Tampilkan postingan dengan label HERMENEUTIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HERMENEUTIK. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2025

SIKAP ORANG PERCAYA TERHADAP PEMERINTAH, PELAJARAN DARI JAWABAN YESUS. Lukas 20:20-26


Oleh : Pdm. Dr (C). Fredrik Dandel, ST, STh, M.Ag, M.Th.

Pendahuluan: 

Dalam Lukas 20:20-26, para pemuka agama mencoba menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang membayar pajak kepada Kaisar. Mereka berharap jawaban-Nya akan menjebak-Nya dalam konflik politik, baik dengan rakyat Yahudi maupun dengan pemerintah Romawi. Namun, Yesus dengan hikmat-Nya memberikan jawaban yang penuh makna: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Kisah ini mengajarkan bahwa sebagai orang percaya, kita harus memahami dan menempatkan dengan benar kewajiban kita kepada pemerintah tanpa mengorbankan kesetiaan kita kepada Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, terutama pasca pemilu bahkan puncaknya saat pemerintah yang terpilih baru dilantik, masyarakat sering kali memiliki perasaan yang beragam terhadap kepemimpinan yang baru. Ada yang merasa puas dan mendukung penuh, sementara yang lain mungkin kecewa karena kandidat yang mereka pilih tidak menang. Dalam situasi seperti ini, penting bagi kita untuk bersikap bijak dan tetap menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dengan menghormati pemimpin yang telah terpilih. Selain itu, kita juga harus senantiasa mengingat bahwa kedaulatan Allah lebih tinggi dari sistem politik dunia, dan tujuan utama kita adalah menjalankan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat.

Dengan memahami konteks ini, kita akan melihat tiga poin utama dari perikop ini. Pertama, kita akan melihat bagaimana orang yang menjadi "lawan" Yesus mencoba menjebak-Nya dalam perangkap politik. Kedua, kita akan belajar dari jawaban Yesus yang penuh hikmat dalam menghadapi pertanyaan yang sulit. Ketiga, kita akan menggali pelajaran rohani dari kisah ini yang relevan bagi kita, khususnya dalam konteks kehidupan pasca pemilu, kemudian setelah pemerintah baru dilantik. Dengan demikian, kita dapat hidup sebagai warga negara yang baik tanpa kehilangan fokus pada panggilan kita sebagai anak-anak Tuhan.

I. Perangkap yang Dipasang untuk Yesus (Lukas 20:20-22)

Ahli Taurat dan Imam-Iman Kepala Bangsa Yahudi tidak datang dengan niat baik, tetapi dengan maksud untuk menjerat-Nya dalam jebakan politik. Mereka mengutus mata-mata yang berpura-pura sebagai orang yang tulus untuk mengajukan pertanyaan tentang kewajiban membayar pajak kepada Kaisar. Mereka berharap jawaban Yesus akan membuat-Nya terjebak dalam kontroversi antara rakyat Yahudi yang membenci kekuasaan Romawi dan penguasa yang berhak menghukum mereka yang menolak membayar pajak. Dengan cara ini, mereka berusaha menghancurkan otoritas dan pengaruh Yesus di tengah masyarakat. Hal ini mengingatkan kita akan peringatan dalam Amsal 26:24-26, bahwa ada orang yang menyembunyikan kebencian dengan perkataan manis, tetapi hatinya penuh tipu daya.

Pertanyaan yang diajukan kepada Yesus adalah pertanyaan yang berbahaya. Jika Yesus mengatakan bahwa pajak harus dibayar, maka Ia akan dianggap berpihak kepada Roma dan kehilangan simpati orang-orang Yahudi. Sebaliknya, jika Ia mengatakan bahwa pajak tidak perlu dibayar, maka Ia bisa dituduh sebagai pemberontak yang menentang pemerintah Romawi. Para lawan-Nya berharap jawaban Yesus akan menimbulkan reaksi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menyingkirkan-Nya secara hukum atau sosial. Yesus sendiri telah memperingatkan murid-murid-Nya dalam Matius 10:16 untuk menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dalam menghadapi dunia yang penuh tipu muslihat.

Situasi ini mengingatkan kita akan berbagai strategi politik yang sering digunakan dalam dunia modern, terutama setelah pemerintah baru dilantik. Banyak pihak mencoba menggiring opini publik untuk kepentingan mereka sendiri, sering kali dengan cara yang licik dan manipulatif. Sebagai orang percaya, kita perlu berhati-hati dalam menghadapi provokasi politik dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran serta keadilan yang diajarkan Tuhan.

II. Jawaban Yesus yang Bijaksana (Lukas 20:23-25)

Yesus tidak terpancing oleh jebakan yang dibuat oleh orang-orang yang membenci-Nya. Ia dengan tenang meminta mereka untuk menunjukkan sekeping dinar, mata uang yang digunakan untuk membayar pajak. Dengan bertanya tentang gambar dan tulisan yang ada pada koin tersebut, Yesus menegaskan bahwa uang itu milik Kaisar, sehingga logis jika diberikan kepada Kaisar sebagai bentuk tanggung jawab sipil. Dengan cara ini, Yesus tidak hanya menghindari jebakan mereka, tetapi juga mengajarkan prinsip penting tentang batas antara kewajiban kepada pemerintah dan kewajiban kepada Allah. Hal ini selaras dengan Roma 13:1, yang menyatakan bahwa setiap otoritas berasal dari Allah dan kita harus tunduk kepada pemerintah yang sah.

Jawaban Yesus menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dalam memahami peran pemerintah dan peran iman dalam kehidupan orang percaya. Yesus tidak menolak sistem pemerintahan duniawi, tetapi juga tidak menjadikan pemerintah sebagai otoritas tertinggi dalam kehidupan rohani seseorang. Dengan mengatakan, "Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah," Yesus mengingatkan bahwa meskipun kita hidup dalam dunia yang memiliki sistem pemerintahan, ketaatan tertinggi kita tetap kepada Tuhan. Seperti yang dikatakan dalam Mazmur 24:1, seluruh bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan.

Di era modern, khususnya setelah pemerintah baru dilantik, jawaban Yesus menjadi pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan sebagai warga negara dan orang percaya. Kita harus menjalankan kewajiban kita kepada pemerintah, seperti membayar pajak dan menaati hukum, tetapi pada saat yang sama, kita tidak boleh melupakan bahwa hidup kita sepenuhnya adalah milik Tuhan.

III. Pelajaran Rohani dari Kisah Ini dalam Konteks Pemerintahan yang Baru

Yesus mengajarkan bahwa kita harus menaati pemerintah dalam hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya (1 Petrus 2:13-17). Pemimpin yang telah dilantik harus dihormati, bahkan jika pilihan mereka berbeda dengan pilihan kita. Kita diajak untuk tetap berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dengan cara yang sehat dan konstruktif. Dalam konteks saat ini, ini berarti menerima kepemimpinan yang baru dengan sikap yang bijak, serta tidak menggunakan perbedaan pilihan politik sebagai alasan untuk membenci atau memecah belah.

Selain itu, kita harus mendoakan pemerintah dan mencari kesejahteraan bagi negeri kita sebagaimana diperintahkan dalam Yeremia 29:7. Sebagai orang percaya, kita memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian dan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, kita harus tetap berpegang pada fakta bahwa kewarganegaraan sejati kita adalah di dalam Kerajaan Allah (Filipi 3:20). Sistem politik dunia bisa berubah, tetapi kerajaan Allah kekal selamanya. Oleh karena itu, meskipun kita mungkin tidak memilih pemimpin yang sekarang berkuasa, kita harus tetap bersikap hormat, memberikan ucapan selamat dengan tulus, dan mendoakan mereka agar dapat memimpin dengan bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kesimpulan: 

Kisah ini mengajarkan bahwa sebagai orang percaya, kita memiliki tanggung jawab kepada pemerintah dan kepada Allah. Kita harus taat kepada hukum negara, tetapi yang lebih penting adalah memberikan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Setelah pemerintah dilantik, kita harus menghindari polarisasi dan tetap menjaga persatuan, dengan mengingat bahwa pemimpin manusia bersifat sementara, tetapi Allah tetap berdaulat selamanya. Marilah kita hidup sebagai warga negara yang baik di dunia ini, tetapi lebih dari itu, sebagai warga Kerajaan Allah yang sejati. Amin.

Rabu, 19 Februari 2025

Menjadi Pengikut Sejati Yesus (Bacaan : Lukas 14:25-35)


Oleh : Pdm. Dr. (C). Fredrik Dandel, ST, STh, M.Ag, M.Th.

Pendahuluan:

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, setiap orang yang menyatakan diri sebagai pengikut Yesus pasti ingin hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, apakah kita benar-benar siap untuk mengikuti Dia? Banyak orang mungkin merasa bahwa menjadi pengikut Kristus adalah perjalanan yang mudah, penuh dengan berkat dan kenyamanan. Tapi apakah itu yang Yesus ajarkan? Dalam Lukas 14:25-35, Yesus memberikan pengajaran yang sangat jelas dan menantang, yang mengungkapkan apa artinya menjadi murid-Nya sejati. Di sini, Yesus tidak hanya berbicara tentang kasih atau pengampunan, tetapi tentang pengorbanan, komitmen, dan perhitungan yang harus dilakukan sebelum kita memutuskan untuk mengikutinya.

Pada saat Yesus hidup dan mengajar di Israel, bangsa Israel berada di bawah pemerintahan Romawi. Mereka mengalami penindasan dan pembatasan kebebasan, serta merasa terpinggirkan dalam banyak aspek kehidupan mereka. Masyarakat Yahudi sangat menginginkan pembebasan dari penjajahan Romawi, dan banyak orang berharap bahwa Mesias yang dijanjikan akan datang untuk membebaskan mereka secara politik dan sosial. Harapan mereka adalah Mesias yang kuat, seperti raja yang memimpin mereka dalam perang melawan penjajah. Namun, Yesus datang dengan sebuah misi yang berbeda: bukan untuk membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, melainkan untuk membawa pembebasan rohani, mengajarkan tentang kerajaan Allah yang tidak terikat pada kuasa duniawi. 

Di dunia yang semakin sibuk dan penuh dengan godaan ini, kita sering kali tergoda untuk mencari jalan yang lebih mudah, yang menawarkan kenyamanan dan kemudahan. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hidup sebagai pengikut-Nya adalah perjalanan yang melibatkan pengorbanan pribadi, pengorbanan waktu, dan terkadang pengorbanan hubungan. Dalam khotbah ini, kita akan menggali lebih dalam apa yang Yesus maksud dengan menjadi pengikut-Nya yang sejati. Ini bukanlah panggilan yang harus kita ambil dengan ringan, tetapi sebuah panggilan untuk hidup sepenuhnya bagi-Nya, siap untuk melepaskan apa pun yang menghalangi kita untuk mengikutinya dengan sepenuh hati.

1. Menghitung Biaya Pengikut Sejati (Lukas 14:25-30)

Orang Yahudi pada zaman Yesus sangat menghargai kebijaksanaan dan pengertian tentang bagaimana bertindak dengan hati-hati sebelum membuat keputusan besar. Dalam budaya Yahudi, ada banyak ajaran yang menekankan pentingnya merencanakan dan menghitung biaya sebelum memulai suatu proyek besar. Yesus menggunakan perumpamaan tentang raja yang hendak berperang (Lukas 14:31) dan seorang yang hendak membangun menara (Lukas 14:28) untuk menggambarkan pentingnya menghitung biaya sebelum mengikuti-Nya. Ini adalah ajaran yang sangat relevan bagi orang-orang Yahudi yang telah terbiasa dengan perencanaan yang cermat dalam kehidupan mereka. Kedua perumpamaan ini juga mengingatkan kita bahwa mengikuti Yesus bukanlah keputusan yang bisa diambil secara sembarangan, melainkan keputusan yang harus didasarkan pada pemahaman penuh akan tantangan dan pengorbanan yang akan kita hadapi.

Dalam Matius 7:24-27, Yesus juga berbicara tentang dua jenis orang yang mendengar perkataan-Nya: yang satu membangun rumah di atas batu, dan yang lainnya membangun rumah di atas pasir. Yesus mengatakan bahwa orang yang membangun rumah di atas batu adalah orang yang mendengarkan dan melakukan perkataan-Nya. Hal ini mengajarkan bahwa membangun hidup kita di atas dasar yang kuat, yaitu iman kepada Yesus dan ketaatan kepada firman-Nya memerlukan perhitungan yang matang. Membangun hidup rohani yang kokoh tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, tetapi memerlukan komitmen yang mendalam.

Selain itu, dalam Filipi 3:7-8, Paulus juga berbicara tentang perhitungan yang sama dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa segala yang dianggapnya sebagai keuntungan sebelum mengenal Kristus, kini ia anggap sebagai kerugian karena Kristus. Paulus menghitung biaya dari mengikuti Yesus, yang berarti melepaskan segala hal yang dianggap berharga di dunia ini. Ia siap menanggung segala kerugian demi mendapatkan Kristus. Seperti Paulus, kita juga dipanggil untuk menghitung biaya mengikuti Yesus, untuk memahami bahwa itu mungkin memerlukan pengorbanan, baik dalam hal kedudukan, harta, ataupun bahkan hubungan kita dengan orang lain. Ini semua adalah bagian dari panggilan untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati.

2. Menyadari Pengorbanan yang Diperlukan (Lukas 14:26-27)

Pada zaman Yesus, pengorbanan dan penderitaan adalah konsep yang sangat dikenal oleh orang Yahudi, khususnya dalam konteks pengorbanan hewan di Bait Allah untuk penebusan dosa. Namun, pengorbanan pribadi yang dimaksudkan oleh Yesus adalah sesuatu yang jauh lebih mendalam. Dia mengajarkan bahwa untuk mengikuti-Nya, seseorang harus siap untuk menanggung salib, yang mengandung makna penderitaan dan pengorbanan pribadi. Konsep ini bertentangan dengan harapan banyak orang Yahudi yang melihat Mesias sebagai sosok yang akan membebaskan mereka secara fisik dan memberikan mereka kekuasaan politik. Yesus, di sisi lain, mengingatkan mereka bahwa penderitaan dan pengorbanan adalah bagian dari panggilan untuk mengikut Dia

Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa menjadi pengikut-Nya memerlukan pengorbanan yang besar. Dalam Lukas 14:26, Yesus berkata, "Jika seorang datang kepada-Ku dan tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, dan saudara-saudaranya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Tentu saja, kata "membenci" di sini tidak berarti bahwa kita harus benar-benar membenci orang-orang yang kita cintai. Membenci dalam bacaan ini berasal dari kata Yunani "miseō" (μισέω) dapat diterjemahkan sebagai "membenci," tetapi dalam konteks ayat ini, lebih tepatnya mengandung pengertian "memilih untuk tidak mengutamakan" atau "menempatkan di bawah" sesuatu yang lain. Ini bukan berarti kita harus benar-benar membenci orang-orang yang kita cintai, tetapi lebih kepada penekanan pada pentingnya mengutamakan kasih kita kepada Yesus di atas segala hubungan atau komitmen lainnya.

Yesus mengajarkan bahwa kita harus siap untuk mengutamakan Dia di atas segala sesuatu, bahkan di atas keluarga dan diri kita sendiri. Pengorbanan ini adalah suatu panggilan untuk hidup dalam komitmen yang sepenuhnya kepada Kristus, dan ini berarti bahwa segala sesuatu yang kita cintai di dunia ini tidak boleh menghalangi kita untuk mengikutinya. Dalam konteks ini, Yesus mengingatkan kita bahwa mengikuti-Nya berarti siap untuk menghadapi tantangan besar, termasuk pengorbanan dalam hubungan dan aspek kehidupan kita.

Bacaan lain yang dapat menguatkan ajaran ini terdapat dalam Matius 10:37-39, di mana Yesus berkata, "Barangsiapa mengasihi bapanya atau ibunya lebih dari pada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya lebih dari pada Aku, ia tidak layak bagi-Ku." Yesus kembali mengingatkan kita bahwa kasih kita kepada-Nya harus mengatasi segala kasih yang ada di dunia ini. Pengorbanan yang dimaksudkan di sini bukan hanya tentang meninggalkan sesuatu, tetapi tentang penyerahan diri secara penuh kepada Tuhan, mengutamakan kehendak-Nya di atas segala keinginan kita.

Filipi 3:8 juga berbicara tentang pengorbanan yang diperlukan untuk mengikuti Kristus. Paulus menulis, "Aku menganggap semuanya itu rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, jauh lebih mulia daripada semuanya itu." Paulus menunjukkan bahwa pengorbanan terbesar yang bisa dilakukan adalah melepaskan segala hal yang kita anggap berharga untuk memperoleh Kristus. Ini adalah gambaran nyata dari pengorbanan yang dibutuhkan untuk mengikuti Yesus: melepaskan yang duniawi untuk mengejar apa yang kekal.

3. Menjadi Garam (Lukas 14:34-35)

Yesus mengakhiri bagian ini dengan sebuah peringatan yang sangat kuat tentang pentingnya menjadi garam yang baik. Dalam Lukas 14:34-35, Yesus berkata, "Garam adalah baik, tetapi jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak berguna lagi, selain dibuang dan diinjak orang." Di sini, Yesus menggunakan garam sebagai simbol untuk menunjukkan peran pengikut-Nya di dunia ini. Garam pada zaman Yesus memiliki banyak kegunaan: sebagai pengawet, penambah rasa, dan pengawet makanan. Begitu juga, pengikut Kristus dipanggil untuk memberikan pengaruh yang positif dan berbeda di dunia ini.

Menjadi pengikut sejati Yesus berarti kita harus memiliki pengaruh yang nyata dalam masyarakat. Sebagai garam, kita tidak hanya dipanggil untuk hidup bagi diri kita sendiri, tetapi untuk memberi dampak yang baik bagi orang lain dan bagi dunia ini. Garam yang kehilangan rasa atau fungsinya tidak lagi berguna, demikian pula seorang pengikut Kristus yang kehilangan kesaksian atau tidak lagi hidup sesuai dengan ajaran-Nya akan kehilangan dampak positifnya. Tugas kita sebagai pengikut Kristus adalah menjadi terang di dunia yang gelap dan garam yang memberi rasa dan pengawetan bagi dunia yang rusak ini.

Bacaan lain yang sangat relevan dengan pengajaran ini terdapat dalam Matius 5:13-16, di mana Yesus mengatakan, "Kamu adalah garam dunia. Tetapi jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak berguna lagi selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi." Yesus menyatakan dengan jelas bahwa pengikut-Nya adalah garam dan terang bagi dunia. Pengikut Kristus dipanggil untuk membawa perubahan, menjadi pengaruh yang positif di tengah masyarakat, serta menyinari kegelapan dunia dengan hidup yang bercahaya melalui perbuatan baik dan kesaksian iman.

Kolose 4:5-6 juga memberi penekanan pada pentingnya kehidupan yang memberikan dampak positif: "Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah perkataanmu selalu penuh kasih, sehingga dengan bijaksana kamu dapat mengetahui bagaimana seharusnya kamu memberi jawaban kepada tiap-tiap orang." Ini adalah panggilan untuk hidup bijaksana dan memberi dampak positif melalui perkataan dan perbuatan kita, agar hidup kita menjadi saksi yang nyata dari kasih dan kebenaran Kristus.

Kesimpulan:

Saudara-saudari yang terkasih, pengajaran Yesus dalam Lukas 14:25-35 mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus sejati tidaklah mudah dan memerlukan komitmen yang mendalam. Mengikuti Yesus bukan sekadar tentang menerima berkat-Nya, tetapi juga tentang menghitung biaya yang harus dibayar, siap untuk mengorbankan apa pun yang menghalangi kita untuk hidup sepenuhnya bagi-Nya. Yesus mengajarkan kita untuk memprioritaskan kasih kita kepada-Nya di atas segala sesuatu, bahkan hubungan kita dengan keluarga dan diri kita sendiri.

Yesus juga menantang kita untuk menjadi pengikut yang siap menanggung salib, yaitu siap menghadapi kesulitan dan penderitaan sebagai bagian dari panggilan kita. Mengikut Kristus berarti siap untuk mengorbankan, namun juga siap menerima berkat yang jauh lebih besar dari segala hal yang kita lepaskan untuk-Nya. Seperti yang ditulis oleh Paulus dalam Filipi 3:8, "Aku menganggap semuanya itu rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, jauh lebih mulia daripada semuanya itu."

Akhirnya, Yesus mengingatkan kita bahwa sebagai pengikut-Nya, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang di dunia ini. Kita harus hidup dengan dampak positif, memberikan pengaruh yang membawa perubahan baik di sekitar kita. Kita dipanggil untuk menunjukkan perbedaan melalui hidup kita, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sebagai garam, kita memberi rasa dan pengaruh, dan sebagai terang, kita menyinari kegelapan dunia dengan kasih dan kebenaran Kristus.

Marilah kita menghitung biaya, mengerti pengorbanan yang diperlukan, dan berkomitmen untuk hidup sebagai pengikut Kristus yang sejati—menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Semoga hidup kita selalu memuliakan Tuhan, memberikan dampak yang baik, dan menjadi saksi yang hidup akan kasih-Nya.

Doa: 

Tuhan Yesus, terima kasih untuk panggilan-Mu yang mulia. Kami menyadari bahwa menjadi pengikut-Mu membutuhkan komitmen dan pengorbanan. Tolong kami untuk menghitung biaya dan memberikan hidup kami sepenuhnya untuk-Mu. Berikan kami keberanian untuk mengikuti-Mu meskipun dalam kesulitan dan tantangan. Biarlah hidup kami menjadi garam yang baik, memberi pengaruh positif bagi dunia ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Kamis, 16 Maret 2023

”EKSEGESIS DAN MENYUSUN KHOTBAH EKSPOSITORI 1 RAJA-RAJA 11:1-13”

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh.

(Gembala Jemaat GBI PETRA Talawid / Mahasiswa Magister Teologi STT RMK Bitung). 

I. BACAAN FIRMAN ALLAH 

Bacaan Firman Allah yang dipilih adalah dalam keseluruhan Perikop Kitab 1 Raja-Raja 11:1-3 yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi Judul Salomo Jatuh Ke Dalam Penyembahan Berhala. Yang keseleruhannya berbunyi sebagai berikut : 

11:1 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, 11:2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. 11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. 11:4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. 11:5 Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, 11:6 dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. 11:7 Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. 11:8 Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. 11:9 Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, 11:10 dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. 11:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. 11:12 Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. 11:13 Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih." 

II. ESKEGESE 1 RAJA-RAJA 11:1-13 

Latar Belakang Kitab 

Kitab 1 Raja-Raja ini tergolong ke dalam Kitab Sejarah, bersama dengan Kitab 2 Raja-Raja yang melanjutkan sejarah dalam Kitab 1 Samuel dan 2 Samuel. Kitab-Kitab dalam PL yang tergolong dalam Kitab Sejarah adalah sebanyak 12 Kitab, yang dimulai dari Kitab Yosua s/d Kitab Ester. Lengkapnya adalah sebagai berikut : Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Esra, Nehemia, dan Ester. 

Menurut Alkitab Sabda (https://alkitab.sabda.org/article.php?id=11") 1 dan 2 Raja-Raja secara kronologis meliput empat abad sejarah tersebut -- sejak masa Raja Salomo (970 SM) hingga masa pembuangan di Babel (586 SM); 1 Raja-Raja sendiri meliput sekitar 120 tahun -- masa pemerintahan Salomo selama 40 tahun (970-930 SM), dan sekitar 80 tahun sejarah kerajaan yang terpecah (sekitar 930-852 SM). 1 dan 2 Raja-Raja bermula menjadi satu kitab dalam PL Ibrani; oleh karena itu masalah kepenulisan berkaitan dengan keduanya sebagai satu kitab. Peristiwa terakhir yang tercatat (2 Raj 25:27) ialah pembebasan Raja Yoyakhin dari penjara Babel (sekitar 560 SM). Oleh karena itu 1 dan 2 Raja-Raja secara lengkap mungkin tertulis dalam dasawarsa 560-550 SM. 

Sebagaimana kebanyakan kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama, maka Kitab 1 Raja-Raja inipun tidak diketahui siapa penulisnya. Tradisi Yahudi yang terpelihara dalam Talmud (Baba Bathra 15a) berpendapat bahwa kedua Kitab Raja-Raja (1 Raja-Raja dan 2 Raja-Raja) ditulis oleh Nabi Yeremia. Menurut Wiliam Sanford La Sor dalam buku Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 1 (2000, hal 509) hal ini dikarenakan Yeremia hidup sesaman dengan Yosia dan dengan sisa raja-raja hingga jatuhnya Yerusalem. Sedangkan hubungan ini menurut Andre E. Hill dan John H. Walton dalam Buku Survey Perjanjian Lama (2021, hal. 287) barangkali didasarkan pada kesamaan antara Yeremia 52 dan II Raja-Raja 24-235. Juga diperhatikan bahwa sejarah yang tercatat dalam Kitab Raja-Raja memberikan tempat yang menonjol pada kehidupan para nabi Perjanjian Lama dan kecermatan perkataan nubuat dalam kaitannya dengan Kerajaan Israel dan Yehuda. 

Konteks

Kitab 1 Raja-Raja yang merupakan Kitab Sejarah dipahami dalam konteks dan teksnya sebagai sebuah narasi / cerita. Tokoh utama yang dikisahkan dalam bacaan ini adalah tentang Salomo. Raja Salomo yang merupakan Raja ketiga yang memerintah Bangsa Israel setelah Saul bin Kish, dan ayahnya Daud bin Isai.  Salomo merupakan anak Raja Daud dari Iseri Uria yang bernama Batsyeba binti Eliam. Ibunya Batsyeba berselingkuh dengan Raja Daud, oleh karena Raja Daud yang saat itu berada di atas sotoh rumahnya melihat Batsyeba yang sedang mandi. Lalu karena keinginan hatinya untuk memiliki Batsyeba, Daud dengan liciknya menginginkan kematian Uria, seorang prajuritnya yang sangat setia kepadanya. Salomo merupakan anak kedua, anak yang pertama dari buah perzinahan Daud dan Betseba mati, sebagai hukuman Allah atas pelanggaran atau dosa yang diperbuat oleh Daud. Namun kemudian Allah mengampuni dosa Daud, setelah Daud menunjukkan pertobatannya yang sungguh atas kesalahan yang diperbuatnya melawan kehendak Tuhan. 

Salomo kemudian menjadi Raja Israel menggantikan Daud ayahnya, karena janji Daud kepada Batsyeba, meskipun sebenarnya ada anak yang lain dari Raja Daud yakni Adonia yang berhak setelah kakaknya Absalom yang telah mati karena pemberontakannya kepada Daud. Raja Salomo awalnya merupakan seorang Raja yang berkenaan kepada Tuhan oleh karena ia hidup menurut ketetatapan-ketetapan Daud ayahnya dan yang kemudian dianugerahkan oleh Allah, himat dan kebijakan yang melebihi setiap manusia baik yang hidup sebelum maupun sesudahnya, sebagaimana permohonan yang disampaikannya kepada Allah (1 Raja-Raja 3:9-13). Dimasa kejayaannya inilah, diperkirakan Salomo menulis Kitab Amsal (970 SM) dan kemudian Kitab Kidung Agung (+960 SM). 

Namun kemudian ia jatuh dalam suatu praktik hidup yang menjauh dari Tuhan, melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, yakni dengan mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon; mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amonm; mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem; dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon; bahkan bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, ia mendukung mereka mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. Hal ini jelas sangat menyakiti hati Tuhan, dan membuat Tuhan menunjukkan murka-Nya kepada Salomo.  

Meskipun Salomo dihukum oleh Allah, namun karena Allah mengingat janjiNya kepada Daud ayah Salomo, maka Allah tetap menunjukkan kasihNya kepada keturunan Daud, dengan tetap mengkokohkan takhta Israel dari Keturunan Daud. Dimasa-masa akhir hidupnya inilah, Salomo diperkirakan menulis ”Kitab Pengkhotbah” (+935 SM). 

Struktur 

Teks 1 Raja-Raja 11:1-13 menurut saya dibagi menjadi 4 (empat) bagian, yakni : 
  1. Salomo mencintai banyak sekali perempuan asing (perempuan yang tidak mengenal Allah Israel), yang kemudian menjadi isteri dan gundik-gundiknya (ay. 1-3). 
  2. Di masa tuanya, perempuan-perempuan asing tersebut mencondongkan hatinya sehingga ia jauh dari Allah (ay. 4-8). 
  3. Allah menghukum Salomo atas perbuatannya tersebut (ay. 9-11). 
  4. Allah tetap mengingat janjiNya kepada Daud, ayah Salomo (ay.12-13). 

Penjelasan Singkat Isi Teks 

Kisah dalam Kitab 1 Raja-Raja 11:1-13 diawali dengan kecenderungan hati Raja Salomo yang menginginkan atau mencintai banyak perempuan asing. Disamping isteri pertamanya yang merupakan anak dari Raja Firaun (Raja Bangsa Mesir), Salomo juga mencintai dan mempersunting perempuan-perempuan yang berasal dari Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het. Padahal tentang bangsa-bangsa ini Allah telah berfirman kepada Bangsa Israel supaya tidak bergaul dengan mereka karena sesungguhnya mereka hanya akan mencondongkan hati Bangsa Israel kepada allah-allah yang mereka sembah. (Lihat Kel. 34:11-16; Ul. 7:1-4; dan 2 Kor. 6:14; bandingkan dengan salah satu kisah, yakni Simson dalam Hakim-Hakim 14-16). Adapun jumlah keseluruhan dari isteri Salomo adalah tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; berarti jumlah total isteri dan gundiknya adalah sebanyak 1000 orang. Meskipun di jaman PL, tidak ada larangan secara eksplisit untuk berpoligami, namun sesungguhnya pada awal penciptaan, Allah secara implisit menjadikan monogami sebagai bentuk pernikahan yang ideal. (Kej. 2:24; Mat. 19:5; Mrk. 10:8; Ef. 5:31). Demikian juga dalam Ul. 17:14-20, Tuhan memberi peringatan bahaya poligami bagi raja-raja.

Apa yang difirmankan oleh Allah tentang larangan-Nya terhadap Bangsa Israel supaya tidak bergaul dengan bangsa asing serta bahaya poligami bagi raja-raja tersebut ternyata terbukti dalam bagian yang kedua, yakni dalam ayat 4-8. Salomo karena tidak mengindahkan perintah Tuhan, di masa tuanya kemudian terseret kepada perzinahan dengan Allah lain. Isteri-isteri yang dicintainya tersebut, mencondongkan hati Salomo kepada allah yang disembah isteri-isterinya tersebut, yakni Asytoret dewi orang Sidon, Milkom dewa kejijikan sembahan orang Amon, Kamos dewa kejijikan sembahan orang Moab, dan Molokh dewa kejijikan sembahan bani Amon. Salomo berbuat kejijikan dan menyakiti hati Tuhan. Allah tidak menghendaki umat-Nya berpaling dari padaNya. Ingat perintah Tuhan dalam 10 Hukum (Keluaran 20:3-5) yang harus ditaati oleh Bangsa Israel. Mengikuti dan mempersembahkan korban allah lain atau dengan kata lain penyembahan kepada berhala merupakan suatu bentuk perzinahan yang sama sekali tidak berkenaan di hati Tuhan. (Kel.34:15-16; Ul. 31:16; Hak. 2:17). 

Oleh karena pelanggaran besar yang diperbuat Raja Salomo sebagaimana dimaksud di atas, maka dalam bagian yang ketiga, yakni pada ayat 9-11, Allah menyatakan hukuman-Nya kepada Raja Salomo. Tuhan sekali-sekali tidak akan membiarkan orang yang bersalah dari hukuman (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Maz. 39:12; Ams. 11:21). Maka atas pelanggaran yang diperbuat oleh Salomo tersebut, Allah kemudian menghukum Salomo dengan mengoyakkan Kerajaan Israel itu menjadi dua bagian. (2 Samuel 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia). Hal ini terjadi pada masa pemerintahan anaknya Rehabem. Kerajaan Israel terbagi menjadi 2 (dua) yakni Kerajaan Utara yang disebut sebagai Kerajaan Israel yang beribukotakan Samaria, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Kesalahan yang dilakukan oleh Salomo sebagai seorang Raja Israel ternyata bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi berdampak pula kepada keturunannya dan kepada Bangsa Israel secara keseluruhan. Meskipun Salomo telah berlaku tidak setia kepada Tuhan, namun demikian Allah tetap setia terhadap janji yang telah diucapkan-Nya kepada Daud hamba yang dikasihi-Nya. (Lihat perjanjian Allah dengan Daud yang disebut Perjanjian Daud, dalam 2 Sam. 7:9-16). Sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak dapat menyangkal diri-Nya. (Ul.7:9; 2; Tim. 2:13). 

Dalam bagian yang keempat, yakni pada ayat yang ke 12 dan 13, Allah tidak mengoyakan semua kerajaan itu, ada satu suku yang diberikan kepada anak Salomo yang akan menguasai sebagian dari Kerajaan itu. Juga Salomo masih dibiarkan memerintah Bangsa Israel sampai pada akhir hayatnya. Janji tentang Keturunan Daud yang akan tetap kokoh memerintah tahkta Kerajaan Israel digenapi pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang disebut “Anak Daud”. Adapun Kerajaan yang tetap diberikan kepada keturunan Daud adalah Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Kerajaan ini hanya terdiri atas 2 (dua) suku yakni Suku Yehuda dan Suku Benyamin (Lih. 1 Raja-Raja 12:19-25), tepat seperti yang difirmankan Tuhan kepada Salomo. Kemudian sering terjadi peperangan antara Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan. Kerajaan Israel (Utara) berdiri sebagai sebuah negara merdeka selama kira-kira 200 tahun, hingga sekitar tahun 720 SM, saat ditaklukkan oleh Kekaisaran Asyur. Alkitab mengisahkan bahwa seluruh orang Israel dibuang, yang kemudian dikenal dengan "Sepuluh suku yang hilang". Sedangkan Kerajaan Yehuda (Selatan) bertahan hingga 586 SM, saat kerajaan tersebut diserbu oleh Kekaisaran Babilonia di bawah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal Nebukadnezar. Dalam penyerbuan tersebut banyak penduduk menjadi tawanan, termasuk diantaranya Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego serta penghancuran Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo.

III. CATATAN UNTUK KHOTBAH EKSPOSITORI 

Salah satu tema yang dapat diberikan untuk perikop dalam 1 Raja-Raja 11:1-13 ini misalnya : ”Teladan Seorang Pemimpin”. 

Pendahuluan : 

Salomo sebagai seorang pemimpin atau Raja Israel sangat termasyur oleh karena hikmatnya. Kemasyurannya bahkan terdengar sampai ke negeri yang jauh seperti Etiopia (+2.500 km - Lihat Ratu Negeri Syeba, dalam 1 Raja-Raja 10). Hal ini tentunya membawa keuntungan baik bagi dirinya, maupun bagi kesejahteraan Bangsa Israel secara keseluruhan. Banyak upeti dibawa oleh Raja-Raja dan kaum bangsawan untuk dipersembahkan kepada Raja dan Kerajaan Israel. Namun sayangnya, awal hubungannya yang baik dengan Tuhan, ternyata tidak mampu dipertahankan sampai akhir hayatnya. Salomo di masa tuanya, meninggalkan kesetiaannya kepada Tuhan dan jatuh ke dalam perzinahan dengan allah bangsa asing yang tidak mengenal Allah Israel. Karena kejatuhannya tersebut, Salomo, keturunannya, bahkan Bangsa Israel menerima penghukuman dari Tuhan, Allah Israel. Dari kehidupan seorang Raja Salomo inilah, kita dapat belajar tentang kebenaran Firman Allah yang diberi judul : ”Teladan Seorang Pemimpin”. 

Seorang Pemimpin (baik pemimpin dalam keluarga, jemaat, pekerjaan, maupun dalam pemerintahan) selalu menjadi panutan bagi umat (bawahan, jemaat, ataupun masyarakat) yang dipimpinnya. Kepemimpinan yang baik, tentunya berdampak baik pula bagi dirinya, keluarga dan umat atau bangsa yang dipimpinnya, demikian pula sebaliknya, kepemimpinan yang tidak baik akan berdampak tidak baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan juga orang yang berada di bawah pimpinannya. Oleh sebab itu, sebagai seorang pemimpin kita perlu menjadi teladan bagi umat dan kemudian melalui keteladan itu, umat dapat diberkati dan bukan menerima kutuk dari Tuhan. 

Beberapa prinsip rohani yang dapat kita pelajari dari bacaan Firman Allah dalam 1 Raja-Raja 11:1-13 ini, agar supaya seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi umatnya diantaranya adalah : 

1. Seorang Pemimpin Harus Mengetahui Kehendak Tuhan (Berhikmat). 

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani oleh umatnya, maka pertama sekali bahwa pemimpin tersebut harus mengetahui kehendak Tuhan (berhikmat – Amsal 1:5). Mengetahui kehendak Tuhan, berarti bahwa orang tersebut harus belajar memahami kebenaran Firman Allah (Alkitab), sebab dalam Alkitablah kita mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah.

Sebagai seorang raja yang sangat berhikmat, tentunya Raja Salomo sangat mengetahui bahkan sangat memahami apa yang menjadi kehendak Allah bagi dirinya dan juga bagi Bangsa Israel secara keseluruhan. Ketika Allah melarang seorang raja memiliki banyak isteri (Ul. 17:14-20), Raja Salomo mengetahui dan memahami itu. Ketika Bangsa Israel dilarang oleh Allah untuk menjalin hubungan dengan bangsa lain (ay. 2; Kel. 34:11-16; Ul. 7:1-4), Raja Salomo pun sangat mengetahui dan memahami itu. 

Sesungguhnya sebagai seorang raja yang sangat berhikmat, Salomo telah menjadi sosok yang sangat pantas untuk diteladani dan disegani. Hal ini sangat terbukti dengan hikmat yang luar biasa yang Tuhan anugerahkan kepadanya, Salomo cakap memutuskan banyak perkara, tentang hal ini yang paling terkenal dicontohkan dalam kisah tentang dua orang perempuan yang membawa persoalan tentang anak mereka yang masih hidup dan yang telah mati (1 Raja-Raja 3:16-28). Keputusan hukum yang diberikan oleh Salomo membuat orang Israel menjadi takut kepada Salomo, sebab mereka melihat hikmat dari Allah ada dalam hati Salomo untuk melakukan keadilan. Karena hikmatnya inipula, Salomo disegani bukan hanya oleh orang Israel, tetapi bahkan sampai kepada Raja-Raja negeri asing yang datang kepadanya untuk melihat secara langsung keagungan Raja Salomo. Bahkan ia menulis Kitab Amsal, Pengkotbah dan Kidung Agung yang mampu menjadi berkat yang luar biasa bagi Bangsa Israel dan kepada banyak orang sampai saat ini. 

2. Seorang Pemimpin Harus Hidup Sesuai Perintah Tuhan (Taat). 

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani oleh umatnya, maka selain pemimpin tersebut mengetahui kehendak Tuhan (berhikmat), maka iapun harus mau menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak atau perintah Tuhan tersebut, atau dengan kata lain pemimpin tersebut harus taat kepada kehendak Allah. Hal inipun ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam suatu perumpamaan tentang dua macam dasar (Mat. 7:24-27), bahwaorang yang bijaksana adalah orang yang mendengar firman Allah dan yang mau melakukannya. Tetapi orang yang mendengar firman Allah namun tidak melakukannya disamakan dengan seorang yang bodoh.

Sangat disayangkan, keagungan hikmat yang dimiliki oleh Raja Salomo tidak dibarengi dengan ketaatannya dalam melakukan kehendak / perintah Tuhan. Salomo sepertinya telah tergiur dengan keagungan yang dimilikinya. Harta, kedudukan, kebesaran, kekuasaan yang dia dapatkan oleh karena hikmatnya yang luar biasa tersebut, membuat Raja Salomo menjadi lupa diri. Ia mengabaikan perintah Tuhan. Dua hal yang paling mendasar dalam pelanggarannya ini kepada Allah adalah bahwa Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Ia bukan saja memiliki banyak Isteri dan selir (dicatat dalam  ayat 3, Salomo memiliki tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; berarti jumlah total isteri dan gundiknya adalah sebanyak 1000 orang); tetapi isteri-isteri dan gundik-gundiknya tersebut juga berasal dari bangsa lain yang tidak mengenal Allah Israel (ay. 1, Mesir, Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het).


Ketidaktaatan Salomo kepada perintah Allah ini, membuat Salomo di masa tuanya terseret kepada kejatuhan yang sangat dalam. Isteri-isteri dan gundik-gundiknya tersebut menyeret Raja Salomo kepada penyembahan terhadap allah mereka. Salomo mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. (ay.4); Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon. (ay.5); Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. (ay.7); Salomo juga melakukan bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka (ay. 9). 

3. Seorang Pemimpin Harus Siap Menerima Konsekuensi Dari Setiap Keputusan / Langkah Yang Dilakukannya. 

Seorang pemimpin yang mau menjadi teladan bagi umatnya, adalah seorang pemimpin yang siap menerima resiko. Apapun keputusan, kebijakan yang akan dia ambil dan lakukan, pasti akan mengandung resiko atau konsekuensi. Ketika seorang pemimpin benar dalam mengambil tindakan atau keputusan, maka resikonya pastilah baik. Tetapi apabila seorang pemimpin salah dalam mengambil keputusan, maka sudah barang tentu resikonya negatif. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik harus hati-hati dalam bertindak, sebab kesalahan yang dilakukan oleh seorang pemimpin tentunya akan sangat berdampak besar, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan bagi umat atau bangsa yang dia pimpin. 

Kesalahan yang dilakukan oleh Raja Salomo dengan melanggar firman Allah, berdampak kepada hukuman Allah kepadanya, dan juga keluarga dan bangsa Israel. Tuhan murka kepada Raja Salomo (ay. 9). Dan murka Allah itu diwujudkan dalam keputusan-Nya untuk mengoyakkan Kerajaan Israel. Tuhan sekali-sekali tidak akan membiarkan orang yang bersalah dari hukuman (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Maz. 39:12; Ams. 11:21). Maka atas pelanggaran yang diperbuat oleh Salomo tersebut, Allah kemudian menghukum Salomo dengan mengoyakkan Kerajaan Israel itu menjadi dua bagian. (2 Samuel 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia). Hal ini terjadi pada masa pemerintahan anaknya Rehabem. Kerajaan Israel terbagi menjadi 2 (dua) yakni Kerajaan Utara yang disebut sebagai Kerajaan Israel yang beribukotakan Samaria, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Sebelumnya dalam lanjutan kisah dalam 1 Raja-Raja 11:14-29, berbagai peristiwa pemberontakan terjadi di jaman Raja Salomo, diantaranya : Pemberontakan Hadad orang Edom, Rezon bin Elyada dari Damsyik, kemudian Yerobeam bin Nebat. Semua peristiwa ini merupakan hukuman atas pelanggaran yang dibuat oleh Salomo.

Kesalahan yang dilakukan oleh Salomo sebagai seorang Raja Israel ternyata bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi berdampak pula kepada keturunannya dan kepada Bangsa Israel secara keseluruhan. Itulah sebabnya Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menasihati mereka dengan tegas supaya mereka tetap berjaga-jaga, berdiri dengan teguh dalam iman, dan bersikap sebagai seorang laki-laki, dan tetap kuat. (I Kor. 16:13). Karena setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siapapun juga, akan berdampak kepada penghukuman. Roma 6:23 berkata : ”Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.

4. Seorang Pemimpin Harus Mau Memperbaiki Kesalahannya (Bertobat).

Sesuatu yang diharapkan oleh Tuhan dalam kejatuhan manusia adalah supaya manusia itu menyadari kesalahannya, memperbaiki kesalahannya tersebut dan kembali kepada Allah. (Yoel  22:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya). Hal itulah sesungguhnya yang diinginkan oleh Allah kepada Adam dan Hawa ketika mereka telah jatuh ke dalam dosa. Namun Adam dan Hawa malah memilih bersembunyi dari Allah, bahkan tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat oleh masing-masing mereka. Adam menyalahkan Hawa dan bahkan menyalahkan Tuhan yang menempatkan Hawa disampingnya, sedangkan Hawa menyalahkan Ular. (Kej. 3:12-13).


Suatu teladan yang baik dari seorang pemimpin ketika ia jatuh ke dalam dosa, dapat kita lihat dalam pribadi Raja Daud. Dikisahkan dalam Kitab 2 Samuel 11-12, bahwa ketika Raja Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba (Ibu Salomo), Raja Daud yang tatkala itu ditegur oleh Nabi Natan, menerima dan menyadari kesalahannya, serta menunjukkan pertobatannya yang sungguh atas kesalahan yang diperbuatnya melawan kehendak Tuhan. Sehingga meskipun Tuhan tetap menghukum Raja Daud, namun Raja Daud mendapatkan pengampunan dari Tuhan. (2 Sam. 12:1-17). Berbeda halnya dengan Raja Saul, ketika ia berdosa kepada Tuhan, dia sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seseorang yang mengakui dan menyadari kesalahannya  tersebut, malah ia terkesan membenarkan tindakannya dan menyalahkan menyalahkan Nabi Samuel yang terlambat datang sehingga ia sendiri mengambil langkah untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, karena ia takut melihat bangsa Israel telah berserak-serak, sedangkan orang Filistin telah berkumpul untuk menyerang Israel. (I Sam. 13:6-14); dalam kisah selanjutnya ketika Raja Saul diperintahkan menumpas orang Amalek dan segala yang ada padanya, Saul tidak mematuhi perintah Tuhan tersebut. Saul menyelamatkan Agag Raja Amalek, serta kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga. Ketika ia ditegur oleh Nabi Samuel ia malah menyalahkan orang Israel dengan alasan apa yang mereka ambil tersebut untuk dipersembahkan kepada Tuhan. (I Sam. 15:19-21).

Lalu bagaimana dengan kehidupan Salomo, apakah ia menyadari kesalahan yang diperbuatnya dan kembali kepada Allah ?. Tidak ada catatan Alkitab yang menjelaskan bahwa Raja Salomo diakhir hidupnya mendapat perkenaan dari Allah sebagaimana Daud ayahnya. Salomo mati setelah ia memerintah Israel selama 40 tahun, selama itu pula Raja Salomo melewati masa pemerintahan yang penuh dengan hal-hal yang bermakna, baik ketika Tuhan mengangkat dia maupun ketika ia jatuh kedalam dosa yang menjatuhkan seluruh Israel. Akhir hidup Raja Salomo tercatat dalam I Raja-Raja 11:43. Diceritakan bahwa dia mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya dan dikuburkan di Kota Daud. Alkitab Sabda memberi keterangan bahwa Farrar menceritakan tradisi yang berlaku di antara orang-orang Yahudi mengenai kematiannya. Diceritakan bahwa Salomo pergi ke Bait Allah untuk beribadah. Dia berdiri di sana asyik berdoa, tokoh yang jelas seperti dalam lukisan dengan rambutnya yang putih dan panjang tergerai di atas jubah kebesaran raja, dan mengenakan mahkota emas pemberian ibunya, Batsyeba. Sementara dia berdiri ditopang tongkatnya maka kematian menimpa dia, tetapi tongkat tetap menopang mayat yang masih berdiri itu. Para imam mengetahui bahwa raja sudah meninggal, tetapi takut untuk menyentuhnya, sebab di tangannya yang sudah mati terdapat cincin terkenal yang dengannya dia melakukan perbuatan-perbuatan sihir yang ajaib. Tetapi, seekor tikus keluar dari lobangnya dan mengerat kulit yang terdapat pada kaki tongkat itu hingga tergelincir dan raja agung itu jatuh ke lantai dan mahkotanya menggelinding dalam debu.

Meskipun Salomo tidak mendapat perkenaan Allah sebagaimana ayahnya Daud, namun karena keteladanan ayahnya Daud yang mau mengakui kesalahannya dan memperbaiki kelakuannya dengan setia mengikuti perintah Tuhan, maka Allah setia kepada janji yang Dia ucapkan kepada Daud, hamba yang dikasihi-Nya. (Lihat perjanjian Allah dengan Daud yang disebut Perjanjian Daud, dalam 2 Sam. 7:9-16).  Sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak dapat menyangkal diri-Nya. (Ul.7:9; 2 Tim. 2:13). Pada ayat yang ke 12 dan 13, Allah tidak mengoyakan semua kerajaan itu, ada satu suku yang diberikan kepada anak Salomo yang akan menguasai sebagian dari Kerajaan itu. Juga Salomo masih dibiarkan memerintah Bangsa Israel sampai pada akhir hayatnya.  Janji tentang Keturunan Daud yang akan tetap kokoh memerintah tahkta Kerajaan Israel digenapi pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang disebut “Anak Daud”.


DAFTAR PUSTAKA 

Alkitab Sabda yang diakses melalui https://alkitab.sabda.org

Andre E. Hill dan John H. Walton (2021). Survey Perjanjian Lama. Penerbit Gandum Mas.

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z (2002). Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF

Hasan Sutanto, D.Th (2007). Hermeneutik – Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Penerbit Literatur Saat. Malang

Lembaga Alkitab Indonesia (2002). Alkitab, Cetakan Kesepuluh. Penerbit Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Pustaka. Jakarta.

Susandi (2023). Bahasa Ibrani Untuk Mengajar dan  Berkhotbah. Diktat. Sekolah Tinggi Teologi Rumah Murid Kristus. Bitung.

Minggu, 01 Januari 2023

DALAM PERLINDUNGAN DAN PENYERTAAN TUHAN. Kel. 13 : 17 - 22

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, MAg.(Cand.)
Peristiwa keluarnya Bangsa Israel dari Tanah Mesir menuju ke Tanah Perjanjian (Kanaan) menjadi suatu sejarah penting bagi kehidupan mereka. Boleh dikatakan bahwa ini merupakan hari kemerdekaan atau hari kemenangan Bangsa Israel dari perbudakan.
Begitu pentingnya hari dimaksud, sehingga Allah sendiri berkenan menetapkannya sebagai permulaan segala bulan bagi bangsa itu. Keluaran 12:1-2 (TB) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: "Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. (Bulan Abib: Kel.13:4; kemudian disebut bulan Nisan, Est. 3:7. Nisan = permulaan; bulan pertama. Sampai sekarang Nisan adalah bulan pertama dalam Tarikh Ibrani, sekitar bulan Maret - April).
Suatu berkat yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada Bangsa Israel dalam mengawali langkah hidup mereka di bulan pertama (Tahun Baru) ini adalah bahwa mereka berada Dalam Perlindungan dan Penyertaan Tuhan. Hal ini dibuktikan melalui beberapa hal penting, yakni :
PERTAMA : PASKAH (KUASA KORBAN KRISTUS). Kel. 12:1 dst.
Ketika Allah menghukum Firaun dan seluruh tanah Mesir dengan kematian anak sulung. Pada setiap rumah orang Israel ada perlindungan Tuhan. Perlindungan mana harus ditandai dengan darah anak domba jantan yang tidak bercela, yang dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas rumah orang Israel yang memakan Paskah.
Paskah merupakan suatu ketetapan yang dibuat oleh Tuhan bagi Bangsa Israel secara turun temurun. Paskah bhs Ibrani : Pesakh; bhs. Aram : Pasgha; bhs. Yunani : Paskha. Arti dasarnya: meloncat, melewati/menyayangi. Paskah merupakan Perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Anak-anak sulung orang Mesir dibunuh, tetapi pintu-pintu rumah orang Ibrani "dilewati". Peristiwa itu diperingati dengan mengadakan perjamuan Paskah yaitu makan "korban Paskah" atau anak domba Paskah itu (Kel 12:23-28, Kel 12:43-51).
Paskah dalam Perjanjian Baru merujuk kepada Yesus Kristus yang disebut sebagai "anak domba Paskah" (1 Kor 5:7) atau "Anak Domba yang disembelih" (Wahyu 5:6). Ini menyangkut korban yang menyelamatkan kita. Yesaya 53:10 (TB) Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah...
Matius 26:2 (TB) "Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan."
1 Petrus 2:24 (TB) Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.
Perlindungan dan Penyertaan Tuhan bagi umatNya adalah melalui Kuasa Korban Kristus.
KEDUA : ANAK SULUNG (MILIK KEPUNYAAN TUHAN). Kel. 13 : 1 - 2
Allah menghendaki setiap anak sulung menjadi milik kepunyaan-Nya, sebagaimana Allah memilih umat Israel sebagai anakNya yang sulung. (Kel. 13:1-2; Kel 4:22). Sebagai anak sulung (milik kepunyaan Tuhan), tentunya memiliki banyak keistimewahan. Seorang anak sulung diberikan hak dua bagian (dua kali lipat) lebih banyak dari yang lain. (Ul. 21:17), dan berhak naik Tahta (2 Taw. 21:3).
Yesus Kristus adalah Anak Sulung diantara banyak saudara (Mat. 1:25; Luk. 2:7; Rom 8:29). Ia adalah yang sulung dari segala yang diciptakan (Kol. 1:15). Demikianpun saya dan saudara sebagai Jemaat Tuhan, kita disebut juga sebagai anak-anak sulung (Ibr. 12:23). Pemimpin Jemaat (Gembala Jemaat) merupakan anak sulung dalam Jemaat Tuhan. Mereka patut dihargai dan dihormati (I Tim. 5:17).
Perlindungan dan Penyertaan Tuhan bagi umatNya adalah menjadikan umatNya sebagai milik kepunyaan Allah dan berhak menerima berkat ganda (Berkat Double Porsion).
KETIGA : TIANG AWAN DAN TIANG API (KUASA FIRMAN ALLAH). Kel. 13 : 21 - 22.
Allah menuntun perjalanan umat Israel melalui cara yang luar biasa, yakni Tiang Awan di siang hari dan Tiang Api di malam hari. Berjalan di Padang Gurun yang luas, membutuhkan tuntunan kuasa Allah yang besar itu. Tiang Awan di siang hari, melindungi umat Israel dari teriknya panas matahari di Padang Gurun. Sedangkan Tiang Api di malam hari menjadi penerang di tengah kegelapan sekaligus juga menghangatkan dari kedinginan.
Tiang Awan dan Tiang Api merujuk kepada Kuasa Firman Allah yang menjadi penuntun perjalanan orang percaya baik siang maupun malam. Yosua 1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Mazmur 1:1-3 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Perlindungan dan Penyertaan Tuhan bagi umatNya dalam Kuasa Firman-Nya menjadikan kita mampu melewati berbagai macam tantangan hidup ini, di tengah kesukaran apapun bentuknya, Tuhan akan membuat kita berhasil, dan menjadi lebih dari pemenang. Haleluyah.
MARILAH MENGAWALI TAHUN BARU 2023 INI DENGAN MENYERAHKAN HIDUPMU DALAM PERLINDUNGAN DAN PENYERTAAN TUHAN, MELALUI KUASA KORBAN KRISTUS, DENGAN MENJADI MILIK KEPUNYAAN TUHAN DAN DALAM KUASA FIRMAN TUHAN. AMIN.

Sabtu, 18 Juni 2022

BERMENTAL KUAT (Bil. 13 : 25 – 33)

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, M.Ag.(Cand.)

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30)

Untuk mencapai suatu tujuan, harap, damba atau cita-cita, kita tentunya memerlukan keteguhan hati dalam berjuang. Tidak ada sesuatu yang dapat kita capai tanpa perjuangan tentunya, dan dalam perjuangan itu, kita membutuhkan semangat atau Mental Yang Kuat. Jika disandingkan dengan defenisi Iman dalam Ibrani 11 : 1 maka Mental Yang Kuat itu merupakan iman.

Kisah dalam Bil. 13 : 25 – 33 yang merupakan ayat bacaan kita ini, mengkisahkan tentang 10 orang pengintai yang dipilih oleh Musa berdasarkan perintah Tuhan kepadanya, untuk memata-matai tanah Kanaan, suatu negeri yang dijanjikan Allah kepada Abraham dan keturunannya untuk dimiliki (Tanah Perjanjian). Namun ke-10 pengintai yang telah melaksanakan tugas mereka tersebut ternyata memilki suatu pandangan yang terbagi 2, antara yang Optimis Dapat Memenangkan Negeri Kanaan, dan yang Pesimis Akan Kemenangan Tersebut.

Mari kita periksa kisah ini secara lebih detil, tentang Apa Tujuan Sebenarnya dari Misi ke-10 Pengintai ini, Bagaimana Seharusnya Mereka Bersikap, dan Apa Konsekuensi dari Sikap / Laporan Mereka Tersebut ?

I.      Tujuan Misi Pengintai ke Tanah Kanaan.

Sebenarnya bangsa Israel, termasuk ke-10 orang pengintai yang semuanya adalah kepala-kepala di antara orang Israel (ay.3-16) menyadari bahwa tujuan daripada tugas yang dipercayakan kepada mereka hanyalah supaya mereka mengetahui cara / strategi tentara Israel dalam menyerang dan menduduki tanah Kanaan yang sudah diserahkan oleh Tuhan kepada mereka.

Mari kita perhatikan ayat 18 – 20, yang merupakan misi pengintaian itu, yang terbagi atas 2 bagian :

  1. Bagaimana keadaan negeri itu : apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak, apakah mereka diam di tempat-tempat yang terbuka atau ditempat-tempat yang berkubu; (persoalan jumlah, kekuatan dan perlindungan).
  2. Apakah negeri itu baik atau buruk, apakah tanah mereka gemuk atau kurus, apakah ada pohon-pohonan atau tidak; (persoalan hasil bumi / kemakmuran). 

Jika kita perhatikan dengan seksama pada ayat yang ke 2a, sesungguhnya tanah Kanaan itu telah Allah berikan kepada mereka. “Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; …”. Ayat ini merupakan penegasan Janji Allah kepada Abraham (Kej. 15:18); Negeri itu merupakan tanah yang dijanjikan Allah, kalau Allah sudah berjanji memberikannya, maka Ia sendirilah yang pasti akan menggenapinya. 2 Petrus 3 : 9a : ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, …..”

Dalam hal ini, jika ke-10 Pengintai yang adalah pemimpin-pemimpin suku bangsa Israel ini, meyakini akan janji Tuhan, maka seharusnya mereka tidak perlu berselisih pandang tentang keadaan negeri Kanaan tersebut. Namun seperti inilah keadaan kita selaku manusia, ada orang yang memandang janji Tuhan dengan yakin, namun ada juga orang kemudian menjadi ragu. Hal ini tentunya tergantung dari sikap hati kita dalam menerima janji firman Allah tersebut. Perhatikan perumpamaan tentang seorang penabur dalam Mat. 13:1-30; Mrk. 4:1-20 dan Luk. 8:4-15).

II.           Bagaimana Seharusnya Mereka Bersikap ?

Penerimaan kita akan kebenaran firman Allah, akan menentukan cara kita bersikap terhadap kebenaran firman Allah tersebut, dan ini akan teruji ketika kita menghadapi berbagai tantangan dalam hidup kita.

Ke-10 pengintai yang adalah pemimpin-pemimpin suku bangsa Israel tersebut ternyata memiliki sikap yang berbeda ketika mereka diperhadapkan dengan suatu kenyataan yang mereka lihat terhadap suku bangsa yang mendiami tanah Kanaan.

Benar mereka sepakat bahwa negeri tersebut memang negeri yang berlimpah susu dan madunya, bahkan mereka membawa hasilnya; bahwa orang-orang yang mendiami negeri itu merupakan bangsa yang kuat-kuat dan merupakan keturunan Enak (orang-orang raksasa); bahwa kota-kota mereka berkubu dan sangat besar. Namun mestikah dengan kenyataan tersebut akan melunturkan semangat kita ? akan melemahkan iman kita ? tidakkah mereka sadar akan perbuatan ajaib yang telah Tuhan lakukan kepada mereka, baik ketika mereka di Mesir sampai ketika mereka akan memasuki tanah yang Tuhan sudah janjikan kepada mereka ? tidakkah mereka sadar akan perkara-perkara ajaib / mujizat Allah tersebut ? bagaimana ketika mereka menyeberangi laut Teberau yang telah terbelah menjadi dua, bagaimana ketika Allah memberi mereka makan manna dan juga burung-burung ? dan sederatan perkara ajaib yang telah Allah nyatakan kepada mereka ? tinggal selangkah saja, mereka sudah akan memasuki tanah Perjanjian tersebut, mestikah mereka harus kembali lagi ke Mesir, dan kemudian mati di tengah jalan ?  

Bersyukurlah bahwa diantara ke-10 pengintai tersebut, ada 2 orang, yakni Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune yang memiliki iman yang teguh keyakinan akan janji Allah kepada umat pilihan-Nya. Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30)

III.         Apa Konsekuensi dari Sikap Mereka ?

Segala sesuatu terkait dengan sikap kita, apalagi menyangkut hubungan dengan Allah, tentunya memiliki konsekuensi.

Ketika sikap kita berkenaan kepada Allah atau kita memilih sikap yang benar dalam menghadapi suatu permasalahan atau pergumulan hidup, maka tentunya kita akan mendapatkan mahkota yang setimpal dengan itu. I Kor. 9:25 berkata : “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi”.

Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune mendapat perkenaan Tuhan untuk tetap hidup dan dapat masuk ke negeri Kanaan atau Tanah Perjanjian tersebut. (Bil. 14 : 30 dan 38).

Sedangkan kepada ke 8 orang pengintai yang lain itu, apakah yang terjadi kepada mereka ?. setelah mereka membuat hati umat Israel berontak kepada Musa dan kepada Tuhan, mereka akhirnya mati. (Bil. 14 : 36 - 38). Bahkan bukan hanya mereka saja yang mati, semua orang-orang Israel yang terpengaruh dengan informasi yang mereka sampaikan, tidak ada satupun yang masuk ke tanah Kanaan, mereka semua mati di padang gurun, dari yang berumur 20 tahun ke atas. (Bil. 14:29), sesuai dengan permintaan mereka dalam persungutan mereka. (Bil. 14 : 2). “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini !!!”.

Persungutan akan mendatangkan celaka bagi kita. I Tes. 5:18 : “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Doa : Tuhan ajarlah kami mengerti maksud dan kehendak-Mu dalam setiap kehidupan kami, sehingga kami memiliki Iman Yang Teguh di dalam Engkau, dan olehnya kami dapat menikmati mahkota kehidupan yang telah Engkau janjikan. Amin.

  

Minggu, 01 Mei 2022

FAKTA KEBANGKITAN YESUS (Mat. 28:1-10)

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, S.T, S.Th, M.Ag.(Cand.) 

Banyak orang meragukan kebangkitan Yesus, sebagaimana mereka meragukan kematianNya. Tapi Alkitab dengan jelas mencatat bahwa Yesus benar2 mati, dan bahwa Ia juga benar2 bangkit dari antara orang mati. Rasul Paulus memberi kesaksian dalam 1 Korintus 15:17 sebagai berikut : Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 

Berikut adalah beberapa fakta tentang kebangkitan Tuhan Yesus yang dicatat dalam bacaan diatas : 

Pertama : Yesus Bangkit Pada Hari Minggu. 
Ayat 1, mencatat setelah hari Sabat lewat menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama Minggu itu. 

Inilah yang menjadi dasar atau alasan bagi kebanyakan orang Kristen beribadah atau melakukan pertemuan jemaat pada hari Minggu dan bukan pada hari Sabtu atau Sabath sebagaimana orang Yahudi. Meskipun ada juga ternyata orang Kristen lainnya beribadah pada hari Sabtu atau Sabath. 

Lih. Kis. 20:7; I Kor. 16:2 dan Wahyu 1:10. Yang disebut hari Tuhan adalah hari Minggu, karena Yesus bangkit pada hari Minggu atau hari pertama. 

Kedua : Para Perempuan Merupakan Orang Pertama Yang Melihat Yesus Bangkit. 
Ayat 1b - 8. Perempuan2 tersebut yakni : Maria Magdalena dan Maria yang lain. Dalam Markus 16:1 disebutkan Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus serta Salome. Dalam Lukas dikatakan perempuan2 yang datang bersama2 dengan Yesus dari Galilea. 

Tradisi Yahudi sesungguhnya tidak menganggap penting para wanita. Namun ketika hari kebangkitan Yesus, ternyata para perempuanlah yang menjadi saksi pertama kebangkitan Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memberi perhatian khusus kepada perempuan. Dari hati para perempuan selalu ada perhatian dan kasih yang tulus. Meskipun mereka adalah mahkluk yang lemah. Namun peran mereka tidaklah kalah pentingnya dari para laki2. Perempuan diciptakan menjadi penolong bagi laki2. 

Ketiga : Malaikat Tuhan yang Menggulingkan Batu 

Ay. 2 & 3 ..... Sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Lukas dan Yohanes mencatat 2 orang malaikat Tuhan. 

Kesaksian Alkitab ini tentulah yang harus kita percayai, meskipun banyak orang yang menolak kebangkitan Yesus mengarang cerita bahwa mayatnya dicuri orang, dicuri oleh murid2Nya. Lih. Ayat 11-15. Malaikat dalam hal ini berperan sebagai saksi Allah yang diutus dari Sorga. 

Keempat : Kebangkitan Yesus Sesungguhnya Telah Dinubuatkan Sebelumnya 

Ayat 6 berkata : Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakanNya...... Sebelumnya dalam pasal 16:21, 17:9&23 serta 20:19, Tuhan Yesus telah berulangkali mengatakan kepada murid2Nya bahwa Ia akan mati dan akan dibangkitkan pada hari ketiga. Bahkan dalam kitab PL, Maz. 16:10, 22:19-21 dan Yes. 53:10&11 telah menubuatkan hal ini. 

Kelima : Kebangkitan Yesus adalah Bukti Bahwa Ia adalah Allah 
Ay. 8 & 9 .... mereka menyembahNya. 

Inilah salah satu berita penting dari Injil, bahwa Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia. Berbagai pengajaran yang menyangsikan Yesus adalah Allah menjadi terbantahkan. Yesus benar2 adalah Allah. Tidak ada satupun manusia yang berhak menerima penyembahan. Penyembahan itu hanyalah kepada Allah semata. Lih. Wahyu 19:10, 22:8&9. 

Keenam : Perintah Untuk Pergi ke Galilea 
Ay. 10. 

Ada apa sesungguhnya dengan Galilea? Galilea merupakan simbol daerah terkebelakang, kurang berpendidikan dan miskin. Pada masa itu, Galilea dihuni orang Samaria, orang2 yang tidak dianggap oleh orang Yahudi. Tapi sesungguhnya Galilea merupakan suatu kota yang menjadi perhatian Tuhan Yesus. Menjadi daerah pilihan oleh Juruselamat. 
1. Bayi Yesus dari Mesir ke Galilea (Nazareth) sehingga seringkali orang menyebutNya Yesus dari Nazaret. Mat. 2:22&23. 
2. Simon Petrus dan Andreas saudaranya menjadi murid pertama yang dipanggil oleh Tuhan di kota ini. Mat. 4:18&19. 
3. Mujizat Pertama yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di Kana yang adalah di Galilea. Yoh. 2:1-3.