan Jika memilki masalah akan dapat dicarikan solusi untuk memecahkan permasalahan yang dialami oleh pasangan.

3.             Menciptakan suasana yang harmonis, penuh kasih sayang dan perhatian.

Dengan menciptakan suasana yang harmonis, penuh kasih sayang dan perhatian, akan membuat pasangan suami isteri itu menjadi bahagia dan terhindar dari percekcokan. Pasangan suami isteri perlu memiliki selera humor, dan boleh mencoba untuk mempraketakan itu ketika mereka sedang bersama.

4.             Membangun komitmen untuk saling mengasihi dan saling percaya.

Kasih Kristus merupakan dasar hidup suami isteri (Ef. 5 : 22-33). Jika kita menyadari bahwa Kristus mengasihi kita dan mau berkorban bagi kita, maka demikianpun selayaknya kita memperlakukan pasangan hidup kita. Dengan membangun komitmen untuk saling mengasihi dan saling percaya, potensi konflik akan dapat diminimalisir.

Penutup

 Kebahagiaan hidup suami isteri bukanlah berarti karena tidak pernah mengalami konflik. Konflik dalam suatu rumah tangga merupakan bumbu kehidupan yang perlu dikelola dengan sebaik-baiknya. Ketika suami isteri mampu mengelola konflik, maka konflik tersebut akan dapat menjadi suatu berkat dalam kehidupan pernikahan.

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan diri sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Filipi 2:1-5.

Kepustakaan :

Eva Meizara Puspita Dewi. Konflik Perkawinan dan Model Penyelesaian Konflik Pada Pasangan Suami Isteri. Jurnal Psikologi Volume 2, No. 1, Desember 2008.

Jaliaman Sinaga, dkk. Bimbimbang Pernikahan. Divisi Pengajaran GBI, Jakarta. 2015.

Lembaga Alkitab Indonesia (2002). Alkitab, Cetakan Kesepuluh. Penerbit Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta

Nurul Atieka. .Mengatasi Konflik Rumah Tangga (Studi BK Keluarga). Artikel Guidena, Vol. 1, No, 1. September 2011.