Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2025

BENARKAH KEMATIAN YESUS DI SALIB ADALAH RENCANA IBLIS ?

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

Kematian Yesus di Salib, jelas bukanlah merupakan rencana Iblis. Buktinya Iblis acapkali menggagalkan kematian Yesus melalui Jalan Penyaliban. Berikut beberapa dalilnya dalam Alkitab : 

Pertama; saat Yesus dilahirkan di Betlehem, Iblis melalui Herodes telah berupaya untuk membunuh Dia. (Mat.2:13). Jika Yesus berhasil dibunuh, bagaimana mungkin misi penyaliban akan terjadi ???

Kedua; saat Yesus berumur 30 tahun dan akan mulai pelayanan-Nya, Iblis menggoda Yesus sebanyak 3 kali (Mat. 4:1-11;  Mrk. 1:12-13; Luk. 4:1-13). Dengan menjatuhkan Yesus, Iblis tentunya mau menggagalkan Salib.  

Ketiga; ketika Yesus sedang melakukan tugas pelayananNya, beberapa kali orang-orang Yahudi (tentunya karena bapak mereka adalah Iblis seperti kata "orang itu") berupaya membunuh Yesus dengan cara melempariNya dengan batu (Yoh.8:59, 10:31-33; bandingkan dengan Im. 24:16), melemparkan Dia dari tebing (Luk. 4:29), bahkan dengan cara lain melalui tipu muslihat (Mat. 26:3–4; Mrk. 14:1–2; Luk. 22:2). Jika kematian ini terjadi, Salib tentu gagal ... !!!

Keempat; saat Yesus mulai memberitakan tentang kematian-Nya, Petrus (yang dikuasai Iblis) berupaya untuk menghalangi kematianNya tersebut yang membuat Yesus harus menghardik Petrus dengan mengatakan "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku....... (Mat. 16:21-23; Mrk. 8:31-33). Ini sangat jelas, Iblis tidak menghendaki Yesus mati disalib... !!! 

Dengan demikian, kematian Yesus di salib bukanlah rencana Iblis, karena sejak kelahiran-Nya, awal pelayanan-Nya, saat Ia melayani, hingga menjelang kematian-Nya, Iblis terus berupaya menggagalkan jalan salib ..... !!!

Semoga dengan penjelasan ini, Saudara-Saudara Seiman, tidak mau disesatkan oleh oknum-oknum yang ditunggangi oleh Iblis.... Waspadalah ....... !!! Salam dari hamba-Nya (FD)



Kamis, 16 Maret 2023

”EKSEGESIS DAN MENYUSUN KHOTBAH EKSPOSITORI 1 RAJA-RAJA 11:1-13”

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh.

(Gembala Jemaat GBI PETRA Talawid / Mahasiswa Magister Teologi STT RMK Bitung). 

I. BACAAN FIRMAN ALLAH 

Bacaan Firman Allah yang dipilih adalah dalam keseluruhan Perikop Kitab 1 Raja-Raja 11:1-3 yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diberi Judul Salomo Jatuh Ke Dalam Penyembahan Berhala. Yang keseleruhannya berbunyi sebagai berikut : 

11:1 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, 11:2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. 11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. 11:4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. 11:5 Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, 11:6 dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. 11:7 Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. 11:8 Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. 11:9 Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, 11:10 dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. 11:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. 11:12 Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. 11:13 Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih." 

II. ESKEGESE 1 RAJA-RAJA 11:1-13 

Latar Belakang Kitab 

Kitab 1 Raja-Raja ini tergolong ke dalam Kitab Sejarah, bersama dengan Kitab 2 Raja-Raja yang melanjutkan sejarah dalam Kitab 1 Samuel dan 2 Samuel. Kitab-Kitab dalam PL yang tergolong dalam Kitab Sejarah adalah sebanyak 12 Kitab, yang dimulai dari Kitab Yosua s/d Kitab Ester. Lengkapnya adalah sebagai berikut : Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Esra, Nehemia, dan Ester. 

Menurut Alkitab Sabda (https://alkitab.sabda.org/article.php?id=11") 1 dan 2 Raja-Raja secara kronologis meliput empat abad sejarah tersebut -- sejak masa Raja Salomo (970 SM) hingga masa pembuangan di Babel (586 SM); 1 Raja-Raja sendiri meliput sekitar 120 tahun -- masa pemerintahan Salomo selama 40 tahun (970-930 SM), dan sekitar 80 tahun sejarah kerajaan yang terpecah (sekitar 930-852 SM). 1 dan 2 Raja-Raja bermula menjadi satu kitab dalam PL Ibrani; oleh karena itu masalah kepenulisan berkaitan dengan keduanya sebagai satu kitab. Peristiwa terakhir yang tercatat (2 Raj 25:27) ialah pembebasan Raja Yoyakhin dari penjara Babel (sekitar 560 SM). Oleh karena itu 1 dan 2 Raja-Raja secara lengkap mungkin tertulis dalam dasawarsa 560-550 SM. 

Sebagaimana kebanyakan kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama, maka Kitab 1 Raja-Raja inipun tidak diketahui siapa penulisnya. Tradisi Yahudi yang terpelihara dalam Talmud (Baba Bathra 15a) berpendapat bahwa kedua Kitab Raja-Raja (1 Raja-Raja dan 2 Raja-Raja) ditulis oleh Nabi Yeremia. Menurut Wiliam Sanford La Sor dalam buku Tafsiran Alkitab Masa Kini Jilid 1 (2000, hal 509) hal ini dikarenakan Yeremia hidup sesaman dengan Yosia dan dengan sisa raja-raja hingga jatuhnya Yerusalem. Sedangkan hubungan ini menurut Andre E. Hill dan John H. Walton dalam Buku Survey Perjanjian Lama (2021, hal. 287) barangkali didasarkan pada kesamaan antara Yeremia 52 dan II Raja-Raja 24-235. Juga diperhatikan bahwa sejarah yang tercatat dalam Kitab Raja-Raja memberikan tempat yang menonjol pada kehidupan para nabi Perjanjian Lama dan kecermatan perkataan nubuat dalam kaitannya dengan Kerajaan Israel dan Yehuda. 

Konteks

Kitab 1 Raja-Raja yang merupakan Kitab Sejarah dipahami dalam konteks dan teksnya sebagai sebuah narasi / cerita. Tokoh utama yang dikisahkan dalam bacaan ini adalah tentang Salomo. Raja Salomo yang merupakan Raja ketiga yang memerintah Bangsa Israel setelah Saul bin Kish, dan ayahnya Daud bin Isai.  Salomo merupakan anak Raja Daud dari Iseri Uria yang bernama Batsyeba binti Eliam. Ibunya Batsyeba berselingkuh dengan Raja Daud, oleh karena Raja Daud yang saat itu berada di atas sotoh rumahnya melihat Batsyeba yang sedang mandi. Lalu karena keinginan hatinya untuk memiliki Batsyeba, Daud dengan liciknya menginginkan kematian Uria, seorang prajuritnya yang sangat setia kepadanya. Salomo merupakan anak kedua, anak yang pertama dari buah perzinahan Daud dan Betseba mati, sebagai hukuman Allah atas pelanggaran atau dosa yang diperbuat oleh Daud. Namun kemudian Allah mengampuni dosa Daud, setelah Daud menunjukkan pertobatannya yang sungguh atas kesalahan yang diperbuatnya melawan kehendak Tuhan. 

Salomo kemudian menjadi Raja Israel menggantikan Daud ayahnya, karena janji Daud kepada Batsyeba, meskipun sebenarnya ada anak yang lain dari Raja Daud yakni Adonia yang berhak setelah kakaknya Absalom yang telah mati karena pemberontakannya kepada Daud. Raja Salomo awalnya merupakan seorang Raja yang berkenaan kepada Tuhan oleh karena ia hidup menurut ketetatapan-ketetapan Daud ayahnya dan yang kemudian dianugerahkan oleh Allah, himat dan kebijakan yang melebihi setiap manusia baik yang hidup sebelum maupun sesudahnya, sebagaimana permohonan yang disampaikannya kepada Allah (1 Raja-Raja 3:9-13). Dimasa kejayaannya inilah, diperkirakan Salomo menulis Kitab Amsal (970 SM) dan kemudian Kitab Kidung Agung (+960 SM). 

Namun kemudian ia jatuh dalam suatu praktik hidup yang menjauh dari Tuhan, melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, yakni dengan mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon; mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amonm; mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem; dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon; bahkan bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, ia mendukung mereka mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. Hal ini jelas sangat menyakiti hati Tuhan, dan membuat Tuhan menunjukkan murka-Nya kepada Salomo.  

Meskipun Salomo dihukum oleh Allah, namun karena Allah mengingat janjiNya kepada Daud ayah Salomo, maka Allah tetap menunjukkan kasihNya kepada keturunan Daud, dengan tetap mengkokohkan takhta Israel dari Keturunan Daud. Dimasa-masa akhir hidupnya inilah, Salomo diperkirakan menulis ”Kitab Pengkhotbah” (+935 SM). 

Struktur 

Teks 1 Raja-Raja 11:1-13 menurut saya dibagi menjadi 4 (empat) bagian, yakni : 
  1. Salomo mencintai banyak sekali perempuan asing (perempuan yang tidak mengenal Allah Israel), yang kemudian menjadi isteri dan gundik-gundiknya (ay. 1-3). 
  2. Di masa tuanya, perempuan-perempuan asing tersebut mencondongkan hatinya sehingga ia jauh dari Allah (ay. 4-8). 
  3. Allah menghukum Salomo atas perbuatannya tersebut (ay. 9-11). 
  4. Allah tetap mengingat janjiNya kepada Daud, ayah Salomo (ay.12-13). 

Penjelasan Singkat Isi Teks 

Kisah dalam Kitab 1 Raja-Raja 11:1-13 diawali dengan kecenderungan hati Raja Salomo yang menginginkan atau mencintai banyak perempuan asing. Disamping isteri pertamanya yang merupakan anak dari Raja Firaun (Raja Bangsa Mesir), Salomo juga mencintai dan mempersunting perempuan-perempuan yang berasal dari Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het. Padahal tentang bangsa-bangsa ini Allah telah berfirman kepada Bangsa Israel supaya tidak bergaul dengan mereka karena sesungguhnya mereka hanya akan mencondongkan hati Bangsa Israel kepada allah-allah yang mereka sembah. (Lihat Kel. 34:11-16; Ul. 7:1-4; dan 2 Kor. 6:14; bandingkan dengan salah satu kisah, yakni Simson dalam Hakim-Hakim 14-16). Adapun jumlah keseluruhan dari isteri Salomo adalah tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; berarti jumlah total isteri dan gundiknya adalah sebanyak 1000 orang. Meskipun di jaman PL, tidak ada larangan secara eksplisit untuk berpoligami, namun sesungguhnya pada awal penciptaan, Allah secara implisit menjadikan monogami sebagai bentuk pernikahan yang ideal. (Kej. 2:24; Mat. 19:5; Mrk. 10:8; Ef. 5:31). Demikian juga dalam Ul. 17:14-20, Tuhan memberi peringatan bahaya poligami bagi raja-raja.

Apa yang difirmankan oleh Allah tentang larangan-Nya terhadap Bangsa Israel supaya tidak bergaul dengan bangsa asing serta bahaya poligami bagi raja-raja tersebut ternyata terbukti dalam bagian yang kedua, yakni dalam ayat 4-8. Salomo karena tidak mengindahkan perintah Tuhan, di masa tuanya kemudian terseret kepada perzinahan dengan Allah lain. Isteri-isteri yang dicintainya tersebut, mencondongkan hati Salomo kepada allah yang disembah isteri-isterinya tersebut, yakni Asytoret dewi orang Sidon, Milkom dewa kejijikan sembahan orang Amon, Kamos dewa kejijikan sembahan orang Moab, dan Molokh dewa kejijikan sembahan bani Amon. Salomo berbuat kejijikan dan menyakiti hati Tuhan. Allah tidak menghendaki umat-Nya berpaling dari padaNya. Ingat perintah Tuhan dalam 10 Hukum (Keluaran 20:3-5) yang harus ditaati oleh Bangsa Israel. Mengikuti dan mempersembahkan korban allah lain atau dengan kata lain penyembahan kepada berhala merupakan suatu bentuk perzinahan yang sama sekali tidak berkenaan di hati Tuhan. (Kel.34:15-16; Ul. 31:16; Hak. 2:17). 

Oleh karena pelanggaran besar yang diperbuat Raja Salomo sebagaimana dimaksud di atas, maka dalam bagian yang ketiga, yakni pada ayat 9-11, Allah menyatakan hukuman-Nya kepada Raja Salomo. Tuhan sekali-sekali tidak akan membiarkan orang yang bersalah dari hukuman (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Maz. 39:12; Ams. 11:21). Maka atas pelanggaran yang diperbuat oleh Salomo tersebut, Allah kemudian menghukum Salomo dengan mengoyakkan Kerajaan Israel itu menjadi dua bagian. (2 Samuel 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia). Hal ini terjadi pada masa pemerintahan anaknya Rehabem. Kerajaan Israel terbagi menjadi 2 (dua) yakni Kerajaan Utara yang disebut sebagai Kerajaan Israel yang beribukotakan Samaria, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Kesalahan yang dilakukan oleh Salomo sebagai seorang Raja Israel ternyata bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi berdampak pula kepada keturunannya dan kepada Bangsa Israel secara keseluruhan. Meskipun Salomo telah berlaku tidak setia kepada Tuhan, namun demikian Allah tetap setia terhadap janji yang telah diucapkan-Nya kepada Daud hamba yang dikasihi-Nya. (Lihat perjanjian Allah dengan Daud yang disebut Perjanjian Daud, dalam 2 Sam. 7:9-16). Sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak dapat menyangkal diri-Nya. (Ul.7:9; 2; Tim. 2:13). 

Dalam bagian yang keempat, yakni pada ayat yang ke 12 dan 13, Allah tidak mengoyakan semua kerajaan itu, ada satu suku yang diberikan kepada anak Salomo yang akan menguasai sebagian dari Kerajaan itu. Juga Salomo masih dibiarkan memerintah Bangsa Israel sampai pada akhir hayatnya. Janji tentang Keturunan Daud yang akan tetap kokoh memerintah tahkta Kerajaan Israel digenapi pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang disebut “Anak Daud”. Adapun Kerajaan yang tetap diberikan kepada keturunan Daud adalah Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Kerajaan ini hanya terdiri atas 2 (dua) suku yakni Suku Yehuda dan Suku Benyamin (Lih. 1 Raja-Raja 12:19-25), tepat seperti yang difirmankan Tuhan kepada Salomo. Kemudian sering terjadi peperangan antara Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan. Kerajaan Israel (Utara) berdiri sebagai sebuah negara merdeka selama kira-kira 200 tahun, hingga sekitar tahun 720 SM, saat ditaklukkan oleh Kekaisaran Asyur. Alkitab mengisahkan bahwa seluruh orang Israel dibuang, yang kemudian dikenal dengan "Sepuluh suku yang hilang". Sedangkan Kerajaan Yehuda (Selatan) bertahan hingga 586 SM, saat kerajaan tersebut diserbu oleh Kekaisaran Babilonia di bawah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal Nebukadnezar. Dalam penyerbuan tersebut banyak penduduk menjadi tawanan, termasuk diantaranya Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego serta penghancuran Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo.

III. CATATAN UNTUK KHOTBAH EKSPOSITORI 

Salah satu tema yang dapat diberikan untuk perikop dalam 1 Raja-Raja 11:1-13 ini misalnya : ”Teladan Seorang Pemimpin”. 

Pendahuluan : 

Salomo sebagai seorang pemimpin atau Raja Israel sangat termasyur oleh karena hikmatnya. Kemasyurannya bahkan terdengar sampai ke negeri yang jauh seperti Etiopia (+2.500 km - Lihat Ratu Negeri Syeba, dalam 1 Raja-Raja 10). Hal ini tentunya membawa keuntungan baik bagi dirinya, maupun bagi kesejahteraan Bangsa Israel secara keseluruhan. Banyak upeti dibawa oleh Raja-Raja dan kaum bangsawan untuk dipersembahkan kepada Raja dan Kerajaan Israel. Namun sayangnya, awal hubungannya yang baik dengan Tuhan, ternyata tidak mampu dipertahankan sampai akhir hayatnya. Salomo di masa tuanya, meninggalkan kesetiaannya kepada Tuhan dan jatuh ke dalam perzinahan dengan allah bangsa asing yang tidak mengenal Allah Israel. Karena kejatuhannya tersebut, Salomo, keturunannya, bahkan Bangsa Israel menerima penghukuman dari Tuhan, Allah Israel. Dari kehidupan seorang Raja Salomo inilah, kita dapat belajar tentang kebenaran Firman Allah yang diberi judul : ”Teladan Seorang Pemimpin”. 

Seorang Pemimpin (baik pemimpin dalam keluarga, jemaat, pekerjaan, maupun dalam pemerintahan) selalu menjadi panutan bagi umat (bawahan, jemaat, ataupun masyarakat) yang dipimpinnya. Kepemimpinan yang baik, tentunya berdampak baik pula bagi dirinya, keluarga dan umat atau bangsa yang dipimpinnya, demikian pula sebaliknya, kepemimpinan yang tidak baik akan berdampak tidak baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan juga orang yang berada di bawah pimpinannya. Oleh sebab itu, sebagai seorang pemimpin kita perlu menjadi teladan bagi umat dan kemudian melalui keteladan itu, umat dapat diberkati dan bukan menerima kutuk dari Tuhan. 

Beberapa prinsip rohani yang dapat kita pelajari dari bacaan Firman Allah dalam 1 Raja-Raja 11:1-13 ini, agar supaya seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi umatnya diantaranya adalah : 

1. Seorang Pemimpin Harus Mengetahui Kehendak Tuhan (Berhikmat). 

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani oleh umatnya, maka pertama sekali bahwa pemimpin tersebut harus mengetahui kehendak Tuhan (berhikmat – Amsal 1:5). Mengetahui kehendak Tuhan, berarti bahwa orang tersebut harus belajar memahami kebenaran Firman Allah (Alkitab), sebab dalam Alkitablah kita mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah.

Sebagai seorang raja yang sangat berhikmat, tentunya Raja Salomo sangat mengetahui bahkan sangat memahami apa yang menjadi kehendak Allah bagi dirinya dan juga bagi Bangsa Israel secara keseluruhan. Ketika Allah melarang seorang raja memiliki banyak isteri (Ul. 17:14-20), Raja Salomo mengetahui dan memahami itu. Ketika Bangsa Israel dilarang oleh Allah untuk menjalin hubungan dengan bangsa lain (ay. 2; Kel. 34:11-16; Ul. 7:1-4), Raja Salomo pun sangat mengetahui dan memahami itu. 

Sesungguhnya sebagai seorang raja yang sangat berhikmat, Salomo telah menjadi sosok yang sangat pantas untuk diteladani dan disegani. Hal ini sangat terbukti dengan hikmat yang luar biasa yang Tuhan anugerahkan kepadanya, Salomo cakap memutuskan banyak perkara, tentang hal ini yang paling terkenal dicontohkan dalam kisah tentang dua orang perempuan yang membawa persoalan tentang anak mereka yang masih hidup dan yang telah mati (1 Raja-Raja 3:16-28). Keputusan hukum yang diberikan oleh Salomo membuat orang Israel menjadi takut kepada Salomo, sebab mereka melihat hikmat dari Allah ada dalam hati Salomo untuk melakukan keadilan. Karena hikmatnya inipula, Salomo disegani bukan hanya oleh orang Israel, tetapi bahkan sampai kepada Raja-Raja negeri asing yang datang kepadanya untuk melihat secara langsung keagungan Raja Salomo. Bahkan ia menulis Kitab Amsal, Pengkotbah dan Kidung Agung yang mampu menjadi berkat yang luar biasa bagi Bangsa Israel dan kepada banyak orang sampai saat ini. 

2. Seorang Pemimpin Harus Hidup Sesuai Perintah Tuhan (Taat). 

Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani oleh umatnya, maka selain pemimpin tersebut mengetahui kehendak Tuhan (berhikmat), maka iapun harus mau menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak atau perintah Tuhan tersebut, atau dengan kata lain pemimpin tersebut harus taat kepada kehendak Allah. Hal inipun ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam suatu perumpamaan tentang dua macam dasar (Mat. 7:24-27), bahwaorang yang bijaksana adalah orang yang mendengar firman Allah dan yang mau melakukannya. Tetapi orang yang mendengar firman Allah namun tidak melakukannya disamakan dengan seorang yang bodoh.

Sangat disayangkan, keagungan hikmat yang dimiliki oleh Raja Salomo tidak dibarengi dengan ketaatannya dalam melakukan kehendak / perintah Tuhan. Salomo sepertinya telah tergiur dengan keagungan yang dimilikinya. Harta, kedudukan, kebesaran, kekuasaan yang dia dapatkan oleh karena hikmatnya yang luar biasa tersebut, membuat Raja Salomo menjadi lupa diri. Ia mengabaikan perintah Tuhan. Dua hal yang paling mendasar dalam pelanggarannya ini kepada Allah adalah bahwa Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Ia bukan saja memiliki banyak Isteri dan selir (dicatat dalam  ayat 3, Salomo memiliki tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; berarti jumlah total isteri dan gundiknya adalah sebanyak 1000 orang); tetapi isteri-isteri dan gundik-gundiknya tersebut juga berasal dari bangsa lain yang tidak mengenal Allah Israel (ay. 1, Mesir, Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het).


Ketidaktaatan Salomo kepada perintah Allah ini, membuat Salomo di masa tuanya terseret kepada kejatuhan yang sangat dalam. Isteri-isteri dan gundik-gundiknya tersebut menyeret Raja Salomo kepada penyembahan terhadap allah mereka. Salomo mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. (ay.4); Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon. (ay.5); Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. (ay.7); Salomo juga melakukan bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka (ay. 9). 

3. Seorang Pemimpin Harus Siap Menerima Konsekuensi Dari Setiap Keputusan / Langkah Yang Dilakukannya. 

Seorang pemimpin yang mau menjadi teladan bagi umatnya, adalah seorang pemimpin yang siap menerima resiko. Apapun keputusan, kebijakan yang akan dia ambil dan lakukan, pasti akan mengandung resiko atau konsekuensi. Ketika seorang pemimpin benar dalam mengambil tindakan atau keputusan, maka resikonya pastilah baik. Tetapi apabila seorang pemimpin salah dalam mengambil keputusan, maka sudah barang tentu resikonya negatif. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik harus hati-hati dalam bertindak, sebab kesalahan yang dilakukan oleh seorang pemimpin tentunya akan sangat berdampak besar, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan bagi umat atau bangsa yang dia pimpin. 

Kesalahan yang dilakukan oleh Raja Salomo dengan melanggar firman Allah, berdampak kepada hukuman Allah kepadanya, dan juga keluarga dan bangsa Israel. Tuhan murka kepada Raja Salomo (ay. 9). Dan murka Allah itu diwujudkan dalam keputusan-Nya untuk mengoyakkan Kerajaan Israel. Tuhan sekali-sekali tidak akan membiarkan orang yang bersalah dari hukuman (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Maz. 39:12; Ams. 11:21). Maka atas pelanggaran yang diperbuat oleh Salomo tersebut, Allah kemudian menghukum Salomo dengan mengoyakkan Kerajaan Israel itu menjadi dua bagian. (2 Samuel 7:14 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia). Hal ini terjadi pada masa pemerintahan anaknya Rehabem. Kerajaan Israel terbagi menjadi 2 (dua) yakni Kerajaan Utara yang disebut sebagai Kerajaan Israel yang beribukotakan Samaria, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda yang beribukotakan Yerusalem. Sebelumnya dalam lanjutan kisah dalam 1 Raja-Raja 11:14-29, berbagai peristiwa pemberontakan terjadi di jaman Raja Salomo, diantaranya : Pemberontakan Hadad orang Edom, Rezon bin Elyada dari Damsyik, kemudian Yerobeam bin Nebat. Semua peristiwa ini merupakan hukuman atas pelanggaran yang dibuat oleh Salomo.

Kesalahan yang dilakukan oleh Salomo sebagai seorang Raja Israel ternyata bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri, tetapi berdampak pula kepada keturunannya dan kepada Bangsa Israel secara keseluruhan. Itulah sebabnya Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menasihati mereka dengan tegas supaya mereka tetap berjaga-jaga, berdiri dengan teguh dalam iman, dan bersikap sebagai seorang laki-laki, dan tetap kuat. (I Kor. 16:13). Karena setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siapapun juga, akan berdampak kepada penghukuman. Roma 6:23 berkata : ”Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.

4. Seorang Pemimpin Harus Mau Memperbaiki Kesalahannya (Bertobat).

Sesuatu yang diharapkan oleh Tuhan dalam kejatuhan manusia adalah supaya manusia itu menyadari kesalahannya, memperbaiki kesalahannya tersebut dan kembali kepada Allah. (Yoel  22:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya). Hal itulah sesungguhnya yang diinginkan oleh Allah kepada Adam dan Hawa ketika mereka telah jatuh ke dalam dosa. Namun Adam dan Hawa malah memilih bersembunyi dari Allah, bahkan tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat oleh masing-masing mereka. Adam menyalahkan Hawa dan bahkan menyalahkan Tuhan yang menempatkan Hawa disampingnya, sedangkan Hawa menyalahkan Ular. (Kej. 3:12-13).


Suatu teladan yang baik dari seorang pemimpin ketika ia jatuh ke dalam dosa, dapat kita lihat dalam pribadi Raja Daud. Dikisahkan dalam Kitab 2 Samuel 11-12, bahwa ketika Raja Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba (Ibu Salomo), Raja Daud yang tatkala itu ditegur oleh Nabi Natan, menerima dan menyadari kesalahannya, serta menunjukkan pertobatannya yang sungguh atas kesalahan yang diperbuatnya melawan kehendak Tuhan. Sehingga meskipun Tuhan tetap menghukum Raja Daud, namun Raja Daud mendapatkan pengampunan dari Tuhan. (2 Sam. 12:1-17). Berbeda halnya dengan Raja Saul, ketika ia berdosa kepada Tuhan, dia sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seseorang yang mengakui dan menyadari kesalahannya  tersebut, malah ia terkesan membenarkan tindakannya dan menyalahkan menyalahkan Nabi Samuel yang terlambat datang sehingga ia sendiri mengambil langkah untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, karena ia takut melihat bangsa Israel telah berserak-serak, sedangkan orang Filistin telah berkumpul untuk menyerang Israel. (I Sam. 13:6-14); dalam kisah selanjutnya ketika Raja Saul diperintahkan menumpas orang Amalek dan segala yang ada padanya, Saul tidak mematuhi perintah Tuhan tersebut. Saul menyelamatkan Agag Raja Amalek, serta kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga. Ketika ia ditegur oleh Nabi Samuel ia malah menyalahkan orang Israel dengan alasan apa yang mereka ambil tersebut untuk dipersembahkan kepada Tuhan. (I Sam. 15:19-21).

Lalu bagaimana dengan kehidupan Salomo, apakah ia menyadari kesalahan yang diperbuatnya dan kembali kepada Allah ?. Tidak ada catatan Alkitab yang menjelaskan bahwa Raja Salomo diakhir hidupnya mendapat perkenaan dari Allah sebagaimana Daud ayahnya. Salomo mati setelah ia memerintah Israel selama 40 tahun, selama itu pula Raja Salomo melewati masa pemerintahan yang penuh dengan hal-hal yang bermakna, baik ketika Tuhan mengangkat dia maupun ketika ia jatuh kedalam dosa yang menjatuhkan seluruh Israel. Akhir hidup Raja Salomo tercatat dalam I Raja-Raja 11:43. Diceritakan bahwa dia mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya dan dikuburkan di Kota Daud. Alkitab Sabda memberi keterangan bahwa Farrar menceritakan tradisi yang berlaku di antara orang-orang Yahudi mengenai kematiannya. Diceritakan bahwa Salomo pergi ke Bait Allah untuk beribadah. Dia berdiri di sana asyik berdoa, tokoh yang jelas seperti dalam lukisan dengan rambutnya yang putih dan panjang tergerai di atas jubah kebesaran raja, dan mengenakan mahkota emas pemberian ibunya, Batsyeba. Sementara dia berdiri ditopang tongkatnya maka kematian menimpa dia, tetapi tongkat tetap menopang mayat yang masih berdiri itu. Para imam mengetahui bahwa raja sudah meninggal, tetapi takut untuk menyentuhnya, sebab di tangannya yang sudah mati terdapat cincin terkenal yang dengannya dia melakukan perbuatan-perbuatan sihir yang ajaib. Tetapi, seekor tikus keluar dari lobangnya dan mengerat kulit yang terdapat pada kaki tongkat itu hingga tergelincir dan raja agung itu jatuh ke lantai dan mahkotanya menggelinding dalam debu.

Meskipun Salomo tidak mendapat perkenaan Allah sebagaimana ayahnya Daud, namun karena keteladanan ayahnya Daud yang mau mengakui kesalahannya dan memperbaiki kelakuannya dengan setia mengikuti perintah Tuhan, maka Allah setia kepada janji yang Dia ucapkan kepada Daud, hamba yang dikasihi-Nya. (Lihat perjanjian Allah dengan Daud yang disebut Perjanjian Daud, dalam 2 Sam. 7:9-16).  Sebab Ia adalah Allah yang setia yang tidak dapat menyangkal diri-Nya. (Ul.7:9; 2 Tim. 2:13). Pada ayat yang ke 12 dan 13, Allah tidak mengoyakan semua kerajaan itu, ada satu suku yang diberikan kepada anak Salomo yang akan menguasai sebagian dari Kerajaan itu. Juga Salomo masih dibiarkan memerintah Bangsa Israel sampai pada akhir hayatnya.  Janji tentang Keturunan Daud yang akan tetap kokoh memerintah tahkta Kerajaan Israel digenapi pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang disebut “Anak Daud”.


DAFTAR PUSTAKA 

Alkitab Sabda yang diakses melalui https://alkitab.sabda.org

Andre E. Hill dan John H. Walton (2021). Survey Perjanjian Lama. Penerbit Gandum Mas.

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z (2002). Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF

Hasan Sutanto, D.Th (2007). Hermeneutik – Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Penerbit Literatur Saat. Malang

Lembaga Alkitab Indonesia (2002). Alkitab, Cetakan Kesepuluh. Penerbit Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Pustaka. Jakarta.

Susandi (2023). Bahasa Ibrani Untuk Mengajar dan  Berkhotbah. Diktat. Sekolah Tinggi Teologi Rumah Murid Kristus. Bitung.

Rabu, 21 Desember 2022

KAPAN DUNIA INI AKAN BERAKHIR ? (Sebuah Refleksi menjelang Natal dan Akhir Tahun).

Oleh : Fredrik Dandel, ST, STh, M.Ag.(Cand)

Tema atau pertanyaan di atas merupakan suatu spontanitas yang saya tulis untuk menjawab pertanyaan seorang teman yang tergabung dalam Group "KATA FILSAFAT" pertanyaannya adalah : Apa pertanyaan paling penting dalam hidupmu?. Tema ini jugalah yang saya sempat diskusikan dengan beberapa tokoh masyarakat dalam suatu pertemuan usai Ibadah pemakaman almh. YP kemarin (171222) di Talawid Tua.
Hal ini didasari atas suatu perenungan bahwa sekeliling kita pada kenyataannya sedang berbicara, sedang mengingatkan kepada kita bahwa hidup kita dalam dunia ini hanya sementara adanya. Generasi demi generasi berganti, ada yang lahir ada pula yang mati. Dunia ternyata masih belum berakhir saat ini, ia masih sedang berputar.
Dulu kita adalah anak2, sekarang kita telah menjadi dewasa, dan sebentar lagi tentunya akan menjadi tua dan uzur. Dulu kita masih melihat generasi orang2 tua kita, kemudian mereka telah meninggal, sekarang generasi kita yang berperan, tidak lama lagi kita sudah akan jadi penonton, bahkan kemudian akan pergi juga. Sehingga menjadi pertanyaan penting adalah : Kapan dunia ini berakhir ?
Mengapa pertanyaan ini saya katakan penting? Tidakkah kita pernah berpikir, bahwa umur dunia ini sudah lebih dari 6000 tahun (versi tafsiran Kitab Suci). Itu tentunya bukanlah waktu yang singkat bagi generasi yang sudah mendahului kita. Tidakkah mereka menginginkan supaya masa hidup dalam bumi ini akan segera berakhir, sehingga mereka akan segera menikmati hari yang telah dijanjikan itu?
Jika waktu kedatangan Tuhan Yesus Kristus pada kali kedua atau dengan kata lain "Kiamat" masihlah belum terjadi, sampai kapan kita semua akan menunggu masa itu?. Apakah kemudian generasi kita saat ini yang kemudian akan pergi juga, dan kita masih harus menunggu 1000, 2000, 3000 atau 4000 tahun lagi?
Saat ini mungkin adalah generasi kita yang sedang berperan dalam dunia ini. Apa yang akan terjadi pada generasi 1000 tahun yang akan datang, mungkinkah mereka masih mengenal atau mengingat keberadaan kita kelak ?. Saya rasa TIDAK, bahkan mungkin pusara kitapun sudah mereka singkirkan untuk kemudian didirikan bangunan lain diatasnya. Apalagi jika tanah leluhur (baca : warisan) itu kemudian telah berpindah tangan kepada orang lain, tidak butuh waktu lama bukan ?
😀😀😀
Jika kehidupan dalam dunia ini hanyalah bersifat sementara adanya. Maka sudah selayaknya lah kita harus memikirkan kehidupan yang kekal. Itulah sebabnya pertanyaan dalam tema di atas menjadi penting, sehingga kita dapat menginstropeksi diri kita, apakah kita telah merespon keselamatan yang telah Tuhan anugerahkan bagi kita ?
Pengharapan kita akan kedatangan Tuhan Yesus Kristus pada kali kedua sebagai Raja di atas raja, sebagai Hakim yang Agung dan sebagai Mempelay Laki-Laki Sorgawi tentunya pasti akan terjadi, meskipun kita semua tidak pernah tau kapan waktu dan masanya akan tiba. Semua akan terjadi sesuai kehendak Allah.

Sabtu, 05 Februari 2022

WASPADALAH TERHADAP PENYESATAN !!!

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh. 

Banyaknya pengajaran (doktrin) dalam kekristenan, menuntut kita untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan. Sehingga kita memiliki pondasi (iman) yang kuat dalam Kristus Yesus Tuhan. 

Oleh sebab itu, mengikut Tuhan bukan hanya sekedar datang beribadah, melayani, menyanyi, menyembah, berdoa, dengar Firman, persembahan, kemudian doa berkat/penutup. Tetapi ikut Tuhan menyangkut tentang Iman, Pengharapan dan Kasih. 3 hal penting yang disampaikan Rasul Paulus dalam 1 Kor. 13 : 13 "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya adalah kasih. 

Khusus berbicara tentang Iman, dalam Ibr. 11:1 iman didefenisikan sebagai "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Selanjutnya dalam Rom. 10:17 berkata : Iman tumbuh dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. 

Begitu pentingnya perihal memiliki iman itu, sehingga Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Luk..18:8 :"Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? 

Jika kita sadar, betapa pentingnya iman, maka marilah kita bersama saling membangun iman sesama tubuh Kristus (jemaat Tuhan). Dengan mengajarkan dan mendengarkan Firman yang benar dan sehat !!! Sehingga kita dan jemaat Tuhan boleh bertumbuh dalam komposisi iman yang benar dan sehat pula. 

Seorang yang memposisikan dirinya sebagai pengajar dalam jemaat, harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang benar akan kebenaran Firman Allah. Sebab kalau tidak, akan sangat berbahaya, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi sangat berbahaya bagi orang yang mendengar dan yang kemudian mengikutinya !!! 

Wasapadalah terhadap pengajaran yang salah/sesat. Apa yang kita dengarkan, akan berpengaruh dalam pembentukan komposisi imanmu, yang akan sangat menentukan hidupmu sampai kepada kekekalan !!! 

Doa : Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah kami anak2Mu, ajarlah kami untuk mengerti dan bertumbuh dalam FirmanMu, sehingga kami tidak terombang-ambing oleh berbagai kesesatan dunia. Roh Kudus kuatkanlah iman kami. Haleluyah Amin.

Minggu, 02 Januari 2022

DAMPAK SPIRITUALITAS PENTAKOSTA BAGI PERTUMBUHAN GEREJA LOKAL

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh.

I. PENDAHULUAN 

Latar Belakang 

Tak dapat dipungkiri, bahwa kehadiran Denominasi Gereja Pentakosta dan kharismatik baik di Indonesia maupun di dunia, sejak awal kemunculannya sampai sekarang, dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. 

Allan Anderson memberikan gambaran bagaimana pertumbuhan Pentakosta selama seratus tahun terakhir sebagai berikut : pada tahun 1970 populasi Pentakosta – Kharismatik berkisar 74 juta atau sekitar 6% dari seluruh populasi kekristenan di dunia. Pada tahun 1977 Pentakosta – Kharismatik mengalami perkembangan yang pesat kira-kitra 497 juta atau 27 % dari seluruh populasi Kristen dunia lebih besar dari Protestan dan Anglikan. Barret memperkirakan pada tahun 2025 Pentakosta-Kharismatik akan mencapai 1.140 Juta atau 44% dari total orang Kristen di seluruh dunia. (Fredy Simanjuntak, 2019). 

Pada tahun 2011 Forum Pew memperkirakan bahwa ada sekitar 2.184.060.000 populasi Kristen di seluruh dunia dimana sekitar 584.000.000 diantaranya adalah gabungan dari gerakan pentakosta-karismatik, sedangkan kaum Injili berada pada angka 285.480.000. Di Indonesia, gerakan ini sangat penting dalam dekade terakhir. 

Jan Aritonang sejarahwan dan teolog Protestan memberikan pujian atas dampak gerakan Pentakosta secara global. Ia menyebut Pentakosta merupakan satu diantara berbagai aliran gereja yang kemunculan dan perkembangannya paling spektakuler pada abad ini. (Fredy Simanjuntak). 

Banyak teori yang menyebutkan faktor pendukung pertumbuhan gereja seperti : doa, penyembahan, tujuan, diagnosis, prioritas, perencanaan, penyusunan program, kepemimpinan, penginjilan, dsb (Jenson, Ron & Stevens 1996). Sikap gembala jemaat menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan dalam pertumbuhan gereja. (Hermanto 2021). Selain itu, karunia-karunia Roh Kudus sebagai faktor pendorong (promoting factor) dalam pertumbuhan gereja. (Asin 2011). Demikian juga (Peters 2002) menyebutkan bahwa dimensi pertumbuhan Gereja ditentukan oleh ibadah kepada Allah, pelayanan di tengah-tengah persekutuan, konseptualisasi Alkitab, penginjilan kepada kelompok masyarakat, mengakomodasi tuntutan lingkungan, memperkenalkan gaya hidup kristiani kepada masyarakat, proklamasi Injil ke seluruh dunia, dan lain-lain sebagainya. 

Namun dalam tulisan ini penulis menguraikan factor yang sangat menentukan dalam pertumbuhan gereja khususnya di kalangan gereja Pentakosta sebagaimana fenomena yang telah disebutkan diatas, yakni tentang Spiritualitas Pentakosta yang sampai saat ini menjadi cirri khas yang sangat menarik dalam memberikan pengaruh kepada umat / masyarakat sehingga telah menjadi cikal bakal pertumbuhan gerakan Pentakosta di gereja lokal. 

Hipotesa 

Penulis menarik hipotesis penelitian ini bahwa Spiritualitas Pentakosta Merupakan Faktor Pendorong Pertumbuhan Gereja khususnya Gereja Beraliran Pentakosta. Penulis melakukan penelitian yang bersifat studi kepustakaan, yakni mengadakan penelitian dengan perbandingan beberapa pustaka yang terkait dengan penulisan. 

Tujuan 

Melalui tulisan ini penulis berharap agar dapat memberi motivasi kepada para hambahamba Tuhan tentang pentingnya menyertakan spiritualitas Pentakosta dalam setiap pelayanan, sehingga akan berdampak kepada pertumbuhan gereja yang sedang digembalakan. 

II. PERTUMBUHAN GEREJA 

Gereja Harus Bertumbuh 

Dalam Alkitab tidak pernah dijelaskan adanya pertumbuhan gereja, selain dari yang diungkapkan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul. Saat jemaat mula-mula terbentuk, ungkapan Lukas mengenai pertumbuhan gereja adalah pertambahan jumlah (Kis. 2:47). Sedangkan pengertian yang ditunjukkan oleh I Korintus 3 tidak mengarah pada pertambahan jumah, melainkan pada perkembangan diri. Tanpa pertambahan jumlah orang yang diselamatkan, sebuah gereja tidak akan disebut bertumbuh. Pertambahan jumlah orang yang diselamatkan tidak akan terjadi tanpa peningkatan jumlah pengunjung gereja. Dengan demikian, indikator pertumbuhan gereja adalah pertambahan jumlah pengunjung gereja setiap Minggu. 

Gereja harus bertumbuh tanpa batas, karena gereja dihidupi oleh Roh Allah yang tidak terbatas. Sebagaimana Roh Allah itu tidak pernah sakit atau bahkan mati, gereja juga tidak boleh sakit, apalagi mati. Sebab sebagaimana kematian manusia dikarenakan tubuh yang ditinggalkan roh, demikian pula kematian sebuah gereja menunjukkan bahwa tubuh gereja tersebut tidak lagi didiami oleh Roh Allah. Oleh karena itu kita harus terus menjaga agar gereja harus terus bertumbuh, artinya menjaga Roh Allah terus ada dalam tubuh gereja. 

Defenisi Pertumbuhan Gereja 

Kata pertumbuhan, berasal dari kata tumbuh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tumbuh berarti : Timbul dan bertambah besar atau sempurna; sedang berkembang (menjadi besar, sempurna); timbul, terbit, terjadi. Para pakar Pertumbuhan Gereja mendefinisikan ’pertumbuhan gereja’ sebagai berikut : 

  1. Ron Jenson dan Jim Steven dalam bukunya Dinamic of Church Growth menyatakan: ”Pertumbuhan gereja adalah kenaikan yang seimbang dalam kuantitas, kualitas dan kompleksitas organisasi sebuah gereja lokal”. Definisi ini menekankan keseimbangan antara tiga komponen, yaitu: kuatitas, kualitas dan kompleksitas organisasi agar gereja bertumbuh dengan sehat. 
  2. C. Peter Wagner dalam bukunya Your Church Can Grow menyatakan: “Pertumbuhan gereja adalah segala sesuatu yang terlibat dalam membawa pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus masuk ke dalam persekutuan denganNya ke dalam keanggotaan gereja yang bertanggung jawab”. 
  3. Donald Mc Gavran merumuskan Pertumbuhan Gereja sebagai ”segala sesuatu yang mencakup soal membawa orang-orang yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus ke dalam persekutuan dengan Dia dan membawa mereka menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab”. 
  4. George W. Peters dalam bukunya A Theology of Church Growth memberikan pengertian bahwa Pertumbuhan Gereja adalah sesuatu yang sesuai dengan realitas ilahi. Fakta Pertumbuhan tersebut dapat dibaca dalam Lukas 2:40, 52; Matius 13:31-32; Efesus 4:16; Wahyu 5:9; I Korintus 3:9, 16. Pertumbuhan tersebut mencakup kuantitas dan kualitasnya yang menunjukkan adanya perilaku pertumbuhan secara: biologis, spontan, terencana dan melalui krisis khusus. 

Jenis Pertumbuhan Gereja 

Pertumbuhan Gereja dapat dikategorikan menjadi 2 (dua), yakni Pertumbuhan Kuantitatif dan Pertumbuhan Secara Kualitatif. 

1. Pertumbuhan Kuantitatif 

Pertumbuhan Kuantitatif adalah pertumbuhan gereja dalam segi penambahan jumlah organik atau umat yang ada didalam gereja Tuhan, gereja tidak akan bisa disebut bertumbuh ketika gereja tidak menampakkan pertambahan dalam jumlah anggota jemaat bahkan sekalipun gereja itu memiliki gedung besar, banyak uang dan beragam kegiatan pelayanan, seorang Ahli yang mempelajari strategi pertumbuhan bernama Michel Griffits berkata “kita tidak bisa membangun Bait baru tanpa menambah jumlah batu-batu hidup.” Maka indikator gereja yang bertumbuh secara kuantitatif dalam mengemban amanat agung Tuhan Yesus bagi kita, dapat dilihat dari bertambahnya jumlah orang percaya yang menjadi selamat hasil dari pelayanan misi Gereja Tersebut. 

Menurut Pdt. Dr. Sukirman terdapat 3 pertumbuhan gereja yang oleh penulis dikategorikan sebagai pertumbuhan kuantitatif, yakni : Pertumbuhan Biologis, Pertumbuhan Migrasi dan Pertumbuhan Alamiah. 

1) Pertumbuhan Biologis 

Satu-satunya alasan Pertumbuhan Biologis adalah faktor keluarga yang bertambah jumlahnya, baik melalui adopsi maupun melalui kelahiran. Artinya, pertambahan anggota keluarga secara otomatis menyebabkan pertumbuhan gereja dalam hal jumlah jemaat. Pertambahan jumlah jemaat ini terjadi dengan perlahan tetapi pasti. 

2) Pertumbuhan Migrasi 

Pertambahan jumlah jemaat yang disebabkan oleh perpindahan atau migrasi. Seseorang yang mengalami perpindahan tempat kerja akan mencari gereja di tempatnya yang baru; danbagi gereja tersebut berarti terjadi Pertumbuhan Migrasi. Pertumbuhan Migrasi juga dapat disebabkan oleh pernikahan, yakni orang Kristen yang menikah dan bergabung dengan gereja pasangannya. Saat ini fenomena Pertumbuhan Migrasi terlalu sering terjadi. Banyak anggota jemaat berpindah ke gereja lainnya dalam satu kota karena berbagai faktor, misalnya kejenuhan dan mewahnya tempat ibadah yang baru. Alasan yang paling umum adalah tidak adanya penyelesaian permasalahan mereka di dalam gereja lama. Pertumbuhan Migrasi dalam satu kota dengan alasan demikian membuat gereja tidak sehat; gereja tujuan bertambah jumlah pengunjung dengan pertambahan masalah baru, sementara gereja asal mengalami stagnasi, bahkan kemungkinan mati. Pertumbuhan Migrasi demikian sangat tidak dianjurkan 

3) Pertumbuhan Alamiah 

Pertambahan jumlah pengunjung gereja secara tetap dari orang-orang yang sebelumnya tidak bergereja, atau setidaknya mereka yang sudah lama tidak mengunjungi gereja karena tidak memiliki gereja yang dikunjungi setiap Minggunya. Biasanya mereka sangat tidak tertarik untuk datang menghabiskan waktu dengan mendengar ceramah dan nyanyian berulang-ulang yang membosankan. Atau mungkin mereka adalah seorang Atheis. Mungkin juga mereka berasal dari iman yang lain. 

Pertumbuhan gereja yang Alamiah seperti ini tidak mudah terjadi jika tidak ada faktor pendorongnya. Jarang sekali orang dapat mengalami perubahan hidup tanpa faktor pencetus (promoting factor). Berbagai buku, termasuk Alkitab, menuliskan bahwa Pertumbuhan ini terjadi setelah pengalaman Pentakostalisme; atau adanya gerakan dari Pentakosta, seperti kesembuhan ilahi, exorcisme, dan pemulihan kualitas hidup terjadi; sehingga diketahui bahwa faktor pengaruhnya adalah kuasa supranatural. 

2. Pertumbuhan Kualitatif 

Pertumbuhan Kualitatif adalah pertumbuhan yang dihasilkan berdasarkan hubungan pribadi dengan Roh Kudus, hal pertumbuhan Kualitas sangat dilihat kepada kasih yang timbul dari persekutuan umat Tuhan didalam gereja yang bermisi. Pertumbuhan gereja dalam hal kualitatif ini dapat terlihat kedewasaan rohani yang dibuktikan dari perbuatan, perkataan dan tindakan berdasarkan karakter Kristus.

III. SPIRITUALITAS PENTAKOSTA 

Dasar Spiritualitas Pentakosta 

Kaum Pentakostal lahir pada masa di mana Gereja-Gereja telah terjebak kepada formalisasi, doktrinisasi, dan pe-metode-an penghayatan iman kepada Yesus Kristus, serta absennya pengalaman yang dinamis dengan Roh Kudus. Itu sebabnya mengapa tekanan utama kaum Pentakostal awalnya bukan sekedar kaum Pentakosta dalam pengertian denominasional, tetapi juga pada gerakan pietisme John Wesly bersaudara yang melahirkan Metodis maupun Jacob Spenser adalah suatu penghayatan dan pengalaman hidup, sederhana, spontan, dan komitmen untuk menghidupi firman, menjadi akar bagi spiritualitas Pentakosta. 

Roh Kudus mendapat tempat yang khusus dalam seluruh pembicaraan mengenai spiritualitas Pentakosta. Bahwa baptisan Roh Kudus sebagai sebuah symbol dari pemberdayaan pelayanan dan permulaan bagi seseorang yang dimampukan untuk berjalan dalam kebenaran. Kaum pentakostal merasa bahwa apa yang dialami oleh para rasul bukanlah pengalaman yang telah berhenti setelah kanonisasi Alkitab. 

Dasar teologi Pentakosta adalah baptisan Roh Kudus. Gagasan ideal kaum Pentakostal adalah bahwa menjadi Pentakosta berarti seseorang mengindentifikasikan diri dengan pengalaman yang terjadi pada para pengikut Kristus pada hari Pentakosta, yaitu dipenuhi dengan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus ini sebagai titik penting bagi kaum Pentakosta, yang dipahami sebagai momentum yang bukan hanya sebagai pemberdaya (empowerer) orang percaya bagi pelayanan, tetapi juga mulainya pengalaman berkelanjutan akan karya Roh Kudus dalam pertumbuhan dan kehidupan kontempaltif. Kaum Pentakostal percaya bahwa Allah memberikan kepada tiap-tiap orang karunia-karunia (I Kor. 12) dan jawatan (office) dalam Tubuh Kristus itu seperti nabi, rasul, gembala, penginjil, dan guru (Ef. 4) sebagai sarana untuk membawa jemaat bukan hanya terlibat dalam pelayanan, tetapi juga menjadi dewasa dalam spiritualitasnya. 

Defenisi Spiritualitas Pentakosta 

Junifrius Gultom berpendapat bahwa Spiritual Pentakosta didudukan atas dasar kata “Spiritualitas” itu sendiri yang bersifat Umum, baik dalam Agama maupun Kepada Orang Yang Tak Berkeyakinan Kepada Yang Absolut versi Pemeluk Agama. Spiritualitas Pentakosta Share in Common (sepakat) merupakan bagian-bagian dari Spiritualitas Kristen pada Umumnya, namun gagasan yang khas dalam Spiritulaitas Pentakosta adalah menyangkut Hermeneutik Pentakosta yang membentuk dogmanya, tradisinya, pengalaman pribadi, komunitas kekinian, serta konteks luas dimana kaum pentakosta hidup. “Spiritualitas Pentakosta” adalah suatu pengalaman hidup dari konfigurasi khusus ajaran-ajaran, praktikpraktik dan sensibilitas yang meletakan orang percaya pada suatu hubungan yang berkelanjutan dengan Roh Kudus. 

Tentang Spiritualitas Pentakosta, Steven J. Land menegaskan tesis awalnya yaitu Core Integratif dari Spiritualitas Pentakosta adalah mengenai : Kebenaran, kekudusan, dan kuasa Allah yang berkorelasi dengan afeksi-afeksi apokaliptik khas. Antara Teologi dan Spiritualitas mesti berkorelasi, itulah sebabnya pentingnya Roh Kudus sebagai titik awal bagi suatu pendekatan pentakostal yang khas kepada teologi sebagai spiritualitas. 

Senada dengan itu, Simon Chan menyatakan bahwa Teologi yang sejati muncul dari pengalaman dengan Allah dan Yesus Kristus. Teologi yang benar harus menghasilkan doxology atau lagu pujian selain teologi rohani, membentuk arah bagi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan yang supernatural. 

Penekanan Spiritualitas Pentakosta 

Menurut Gernaida Pakpahan dalam Marthina Novalina (2020), Dalam spiritualitas pentakosta, ada beberapa penekanan yang diberikan; yang nampak dari karakteristik gereja Pentakosta itu sendiri, antara lain: 

  1. Lebih menekankan peranan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari. 
  2. Tata laksana liturgi yang lebih sederhana, lagu rohani yang digunakan lebih modern. 
  3. Mengijinkan keterlibatan kaum perempuan dan kaum awam dalam pelayanan. 
  4. Panggilan pertobatan dan hidup dalam kesucian. 
  5. Menekankan panggilan untuk menjadi saksi hingga ke seluruh dunia sebagai bentuk tanggungjawab terhadap respon eskhatologis. 
  6. Memberi tempat untuk nubuat, bicara dalam bahasa roh sebagai bentuk nyata baptisan Roh Kudus. 
  7. Memberi kepedulian terhadap isu-isu social, keadilan, ekonomi, politik, ras, budaya, dll. 
  8. Komitmen yang kuat terhadap pelayan praktis di gereja local. Sehingga ketika berbicara mengenai spiritualitas Pentakosta, maka tidak bisa tidak, beberapa karakteristik di atas akan tercakup didalamnya. 

GEREJA LOKAL 

Pengertian Gereja Lokal Menurut Dr. Th. Van den End, Gereja lokal adalah persekutuan orang-orang percaya yang lahir baru oleh Firman dan Roh Kudus di suatu tempat. Gereja Lokal dapat juga disebut dengan gereja setempat. Martin B. Dainton dalam bukunya yang berjudul Gereja Milik Siapa, mengungkapkan bahwa istilah gereja lokal menunjuk pada sidang jemaat setempat dan bukan sekali kali pada aliran atau denomonasi gerejani. 

Gereja lokal bukanlah menunjuk kepada suatu aliran atau denominasi gereja. Aliran dan denominasi gereja merupakan akibat dari perbedaan pemahaman tentang penafsiran kebenaran Firman Tuhan dan berbagai kepentingan. Sebelum terjadi perpecahan dalam gereja, sudah terdapat suatu istilah gereja lokal. Gereja lokal menunjuk kepada persekutuan orang-orang percaya yang berkumpul pada tempat atau kota tertentu. Alkitab menyebutkan tentang kumpulan orang-orang percaya atau Gereja setempat diantaranya gereja di Yerusalem (Kisah 8 : 1; Kisah 11 : 22), Gereja di Korintus (I Kor. 1,2; II Kor. 1 :1). Dengan demikian gereja lokal merupakan suatu persekutuan orang orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dalam suatu kehidupan baru dan berkumpul dalam suatu lingkup tempat tertentu. 

IV. DAMPAK SPIRITUALITAS PENTAKOSTA BAGI PERTUMBUHAN GEREJA LOKAL 

Berbagai karunia Roh Kudus yang diberikan setelah peristiwa Pentakosta telah mendatangkan pertumbuhan gereja Yerusalem demikian pesatnya. Hal yang sama juga terjadi setelah peristiwa Pentakosta Modern di Azusa Street. Sampai hari ini, manifestasi berbagai karunia-karunia Roh Kudus terus terjadi dan menghasilkan pertumbuhan gereja yang spektakuler. 

Steven Talumewo, menyebutkan setidaknya terdapat 10 factor yang menyebabkan Gerakan Pentakosta berkembang pesat, yakni : (1) Hal-hal Supernatural atau Mukjizat, (2) Sifat nondenominasi, (3) Kesederhanaan, (4) Misi dan Pekabaran Injil, (5) Kebaktian massa dan kesembuhan ilahi, (6) Literatur, (7) Musik dan pujian, (8) Pengharapan, (9) Urapan Allah dan (10) Berkorban. 

Schwarz dan Schalk menuliskanbahwa Roh Kudus adalah Pribadi yang menginspirasi ibadah dalam gereja dan membawa pertambahan jumlah pengunjung gereja. Mereka dengan tegas menyatakan bahwa pertumbuhan kuantitatif adalah pekerjaan Roh. Manusia atau para pelayan mendapat bagian untuk bekerja dan membangun bagian kualitatifnya. 

Dampak Spiritualitas Pentakosta dalam pertumbuhn gereja local sebagaimana dimaksud, diantaranya dapat diuraikan melalui contoh kesaksian sebagai berikut : 

Doa Puasa dan Peperangan Rohani. 

Keberhasilan Thomas Muthee memenangkan kota Kiambu, Kenya, bagi Kristus adalah contoh pekerjaan pelayanan yang dilakukan bersama Roh Kudus, seperti dituturkan Peter Wagner dalam bukunya Berdoa Dengan Penuh Kuasa. Dikisahkan oleh Direktur Fuller Seminary ini bahwa pelajaran Church Planting (Perintisan Gereja) tidak banyak membantu dalam peperangan memenangkan kota ini. Beberapa Perndeta telah pulang dengan kegagalan. Kemenangan Thomas hanya terjadi setelah ia dan isterinya berpuasa selama 6 bulan. Tuhan menunjukkan kepada mereka bahwa kota tersebut telah dikuasai oleh roh perdukunan (witch-craft). Setelah doa peperangan untuk menghancurkan roh-roh jahat perdukunan di udara, Thomas dan isterinya mulai melakukan penginjilan dan mereka berhasil memenangkan kota ini.Sebuah gerakan doa yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Artinya karunia Roh Kudus yang diberikan kepada Thomas Muthee adalah berdoa dengan penuh kuasa dan Thomas Muthee memenangkan Kiambu Kenya bagi Kristus. 

Mujizat / Kesembuhan Ilahi 

Dalam buku yang berbeda, Peter Wagner juga mengisahkan beberapa penginjilan yang berhasil di Amerika Latin. Sebuah cerita penginjilan yang dahsyat terjadi di Mexico City. Seorang anak laki-laki berumur 12 tahun menderita lumpuh, bisu dan tuli. Orang tua si anak tersebut pergi kepada seorang penginjil, Ausencio Gonzalez, untuk meminta agar anak mereka didoakan. Ketika mereka sampai di rumah sakit tempat si anak tersebut dirawat, petugas rumah sakit melarang mereka melakukan ritual doa secara Pentakostal, karena takut mengganggu pasien lain. Ausencio mengajak mereka keluar dan berhenti di pintu masuk stasiun kereta bawah tanah yang ramai. Ausencio Gonzalez memberitahukan kepada umum bahwa Tuhan akan menyembuhkan anak tersebut meskipun para dokter di rumah sakit tidak bisa melakukan apa- apa, bahkan mengatakan bahwa si anak tidak memiliki harapan untuk sembuh. Pada waktu mereka selesai berdoa, Ausencio berkata, “Berdiri!” Ayah anak itu memberi tanda sebab anak itu tuli. Anak itu berdiri dan keluar dari kursi roda! Ia sembuh. Namun, ia belum bisa berbicara dan tidak bisa mengatakan apa yang ia rasakan. Sekali lagi Ausencio berdoa dan meminta Tuhan mengangkat keadaan tuli dan bisu anak tersebut. Seketika anak itu memanggil, “Mama,” dan “Papa”, kemudian mereka mengajarnya menyayikan lagu “Cristo viene muy pronto”. 

Banyak orang yang ada di jalan keluar stasiun kereta bawah tanah tersebut menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pada saat itu juga, setelah mereka menyaksikan mukjizat yang hebat itu. Beberapa dari mereka berlari ke rumah sakit dan membawa kawan- kawan serta sanak keluarga mereka yang sakit dan sedang dirawat di rumah sakit itu, agar didoakan Ausencio Gonzalez. Seorang pria berusia 36 tahun menderita penyakit jantung parah. Para dokter menyarankan operasi jantung sebagai satu-satunya jalan keluar dari kemungkinan kematian. Kelompok Ausencio lalu berdoa baginya, setelah ia mau menerima Kristus dalam hidupnya. Ausencio menuntunnya berdoa dan ia berteriak dengan penuh keyakinan, “Aku sudah sembuh!” Sebagai batu uji, Ausencio menyuruhnya berlari cepat dan kembali segera dan ia melakukannya tanpa rasa sakit. Ia sembuh seketika tanpa kardiogram! 

Pengusiran Setan 

Derek Prince menceritakan bagaimana karunia pengusiran setan telah membawa pertambahan jumlah pengunjung gerejanya. Dia yang adalah seorang Injili dari kalangan Baptis,diberi mandat untuk melakukan pelayanan exorcisme. Ketika itu, salah seorang kerabat temannya mengalami kerasukan yang membanting-banting tubuh sang korban. Karena satu-satunya pendeta yang hadir di situ, ia merasa terpanggil untuk melakukan pengusiran setan. Akhirnya pelayanan exorcisme berjalan dengan sangat sukses. Dari pengalaman pertama ini, Tuhan kemudian membawanya ke dalam berbagai pengalaman pelayanan exorcisme dan occultisme yang lebih dahsyat. Dengan itu juga ia mengajarkan bahwa pengusiran setan tidak memiliki pola tertentu dan sama sekali tidak membutuhkan pengetahuan, kecuali iman dan nama Yesus yang penuh kuasa. Pelayanan ini akan menghasilkan jiwa-jiwa yang lebih sungguh-sungguh mengasihi Yesus. 

Karunia Bernubuat 

Bickle dan Sullivant justru merangsang pembacanya untuk mengembangkan karunia bernubuat. Mereka menjelaskan pertumbuhan jemaat muda dewasa yang spektakuler di gereja mereka disebabkan karena gereja mereka diperlengkapi Tuhan dengan karunia kenabian. Ibadah mereka juga dirancang dengan desain yang serupa dengan ibadah yang dianjurkan rasul Paulus untuk jemaat Korintus (I Korintus 14). Kegembiraan ibadah dimulai diawal yang akan memudarberangsur-angsur dengan digantikan lagu-lagupenyembahan dan berakhir pada pekerjaan Roh Kudus dalam nubuatan sebelum Firman Tuhan. Kesenyapan dan puncak seluruh ibadah mereka adalah Firman Tuhan. Dalam hal ini justru mereka menunggu Tuhan berbicara secara pribadi kepada mereka melalui nubuat sebelum Firman yang diteguhkan dengan Firman Tuhan yang menjadi acara puncak. 

Kuasa Doa dan Minyak Urapan 

Tentang hal ini, penulis mempunyai kesaksian, salah satu diantaranya terjadi pada Tahun 2004 ketika kami baru saja kembali ke rumah kami usai tragedi kemanusiaan Ambon. Suatu sore, saya dan isteri serta kakak ipar kami yang juga adalah gembala sidang kami sedang duduk di depan rumah kami, seorang pemuda teman saya melintas di depan kami. Kami saling menyapa, diapun menceritakan keadaan penyakit kusta basah yang ia derita yang membuat ia sangat tertekan, ia telah melakukan berbagai upaya penyembuhan baik secara medis, tradisional, juga sudah didoakan oleh Pendeta dan Majelis Jemaat tempat ia bergereja, namun tidak pernah membuahkan hasil yang diharapkan. Kamipun sepakat untuk mendoakan dia, disediakan minyak kelapa dalam botol kecil (Lih. Yak. 5:14-16). Usai didoakan, iapun diolesi dengan minyak yang telah kami doakan tersebut. Apa yang terjadi kemudian, pagi harinya setelah bangun tidur, terdengar suara teriakannya yang nyaring sambil memuji Tuhan, ia berlari ke rumah kami yang kebetulan hanya berjarak 15 meter dan menunjukkan dirinya yang telah sembuh dari kusta basah yang ia derita. Hal ini telah membuat heboh lingkungan di sekitar kami, ibadah pos pelayanan yang kami lakukan di rumah kami, dihadiri oleh banyak warga yang kemudian memberi diri masuk dalam persekutuan bersama kami. 

Masih terdapat banyak lagi kesaksian yang meyakinkan bahwa hal-hal yang terkait dengan Spiritualitas Pentakosta itu sendiri memang merupakan suatu hal yang sangat berdampak dalam mempengaruhi pertumbuhan gereja local, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. 

V. PENUTUP 

Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja, senantiasa mendambakan Gereja Tuhan dapat terus bertumbuh dan berkembang. Matius 28:18-20, berkata seperti demikian : Yesus mendekati mereka dan berkata: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman. Pernyataan kebenaran firman Allah ini, menjadi jelas sekali bahwa Yesus sangat menghendaki agar gereja/jemaat bertumbuh. Alasannya sangat jelas, ”Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Ptr. 3:9). 

Gereja yang adalah Tubuh Kristus tidak boleh mengalami stagnasi, apalagi penurunan pertumbuhan. Gereja yang sehat dan hidup dicirikan dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan baik secara kualitas maupun kuantitasnya, sebagaimana Roh Allah itu tidak pernah sakit atau bahkan mati, gereja juga tidak boleh sakit, apalagi mati. 

Tidak dapat disangkal bahwa spiritualitas Pentakosta yang menekankan Baptisan Roh Kudus dengan Karunia-Karunia Roh Kudus merupakan faktor yang sangat efektif dalam memberikan dampak bagi pertumbuhan gereja-gereja local. Dengan demikian setiap pemimpin gereja yang mengharapkan terjadinya pertumbuhan dalam gerejanya, perlu tetap mempertahankan atau senantiasa mau menghidupkan Spiritualitas Pentakosta dalam setiap pelayanan yang dilakukan di jemaatnya masing-masing. 

DAFTAR PUSTAKA 

  • Bickle, M. dan Sullivant, M (2000). Growing In The Prophetic (Mengembangkan Pelayanan Profetik). Dit. Sarah IswantiTioso. Batam: Dospel Press. 
  • Dr. Steven H. Talumewo, M.Th. (2008). Sejarah Gerakan Pentakosta. ANDI – Yogyakarta. 
  • Fredy Simanjuntak (2019). Kontroversi Kegerakan Pentakosta Yang Ke Tiga (Third Pentacost Movement Controversy). Artikel. 
  • Henry C. Thiessen (2015). Teologi Sistematika. BPK Gunung Mulia 
  • Johny Sumarauw dan Made Astika. Analisis Pendayagunaan Karunia-Karunia Roh Terhadap Pertumbuhan Jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia El Shaddai Makassar. Jurnal JAFFRAY, Vol. 13, No. 1, April 2015. 
  • Junifrius Gultom (2015). Teologi Misi Pentakosta – Isu-Isu Terpilih. BPK Gunung Mulia Lembaga Alkitab Indonesia (2002). 
  • Alkitab, Cetakan Kesepuluh. Penerbit Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta 
  • Marthina Novalina (2020). Spiritualitas Orang Kristen Dalam Menghadirkan Kerajaan Allah di Tengah Tantangan Radikalisme. Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia. Vol. 1 No. 1 : 26 – 37. 
  • Pdt. Dr. Gunaryo Sudarmanto. Mitos Misi Pertumbuhan Gereja Masa Kini, Artikel. Pew Research Center (2011). Global Christianity – A Report on the Size and Distribution of the World’s Christian Population. https://www.pewforum.org/2011/12/19/global-christianity-exec/ (diakses 22 Desember 2021). 
  • Prince, D. (1998). Mereka Akan Mengusir Setan-setan (markus 16:17) Hal-Hal Yang Perlu ANda Ketahui Tentang Setan – Musuh Yang Tidak Kasat Mata. Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil “Immanuel”. 
  • Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Pustaka. Jakarta. 
  • Schwarz, CA dan Schalk, C. Pertumbuhan Gereja Alamiah. Pedoman Penerapan Praktis. Dit. Tan Mellisa dan Natalia W Sugiarto. TT: Metanoi, 2002:86 
  • Wagner CP (2000). Berdoa Dengan Penuh Kuasa, Seri Prajurit Doa. Jakarta Nafiri Gabriel. 
  • Wagner, CP. (2005). Pertumbuhan Gereja dan Peranan Roh Kudus.. Malang: Penerbit Gandum Mas. 
  • Yohanes Liu. Karunia-Karunia Roh Kudus sebagai Faktor Pendorong (Promoting Factor) Pertumbuhan Gereja. Artikel

Sabtu, 01 Januari 2022

Vaksinasi Covid-19 dan Tantangannya - Refleksi di Ahir Tahun 2021

Oleh : Fredrik Dandel, ST, STh.

Keharusan kepada semua warga masyarakat dari Sabang sampai Merauke untuk memberi diri divaksin merupakan kebijakan Pemerintah Pusat, Presiden Republik Indonesia dalam Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden No. 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka  Penanggulangan  Pandemi Corona  Virus  Disease 2019  (Covid-19) pasal 13 A ayat (4) memberikan sanksi kepada masyarakat wajib vaksin namun kemudian tidak mau memberi diri divaksin, sebagai berikut : 

  • Penundaan atau penghentian pemberian jaminan sosial atau bantuan sosial; 
  • penundaan atau penghentian layanan administrasi pemerintahan; dan atau; 
  • denda.

Hal sebagaimana dimaksud adalah untuk memproteksi Indonesia dari ancaman Pandemi Covid-19 yang saat ini sudah memasuki gelombang ketiga dengan varian baru yang lebih berbahaya yakni Omikron, setelah Varian Alfa dan Delta. 

Target Vaksinasi Nasional hingga akhir Tahun 2021 dipatok mencapai angka 70%. Sedangkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara khususnya Pemerintah Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro mematok hingga angka 80%, 10% Lebih tinggi dari target Nasional. Untuk mewujudkan target sebagaimana dimaksud tentunya disertai dengan segala daya upaya yang dikerahkan oleh Pemerintah Daerah dengan dukungan berbagai elemen baik tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun dukungan seluruh masyarakat. 

Sampai dengan periode 31 Desember 2021 ini, menurut Data dari Dinas Kesehatan Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro presentase capaian Vaksinasi untuk Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro telah berada pada angka 81,80% untuk Dosis I dan 53,96% untuk Dosis II, data mana jika dilakukan penyesuaian dengan data riil masyarakat yang telah divaksin termasuk yang ada di luar wilayah tentunya akan meningkat. 

Secara khusus di Kec. Siau Barat Selatan data riil masyarakat yang telah divaksin bercokol pada angka 90,08% dimana Kampung Talawid merupakan Kampung terendah capaiannya dari 7 Kampung yang ada di Kec. Siau Barat Selatan, yakni 78,95%. Menelisik sebab musabab kendala capaian Vaksinasi untuk kampung yang belum mencapai terget, didapati beberapa alasan, diantaranya sbb : 

  1. Perlu dilakukan validasi data antara Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kampung ttg data riil masyarakat yang divaksin, mengingat sebagian besar warga masyarakat yang belum divaksin berada di luar daerah yang kemungkinan besar telah divaksin, misalnya Pelaut. 
  2. Efek samping dari vaksinasi tahap I yang dialami oleh beberapa masyarakat, diantaranya panas, demam dan lain-lain yang kemudian dilebih-lebihkan atau diberi bumbu hoax yang menyebabkan masyarakat enggan untuk melanjutkan pada vaksinasi Dosis II.
  3. Minimnya pemahaman masyarakat tentang kelanjutan Vaksinasi Dosis II, setelah dilakukan Vaksinasi Dosis I.
  4. Adanya isu negatif (hoax) tentang vaksinasi yang dikaitkan dengan angka 666 yang diidentikkan dengan lambang antikris, membuat sebagian masyarakat yang notabene mayoritas pemeluk agama Kristen menolak untuk divaksin.
  5. Kejenuhan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang belum berakhir meskipun telah memasuki tahun ketiga.

Menjawab tantangan sebagaimana dimaksud diatas, diperlukan kerja keras seluruh stake holder di jajaran Pemerintah Daerah dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Himbauan melalui mimbar gereja termasuk disaat-saat perayaan Natal pada beberapa tempat dan kesempatan, dalam pertemuan-pertemuan terbatas lainnya menjadi corong yang efektif untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya vaksinasi dan protokol kesehatan. Disamping itu melalui media sosial dan media-media lainnya semakin gencar dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Dengan harapan Pandemi Covid-19 ini akan segera berakhir. Semoga.

Minggu, 19 Desember 2021

Makna Kristus Anak Daud dalam Injil Sinoptik

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh. 

Pendahuluan

Dari penyelidikan melalui Konkordansi Alkitab, didapati bahwa Istilah “Anak Daud” memang hanya terdapat dalam Injil Sinoptis (Matius, Markus dan Lukas). Terdapat 16 ayat dalam Injil Sinoptis yang menyatakan Yesus sebagai Anak Daud. Yakni 9 ayat ditemukan dalam Injil Matius : Matius 1 : 1, Matius 9 : 27, Matius 12 : 23, Matius 15 : 22, Matius 20 : 30, Matius 20 : 31, Matius 21 : 9, Matius 21 : 15, dan Matius 22 : 42 - 45 : 42; 3 ayat ditemukan dalam Injil Markus, yakni : Markus 10 : 47, Markus 10 : 48  dan Markus 12 : 35 – 37 : 35; kemudian 4 ayat ditemukan dalam Injil Lukas, yakni : Lukas 1 : 32 – 33 : 32, Lukas 18 : 38, Lukas 18 : 39 dan Lukas 20 : 41-44 : 41.

Dari sejumlah ayat tersebut di atas, penyebutan Anak Daud yang disandangkan kepada Tuhan Yesus selalu dikaitkan oleh orang-orang Yahudi dengan suatu mujizat yang Yesus lakukan, ataupun harapan mujizat yang akan dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada mereka yang membutuhkan pertolongan-Nya. Misalnya dalam Matius 9 : 27, dimana dikisahkan tentang dua orang buta yang mengikuti Yesus sambil berseru-seru dan berkata : “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”  Juga dalam Matius 12 : 32 -37, dimana dikisahkan seseorang yang kerasukan setan sehingga orang itu menjadi buta dan bisu, dan Yesus menyembuhkannya. Orang banyak disitu kemudian berkata : “Ia ini agaknya Anak Daud.” Meskipun orang-orang Farisi yang mendengar perkataan tersebut menjadi tidak senang sehingga menuding Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang terkait dengan mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus yang dihubungkan dengan keberadaanNya sebagai “Anak Daud”. Seorang perempuan Kanaan yang percaya dan meminta kepada Yesus untuk menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita, perempuan tersebut berseru : “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan menderita (Mat. 15 : 21 – 28); dua orang buta yang duduk di pinggir jalan yang mendengar bahwa Yesus lewat, sehingga mereka berseru : “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami”. Meskipun orang banyak menegor mereka, tapi mereka tetap berseru, bahkan semakin keras, sampai akhirnya Yesus mau menolong mereka sehingga mereka disembuhkan dan dapat melihat (Mat. 20 : 29 – 34).

Menjadi suatu pertanyaan, bagaimana mungkin Yesus yang lahir kurang lebih 1000 tahun setelah Raja Daud tersebut dikatakan sebagai Anak Daud ? Sedangkan umat Israel sebagaimana kesaksian dalam ayat-ayat Alkitab diatas, dengan yakin dan jelas mengatakan bahwa Dia adalah Anak Daud. Apa yang maksud dengan pernyataan / kesaksian Yesus “Anak Daud” sebagaimana dimaksud diatas? 

Hubungan Antara Yesus Kristus dan Daud

Untuk menjawab pertanyaan sebagaimana dimaksud diatas, pertama sekali kita harus mengetahui hubungan antara Yesus Kristus dan Daud. Hubungan antara Yesus Kristus dan Raja Daud dapat kita temukan dalam Matius pasal 1 tentang silsilah Yesus Kristus, yang dikatakan anak Daud, dan juga anak Abraham.

Dari Kitab Injil Matius 1 : 1 – 17, menjadi jelas bagi kita bahwa Yesus Kristus merupakan keturunan dari Raja Daud secara turun-temurun, dan merupakan generasi yang ke 28 dari Raja Daud. Sedangkan Daud sendiri merupakan keturunan Abraham dari generasi yang ke-14. Hal ini berarti bahwa Yesus juga merupakan keturunan Abraham dan merupakan keturunan dari generasi yang ke – 42, sehingga Yesus disebut juga sebagai Anak Abraham (lihat ayat 17).

Abraham dan Daud merupakan dua tokoh penting dalam sejarah Bangsa Israel, karena melalui keduanya, Allah telah membuat suatu perjanjian besar yang disebut sebagai Perjanjian Abraham dan Perjanjian Daud. Orang-Orang Yahudi terutama dalam Perjanjian Baru selalu mengkaitkan diri mereka berasal dari keturunan Abraham dan Daud. Mereka sangat bangga dengan gelar itu (Mat. 3 : 9; Luk. 1 : 73; Luk. 3 : 8; Yoh. 8 : 39, 53; Kis. 2 : 29; Kis. 7 : 2; Roma 4 : 1, 12, 16, 18; Ibr. 7 : 4; Yak. 2 : 21.

Perjanjian Abraham dan Perjanjian Daud

Meskipun Yesus juga disebutkan sebagai Anak Abraham, namun mengapa kemudian nama Anak Daud menjadi lebih menonjol disebutkan daripada nama-nama lainnya, termasuk Abraham ataupun Yusuf yang merupakan ayah dari Yesus sendiri atau lebih tepatnya Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus (Mat. 1 : 16) ?

Jawabannya adalah bahwa melalui Daud sebagai orang yang dikasihi oleh Allah, Allah telah membuat suatu perjanjian yang penting, yang disebutkan sebagai Perjanjian Daud (2 Samuel 7 : 9-16). Meskipun isi Perjanjian Daud tersebut juga terkait dengan Perjanjian Allah dengan Abraham yang juga disebut Perjanjian Abraham, yakni : Tuhan berjanji untuk menjadikan nama Daud besar (ay. 9) serupa dengan janji Allah kepada Abraham (Kej. 12 : 2); Tuhan menjanjikan suatu tempat dimana Ia akan menanamkan Israel (ay. 10), yang merupakan persamaan dengan janji Allah untuk memberi suatu negeri kepada Abraham, dan janji untuk menjadikan negeri itu suatu tempat yang aman (ay. 10-11) yang mengingatkan pada janji Tuhan bahwa Ia akan mengutuk mereka yang mengutuk Abraham (Kej. 12 : 3). Tiga bagian pertama dari perjanjian Daud ini adalah menempatkan Daud dalam garis keturunan Abraham dan menunjukkan subordinasi perjanjian itu terhadap perjanjian Abraham. Namun terdapat sesuatu yang berbeda / yang lain dari isi Perjanjian Daud tersebut yang dapat dilihat dalam ayat ke 12 dari Kitab II Samuel pasal 7, yakni disana dijanjikan bahwa keturunan Daud akan ditetapkan di atas takhta kerajaan sesudah dia, pengganti Daud akan mendirikan Bait Suci yang ingin sekali didirikan oleh Daud (ay. 14), isi perjanjian ini juga merujuk kepada Salomo sebagai anak Daud. Lihat Survey Perjanjian Lama – Hill dan Walton.  

Dan yang paling penting dalam perjanjian Daud ini, adalah tentang mengkokohkan takhta kerajaan untuk selama-lamanya atas keturunan Daud, serta janji Allah untuk menjadi Bapanya, dan keturunan Daud tersebut akan menjadi anak-Nya, yang merujuk kepada Yesus yang adalah Mesias yang dijanjikan yang berasal dari Keturunan Daud. Tentang hal ini, dijabarkan dengan jelas dalam Luk. 1 : 69; Yoh. 7 : 42; Kis. 2 : 30; Roma 1 : 1 – 6; 2 Tim. 2 : 8; Wahyu 22 : 16 , dll.

Kesimpulan

Mulai dari Matius pasal 1 menjabarkan bukti silsilah Yesus yang dari sisi kemanusiaan-Nya berasal dari keturunan Daud melalui Yusuf. Juga dalam Lukas pasal 3 menjabarkan silsilah Yesus dari garis keturunan ibunya, Maria yang juga merupakan keturunan Daud. Namun yang terutama bahwa Kristus disebut sebagai Anak Daud, merujuk kepada gelar Mesias-Nya seperti yang dinubuatkan dalam 2 Samuel 7 : 9 - 16.

Dalam Matius 22 : 41-46; Mrk. 12 : 35 – 37; dan  Luk. 20 : 41 – 44 dikisahkan terjadi suatu percakapan antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Farisi tentang Mesias yang diakui oleh orang Farisi sebagai “Anak Daud”. Tuhan Yesus sendiri bertanya kepada mereka : “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya …… jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula ?. Pertanyaanya yang kemudian mereka (orang Farisi) tidak menjawabnya.

Dari uraian tersebut di atas, menunjukkan bahwa sesungguhnya, Yesus yang adalah Mesias dari Anak Daud, adalah Allah sendiri yang datang menjadi manusia sebagai penggenapan nubuatan tentang kasih Allah yang memulihkan umat manusia, yang dirancangkangkan oleh Allah ketika manusia pertama Adam dan Hawa mulai jatuh ke dalam dosa. Allah sendiri yang turun dari Sorga dan berdiam dalam diri manusia Yesus yang lahir dari keturunan Daud. Dia adalah Raja di atas segala Raja, takhta kerajaan untuk selama-lamanya atas keturunan Daud. Pada Yesus ada keselamatan, pada Yesus ada harapan, pada Yesus ada pemulihan, pada Yesus kita temukan kasih Bapa kepada anak-anakNya, pada Yesus ada segala-galanya yang kita butuhkan dalam hidup ini.