Selasa, 02 Juni 2020

SONGKO Mahkluk Penyihir Khas Siau/Sangihe.

Oleh : Fredrik Dandel, ST.
(Ditulis Kembali dari https://web.facebook.com/groups/375590465825555 dan telah dimuat dalam https://kompaq.id/read/lainnya/sasahara/2020/05/23/songko-sosok-perempuan-misterius-peneror-orang-berpergian-sendiri-di-malam-hari/ ).

Jika kita mencoba mensearch di Om Google, maka yang muncul adalah gambar topi nasional Indonesia atau yang dikenal juga sebagai Kopiah. Kata yang sama namun berbeda pengertian. Songko yang dimaksudkan oleh masyarakat Siau atau Suku Sangihe pada umumnya adalah orang yang masuk dalam golongan penyihir atau mahkluk sihir. Seperti halnya orang suanggi, taharoti, dll. 

Menurut D. Brilman dalam Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud, Terbitan BPS GMIST - 1986, halaman 57, Songko-songko adalah wanita-wanita yang berkeliaran menghantu pada malam hari, menakut-nakuti orang-orang yang tinggal sendirian, menimbulkan malapetaka pada orang yang sedang tidur, dan juga merampok kuburan-kuburan. Masyarakat Siau sampai sekarang ini mengenal songko dari suaranya yang khas. "Kok, kok kok" biasanya diulang 3 x dalam sekali berkokok. Kalau terdengar pelan, mengindikasikan keberadaannya yang dekat dari orang yang mendengar. Tetapi kalau suaranya keras atau nyaring berarti songko tersebut berada agak jauh dari pendengar. 

Menurut cerita orang tua dulu, Songko acapkali menyerang orang yang sedang sendirian di waktu malam dengan cara menyambar melalui kedua kaki dan tangannya yang ditekuk sejajar yang dilakukannya disaat ia terbang. Korban yang tertangkap akan ia permainkan di atas udara dengan cara melepaskan dari ketinggian, ditangkap dan dilepaskan lagi sampai korban lemas, kemudian ditinggalkannya begitu saja. Tetapi jika sasarannya kuat dan berani, tidak jarang malah keadaan jadi terbalik, Songko dikalahkan dan dipermalukan. Ketika tertangkap, biasanya Songko akan menutupi mukanya dengan rambutnya yang panjang. 

Dalam melakukan aksi terbangnya, Songko biasanya akan meramu obat-obatan yang ditaruh dalam sebuah belanga (kuring) dan disembunyikannya diantara rumpun pisang. Orang yang mengerti dan ingin menangkapnya (memingka) akan mencari belanga/kuring tersebut dan membalikan/menumpahkannya. Maka Songko yang sedang beraksi/terbang akan mendarat dengan terpaksa/jatuh. 

Orang juga mengenal Songko Babalhe, biasanya adalah Songko laki-laki, yang katanya lebih berbahaya dari Songko perempuan. Tapi Songko Babalhe tidak terlalu umum. 

Sekarang ini kebanyakan masyarakat tidak lagi takut terhadap Songko. Saya sudah beberapa kali mencoba menangkapnya, walau belum ada hasilnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar