Tampilkan postingan dengan label Memimpin Ibadah Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memimpin Ibadah Umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2011

Berkhotbah (Bagian V / Terakhir)



Oleh : Pdt. D. Sampeliling, STh. 
 Gembala Sidang GPSDI Efata - Ambon)  

Setelah khotbah sudah masak dan siap dihidangkan kepada jemaat, tentunya pengkhotbah harus mempersiapkan diri baik mentalnya maupun teknis penyampaiannya supaya khotbah itu dapat disampaikannya dengan baik. Berikut kita akan akan mempelajari beberapa hal yang penting supaya kita dapat berkhotbah dengan baik : 

1. Dasar Keberanian Berkhotbah 

Meskipun khotbah sudah dipersiapkan dengan baik tetapi kalau yang mengkhotbahkannya tidak mempunyai keberanian, maka tetap saja akan gagal. Beberapa hal berikut ini akan membangun keberanikan seseorang untuk berdiri menyampaikan khotbah : 

a. Memiliki persiapan khotbah yang mantap. Seorang pengkhotbah akan lebih bersemangat menyampaikan khotbahnya jika ia yakin bahwa materi khotbahnya berbobot dan dibutuhkan oleh jemaat. 

b. Rajin berlatih. Seorang pengkhotbah akan lebih berani berkhotbah jika ia telah berlatih dengan baik, dan merasa sudah mahir dalam latihan itu.
 
c. Memiliki kepercayaan diri. Seorang pengkhotbah akan berani berkhotbah apabila ia memiliki kepercayaan diri. Ia percaya bahwa dirinya layak berdiri dan berbicara di depan umum. Ia tidak boleh merasa minder, ia tidak boleh terpengaruh oleh kekurangan-kekurangan yang mungkin terdapat pada keadaan fisiknya, misalnya: badannya pendek, atau kurus, atau tinggi, giginya tidak lurus, dan lain sebagainya. 

d. Biasa berbicara di depan umum. Meskipun seseorang sudah memiliki ketiga hal tersebut di atas, tetapi kalau ia belum terbiasa berbicara di depan umum, ia pasti tetap gugup ketika berdiri dan berbicara di depan umum. Karena itu bila ada kesempatan dalam perkumpulan atau ibadah untuk menyampaikan pendapat atau permintaan doa atau kesaksian, berdirilah dan sampaikanlah itu di depan umum. Meskipun mungkin pertama-tama engkau gagal sama sekali, tetapi jangan putus asa pasti akan datang waktunya engkau akan berani dan lancar berbicara di depan. Ketika saya pertama kali diberi tugas berdoa pembukaan di kampung, saya seperti disambar kilat. Saya mengucapkan dua atau tiga kata-kata dengan terpatah-patah. Saya rasa lama sekali, kemudian saya amin. Saya melupakan kata-kata apa yang saya telah ucapkan di dalam doa, dan yang saya tahu ialah bahwa diriku telah basah oleh keringat. Ketika pertama kali saya ditugaskan untuk memimpin sekolah minggu,tiga kali saya berdiri di muka kelas, tiga kali itupun ditertawai oleh semua anak-anak, dan sonder sepatah katapun saya ucapkan langsung saya meninggalkan ruangan gereja. Tetapi minggu berikutnya, saya datang dengan penuh keyakinan, dan saya berhasil memulai tugas saya sebagai guru sekolah minggu. 

e. Memiliki kerendahan hati. Perlu diperhatikan bahwa rendah hati tidaklah sama dengan rendah diri. Buah dari rendah diri ialah tidak berani menyampaikan pendapatnya atau tidak berani berdiri di depan umum. Sedangkan orang yang rendah hati ialah orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal yang besar dan penting tetapi ia tidak sombong. Ia yakin bahwa dirinya dapat melakukan hal-hal besar dan penting hanya karena kasih karunia Tuhan. 

f. Sangat percaya kepada Firman Tuhan. Seseorang dapat berkhotbah dengan penuh keberanian apabila ia sangat percaya bahwa Firman Tuhan yang disampaikannya adalah penuh dengan kuasa. 

g. Diurapi Roh Kudus. Seseorang dapat berkhotbah dengan penuh kuasa kalau diurapi Roh Kudus. 2. 

2. Rahasia Khotbah Yang Berhasil.  
  • Harus disampaikan dalam kuasa Roh Kudus. 
  • Harus didasarkan pada kebenaran Alkitab (Matius 4 : 1 – 11; 2 Timotius 3 : 15-16). 
  • Harus disampaikan dengan penyajian yang kuat. 
  • Harus dijadikan semenarik mungkin. 
  • Harus ditujukan kepada kebutuhan jemaat. 
  • Harus disampaikan dengan kasih yang tulus. 
  • Harus ditambatkan dengan tugas pendengar. 

3. Cara Menyampaikan Khotbah.  

a. Penampilan dan sikap. 
  • Ramah, hubungan dengan hadirin baik dan rileks. Jemaat lebih mungkin mendengar khotbah seseorang yang mereka suka, oleh sebab itu pengkhotbah harus menampilkan sikap yang ramah.
  • Menunjukkan kerendahan hati, tidak berlagak. Seorang pengkhotbah yang sombong sukar akan menarik perhatian jemaat. Pada umumnya orang tidak suka mendengar orang yang sombong. 
  • Pakaian harus rapi, bersih dan pantas. Pengkhotbah akan berdiri di muka jemaat yang tentunya tidak saja jemaat mendengar khotbahnya tetapi juga melihat pengkhotbah dengan jelas. Kalau pengkhotbah berpakaian tidak rapi, kotor dan tidak pantas, maka akan merusak khotbah walaupun khotbah itu baik sekali. 
  • Menguasai diri, keadaan dan hadirin. Kadang-kadang ada hal-hal yang mengganggu perhatian pengkhotbah dan jemaat. Pengkhotbah harus menguasai keadaan untuk menarik perhatian jemaat kepada khotbah. 
  • Berkhotbah dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan. Jemaat akan sukar memaafkan pengkhotbah yang tidak bersungguh-sungguh dan tidak yakin akan khotbahnya. 
 b. Gerak-gerik atau sikap badan.  
  • Gerak-gerik pengkhotbah harus bebas, wajar dan luwes, jangan kaku, jangan gerak-gerik yang lucu dan menggelikan. 
  • Mata memandang kepada jemaat, jangan memandang ke atas terus atau ke bawah terus atau ke samping terus, atau menutup mata. Tetapi memandanglah kepada semua jemaat sehingga pengkhotbah meyakinkan tiap jemaat bahwa ia berbicara secara pribadi kepada mereka walaupun ia berkhotbah kepada banyak orang. 
  • Mimik cukup, cocok dan pantas. Ada pengkhotbah yang wajahnya selalu muram sehingga jemaat menyangka bahwa pengkhotbah tersebut marah-marah, dan akibatnya jemaat tidak merasa diberkati, tetapi merasa dibebani pikulan berat. Pengkhotbah yang kelihatannya marah tidak akan mentobatkan pendengarnya. Dengan memakai mimik pengkhotbah dapat mendramakan apa yang sedang diceritakan. 
 c. Suara. 
  • Kata-kata harus diucapkan dengan jelas dan seksama. Tiap kata yang diucapkan pengkhotbah merupakan peluru kecil atau anak panah yang tajam. Tetapi kalau kata-katanya kurang jelas pada telinga jemaat, maka kata-kata itu menjadi anak panah yang tumpul. Pakailah bahasa yang mudah dimengerti jemaat. 
  • Variasi dalam nada suara pengkhotbah yang baik kadang-kadang akan berbicara dengan suara keras, dengan nada yang biasa, dan mungkin sewaktu-waktu dengan nada yang lembut. Suaranya akan turun naik selama berkhotbah. 
  • Suara harus disesuaikan dengan besar kecilnya ruangan. Kalau ruangan besar maka suara harus lebih keras, dan kalau ruangan kecil,maka volume suara harus dikurangi. 

d. Lain-lain petunjuk 
  • Sidang jemaat diberi kesempatan untuk mencari nats. 
  • Lamanya khotbah tergantung pada urapan Roh Kudus dan talenta pengkhotbah. 

4. Kepribadian Seorang Pelayan Tuhan. 
  • Seorang pelayan Tuhan harus mengawasi dirinya dan ajarannya. (I Timotius 4:16; I Korintus 9: 27). 
  • Seorang pelayan Tuhan mengalami kelahiran baru.( Matius 7:21-23). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya. ( I Korintus 9:16-22 ; IIKorintus 5:14-15). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus mengasihi jiwa-jiwa. (Matius 9:36 ; 14:14 ; 15:32 ; 18:25-27 ; Markus 1:41 ; Lukas 7:13). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus memiliki kehidupan doa. ( Yesaya 40:31 ; Kisah rasul 6:4). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus hidup dalam kesucian. ( Titus 2:7-8). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus cakap melayani pekerjaan Tuhan. (II Timotius 2 : 21). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus penuh iman. (II Korintus 5:7; Yakobus 1:6-8). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus dapat mengatur rumah tangganya dengan baik. (I Timotius 3:10-13). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus rendah hati. (Amsal 18:12; Matius 23:8-12). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus sabar seperti Tuhan Yesus sabar menghadapi segala sesuatu. (Amsal 16:32). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus jujur terhadap Tuhan dan sesama manusia. (Maleakhi 3:7-10). 
  • Seorang pelayan Tuhan harus setia sebab jika tidak demikian mahkotanya akan diambil orang lain. (Wahyu 2:10; 3:11).

Kamis, 09 Juni 2011

Berkhotbah (Bagian IV)

Oleh : Pdt. D. Sampeliling, STh. 
Gembala Sidang GPSDI Efata - Ambon)  

MERAMPUNGKAN KHOTBAH  

Sebuah khotbah dapat diibaratkan sebagai tubuh. Tubuh itu mempunyai nafas, daging, dan tulang, nama, kepala, badan dan kaki. Demikianpun khotbah nafasnya ialah Roh Kudus; daging dan tulangnya ialah Firman Tuhan, namanya ialah temanya, badannya ialah isinya, dan kakinya ialah penutupnya yang menendang bola kebenaran ke dalam gawang hati manusia. Khotbah juga dapat diibaratkan sebagai makanan, dan memang khotbah adalah makanan rohani.
Makanan itu dibuat dari berbagai bahan yang bermutu, diolah dan dicampur lengkap dengan bumbunya, kemudian dimasak. Sesudah masak kokinya mencicipinya untuk mengetahui rasanya yang sedap, dan apa aaaa lagi iiiii?. Siap untuk dihidangkan kepada orang-orang yang lapar dan haus. Dan itulah yang harus kita kerjakan sekarang juga dalam bagian ini.

1. Menyusun kerangka lengkap khotbah.
Kita telah mengerjakan bagian-bagian khotbah itu. Sekarang kita harus menyusun bagian-bagian itu menjadi susunan lengkap kerangka khotbah.
Susunannya sebagai berikut :
Bacaan khotbah : Yohanes 2 : 1 – 11
Tema khotbah : Solusi Persoalan Hidup.
Pendahuluan : …………..
Isi Khotbah :  
1. Menghadirkan Yesus
2. Memohon Pertolongan Yesus
3. Mendengarkan Nasihat
4. Melakukan Perintah Tuhan.
Penutup : …………………
Sekarang kita harus menyusunnya lebih rapi lagi supaya lebih cantik. Susunan itu akan seperti berikut ini.
"SOLUSI PERSOALAN HIDUP"
I. Menghadirkan Yesus
Yohanes 2 : 2
II. Memohon Pertolongan Tuhan
Yohanes 2 : 3
III. Mendengarkan Nasihat
Yohanes 2 : 5
IV. Melakukan Perintah Tuhan
Yohanes 2 : 7 – 10
Kini susunannya lebih manis dan mudah diingat bukan ?.
Pendahuluan dan penutup tidak dicantumkan dalam susunan ini karena untuk sementara Pendahuluan dan Penutup cukup dikuasai dan disimpan dalam hati saja. Para pengkhotbah kharismatik biasanya merasa cukup dengan hanya memiliki catatan khotbah seperti di atas ketika menyampaikan khotbahnya.
Tetapi itu bukan berarti bahwa pengkhotbah kharismatik pekerjaannya cukup sampai di situ. Kalau ia mau menyampaikan khotbah yang cantik, berbobot dan diurapi, ia harus melanjutkan dengan dua pekerjaan lagi untuk merampungkan khotbahnya. Namun sebelum kita meninggalkan bagian ini, perlu diperhatikan bahwa susunan urutan pokok-pokok khotbah itu harus disusun dengan urutan pola pertumbuhan.
Susunan kerangka yang kita buat di atas sudah diurut dengan pola pertumbuhan dalam dua hal, yaitu disusun menurut urutan kejadiannya dan urutan bobotnya. Sesuai urutan kejadiannya karena mengundang lebih dulu, sesudah itu memohon, kemudian menasihati dan terakhir Yesus memerintahkan.
Sesuai urutan bobotnya karena bobot yang paling rendah dari keempat pokok di atas ialah mengudang, kemudian di atas mengundang memohon, di atas memohon menasehati, dan yang paling di atas ialah memerintahkan.
Contoh Susunan Urutan
Misalnya : A menerima uang dari B.
I. Tahun 2000 sebesar Rp. 400.000.000,-
II. Tahun 2001 sebesar Rp. 200.000.000,-
III. Tahun 2002 sebesar Rp. 300.000.000,-
IV. Tahun 2003 sebesar Rp. 100.000.000,-
Susunan di atas disusun sesuai dengan urutan kejadian. Tetapi di dalam menyusun pokok-pokok khotbah harus disusun menurut tingkat bobotnya mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.
Mari kita susun urutan uang yang diterima A dari B sesuai tingkatan bobotnya.
I. Tahun 2003, Rp. 100.000.000,-
II. Tahun 2001, Rp. 200.000.000,-
III. Tahun 2002, Rp. 300.000.000,-
IV. Tahun 2000, Rp. 400.000.000,-
Inilah urutan yang disusun sesuai dengan tingkat bobotnya. Demikianlah kita harus menyusun urutan pokok-pokok khotbah.

2. Menyusun Uraian Lengkap Khotbah
Baik pengkhotbah yang cukup membawa catatan susunan kerangka pokok-pokok ketika berkhotbah, maupun yang berkhotbah dengan khotbah tertulis, keduanya harus menyusun uraian lengkap khotbahnya. Hanya perbedaannya ialah bahwa yang pertama ia menyusun uraian lengkap khotbahnya cukup dengan menuliskannya di atas lembaran hatinya dan menyimpannya di alam bawa sadar, sedangkan yang ke dua harus menuliskannya di atas lembaran kertas.
Hal ini penting, karena jika tidak demikian, maka pengkhotbah tidak dapat menyampaikan khotbah yang teratur dan terarah serta penempatan cerita dan kata-kata yang memadai. Dalam uraian lengkap khotbah, semua yang perlu diuraikan, ungkapan yang perlu ditekankan, kesaksian, dan ilustrasi yang perlu dipakai, harus sudah disusun sedemikian rupa sehingga ketika dikhotbahkannya itu mengalir keluar dengan lancar bagaikan air kehidupan yang menyejukkan, membersihkan dan menghidupkan para pendengarnya.
Sekarang mari kita menyusun uraian lengkap khotbah kita dengan tema yang kita sudah pilih di atas.

SOLUSI PERSOALAN HIDUP.
Yohanes 2 : 1 - 11

Saudara yang dikasihi Tuhan
Setelah membaca pasal pembacaan di atas, maka khotbah ini saya beri tema “Solusi Persoalan Hidup”.
Solusi Persoalan Hidup artinya cara penyelesaian suatu persoalan hidup yang sedang dihadapi. Kita dapat membayangkan dua keluarga yang dengan sekuat tenaga dan segala upaya telah mempersiapkan segala sesuatu semaksimal mungkin untuk memeriahkan pesta pernikahan putera-puteri mereka. Kedua mempelai telah duduk di kursi pengantin dan keempat orang tua duduk disamping kedua mempelai. Lalu tiba-tiba berdirilah seseorang yang berpakaian rapi, dengan suara yang lantang dengan untaian kata-kata yang indah ia mengatakan pesta dimulai. Para undangan dipersilahkan datang ke meja makan untuk mengambil makanan dan air anggur yang telah disediakan. Semua orang bersukacita, terutama kedua mempelai dan orang tua mereka.
Karena begitu banyaknya undangan, maka pada pertengahan pesta terjadilah masalah air anggur sudah habis. Uangpun sudah habis dibelanja sehingga tak mungkin dapat membeli anggur tambahan.
Saudaraku yang kekasih ! semua kita yang hidup di dunia ini tidak ada yang hidup tanpa masalah. Masalah adalah sesuatu yang tidak kita sukai, tetapi juga tidak dapat kita tolak. Yang dapat kita lakukan ialah mencari cara penyelesaiannya.
Syukurlah ! karena pada pasal pembacaan di atas kita menemukan empat pokok kebenaran sebagai solusi bagi setiap persoalan hidup kita. (Selengkapnya klik di sini : http://eddiedandel.blogspot.com/2011/05/solusi-persoalan-hidup.html
Perhatikanlah uraian lengkap khotbah kita di atas. Temanya menawan karena setiap orang pasti punya persoalan hidup dan ingin menemukan solusinya. Pendahuluannya juga menarik karena mengangkat suatu persoalan hidup dan memberitahukan bahwa pokok-pokok yang akan disampaikan dalam khotbah ini adalah pokok-pokok kebenaran yang menjadi solusi persoalan hidup.
Dengan demikian perhatian jemaat digiring untuk mendengar khotbah karena mereka ingin mengetahui pokok-pokok itu. Janganlah menyebutkan tema pokok-pokok itu sekaligus, tetapi sebutkanlah setiap tema pokok itu ketika saudara akan mulai menguraikan pokok tersebut. Biarkanlah jemaat penasaran untuk ingin mengetahui pokok berikutnya.
Dalam keempat pokok isi khotbah di atas kita mempunyai empat tujuan, yaitu :
1. Supaya jemaat menghadirkan Yesus dalam kehidupan mereka melalui kegiatan ibadah dan pelayanan.
2. Supaya jemaat tekun dalam doa dengan iman.
3. Supaya jemaat mendengarkan nasihat orang bijak terutama nasihat gembalanya.
4. Supaya jemaat menerapkan atau melakukan setiap perintah Firman Tuhan.
Dalam penutup khotbah kita harus membuat kesimpulan atau ringkasan khotbah kemudian kita mendorong jemaat untuk melakukan Firman Tuhan. Dengan demikian kita menggiring jemaat kepada tujuan utama khotbah itu.

3. Memasak dan Menikmati Khotbah.
Khotbah adalah makanan rohani yang dihidangkan kepada jemaat. Walaupun sudah disusun dalam uraian lengkap tetapi harus dimasak terlebih dahulu dan dirasakan oleh yang memasaknya sebelum dihidangkan kepada jemaat.
Cara memasak khotbah ialah menyerahkan bahan khotbah itu kepada Tuhan dalam doa, merenungkannya dan mengkhotbahkannya berulang-ulang di dalam hati. Ketika kita merenungkan dan mengkhotbahkan khotbah itu berulang-ulang di dalam hati, maka hal-hal berikut akan terjadi :
1. Kita akan lebih menguasai khotbah itu.
2. Wawasan kita mengenai materi itu akan bertambah luas dan dalam.
3. Kita akan mengetahui hal-hal yang masih kurang dalam khotbah itu sehingga kita memperbaikinya sebelum disampaikan kepada jemaat.
4. Kita akan menikmati berkatNya dan iman kita ditumbuhkan sebelum orang lain menikmatinya.

Rabu, 08 Juni 2011

Berkhotbah (Bagian III)



Oleh : Pdt. D. Sampeliling, STh.
(Gembala Sidang GPSDI Efata - Ambon).

MENGERJAKAN BAGIAN-BAGIAN KHOTBAH

Setelah kita mempersiapkan bahan khotbah, maka kini tiba saatnya untuk mengerjakan bagian-bagian khotbah.

1. Menetapkan Tujuan Khotbah
 
Seorang pengkhotbah harus mengetahui tujuan yang jelas dalam khotbahnya, sebab jika tidak ia akan seperti seorang yang berlari tanpa mengetahui tujuan ke mana ia pergi sehingga ia tidak akan tahu ketika ia sampai di sana. Khotbah yang tidak diketahui tujuannya dengan jelas akan menyulitkan pengkhotbah ketika mengkhotbahkannya dan akan membingungkan jemaat. Penghotbah akan kehilangan arah dan kepercayaan diri, sedangkan jemaat tidak akan menangkap apa-apa dari khotbah itu. Sekarang mari kita mencari tujuan apa yang ada dalam teks pembacaan Yohanes 2 : 1 – 11. Dalam konteksnya pembacaan itu memberitahukan bahwa Yesus Kristus berkuasa mengubah air tawar menjadi air anggur. Lalu apa tujuan Yohanes memberitahukan hal itu. Tujuannya ialah supaya setiap orang yang mengetahuinya percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi sekarang kita akan khotbahkan kepada orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus. Kita harus mencari tujuan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan jemaat. Kita telah memahami maksud Tuhan dalam pembacaan di atas, yaitu : “Tuhan Sanggup Mengatasi Masalah Kita”. Kini mulai terbayang tujuan khotbah kita yaitu kita ingin memberitahukan kepada jemaat bahwa Tuhan Sanggup Mengatasi Masalah Kita. Apa tujuan kita memberitahukan hal itu ? Tujuan kita ialah supaya mereka jangan putus asa dalam menghadapi masalah mereka melainkan tetap percaya dan berharap kepada Tuhan Yesus Kristus. Sekarang tujuan khotbah secara umum sudah jelas, tetapi harus dirumuskan dalam kalimat pendek untuk menjadi sebuah tema.

2. Menetapkan Tema Khotbah
 
Tema adalah nama dari khotbah itu. Fungsi dari tema ialah memudahkan kita untuk menyusun dan menyampaikan khotbah dengan terarah. Tema merupakan papan penunjuk arah ke mana kita akan bergerak di dalam khotbah itu. Selain itu, tema juga menjadi daya tarik bagi pendengar sama seperti sebuah nama yang bagus menjadi daya tarik bagi orang yang mendengarnya sehingga ingin melihat si pemakai nama itu. Sama seperti seorang bapak memberi nama yang cocok dan bagus bagi anaknya yang baru lahir, demikian pula seorang pengkhotbah harus memberi tema yang cocok dan bagus bagi khotbahnya. Misalnya kita memberi tema bagi khotbah yang terambil dari bahan bacaan Yohanes 2 : 1 – 11. Kita mencoba beberapa tema berikut ini, sesudah itu kita pilih salah satu dari antara tema-tema itu. · Perkawinan di Kana · Tuhan sanggup mengatasi masalah kita · Air menjadi anggur · Solusi persoalan hidup. Sekarang kita seleksi dari keempat tema di atas. · Perkawinan di Kana Jika memakai tema ini tidak menarik karena semua orang Kristen sudah sering membaca atau mendengar tema ini. · Tuhan Sanggup Mengatasi Masalah Kita Tema ini bagus karena ini merupakan maksud atau rangkuman dari isi materi bacaan kita di atas. · Air Menjadi Anggur. Tema ini bagus karena disamping temanya pendek, juga susunan kata-katanya manis. Tetapi tema ini tidak dapat dipakai karena tidak dapat mencakup keseluruhan isi bacaan.
· Solusi Persoalan Hidup.
Tema ini bagus karena temanya pendek, susunan kata-katanya manis, mencakup seluruh isi bahan bacaan dan tidak pernah dipakai dalam Alkitab.
Setelah kita mempertimbangkan keempat tema di atas, maka ada dua yang kita tidak dapat pakai, yaitu : “Perkawinan di Kana” dan “Air Menjadi Anggur”.
Sekarang sisa dua tema, yaitu : “Tuhan Sanggup Mengatasi Masalah Kita” dan “Solusi Persoalan Hidup”.
Kedua tema ini bagus, hanya saja yang satunya lebih panjang dam yang satunya lagi lebih pendek. Tetapi perlu diingat bahwa nama atau tema yang panjang itu susah diingat atau dihafal sedangkan yang pendek lebih mudah diingat atau dihafal. Dengan demikian kita memilih : “Solusi Persoalan Hidup”.
Sekarang kita telah menemukan tema yang manis dan berbobot, yaitu : “Solusi Persoalan Hidup.”

3. Membuat Kerangka Khotbah

Yang dimaksud dengan kerangka ialah pokok-pokok kebenaran yang ada dalam bacaan Alkitab itu yang akan diangkat menjadi pokok-pokok bahasan dalam isi khotbah.
Mari kita menggali pokok-pokok kebenaran yang terdapat dalam teks bacaan kita, Yohanes 2 : 1 – 11.
a. Yesus diundang oleh Pemilik pesta
b. Terjadi kekurangan air anggur.
c. Maria memberi tahu Yesus masalah kekurangan air anggur itu dengan maksud meminta agar Yesus menolong mereka.
d. Maria memberi nasihat kepada para pelayan
e. Yesus memerintahkan para pelayan mengisi tempayan dengan air dan mereka melakukannya.
f. Yesus memerintahkan para pelayan mencedok air itu dan membawanya kepada pemimpin pesta, dan mereka melakukannya maka air tawar itu menjadi air anggur.
Kita mendapatkan enam pokok kebenaran. Mari kita menyeleksi keenam pokok di atas, mana yang kita akan jadikan kerangka khotbah. Nampaknya point b harus dikeluarkan dari kerangka isi khotbah karena yang akan menjadi isi khotbah ialah bagaimana menemukan solusi persoalan hidup sesuai dengan tujuan dan tema khotbah. Point e dan f dapat dijadikan satu karena keduanya sama yaitu Yesus memerintahkan para pelayan. Sekarang tinggal menjadi empat pokok. Keempat pokok ini harus disusun dalam kalimat-kalimat pendek yang manis.
· Yesus diundang oleh pemilik pesta
· Maria meminta agar Yesus menolong mereka
· Maria memberi nasehat kepada para pelayan
· Yesus memerintahkan para pelayan.
Keempat susunan di atas belum menarik sehigga harus dicarikan susunan kata-kata yang lebih manis untuk membuat kalimat pendek yang lebih manis.
Kita coba dengan susunan berikut ini.
· Menghadirkan Yesus
· Memohon pertolongan Yesus
· Mendengarkan nasihat
· Melakukan perintah Tuhan.
Menghadirkan Yesus artinya karena pemilik pesta mengundang Yesus sehingga Ia hadir di pesta itu.
Memohon pertolongan Yesus, artinya pemilik pesta dalam hal ini diwakili oleh Maria meminta pertolongan Yesus.
Mendengarkan nasihat, artinya pemilik pesta yang diwakili oleh para pelayan mendengarkan nasihat Maria sebagai seorang hamba Tuhan.
Melakukan perintah Tuhan, artinya pemilik pesta yang diwakili oleh para pelayan melakukan perintah Tuhan Yesus sehingga terjadilah mujizat, yaitu air tawar menjadi air anggur, maka persoalan hidup pemilik pesta dapat terselesaikan.
Dengan demikian keempat susunan di atas sudah cukup manis dan sangat berbobot sehingga sekarang kita sudah mempunyai susunan kerangka isi khotbah yang baik.

4. Membuat Pendahuluan Khotbah

Biasanya pendahuluan khotbah mudah dibuat setelah mengetahui isi khotbah karena pendahuluan khotbah harus sesuai dengan isi khotbah itu. Melalui Pendahuluan, pengkhotbah memperkenalkan tema dan tujuan khotbahnya tanpa harus menyebutkan secara langsung nama pokok-pokok isi khotbahnya. Pokok-pokok khotbah itu baru disebutkan ketika kita akan mulai menguraikan bagian itu.
Tujuannya ialah supaya jemaat tetap memiliki rasa ingin tahu pokok yang belum diuraikan. John Killinger, seorang Professor bidang khotbah memberitahukan cirri-ciri suatu pendahuluan khotbah yang baik.
· Pendahuluan yang paling baik biasanya singkat.
· Pendahuluan yang baik umumnya menawan
· Pendahuluan yang baik sering tak mudah dilupakan.
· Pendahuluan yang baik bersifat perantara.

5. Membuat Penutup Khotbah 

Penutup khotbah adalah bagian akhir dari khotbah yang didalamnya terdapat ringkasan atau kesimpulan khotbah, manfaat dari kebenaran itu dan dorongan bagi jemaat untuk menanggapinya dengan melakukan hal-hal yang perlu dilakukan untuk menerima berkat dan pertolongan Tuhan.
Sama halnya dengan pendahuluan yang baik, demikianpun dengan penutup yang baik mempunyai ciri-ciri yang sama dengan pendahuluan kecuali cirri bagian akhir tentunya berbeda.
· Penutup yang baik biasanya singkat dan jelas.
· Penutup yang baik umumnya menawan.
· Penutup yang baik sering tak mudah dilupakan.
*Penutup yang baik pasti memuat tugas pendengar.