Kamis, 18 April 2013

POTENSI AIR TANAH KOTA BITUNG


Ditulis kembali dari buku : Pertambangan dan Geologi Kota Bitung, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Bitung, 2010.

A.    Hidrogeologi

Daerah Bitung yang umumnya disusun oleh tatanan batuan vulkanikklastik dan sebagian vulkanikmasif didalam kerangka struktur kerucut sangat ideal sebagai wadah penyalur dan penyimpan air dalam suatu siklus hidrologi, kandungan air dalam wadah geologi tersebut dipasok oleh curahan air hujan yang cukup tinggi didaerah ini oleh kendali posisi geografisnya didalam zona meridian yang beriklim tropis. Air ini disalurkan dan disimpan dalam bentuk :
-         Air permukaan
-         Air tanah
-         Mata air
Air tanah merupakan sumber air yang tersimpan pada lapisan tanah atau batuan pembawa air atau akuifer. Berdasarkan kedudukan akuifer ini didalam struktur tatanan batuan, maka air tanah dapat digolongkan kedalam 2 ( dua ) golongan yakni :
1.      Air tanah bebas
2.      Air tanah tertekan.
Air tanah bebas tersimpan pada akuifer yang bagian atasnya tidak tertutup oleh lapisan batuan kedap air, sehingga air tanah tersebut dapat berhubungan langsung dengan atmosfer. Sedangkan air tanah tertekan tersimpan pada akuifer yang diapit oleh lapisan batuan yang kedap air.
Batuan yang dapat bertindak sebagai akuifer adalah batuan yang bertekstur klastik kasar seperti lapisan batu pasir atau endapan pasir. Sedangkan lapisan batuan kedap air berupa batuan yang bertekstur klastik halus seperti lempung atau bertekstur masif seperti lava. Lapisan lempung dapat bertindak sebagai akuifer jika berstruktur kekar, demikian pula lava jika bertekstur vesikulaer atau kekar. Akuifer-akuifer yang terdapat di wilayah kota Bitung masuk dalam wilayah cekungan air tanah (CAT) Bitung-Ratahan.

B.   Cekungan Air Tanah

Potensi air tanah Kota Bitung,  berasal dari 2 cekungan air tanah (CAT) potensial yang terdapat di Provinsi Sulawesi Utara (diidentifikasi oleh Haryadi, T. dkk., (2003)), mempunyai potensi air tanah dangkal (tak-tertekan) + 834 x 106 m3/tahun, dan air tanah dalam (tertekan) + 59 x 106 m3/tahun.

Dua CAT di Kota Bitung adalah :

1.   CAT Bitung – Ratahan, antara lain meliputi daerah Kecamatan Aertembaga, Kecamatan Maesa, Kecamatan Madidir, Kecamatan Girian, Kecamatan Matuari dan bagian selatan Kecamatan Ranowulu (secara keseluruhan selanjutnya ke semua daerah pantai timur antara Bitung – Belang Minahasa Tenggara).
      Daerah imbuhannya adalah G. Klabat, G. Dua Sudara, pegunungan yang memanjang dari utara (Kauditan) ke selatan (Eris) dengan daerah Lepasan sepanjang pantai timur (Bitung – Belang) dan Selat Lembeh. 

2.   CAT Batu Putih, antara lain meliputi bagian sebelah utara Kecamatan Ranowulu (secara keseluruhan selanjutnya sebagian Lumpias dan Likupang Minahasa Utara).  
       Daerah imbuhannya adalah pebukitan Kecamatan Ranowulu s/d Dimembe.

Potensi air tanah cekungan air tanah di Kota Bitung

Cekungan Air Tanah
(CAT)
Potensi Air Tanah Dangkal Q1  ( juta m3/tahun )
Potensi Air Tanah Dalam
Q2  ( juta m3/tahun )
Bitung-Ratahan
703
50
Batuputih
131
  9
              J u m l a h
834
59


DATA POTENSI AIR TANAH 
PADA BEBERAPA TITIK PENGEBORAN AIR TANAH 
DI KOTA BITUNG


No

LOKASI

KEDA-
LAMAN
(m)

TMA
(m)

DEBIT
(L/dtk)

LITOLOGI AKUIFER

KEL
KEC
1
Sagerat
Matuari
100
6
0,17
Tufa halus/lempung Pasiran-pasir Lempungan
2
Manembo-nembo
Matuari
50
0,5
2,4
Pasir kasar - kerikilan
3
Manembo-nembo
Matuari
45
0,1
1,5
Tufa kasar/pasiran, batu apung dan tufa lapili
4
Madidir Weru
Madidir
45
0,5
1
Pasir kerikilan, batu apung
5
Bitung Barat I
Maesa
60
1
0,37
Tufa kasar dan tufa lapili
kedalaman 30-50 m

6
Naemundung
Aertembaga
64
4
0,13
Pasir Lempungan, lempung pasiran, tufa halus
Kedalaman 38-59 m



PETA CEKUNGAN AIR TANAH DI PROVINSI SULAWESI UTARA


Kamis, 04 April 2013

GUNUNG API TANGKOKO


Ditulis kembali dari buku : Pertambangan dan Geologi Kota Bitung, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Bitung, 2010.
Nama lain : Tangkoko
Nama gunung api parasit : Batu Angus, Batu Angus Baru
Tipe gunung api : Strato
Letak : Kel. Makawidey, Kec. Aertembaga Kota Bitung                      
Posisi Geografi G.Tangkoko : 10 31’  LU - 1250  11,5‘  BT
Posisi Geografi G. Batu Angus : 10  30,5‘  LU - 1250  13‘  BT
Tinggi di atas muka laut  : G. Tangkoko : 1149 m; G. Batu Angus : 700 m.

A. Bentuk dan Struktur  G. Tangkoko 

G. Tangkoko (1149 m) yang bertipe Strato mempunyai kawah yang besar dan dalam serta gunung api parasit yang bernama Batu Angus (700 m) atau Batu Angus Baru. Gunung api tersebut terletak di bagian timur laut minahasa di Desa Makawidey, Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung.
Pemeriksaan kawah yang dilakukan dalam tahun 1971 melihat bahwa G.Tangkoko dan G. Dua Saudara, mempunyai morfologi yang amat sederhana. Kedua gunung api tersebut di pisahkan oleh sebuah pematang dengan jurus barat laut tenggara.
Di kaki pematang itu terletak hulu S. Batu Putih dan S. Air Prang. G. Tangkoko berbentuk elips dengan ukuran kawah ± 2 km x 1 km dan kedalaman ± 200m.
Di dasar kawah terdapat sumbat yang berbentuk kubah setinggi ± 100 m  di duga sumbat tersebut terbentuk dalam kegiatan tahun 1801 (Junghuhn,1844). Di lereng timur sejauh ± 2 km dari G. Tangkoko terletak kubah lava Batu Angus dan leleran lava sepanjang ± 2 km . Kawah G.Batu Angus bagian atasnya  berukuran 300 x 325 m dan garis tengah  dasar kawah ± 200 m, sedangkan kedalamannya ± 90 m.
Dalam masa sejarah kegiatan G.Tangkoko tampaknya letusan lebih banyak terjadi di G.Batu Angus dan tidak pernah di laporkan adanya korban manusia. Tetapi meskipun demikian, dalam  masa mendatang bahaya letusannya harus di perhitungkan karena daerah di sekitar gunung api itu, khususnya Kota Bitung, terus berkembang bahkan makin pesat.

B. Cara Mencapai Kawah Puncak

Ada tiga jalan untuk ke puncak gunung ini, yakni :
1.  Dari pelabuhan Bitung –Kp. Pinangunian - Puncak
2.  Dari Kp. Makawidey – Kp. Loari – Puncak
3.  Dari Kp. Batu Putih – Kp. Paring - Puncak

Umumnya ahli asing dan bangsa Indonesia seperti Kommerling (1923), Koperberg (1928) dan Djatikusumo (1947), mendaki puncak gunung ini dari Kp. Makawidey – Kp. Loari – Puncak. Demikian pula Reksowirogo (1971), melakukan pendakian puncak pada 9 Februari 1971, berangkat dari kampung Makawidey menuju utara sedikit ke timur, menyusur pantai lewat kebun kelapa. Setelah ± 1 km jauhnya, sampailah di kampung lembahao. Selanjutnya perjalanan menuju ke arah utara agak ke timur lewat tegelan dengan pondoknya, menuju Kp. Loari (sampai ketinggian ± 300 m, kemiringan rata-rata 15 º). Akhir nya sampai di pinggir kawah bagian tenggara pada titik ketinggian 670 m . Waktu yang di perlukan dari Makawidey – pinggir kawah ini ± 3 jam.

C. Sejarah Kegiatan  (Letusan yang pernah terjadi) :

Berdasarkan data yang pernah di kumpulkan dari berbagai laporan dan publikasi, maka erupsi Gunung api dapat diringkaskan sebagi berikut :

1680 :                 Koperberg (1928) dan Kommerling (1923) menduga bahwa mungkin letusan terjadi di G. Dua Saudara, tetapi Neumann Van Padang (1951) menganggap letusan normal di kawah pusat yang mengakibatkan rusaknya daerah di sekelilingnya .
1683 :                Letusan di kawah pusat G.Tangkoko
1694 :               Terjadi letusan tetapi tidak ada keterangan lebih lanjut .
1801 :              Menurut Junghuhn (1844 ),  Kommerling (1923) dan Koperberg (1928) letusan terjadi di G.Tangkoko. Letusan menyemburkan abu, pasir dan batu berwarna kemerahan seperti terbakar. Abu tersebar sampai di Airmadidi, Kema, Maumbi, bahkan sampai Manado. Setelah itu timbul sumbat lava di dasar kawah G.Tangkoko dan G. Batu Angus. Dalam tahun tersebut terjadi letusan yang bersamaan antara letusan normal di kawah pusat, letusan samping dan letusan di danau kawah.Pada kegiatan tersebut diduga terjadi aliran lava di G.Batu Angus (Neumann van Padang (1951)) .
1821 :                Terjadi aliran lava dari  G. Batu Angus .
1843 – 1845 :    Terjadi  letusan normal di G. Batu Angus
1880 :                Terjadi letusan dari G. Batu Angus, di sertai aliran lava.
1952 :                Kenaikan kegiatan di G. Tangkoko .
           
Batuan hasil letusannya adalah sebagai berikut :   andesit augit hipersten ditemukan di kaki G. Tangkoko. Sedangkan hasil letusan di G. Batu Angus terdiri dari andesit piroksen (Neumann van Padang, 1951 ).

D. Pengamatan G. Tangkoko

Dikuatirkan kemungkinan timbulnya bencana akibat letusan G. Tangkoko, sementara pemukiman makin berkembang, maka dalam usaha untuk mengurangi segala kemungkinan dan korban dibangun sebuah Pos Pengamatan Gunung Api . Dengan adanya pra-sarana tersebut berbagai usaha untuk memantau tingkah laku G. tangkoko dapat dikerjakan secara sinambung.
Diharapkan kelak dapat diperoleh data untuk menduga tingkat kegiatan gunung api tersebut atau dapat diketahui lebih awal bila ada gejala akan terjadi letusan sehingga peringatan kepada penduduk dapat diberikan lebih dini atau tepat pada waktunya.
Pos Pengamatan Gunung Api tersebut, sering disebut Pos Vulkanologi, mulanya terletak ± 5 km disebelah barat G. Tangkoko  atau  ± 3 km di sebelah barat laut G. Dua Saudara Dari Pos tersebut tidak hanya di amati G. Tangkoko, tapi dipantau G. Dua Saudara. Sejak Juli 2002 pos ini pindah ke Desa Winenet Kecamatan Aertembaga Bitung.
Dalam sejarah G. Tangkoko tampaknya kegiatan kedua gunung api tersebut tidak terpisahkan. Dikaki G. Dua Saudara inilah terletak Kota Bitung yang merupakan kota pelabuhan penting di Sulawesi Utara dan yang saat ini perkembangannya maju dengan pesat. Kenyataan tersebut yang yang menjadikan derajat bahaya  G. Tangkoko dan gunung api tetangganya makin tinggi.
Pengamatan menerus yang dilakukan pada waktu ini terutama visual dan seismik. Pengamatan visual memantau semua perubahan atau gejala yang tampak dipermukaan sedangkan seismik untuk mengetahui gerak-gerik magma di dalam tubuh G. Tangkoko khususnya dan gunung api lainnya berdekatan. Mungkin gejala-gejala tersebut akan muncul menjelang letusannya. Sejak dimulainya pengamatan yang sinambung di gunung api tersebut, tahun 1986, hingga awal 1990 ini belum pernah tercatat adanya perubahan atau kelainan gejala vulkaniknya.

E. Bahaya Letusan G. Tangkoko dan Kawasan Rawan Bencana 

Dalam sejarah kegiatan G. Tangkoko tercatat pernah terjadi letusan besar, yaitu dalam tahun 1801.Abunya tersebar sampai di Manado. Menurut Neumann van Padang timur, yaitu kearah  G. Batu Angus .
Dengan munculnya G. Dua Sudara di sebelah baratdaya G. Tangkoko, maka daerah yang berbahaya, baik karena aliran lava, awan panas maupun lahar hujan terbatas sampai di pematang yang memanjang barat laut –tenggara yang membatasi kedua gunung disemburkan keudara, arah bahaya dan sebarannya sangat tergantung pada arah dan kecepatan angin pada waktu letusan terjadi.
Berdasarkan jenis dan intensitas bahaya yang diakibatkan oleh kehebatan letusannya, kawasan rawan bencana di G. Tangkoko dibedakan dalam dua macam :

1. Kawasan Rawan Bencana II

Diperkirakan kawasan rawan bencana II, yaitu yang terancam oleh aliran lava, awan panas maupun lahar hujan yang dihasilkan oleh letusan G. Tangkoko, diduga akan meliputi daerah dengan jari-jari 5 km dari titik kegiatan. Tetapi daerah di dalam setengah lingkaran bagian barat daya relatif lebih aman. Sebaran awan panas aliran lava dan lahar hujan diduga akan bervariasi berdasarkan alur sungai, ke arah selatan mengikuti S. Prang, ke utara K . Batu Putih. Sedangkan ke arah barat di sepanjang pantai barat laut gunung api tersebut. Luas Kawasan Rawan Bencana II ± 89,4 km ²

2. Kawasan Rawan Bencana I   

Di kawasan Rawan Bencana I ancaman bahaya  disebabkan oleh sebaran bahan letusan yang disemburkan keudara bila letusan menunjukkan intensitas yang makin besar.
Daerah tersebut mencakup wilayah dengan jari-jari 8 km dari titik letusan dengan variasi bahwa bahaya dapat mengancam pula di sepanjang sungai karena aliran lava dan lahar hujan. Daerah tersebut ke arah selatan meliputi wilayah di sepanjang S. Tembaga, dan ke utara di sepanjang S. Kawua. Sedangkan ke arah barat adalah pada wilayah di sepanjang pantai. Luas Kawasan rawan bencana I ± 100,5 km² .   

POTENSI BAHAN GALIAN MINERAL DAN BATUAN DI KOTA BITUNG



Ditulis kembali dari buku : Pertambangan dan Geologi Kota Bitung, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Bitung, 2010.

1.         UMUM

Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara maka komoditas tambang dikelompokkan sebagai berikut :
-    Mineral Radioaktif;   contoh : radium, thorium, uranium.
-    Mineral Logam; contoh : emas. perak, tembaga, mangaan, platina, air raksa
-    Mineral Bukan Logam; contoh : intan, grafit, pasir kuarsa, belerang, kaolin, gipsum.
-    Batuan; contoh : tras, marmer, andesit, tanah liat, kerikil sungai, batu kali, pasir
-    Batubara; contoh:  batubara, gambut.


2               JENIS DAN LOKASI

MINERAL LOGAM

2.1.    Emas

Indikasi mineralisasi emas berada di daerah bagian utara Kelurahan Pinasungkulan ke arah Desa Pinenek Kecamatan Likupang Timur (Minahasa Utara),  pada satuan batuan yang didominasi oleh satuan breksi-batupasir.
Catatan: Daerah ini merupakan areal Kontrak Karya PT. Meares Soputan Mining dan PT. Tambang Tondano Nusajaya yang saat ini telah masuk pada tahap Operasi Produksi (konstruksi).

 MINERAL BUKAN LOGAM

2.2.  Kaolin

Kegunaan kaolin dipakai dalam berbagai industri baik sebagai bahan baku utama atau sebagai bahan  pembantu. Dalam industri, kaolin dapat berfungsi sebagai pelapis (coater), pengisi (filler), bahan tanah api (refractory) dan isolator. Penggunaan kaolin yang utama adalah dalam industri-industri kertas, keramik, cat, karet atau ban dan plastik.
Endapan kaolin terdapat di daerah Pinasungkulan tersebar pada jalur jalan Girian - Pinasungkulan. Tersingkap pada morfologi perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 10 – 40 meter. Sifat fisiknya warna putih agak kotor, kompak dan kurang elastis. Masih perlu penyelidikan untuk mengetahui mutu serta cadangannya.

2.3.  Pasir Kuarsa

Pasir kuarsa pada umumnya digunakan sebagai bahan utama atau bahan baku pelengkap dalam industri-industri sebagai berikut :
-     industri gelas
-     industri refraktory
-     industri keramik
-     industri pengecoran
-     industri lainnya seperti bahan baku ferro silicon carbides, ampelas , filteringsad, glass wool dan sebagainya.
Terdapat di Kelurahan Lirang dan Kelurahan Baturiri, Pulau Lembeh.


BATUAN

2.4.  Batubelah Andesit

Batubelah andesit merupakan istilah yang umum digunakan untuk endapan bahan galian sebagai aktivitas vulkanisme berupa bongkaran lava berkomposisi andesitis yang masif.
Terdapat di hulu Sungai Danuwudu, dalam bentuk aliran lava. Selain itu terdapat juga dibagian lereng timur laut Gunung Tangkoko dalam bentuk bongkahan atau blok-blok lava.

2.5.    Pasir Vulkanik (pasir gunung api)

Pasir vulkanik atau pasir gunung api merupakan hasil kegiatan erupsi gunung api, warna abu-abu gelap sampai kehitaman, berukuran halus sampai sangat kasar. Pasir gunung api ini tersebar hampir di seluruh daerah Bitung, bahkan hingga mencapai daerah sekitarnya dengan ketebalan yang bervariasi.
Berdasarkan penyebaran dan ketebalannya mempunyai cadangan yang potensial.

2.6.  Batugunung

Batugunung terdapat pada daerah perbukitan sebelah barat sungai girian pada jarak 3 km dari jalan raya Manado – Bitung. Bentuk batu gunung ini berupa bongkahan berukuran 10 – 50 Cm yang terdapat bersama-sama dengan pasir gunung api.
Batugunung ini digunakan sebagai bahan pondasi bangunan. Diperkirakan cadangannya cukup potensial.

2.7.  Lava Basaltik dan Andesitik

Tubuh aliran lava terdapat di sebelah timur Kelurahan Tandurusa dan di sebelah utara Kelurahan Batuputih. Penyebarannya membentuk punggungan memanjang dengan arah umum barat daya – timur laut di sebelah utara desa Batuputih sepanjang kurang lebih 1 Km dengan ketebalan berkisar 30 Meter membentuk lapisan-lapisan batu dengan ketebalan antara 2 – 5 Cm dan dapat dimanfaatkan sebagai batu tempel (ornamen rock) untuk bangunan.
Cadangannya cukup potensial.

2.8.    Sirtu (pasir batu) Sungai Girian

Bagian hilir Sungai Girian merupakan tempat pengendapan pasir dan batu yang merupakan hasil erosi sungai tersebut dari daerah perbukitan. Keadaan endapan pasir dan batu tersebut belum tersortasi dengan baik, sehingga endapan bahan galian dibagian hilir Sungai Girian masih merupakan campuran antara pasir, kerikil dan kerakal dengan prosentase diperkirakan 60 % pasir dan 40 % kerikil dan kerakal.

 2.9.    Tras

Bahan galian tras terdapat di daerah Kelurahan Pateten Kecamatan Aertembaga, keberadaan di lapangan sebagai berikut :
-  tanah penutup tebal 0,5 meter
-  tufa tebal 1,5 meter
-  batupasir tufaan tebal 20 cm
-  tufa berwarna kuning hingga coklat mengandung batu apung dengan garis tengah 5-10 cm.
-  tras bercampur batu apung halus warna kuning – coklat tebal 5 meter.
Kegunaannya sebagai bahan bangunan berupa batako.
Cadangannya perlu penyelidikan.