Selama menjalankan tugas sebagai Sekretaris Badan, saya berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya. Berbagai dokumen penting organisasi telah diselesaikan dengan penuh tanggung jawab: LKPJ, LAKIP, RANWAL, RENSTRA, Rencana Aksi, Rencana Kerja, Perjanjian Kinerja, serta berbagai dokumen strategis lainnya. Pekerjaan itu bukan sekadar urusan administratif, tetapi bagian dari sistem yang memastikan bahwa pemerintahan berjalan tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan dalam pekerjaan yang sering tidak terlihat, seperti penginputan dan pengelolaan data di SIPD, saya tetap berusaha melakukannya dengan teliti dan sungguh-sungguh.
Bagi saya, bekerja bukan hanya soal menyelesaikan tugas jabatan. Bekerja adalah bagian dari iman. Firman Tuhan mengajarkan, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Prinsip inilah yang selalu saya pegang, baik ketika saya berdiri di mimbar sebagai gembala jemaat maupun ketika saya duduk di meja kerja sebagai aparatur pemerintah. Saya percaya bahwa integritas dalam pekerjaan adalah kesaksian iman yang nyata.
Karena itu, ketika keputusan penurunan jabatan datang, muncul pertanyaan sederhana namun jujur dalam hati saya: jika selama ini pekerjaan itu telah saya lakukan dengan baik, mengapa saya harus diturunkan dari jabatan tersebut? Pertanyaan ini bukan lahir dari keinginan untuk mempersoalkan otoritas siapa pun, melainkan dari kerinduan akan sebuah keadilan yang wajar, bahwa kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh semestinya dinilai secara objektif.
Refleksi ini bahkan semakin terasa ketika dalam beberapa waktu terakhir saya kembali diminta untuk membantu menyelesaikan pekerjaan yang dahulu menjadi tanggung jawab saya sebagai Sekretaris Badan. Ketika muncul kendala dalam penyusunan dokumen atau penginputan sistem, saya kembali diminta untuk menyelesaikannya. Di satu sisi saya tidak lagi berada pada jabatan tersebut, tetapi di sisi lain kemampuan dan pengalaman yang saya miliki tetap dibutuhkan.
Situasi ini menghadirkan sebuah ironi yang sulit untuk tidak direnungkan. Seolah-olah pekerjaan yang dahulu saya lakukan tetap diakui kualitasnya, tetapi posisi yang dahulu melekat pada pekerjaan itu tidak lagi diberikan kepada saya. Bagi hati yang mencoba memahami keadaan, ini terasa seperti sebuah kisah yang belum sepenuhnya menemukan penjelasan yang utuh.
Namun sebagai seorang yang juga melayani sebagai gembala jemaat, saya belajar bahwa hidup tidak selalu menjawab semua pertanyaan kita dengan segera. Ada kalanya Tuhan mengizinkan seseorang melewati jalan yang tidak sepenuhnya dipahami. Dalam iman, kita diajar untuk tetap setia menjalani panggilan kita. Firman Tuhan berkata, “Siapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar ” (Lukas 16:10). Kesetiaan itulah yang terus saya pegang.
Karena itu hari ini saya memilih untuk tetap melangkah dengan hati yang tenang. Jabatan boleh berubah, tetapi komitmen untuk bekerja dengan baik tidak boleh berubah. Baik sebagai Kepala Bidang dalam tugas pemerintahan maupun sebagai gembala dalam pelayanan gereja, saya percaya bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang benar adalah ibadah kepada Tuhan.
Empat bulan ini telah menjadi masa perenungan yang dalam bagi saya. Saya belajar bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari jabatan yang kita pegang, tetapi dari kesetiaan kita menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita. Mungkin tidak semua usaha langsung dihargai, dan mungkin tidak semua keputusan terasa adil bagi manusia. Namun saya percaya bahwa Tuhan melihat setiap kerja yang dilakukan dengan jujur.
Pada akhirnya, waktu akan menjadi saksi bahwa seseorang pernah bekerja dengan sungguh-sungguh, pernah mengabdi dengan setia, dan tetap berdiri teguh dalam iman, baik ketika berada pada posisi yang tinggi maupun ketika ditempatkan pada posisi yang lebih rendah. Karena bagi saya, pekerjaan adalah panggilan, pengabdian adalah kesaksian, dan kesetiaan adalah bagian dari iman.