Oleh Pdm Dr. (C) Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.
Pendahuluan
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, ketika kita berbicara tentang Natal, sering kali pikiran kita langsung tertuju pada terang, lagu, dan sukacita. Namun Injil Lukas mengajak kita melihat lebih dalam: bahwa peristiwa Natal bukan sekadar kisah indah, melainkan peristiwa sejarah nyata di mana Allah masuk ke dalam dunia manusia.
Lukas tidak memulai kisah kelahiran Yesus dengan malaikat atau mujizat, tetapi dengan nama seorang kaisar, perintah sensus, dan perjalanan panjang sepasang suami istri yang sederhana. Melalui cara inilah Alkitab menegaskan bahwa inkarnasi terjadi di tengah sejarah dunia, bukan di luar realitas hidup manusia.
Lebih dari itu, Sang Anak Allah tidak lahir dalam kemegahan, melainkan dalam kerendahan, tanpa tempat di penginapan, dibaringkan di palungan. Dari awal, Allah menyatakan bahwa keselamatan tidak datang melalui kuasa dunia, tetapi melalui kasih yang rela merendahkan diri. Inilah kebenaran yang hendak kita renungkan melalui Lukas 2:1–7: Inkarnasi di tengah sejarah dan kerendahan.
I. Allah Menggenapi Rencana-Nya Melalui Sejarah Dunia (ayat 1–3)
“Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.”
Secara lahiriah, sensus ini adalah keputusan politik Romawi. Kaisar Agustus bertindak sebagai penguasa dunia, menunjukkan kontrol dan kekuasaannya atas rakyat. Namun secara rohani, Lukas ingin menegaskan bahwa Allah tetap berdaulat di atas keputusan penguasa dunia. Tanpa sadar, kaisar itu sedang menjadi alat Allah untuk menggenapi nubuat Mikha 5:1 bahwa Mesias harus lahir di Betlehem.
Ini mengajarkan bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah. Bahkan kebijakan yang tampak sekuler dan menekan pun dapat dipakai Allah untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya. Sejarah dunia tidak bergerak secara acak, tetapi berada di bawah tangan Allah yang berdaulat.
Bagi jemaat masa kini, ini memberi penghiburan: situasi politik, ekonomi, dan sosial yang sulit tidak pernah menggagalkan kehendak Tuhan. Allah tetap bekerja, bahkan melalui sistem dunia yang sering kali tidak adil atau tidak rohani.
Ayat Pendukung:
1. Amsal 21:1 – “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.”
2. Daniel 2:21a – “Dia mengubah waktu dan masa, Dia memecat raja dan mengangkat raja.”
II. Ketaatan yang Sederhana Membawa Penggenapan Besar (ayat 4–5)
“Lalu pergilah Yusuf dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud, yaitu Betlehem…”
Perjalanan dari Nazaret ke Betlehem bukan perjalanan mudah, terlebih bagi Maria yang sedang mengandung tua. Namun Yusuf dan Maria tetap taat. Mereka tidak tahu sepenuhnya dampak besar dari ketaatan itu, tetapi mereka memilih taat dalam hal yang sederhana.
Ketaatan Yusuf dan Maria terlihat biasa, bahkan melelahkan. Namun justru melalui ketaatan yang sunyi dan tidak disorot ini, Allah menghadirkan Sang Juruselamat dunia. Allah sering bekerja melalui ketaatan sehari-hari yang tampaknya kecil, tetapi bernilai kekal.
Bagi orang percaya, ini menantang kita untuk tetap setia dalam panggilan Tuhan, baik dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, maupun kehidupan pribadi, meskipun tidak ada tepuk tangan atau kemudahan. Ketaatan kepada Allah tidak pernah sia-sia.
Ayat Pendukung:
1. 1 Samuel 15:22b – “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan.”
2. Lukas 16:10 – “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
III. Sang Juruselamat Lahir dalam Kerendahan dan Penolakan (ayat 6–7)
“Karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”
Yesus lahir bukan di istana, tetapi di palungan. Tempat kelahiran-Nya menunjukkan paradoks besar Injil: Raja semesta lahir dalam kemiskinan dan keterbatasan. Sejak awal hidup-Nya, Yesus sudah mengalami penolakan dunia.
Palungan adalah tempat makanan ternak, simbol kerendahan dan kesederhanaan. Allah tidak memilih kemegahan untuk menyatakan kasih-Nya, tetapi kerendahan agar manusia berdosa dapat mendekat tanpa takut. Inilah inkarnasi: Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia.
Aplikasi bagi jemaat sangat jelas: Allah hadir bukan hanya di tempat megah dan nyaman, tetapi juga di tengah keterbatasan hidup kita. Natal mengingatkan kita bahwa Kristus datang untuk mereka yang tidak punya tempat, yang tersisih, dan yang rendah hati.
Ayat Pendukung:
1. Filipi 2:6–7 – “Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba.”
2. 2 Korintus 8:9 – “Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya.”
Penutup
Saudara-saudari yang terkasih, Lukas 2:1–7 menegaskan bahwa Allah tidak jauh dari kehidupan manusia. Ia masuk ke dalam sejarah nyata, ke dalam dunia yang diatur oleh kekuasaan manusia, dan ke dalam hidup yang penuh keterbatasan. Inkarnasi mengingatkan kita bahwa di tengah situasi apa pun—baik yang kita pahami maupun yang membingungkan, Allah tetap bekerja setia menggenapi rencana keselamatan-Nya.
Lebih dari itu, kelahiran Yesus di palungan menunjukkan jalan Allah yang berbeda dari jalan dunia. Dunia mengejar kemegahan, tetapi Allah memilih kerendahan. Dunia mengandalkan kuasa, tetapi Allah menyatakan kasih melalui pengosongan diri. Karena itu, Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan panggilan untuk hidup dalam kerendahan hati, ketaatan, dan kesetiaan kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Akhirnya, marilah kita membuka ruang bagi Kristus dalam hati dan hidup kita. Jangan sampai kesibukan, kenyamanan, atau kepentingan pribadi menutup pintu bagi kehadiran-Nya. Biarlah Sang Juruselamat yang lahir dalam kerendahan itu memerintah dalam hidup kita, membentuk karakter kita, dan memimpin langkah kita, hari ini dan sepanjang hidup kita. Amin.
