Senin, 25 Februari 2013

Tugu Perang Tondano

Perang Tondano
(Ditulis kembali dari relief di Tugu Perang Tondano, Oleh : Fredrik Dandel, ST)
Akhir Oktober 1808, S. Rapung Kepala Walak Tondano Touliang dan Korengkeng Kepala Walak Tondano Toulimambot dan dibantu Kepala Walak lain di Minahasa mengangkat senjata hendak mengusir Pemerintah Belanda yang bertindak sewenangnya.
Setelah berperang sampai Pebruari 1809, maka 13 walak dikalahkan Belanda 100 orang tewas di pihak Tondano dan 50 rumah keluarga besar terbakar. Namun Belanda sulit kalahkan rakyat di belakang Moraya (Benteng) dari bambu.
4 Agustus 1809 baru Belanda dapat memasuki induk negeri Tondano yang terpaksa ditinggalkan rakyat karena kekurangan makanan.
Tahun 1812, Tondano dibangun kembali di sebelah Utara Negeri Lama (Minawanua).

Pimpinan Belanda :
Residen C.D. Prediger
Residen M. Balfour
dan Letnan J. Herder.







Rabu, 05 Desember 2012

Gunung Api Karangetang di Siau

Koleksi Gambar : Fredrik Dandel, ST.

Gunung Api Karangetang nampak juga Pelabuhan Pehe Siau.

Gunung Api Karangetang nampak dari Tepi Jalan Salili Siau.
Jalan Masuk ke Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang di  Kampung Salili.



Kantor Desa Salili berada tepat di depan Pos Pengamatan G.A. Karangetang.

Jumat, 23 November 2012

Pantai Bahu Kampung Talawid Kec. Siau Barat Selatan

Koleksi Foto : Fredrik Dandel, ST.


Beberapa meter ke arah barat adalah Pantai (Apeng Dasi).

Ingin menikmati Kelapa Muda, hubungi Pemiliknya (Bpk. Benjamin Kanarang, SH).
Beberapa meter ke arah Timur akan dijumpai Pantai Enemawira
Hamparan Pasir Putih yang menawan untuk dikunjungi.

Kamis, 22 November 2012

Pantai Enemawira Kampung Talawid Kec. Siau Barat Selatan.


Koleksi Foto : Fredrik Dandel, ST.

Beberapa meter ke arah Barat adalah Pantai Bahu.

Nikmati kelapa muda atau ikan bakar deng dabu-dabu.

Batu ini yang menjadi icon Pantai Enemawira.

Kelihatan dari Jauh Pulau Tagulandang.

Ke Timur adalah Dusun Medang, Kampung Kapeta.


Jumat, 26 Oktober 2012

PASAR TRADISIONAL KAMPUNG TALAWID Dimana Riwayat-mu Kini ?

Lokasi Eks Pasar Tradisional Kamp. Talawid, Kec. Sibarsel
Oleh : Fredrik Dandel, ST.

Teringat di masa kecil, tatkala pikiran telah mulai dapat membedakan peristiwa. Kampung Talawid, Kec. Siau Barat Selatan, Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro di masa itu telah memiliki sebuah Pasar Tradisional. Alhasil diakhir Dekade 70-an dan memasuki awal Dekade 80-an pasar tersebut telah menyita perhatian para saudagar baik keturunan negeri tirai bambu sampai Uti-Uti yang bermukim di Kota Ulu berdatangan untuk mengadu untung.

Pasar yang biasanya dibuka 2 (dua) kali dalam seminggu, yakni pada hari Rabu dan Sabtu tersebut sangat terasa keramaian-nya, lebih-lebih di hari Sabtu. Beraktifitas antara pukul 04.30 s/d 08.00 WITA segala macam kebutuhan mulai dari rempah-rempah untuk dapur, ikan, sayur-sayuran, buah-buahan, kukis bermacam jenis sampai kepada kain, pakaian jadi serta bahan-bahan bangunan dapat kita temui di pasar ini.

Bangunan lama dari pasar tradisional ini terbuat dari kayu dengan atap senk, dibangun membentuk leter L memanjang kearah Barat searah rumah Kel. Takalamingan Mangerongkonda dan Kel. Umbaseng (rumah Tuta Hang dan keluarga) adalah bangunan los yang disisi kiri dan kanannya diletakan peti-peti tempat jualan berisi sekira 4 m3 yang sekaligus sebagai tempat menyimpan barang-barang jualan tatkala pasar ditutup. Sedangkan searah dengan pantai (ke selatan) dibangun toko-toko kecil berukuran sekitar 3 x 3 meter yang kalau tidak salah ingat semuanya berjumlah 6 buah toko, 2 buah toko membelakangi rumah Kel. Bogar (rumah Para Biki dan keluarga), 2 buah toko membelakangi Kel. Panese (rumah Para Asa dan keluarga yang sekarang menjadi rumah kediaman Bu Depris dan Makang Lis) dan sisanya 2 buah toko berada di sisi kanan, berhadapan dengan 2 toko yang membelakangi rumah Kel. Panese berjarak kurang lebih 3 meter selanya. Akses jalan menuju ke pasar lama ini memakai pekarangan sebelah kanan rumah Kel. Panese Sambalao berbatasan dengan rumah Kel. Wowor Eha. Urusan keamanan pasar serta barang-barang dagangan jangan disangsikan. Tuta Hang dengan tongkat kebanggaannya akan selalu siap 1 x 24 jam menggagalkan setiap tangan yang mencoba menjahilinya.

Karena keramaiannya, pertengahan Dekade 80-an pasar tersebut direnovasi oleh Pemerintah (mungkin dana PEMDA Kab. Sangihe Talaud) dari bangunan bertiang kayu menjadi bertiang beton dan bearatap senk. Dibangun memanjang ke arah Selatan tepatnya ke arah pantai, dengan beberapa toko disisi kiri bangunan. Seiring dengan perbaikan bangunan, akses jalan ke pasar turut pula dirubah seperti sekarang ini. Sedangkan Tuta Hang lelaki tua yang memiliki banyak peran penting di Kampung Talawid ini tetap setia dalam tanggungjawab mulia yang diemban kepadanya.

Entah kapan pasar ini berakhir atau menjadi sepi, seingat saya diawal Tahun 1991 waktu mana saya meninggalkan kampung ini ke negeri rantau, pasar ini masihlah beraktifitas seperti sediakala. Entah kapan pula bangunan pasar yang menjadi aset daerah dan kebanggaan kampung-kampung di selatan Pulau Siau ini dibongkar dan dialih fungsi menjadi bangunan rumah dinas camat, dokter dan babinsa. Walahualam ............. semuanya telah berubah ........ sebagai anak negeri, kita hanya dapat berharap, pemerintah Kec. Siau Barat Selatan dapat memperjuangkan terutama di tingkat Kabupaten sehingga di Kecamatan ini dapat kembali dibangun sebuah pasar yang representatif ............... dan Tuta Hang – Tuta Hang muda dapat kembali bertugas ......... semoga !!!.