Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.
Pendahuluan
Kasih sering kali disalahpahami sebagai sikap yang selalu lembut dan menghindari konflik. Namun Alkitab menunjukkan bahwa kasih sejati tidak pernah menutup mata terhadap dosa. Justru karena kasih, dosa harus dihadapi dengan serius demi kebaikan orang yang bersalah dan demi kesehatan rohani jemaat.
Di jemaat Korintus, Paulus menghadapi situasi yang sulit: ada dosa yang nyata, disiplin telah dijalankan, dan sekarang muncul tantangan baru, bagaimana bersikap terhadap orang yang telah ditegur itu. Di sinilah kita melihat bahwa kasih Kristen bukan hanya soal keberanian menegur, tetapi juga kerendahan hati untuk mengampuni.
Melalui 2 Korintus 2:5–11, Paulus menuntun jemaat untuk memahami bahwa tujuan akhir kasih Allah bukan penghukuman, melainkan pemulihan. Kasih yang sejati selalu bergerak dari teguran menuju pengampunan, dan dari pengampunan menuju pemulihan.
1. Kasih Menegur Dosa demi Kebaikan Jemaat (ayat 5–6)
Paulus menegaskan bahwa dosa seseorang membawa dukacita bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh jemaat. Ini menunjukkan bahwa gereja adalah satu tubuh, sehingga penderitaan satu anggota memengaruhi yang lain. Karena itu, kasih tidak bisa bersikap pasif terhadap dosa yang merusak persekutuan.
Disiplin yang dilakukan jemaat Korintus bukanlah tindakan kebencian, melainkan ekspresi kasih yang bertanggung jawab. Paulus menyatakan bahwa hukuman itu “sudah cukup,” artinya disiplin memiliki tujuan yang jelas dan batas yang sehat. Kasih tidak pernah bertujuan menghancurkan, tetapi menyadarkan.
Prinsip ini ditegaskan juga dalam Ibrani 12:6, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.” Demikian pula Amsal 27:5–6 mengatakan bahwa teguran yang nyata lebih baik daripada kasih yang tersembunyi. Kasih sejati berani menegur dosa, tetapi selalu dengan tujuan pemulihan, bukan penghancuran.
2. Kasih Mengampuni dan Menguatkan yang Bertobat (ayat 7–8)
Setelah tujuan disiplin tercapai, kasih harus mengambil langkah berikutnya, yaitu mengampuni. Paulus dengan jelas meminta jemaat untuk mengampuni dan menghibur orang tersebut, supaya ia tidak tenggelam dalam dukacita yang berlebihan. Tanpa pengampunan, disiplin justru bisa berubah menjadi beban yang mematikan secara rohani.
Paulus memahami kondisi jiwa orang yang bertobat—rasa bersalah yang mendalam bisa menyeret seseorang pada keputusasaan. Karena itu, jemaat dipanggil bukan hanya untuk menghentikan hukuman, tetapi secara aktif meneguhkan kasih. Kasih perlu dinyatakan, bukan sekadar dirasakan.
Prinsip ini sejalan dengan Mazmur 34:19, bahwa TUHAN dekat kepada orang yang patah hati, serta Yesaya 57:15, yang menyatakan bahwa Allah menghidupkan semangat orang yang remuk. Yesus sendiri berkata dalam Matius 11:28 bahwa Ia memberi kelegaan bagi yang letih dan berbeban berat. Gereja dipanggil mencerminkan hati Kristus itu melalui pengampunan yang memulihkan.
3. Kasih Melindungi Jemaat dari Tipu Daya Iblis (ayat 9–11)
Paulus menutup nasihatnya dengan peringatan rohani yang serius: jika jemaat menolak mengampuni, Iblis akan memperoleh keuntungan. Kepahitan, dendam, dan relasi yang rusak adalah alat yang sering dipakai Iblis untuk menghancurkan gereja dari dalam.
Mengampuni bukan sekadar tindakan emosional, melainkan ketaatan rohani kepada Kristus. Paulus bahkan mengaitkan pengampunannya sendiri dengan hadirat Kristus, menegaskan bahwa pengampunan adalah bagian dari hidup yang tunduk kepada Tuhan.
Hal ini ditegaskan dalam Efesus 4:26–27, yang memperingatkan agar kita tidak memberi kesempatan kepada Iblis melalui amarah yang dipelihara. 1 Petrus 5:8 juga mengingatkan bahwa Iblis berjalan keliling seperti singa yang mengaum. Kasih yang mengampuni adalah benteng rohani yang menjaga kesatuan dan kesehatan jemaat.
Penutup
Kasih yang sejati tidak pernah berhenti pada teguran, tetapi selalu melangkah menuju pengampunan. Tanpa pengampunan, disiplin kehilangan maknanya; tanpa pemulihan, kasih kehilangan tujuannya. Paulus mengajarkan bahwa gereja yang dewasa adalah gereja yang tahu kapan harus tegas dan kapan harus memeluk.
Kristus sendiri telah memberi teladan tertinggi. Ia menegur dosa dengan kebenaran, tetapi mengampuni dengan kasih yang mengorbankan diri. Salib adalah bukti bahwa kasih Allah tidak mengabaikan dosa, namun juga tidak membiarkan manusia binasa di dalamnya.
Kiranya gereja Tuhan dipenuhi oleh kasih yang mengampuni dan memulihkan, kasih yang menyembuhkan jiwa, menjaga kesatuan, dan memuliakan Kristus di tengah dunia. Amin