Minggu, 27 November 2022

BERSAMA TUHAN, KITA BISA !!! (Maz. 127:1)

Oleh : Pdm. F. Dandel, ST, STh, M.Ag.(Cand). 

Salomo, seorang Raja yang berhikmat menulis Mazmur ini, mengingatkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita bangun ataupun yang kita jagai, jika tidak dilakukan bersama Tuhan, maka semuanya akan menjadi sia2. Dengan kata lain, jika kita menghendaki keberhasilan ataupun kemenangan dalam hidup ini, maka kita harus menyertakan/melibatkan Tuhan di dalamnya. (Bersama Tuhan, Kita Bisa !!!). 
Berikut beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik terkait hal ini : 

1. Hal Tersebut Harus Sesuai Kehendak Tuhan. 

Ingat Kisah Menara Babel, Nimrod dan orang Babel mau mendirikan menara untuk mencari nama, dan supaya mereka tidak terserak ke seluruh bumi. (Kej. 11:4). Sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah, sebab ketika Tuhan Allah menciptakan manusia, Ia menghendaki mereka beranak cucu dan bertambah banyak; dan supaya memenuhi bumi...... (Kej. 1:28). 

Apa yang akan kita lakukan, kita harus memastikan bahwa hal tersebut berkenaan kepada Tuhan. Cerminnya adalah Firman Allah sebagai kebenaran yang mutlak. Jika hal tersebut bertentangan dengan kebenaran, maka jangan dilakukan !!!. Tapi jika hal tersebut sesuai dengan kebenaran, maka lakukanlah, dan engkau akan berhasil dan berbahagia. Haleluyah !!! 

2. Libatkan Tuhan Dalam Perencanaan. 

Sesuatu keinginan yang baik dan berkenaan kepada Tuhan, sebelum diwujudkan, kita susun perencanaannya dengan terus melibatkan Tuhan. Seringkali seorang yang merasa mampu, akan cenderung mengandalkan kekuatannya sendiri, dan mengabaikan kuasa Allah. Meskipun hal tersebut adalah hal yang baik, kita tidak boleh melupakan Tuhan dalam perencanaannya. Perihal ini, Yakobus telah mengingatkan kepada kita dalam Yak.4:13-17. 

Pilihan Lot atas Lembah Yordan, didasarkan atas penilaiannya melalui kacamata jasmani. Sesungguhnya tidaklah salah, sebab lembah tersebut sangat subur, padang yang berumput hijau karena dialiri oleh banyak air. Namun di sana menyimpan banyak ancaman, orang Sodom dan Gomora yang gaya hidupnya membuat Lot sangat tersiksa. Lihat Kej. 13:10-11; 18:20 dan 2 Ptr. 2:7). 

Sebab itu libatkanlah Tuhan dalam perencanaanmu, kita tidak perlu menjadi kuatir melainkan nyatakanlah itu melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur kepada Allah. Lih. Flp. 4:6. 

3. Siapkan Dirimu untuk Dipakai Tuhan. 

Dalam mewujudkan misi Tuhan, Ia tidak bekerja sendiri. Allah butuhkan orang-orang pilihanNya yang siap bekerja untuk misi tersebut. Untuk membangun Bait Suci, Tuhan memilih Salomo. Untuk membawa bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir, Allah memilih Musa. Untuk memasuki Tanah Kanaan, Tuhan memilih Yosua sebagai pemimpin. Untuk melebarkan Injil Kerajaan Allah, Tuhan Yesus perlu Rasul2, (termasuk saya dan saudara). 

Demikian juga untuk mewujudkan kerinduan kita yang berkenaan kepada Allah, yang telah kita serahkan dalam doa dan permohonan, Allah butuh kesiapan kita untuk Ia pakai. Disamping berdoa kita juga harus bekerja (Ora et Labora). Jika menghendaki keberhasilan dalam pelayanan, berilah dirimu dipakai oleh Tuhan. Yes. 6:8 :".... Siapakah yang akan Kuutus,..... maka sahutku : ini aku, utuslah aku !". Siapkan dirimu untuk bekerjasama dengan Tuhan, maka KITA PASTI BISA... !!! 

Happy Sunday... Selamat dan Sukses dalam pekerjaan dan pelayanan.... Tuhan Yesus memberkati..... Amin !!!

Minggu, 14 Agustus 2022

Lagu Daerah Sangir Siau dan Talaud 6

Su Naungku Tamailang 

Su Naungku Tamailang 
Maning Maliku u Dunia 
Soa i nariadi angku 
Soa nakalabu si sia 

Reef 

Maning maliku dunia 
mang katahendungang 
Maning mawulang mu taung 
mang kawulenang 
inang Yamang nangapia 
Nuhiking si sia 
oh Mawu-ku Ruata-ku 
abe tentang elang-U 
gawe ege gaghurangku 
hiking su pudarame 

Karangetang Sasaharane 
Tamata mang susundihange 
Ondong Ulu Tatialane 
Siau arenge tutune 

kembali ke reef

Bahaning su kabanarang
Somahe kai kehage
bahani su kabarang
Siau Jantung Hatiku

Sabtu, 18 Juni 2022

BERMENTAL KUAT (Bil. 13 : 25 – 33)

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, M.Ag.(Cand.)

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30)

Untuk mencapai suatu tujuan, harap, damba atau cita-cita, kita tentunya memerlukan keteguhan hati dalam berjuang. Tidak ada sesuatu yang dapat kita capai tanpa perjuangan tentunya, dan dalam perjuangan itu, kita membutuhkan semangat atau Mental Yang Kuat. Jika disandingkan dengan defenisi Iman dalam Ibrani 11 : 1 maka Mental Yang Kuat itu merupakan iman.

Kisah dalam Bil. 13 : 25 – 33 yang merupakan ayat bacaan kita ini, mengkisahkan tentang 10 orang pengintai yang dipilih oleh Musa berdasarkan perintah Tuhan kepadanya, untuk memata-matai tanah Kanaan, suatu negeri yang dijanjikan Allah kepada Abraham dan keturunannya untuk dimiliki (Tanah Perjanjian). Namun ke-10 pengintai yang telah melaksanakan tugas mereka tersebut ternyata memilki suatu pandangan yang terbagi 2, antara yang Optimis Dapat Memenangkan Negeri Kanaan, dan yang Pesimis Akan Kemenangan Tersebut.

Mari kita periksa kisah ini secara lebih detil, tentang Apa Tujuan Sebenarnya dari Misi ke-10 Pengintai ini, Bagaimana Seharusnya Mereka Bersikap, dan Apa Konsekuensi dari Sikap / Laporan Mereka Tersebut ?

I.      Tujuan Misi Pengintai ke Tanah Kanaan.

Sebenarnya bangsa Israel, termasuk ke-10 orang pengintai yang semuanya adalah kepala-kepala di antara orang Israel (ay.3-16) menyadari bahwa tujuan daripada tugas yang dipercayakan kepada mereka hanyalah supaya mereka mengetahui cara / strategi tentara Israel dalam menyerang dan menduduki tanah Kanaan yang sudah diserahkan oleh Tuhan kepada mereka.

Mari kita perhatikan ayat 18 – 20, yang merupakan misi pengintaian itu, yang terbagi atas 2 bagian :

  1. Bagaimana keadaan negeri itu : apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak, apakah mereka diam di tempat-tempat yang terbuka atau ditempat-tempat yang berkubu; (persoalan jumlah, kekuatan dan perlindungan).
  2. Apakah negeri itu baik atau buruk, apakah tanah mereka gemuk atau kurus, apakah ada pohon-pohonan atau tidak; (persoalan hasil bumi / kemakmuran). 

Jika kita perhatikan dengan seksama pada ayat yang ke 2a, sesungguhnya tanah Kanaan itu telah Allah berikan kepada mereka. “Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; …”. Ayat ini merupakan penegasan Janji Allah kepada Abraham (Kej. 15:18); Negeri itu merupakan tanah yang dijanjikan Allah, kalau Allah sudah berjanji memberikannya, maka Ia sendirilah yang pasti akan menggenapinya. 2 Petrus 3 : 9a : ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, …..”

Dalam hal ini, jika ke-10 Pengintai yang adalah pemimpin-pemimpin suku bangsa Israel ini, meyakini akan janji Tuhan, maka seharusnya mereka tidak perlu berselisih pandang tentang keadaan negeri Kanaan tersebut. Namun seperti inilah keadaan kita selaku manusia, ada orang yang memandang janji Tuhan dengan yakin, namun ada juga orang kemudian menjadi ragu. Hal ini tentunya tergantung dari sikap hati kita dalam menerima janji firman Allah tersebut. Perhatikan perumpamaan tentang seorang penabur dalam Mat. 13:1-30; Mrk. 4:1-20 dan Luk. 8:4-15).

II.           Bagaimana Seharusnya Mereka Bersikap ?

Penerimaan kita akan kebenaran firman Allah, akan menentukan cara kita bersikap terhadap kebenaran firman Allah tersebut, dan ini akan teruji ketika kita menghadapi berbagai tantangan dalam hidup kita.

Ke-10 pengintai yang adalah pemimpin-pemimpin suku bangsa Israel tersebut ternyata memiliki sikap yang berbeda ketika mereka diperhadapkan dengan suatu kenyataan yang mereka lihat terhadap suku bangsa yang mendiami tanah Kanaan.

Benar mereka sepakat bahwa negeri tersebut memang negeri yang berlimpah susu dan madunya, bahkan mereka membawa hasilnya; bahwa orang-orang yang mendiami negeri itu merupakan bangsa yang kuat-kuat dan merupakan keturunan Enak (orang-orang raksasa); bahwa kota-kota mereka berkubu dan sangat besar. Namun mestikah dengan kenyataan tersebut akan melunturkan semangat kita ? akan melemahkan iman kita ? tidakkah mereka sadar akan perbuatan ajaib yang telah Tuhan lakukan kepada mereka, baik ketika mereka di Mesir sampai ketika mereka akan memasuki tanah yang Tuhan sudah janjikan kepada mereka ? tidakkah mereka sadar akan perkara-perkara ajaib / mujizat Allah tersebut ? bagaimana ketika mereka menyeberangi laut Teberau yang telah terbelah menjadi dua, bagaimana ketika Allah memberi mereka makan manna dan juga burung-burung ? dan sederatan perkara ajaib yang telah Allah nyatakan kepada mereka ? tinggal selangkah saja, mereka sudah akan memasuki tanah Perjanjian tersebut, mestikah mereka harus kembali lagi ke Mesir, dan kemudian mati di tengah jalan ?  

Bersyukurlah bahwa diantara ke-10 pengintai tersebut, ada 2 orang, yakni Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune yang memiliki iman yang teguh keyakinan akan janji Allah kepada umat pilihan-Nya. Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30)

III.         Apa Konsekuensi dari Sikap Mereka ?

Segala sesuatu terkait dengan sikap kita, apalagi menyangkut hubungan dengan Allah, tentunya memiliki konsekuensi.

Ketika sikap kita berkenaan kepada Allah atau kita memilih sikap yang benar dalam menghadapi suatu permasalahan atau pergumulan hidup, maka tentunya kita akan mendapatkan mahkota yang setimpal dengan itu. I Kor. 9:25 berkata : “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi”.

Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune mendapat perkenaan Tuhan untuk tetap hidup dan dapat masuk ke negeri Kanaan atau Tanah Perjanjian tersebut. (Bil. 14 : 30 dan 38).

Sedangkan kepada ke 8 orang pengintai yang lain itu, apakah yang terjadi kepada mereka ?. setelah mereka membuat hati umat Israel berontak kepada Musa dan kepada Tuhan, mereka akhirnya mati. (Bil. 14 : 36 - 38). Bahkan bukan hanya mereka saja yang mati, semua orang-orang Israel yang terpengaruh dengan informasi yang mereka sampaikan, tidak ada satupun yang masuk ke tanah Kanaan, mereka semua mati di padang gurun, dari yang berumur 20 tahun ke atas. (Bil. 14:29), sesuai dengan permintaan mereka dalam persungutan mereka. (Bil. 14 : 2). “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini !!!”.

Persungutan akan mendatangkan celaka bagi kita. I Tes. 5:18 : “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Doa : Tuhan ajarlah kami mengerti maksud dan kehendak-Mu dalam setiap kehidupan kami, sehingga kami memiliki Iman Yang Teguh di dalam Engkau, dan olehnya kami dapat menikmati mahkota kehidupan yang telah Engkau janjikan. Amin.

  

Minggu, 01 Mei 2022

FAKTA KEBANGKITAN YESUS (Mat. 28:1-10)

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, S.T, S.Th, M.Ag.(Cand.) 

Banyak orang meragukan kebangkitan Yesus, sebagaimana mereka meragukan kematianNya. Tapi Alkitab dengan jelas mencatat bahwa Yesus benar2 mati, dan bahwa Ia juga benar2 bangkit dari antara orang mati. Rasul Paulus memberi kesaksian dalam 1 Korintus 15:17 sebagai berikut : Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 

Berikut adalah beberapa fakta tentang kebangkitan Tuhan Yesus yang dicatat dalam bacaan diatas : 

Pertama : Yesus Bangkit Pada Hari Minggu. 
Ayat 1, mencatat setelah hari Sabat lewat menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama Minggu itu. 

Inilah yang menjadi dasar atau alasan bagi kebanyakan orang Kristen beribadah atau melakukan pertemuan jemaat pada hari Minggu dan bukan pada hari Sabtu atau Sabath sebagaimana orang Yahudi. Meskipun ada juga ternyata orang Kristen lainnya beribadah pada hari Sabtu atau Sabath. 

Lih. Kis. 20:7; I Kor. 16:2 dan Wahyu 1:10. Yang disebut hari Tuhan adalah hari Minggu, karena Yesus bangkit pada hari Minggu atau hari pertama. 

Kedua : Para Perempuan Merupakan Orang Pertama Yang Melihat Yesus Bangkit. 
Ayat 1b - 8. Perempuan2 tersebut yakni : Maria Magdalena dan Maria yang lain. Dalam Markus 16:1 disebutkan Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus serta Salome. Dalam Lukas dikatakan perempuan2 yang datang bersama2 dengan Yesus dari Galilea. 

Tradisi Yahudi sesungguhnya tidak menganggap penting para wanita. Namun ketika hari kebangkitan Yesus, ternyata para perempuanlah yang menjadi saksi pertama kebangkitan Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memberi perhatian khusus kepada perempuan. Dari hati para perempuan selalu ada perhatian dan kasih yang tulus. Meskipun mereka adalah mahkluk yang lemah. Namun peran mereka tidaklah kalah pentingnya dari para laki2. Perempuan diciptakan menjadi penolong bagi laki2. 

Ketiga : Malaikat Tuhan yang Menggulingkan Batu 

Ay. 2 & 3 ..... Sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Lukas dan Yohanes mencatat 2 orang malaikat Tuhan. 

Kesaksian Alkitab ini tentulah yang harus kita percayai, meskipun banyak orang yang menolak kebangkitan Yesus mengarang cerita bahwa mayatnya dicuri orang, dicuri oleh murid2Nya. Lih. Ayat 11-15. Malaikat dalam hal ini berperan sebagai saksi Allah yang diutus dari Sorga. 

Keempat : Kebangkitan Yesus Sesungguhnya Telah Dinubuatkan Sebelumnya 

Ayat 6 berkata : Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakanNya...... Sebelumnya dalam pasal 16:21, 17:9&23 serta 20:19, Tuhan Yesus telah berulangkali mengatakan kepada murid2Nya bahwa Ia akan mati dan akan dibangkitkan pada hari ketiga. Bahkan dalam kitab PL, Maz. 16:10, 22:19-21 dan Yes. 53:10&11 telah menubuatkan hal ini. 

Kelima : Kebangkitan Yesus adalah Bukti Bahwa Ia adalah Allah 
Ay. 8 & 9 .... mereka menyembahNya. 

Inilah salah satu berita penting dari Injil, bahwa Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia. Berbagai pengajaran yang menyangsikan Yesus adalah Allah menjadi terbantahkan. Yesus benar2 adalah Allah. Tidak ada satupun manusia yang berhak menerima penyembahan. Penyembahan itu hanyalah kepada Allah semata. Lih. Wahyu 19:10, 22:8&9. 

Keenam : Perintah Untuk Pergi ke Galilea 
Ay. 10. 

Ada apa sesungguhnya dengan Galilea? Galilea merupakan simbol daerah terkebelakang, kurang berpendidikan dan miskin. Pada masa itu, Galilea dihuni orang Samaria, orang2 yang tidak dianggap oleh orang Yahudi. Tapi sesungguhnya Galilea merupakan suatu kota yang menjadi perhatian Tuhan Yesus. Menjadi daerah pilihan oleh Juruselamat. 
1. Bayi Yesus dari Mesir ke Galilea (Nazareth) sehingga seringkali orang menyebutNya Yesus dari Nazaret. Mat. 2:22&23. 
2. Simon Petrus dan Andreas saudaranya menjadi murid pertama yang dipanggil oleh Tuhan di kota ini. Mat. 4:18&19. 
3. Mujizat Pertama yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di Kana yang adalah di Galilea. Yoh. 2:1-3.

Selasa, 29 Maret 2022

SUDAHKAH ENGKAU MENGENAL YESUS ? Mrk. 8 : 27 - 30

Oleh : Pdm. Wandy Makinggung, STh.
Disampaikan dalam ibadah Pos Pelayanan PETRA Talawid, 
Minggu, 27 Maret 2022. 

4 Tahapan Pengenalan akan Tuhan : 

Pertama : Tahap Perjumpaan Agama. 

Ini berbicara ttg Kekristenan pada umumnya. Mayoritas agama yang ada di wilayah kita, misalnya Sulawesi Utara atau Siau yang beragama Kristen. Kristen sejak lahir, orang tua Kristen, maka anak2pun Kristen. 
Pengenalan seperti ini tidaklah kuat, tidaklah menjamin pengenalan akan Tuhan yang sesungguhnya. Suatu riset membuktikan 8 dari 10 orang yang pergi ke gereja, tidak mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. 

Kedua : Tahap Perjumpaan Pribadi Dengan Tuhan. 

Dalam tahapan ini, kita mengalami dan meraskan jamahan kasih Tuhan melalui Roh Kudus yang membuat kita begitu mencintai Tuhan. Semangat dalam beribadah, semangat dalam membaca Alkitab, semangat dalam berdoa, bahkan semangat dalam melayani pekerjaan Tuhan. 
Suatu Kasih mula-mula yang dirasakan oleh setiap anak2 Tuhan yang memiliki kerinduan besar hidup sesuai kehendak Tuhan. 

Ketiga : Tahap Pengenalan

Proses untuk menjadi murid Tuhan. Dibentuk dalam pengenalan kepada Allah yang sesungguhnya. Dalam tahap ini, kita akan mengalami banyak pergumulan, tetapi melalui pergumulan tersebut, akan menentukan kualitas kita sebagai murid Tuhan yang sesungguhnya. 

Keempat : Tahap Persahabatan dengan Allah 

Ketika kita menjadikan Allah sebagai sahabat kita, atau lebih tepatnya Allah yang menjadikan kita sebagai sahabatNya, maka segala sesuatu yang rahasiapun akan disingkapkan Allah kepada kita. Lih. Kej. 18:17. 
Dalam tahap ini, dapat dikatakan bahwa hubungan kita dengan Allah sudah begitu dekat, sudah begitu intim. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang dirahasiakan bagi kita, karena Allah begitu mempercayai kita, begitu mengasihi kita. 

Dimanakah tingkat pengenalanmu saat ini? Mari kita belajar untuk terus mengenal Tuhan dan kuasa kasihNya. Amin.