Minggu, 04 Januari 2026

PERSIAPAN HATI UNTUK REVIVAL. Teks Utama: Mazmur 51:12–15

PENDAHULUAN

Kebangunan rohani sering kali kita bayangkan sebagai ibadah yang penuh kuasa, gereja yang dipenuhi orang, dan suasana rohani yang menggetarkan. Namun Alkitab mengajarkan bahwa revival tidak pernah dimulai dari luar manusia, melainkan dari dalam hati. Tuhan tidak terlebih dahulu mengubah keadaan, tetapi mengubahkan manusia. Karena itu, sebelum kita berbicara tentang kebangunan di gereja, kota, atau bangsa, Firman Tuhan mengajak kita untuk bertanya: apakah hati kita sudah siap di hadapan Allah?

Mazmur 51 lahir dari salah satu momen tergelap dalam hidup Daud. Setelah ditegur oleh nabi Natan atas dosanya, Daud tidak melarikan diri dari Tuhan, tetapi justru datang dengan hati yang hancur dan jujur. Ia menyadari bahwa akar persoalannya bukan sekadar kesalahan moral, melainkan hati yang telah tercemar. Dari tempat pertobatan inilah kita belajar bahwa revival sejati sering kali lahir bukan dari kekuatan, melainkan dari kerendahan hati dan kejujuran di hadapan Allah.

Dalam Mazmur 51:12–15, kita melihat doa yang sangat mendalam, doa seorang hamba Tuhan yang rindu dipulihkan dari dalam ke luar. Daud memohon hati yang baru, hadirat Roh Kudus, sukacita keselamatan, dan hidup yang kembali dipakai Tuhan. Firman ini menuntun kita memahami bahwa persiapan hati adalah fondasi utama revival. Tanpa pembaruan hati, kebangunan rohani hanya akan menjadi semangat sesaat, bukan karya Allah yang mengubahkan.

I. HATI YANG DICIPTAKAN KEMBALI OLEH ALLAH (Mazmur 51:12)

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.”

Daud menyadari bahwa masalah utamanya bukan hanya perbuatan dosa, tetapi kondisi hatinya. Ia tidak berkata, “perbaiki aku,” melainkan, “ciptakanlah aku kembali.” Kata “jadikanlah” menunjuk pada karya penciptaan ilahi, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri.

Revival selalu dimulai ketika manusia berhenti memperbaiki diri dengan kekuatannya sendiri dan berserah penuh kepada karya anugerah Allah. Hati yang tahir bukan hasil disiplin moral semata, melainkan hasil sentuhan penciptaan ulang oleh Tuhan. Tanpa pembaruan hati, revival hanya akan menjadi euforia rohani yang sementara.

Persiapan hati untuk revival dimulai ketika kita mengizinkan Tuhan menjamah akar kehidupan kita, pikiran, motivasi, dan kehendak, bukan hanya perilaku lahiriah.

Ayat Pendukung:

1. Yehezkiel 36:26 – “Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru dan roh yang baru di dalam batinmu.”

2. 2 Korintus 5:17 – “Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.”


II. HATI YANG TETAP HIDUP DALAM HADIRAT ROH KUDUS (Mazmur 51:11)

“Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku!”

Setelah memohon hati yang baru, Daud berdoa agar hadirat Tuhan tidak meninggalkannya. Ia belajar dari sejarah Saul bahwa keberadaan Roh Kudus bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Bagi Daud, kehilangan hadirat Tuhan adalah bencana rohani yang paling besar.

Revival tidak terjadi di tempat yang hanya ramai secara rohani, tetapi di hati yang bergantung penuh pada kehadiran Roh Kudus. Tanpa Roh Tuhan, ibadah menjadi rutinitas dan pelayanan menjadi aktivitas kosong. Namun ketika Roh Kudus hadir dan memimpin, pembaruan sejati terjadi.

Persiapan hati untuk revival menuntut kerendahan hati untuk terus hidup dalam ketergantungan kepada Roh Kudus, bukan pada pengalaman masa lalu atau jabatan rohani.

Ayat Pendukung:

1. Keluaran 33:14 – “Kehadiran-Ku sendirilah yang akan menyertai engkau.”

2. Roma 8:9 – “Jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.”


III. HATI YANG DIPULIHKAN DALAM SUKACITA KESELAMATAN (Mazmur 51:12)

“Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena keselamatan dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela.”

Dosa tidak selalu membuat seseorang meninggalkan iman, tetapi sering kali merampas sukacita keselamatan. Daud masih mengasihi Tuhan, tetapi hatinya menjadi kering dan kehilangan kegairahan rohani. Karena itu, ia berdoa agar Tuhan membangkitkan kembali sukacita tersebut.

Revival selalu ditandai dengan kembalinya sukacita rohani, bukan sukacita emosional, melainkan kegembiraan karena diselamatkan oleh anugerah. Sukacita ini melahirkan “roh yang rela”: hati yang taat, lembut, dan siap dipimpin Tuhan.

Tanpa sukacita keselamatan, pelayanan menjadi beban. Dengan sukacita yang dipulihkan, ketaatan menjadi respons kasih.

Ayat Pendukung:

1. Nehemia 8:11 – “Sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu.”

2. Roma 14:17 – “Kerajaan Allah… adalah kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”


IV. HATI YANG DIPAKAI UNTUK MEMULIHKAN ORANG LAIN (Mazmur 51:13)

“Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.”

Daud memahami bahwa pemulihan pribadi bukan tujuan akhir. Hati yang telah disentuh Tuhan akan dipakai untuk memulihkan orang lain. Revival sejati selalu menghasilkan dampak misioner, orang yang dipulihkan akan menjadi saksi bagi sesamanya.

Kesaksian yang paling kuat bukan berasal dari kesempurnaan, melainkan dari hidup yang telah dipulihkan oleh anugerah. Tuhan sering memakai bekas luka pertobatan untuk membawa orang lain kembali kepada-Nya.

Persiapan hati untuk revival mencapai puncaknya ketika hidup kita menjadi alat Tuhan bagi pertobatan dan pemulihan banyak orang.

Ayat Pendukung:

1. Lukas 22:32 – “Engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

2. 2 Korintus 1:4 – “Ia menghibur kami… supaya kami sanggup menghibur mereka.”


PENUTUP

Revival bukan peristiwa yang kita atur, melainkan karya Allah yang lahir dari hati yang berserah. Mazmur 51 mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak terutama mencari ibadah yang ramai, tetapi hati yang hancur, tahir, dan rindu akan hadirat-Nya. Sebelum Allah membangkitkan umat-Nya secara luas, Ia terlebih dahulu membangkitkan manusia di hadapan-Nya, menciptakan hati yang baru dan memperbaharui roh yang teguh.

Karena itu, panggilan Firman hari ini bukan pertama-tama untuk melihat ke luar, tetapi ke dalam diri kita. Apakah sukacita keselamatan masih menyala? Apakah Roh Kudus masih kita rindukan lebih dari keberhasilan pelayanan? Revival sejati dimulai ketika kita berhenti mengandalkan pengalaman rohani masa lalu dan kembali datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah, berkata, “Tuhan, tanpa Engkau aku tidak sanggup berjalan.”

Kiranya doa Daud menjadi doa kita bersama: “Ciptakanlah hatiku kembali, ya Allah.” Jika doa ini lahir dari kedalaman hati umat Tuhan, maka kebangunan rohani bukan sekadar harapan masa depan, melainkan pekerjaan Allah yang sedang dimulai hari ini, di dalam hati kita, melalui hidup kita, dan akhirnya mengalir kepada banyak orang bagi kemuliaan nama-Nya.

Kamis, 25 Desember 2025

Inkarnasi di Tengah Sejarah dan Kerendahan (Lukas 2:1-7)

Oleh Pdm Dr. (C) Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, ketika kita berbicara tentang Natal, sering kali pikiran kita langsung tertuju pada terang, lagu, dan sukacita. Namun Injil Lukas mengajak kita melihat lebih dalam: bahwa peristiwa Natal bukan sekadar kisah indah, melainkan peristiwa sejarah nyata di mana Allah masuk ke dalam dunia manusia.

Lukas tidak memulai kisah kelahiran Yesus dengan malaikat atau mujizat, tetapi dengan nama seorang kaisar, perintah sensus, dan perjalanan panjang sepasang suami istri yang sederhana. Melalui cara inilah Alkitab menegaskan bahwa inkarnasi terjadi di tengah sejarah dunia, bukan di luar realitas hidup manusia.

Lebih dari itu, Sang Anak Allah tidak lahir dalam kemegahan, melainkan dalam kerendahan, tanpa tempat di penginapan, dibaringkan di palungan. Dari awal, Allah menyatakan bahwa keselamatan tidak datang melalui kuasa dunia, tetapi melalui kasih yang rela merendahkan diri. Inilah kebenaran yang hendak kita renungkan melalui Lukas 2:1–7: Inkarnasi di tengah sejarah dan kerendahan.

I. Allah Menggenapi Rencana-Nya Melalui Sejarah Dunia (ayat 1–3)

“Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.”

Secara lahiriah, sensus ini adalah keputusan politik Romawi. Kaisar Agustus bertindak sebagai penguasa dunia, menunjukkan kontrol dan kekuasaannya atas rakyat. Namun secara rohani, Lukas ingin menegaskan bahwa Allah tetap berdaulat di atas keputusan penguasa dunia. Tanpa sadar, kaisar itu sedang menjadi alat Allah untuk menggenapi nubuat Mikha 5:1 bahwa Mesias harus lahir di Betlehem.

Ini mengajarkan bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah. Bahkan kebijakan yang tampak sekuler dan menekan pun dapat dipakai Allah untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya. Sejarah dunia tidak bergerak secara acak, tetapi berada di bawah tangan Allah yang berdaulat.

Bagi jemaat masa kini, ini memberi penghiburan: situasi politik, ekonomi, dan sosial yang sulit tidak pernah menggagalkan kehendak Tuhan. Allah tetap bekerja, bahkan melalui sistem dunia yang sering kali tidak adil atau tidak rohani.

Ayat Pendukung:

1. Amsal 21:1 – “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.”

2. Daniel 2:21a – “Dia mengubah waktu dan masa, Dia memecat raja dan mengangkat raja.”

II. Ketaatan yang Sederhana Membawa Penggenapan Besar (ayat 4–5)

“Lalu pergilah Yusuf dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud, yaitu Betlehem…”

Perjalanan dari Nazaret ke Betlehem bukan perjalanan mudah, terlebih bagi Maria yang sedang mengandung tua. Namun Yusuf dan Maria tetap taat. Mereka tidak tahu sepenuhnya dampak besar dari ketaatan itu, tetapi mereka memilih taat dalam hal yang sederhana.

Ketaatan Yusuf dan Maria terlihat biasa, bahkan melelahkan. Namun justru melalui ketaatan yang sunyi dan tidak disorot ini, Allah menghadirkan Sang Juruselamat dunia. Allah sering bekerja melalui ketaatan sehari-hari yang tampaknya kecil, tetapi bernilai kekal.

Bagi orang percaya, ini menantang kita untuk tetap setia dalam panggilan Tuhan, baik dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, maupun kehidupan pribadi, meskipun tidak ada tepuk tangan atau kemudahan. Ketaatan kepada Allah tidak pernah sia-sia.

Ayat Pendukung:

1. 1 Samuel 15:22b – “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan.”

2. Lukas 16:10 – “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”

III. Sang Juruselamat Lahir dalam Kerendahan dan Penolakan (ayat 6–7)

“Karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Yesus lahir bukan di istana, tetapi di palungan. Tempat kelahiran-Nya menunjukkan paradoks besar Injil: Raja semesta lahir dalam kemiskinan dan keterbatasan. Sejak awal hidup-Nya, Yesus sudah mengalami penolakan dunia.

Palungan adalah tempat makanan ternak, simbol kerendahan dan kesederhanaan. Allah tidak memilih kemegahan untuk menyatakan kasih-Nya, tetapi kerendahan agar manusia berdosa dapat mendekat tanpa takut. Inilah inkarnasi: Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia.

Aplikasi bagi jemaat sangat jelas: Allah hadir bukan hanya di tempat megah dan nyaman, tetapi juga di tengah keterbatasan hidup kita. Natal mengingatkan kita bahwa Kristus datang untuk mereka yang tidak punya tempat, yang tersisih, dan yang rendah hati.

Ayat Pendukung:

1. Filipi 2:6–7 – “Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba.”

2. 2 Korintus 8:9 – “Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya.”

Penutup

Saudara-saudari yang terkasih, Lukas 2:1–7 menegaskan bahwa Allah tidak jauh dari kehidupan manusia. Ia masuk ke dalam sejarah nyata, ke dalam dunia yang diatur oleh kekuasaan manusia, dan ke dalam hidup yang penuh keterbatasan. Inkarnasi mengingatkan kita bahwa di tengah situasi apa pun—baik yang kita pahami maupun yang membingungkan, Allah tetap bekerja setia menggenapi rencana keselamatan-Nya.

Lebih dari itu, kelahiran Yesus di palungan menunjukkan jalan Allah yang berbeda dari jalan dunia. Dunia mengejar kemegahan, tetapi Allah memilih kerendahan. Dunia mengandalkan kuasa, tetapi Allah menyatakan kasih melalui pengosongan diri. Karena itu, Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan panggilan untuk hidup dalam kerendahan hati, ketaatan, dan kesetiaan kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita.

Akhirnya, marilah kita membuka ruang bagi Kristus dalam hati dan hidup kita. Jangan sampai kesibukan, kenyamanan, atau kepentingan pribadi menutup pintu bagi kehadiran-Nya. Biarlah Sang Juruselamat yang lahir dalam kerendahan itu memerintah dalam hidup kita, membentuk karakter kita, dan memimpin langkah kita, hari ini dan sepanjang hidup kita. Amin.

Rabu, 10 Desember 2025

Janji Damai Sejahtera di Tengah Penantian. Bacaan Alkitab: Yesaya 40:1-11

Oleh : Pdm. Dr (C). Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

Pendahuluan

Shalom, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Minggu Advent kedua mengajak kita merenungkan pengharapan dan damai sejahtera yang dijanjikan Allah dalam kedatangan Yesus Kristus. Bacaan dari Yesaya 40 ini memberikan pesan penghiburan kepada umat Israel yang sedang mengalami penderitaan di pembuangan. Di tengah keputusasaan, Allah berfirman melalui Yesaya bahwa Dia akan membawa pemulihan dan pembebasan.

Sebagaimana umat Israel menantikan penggenapan janji Tuhan, kita juga hidup di masa penantian: menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua. Masa Advent ini menjadi waktu untuk menghibur hati, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, dan memperbaharui iman kita akan janji-Nya. Dalam khotbah hari ini, kita akan merenungkan tiga aspek dari Yesaya 40 yang relevan bagi kita sebagai orang percaya di masa kini.

1. Allah yang Menghibur dan Menyediakan Jalan (Yesaya 40:1-5)

Yesaya membuka dengan perintah Allah, "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku" (Yesaya 40:1). Pesan ini menunjukkan kasih Allah yang tidak melupakan umat-Nya, bahkan ketika mereka berada dalam penderitaan akibat dosa mereka sendiri. Allah yang menghibur adalah Allah yang tetap setia kepada janji-Nya, meskipun umat-Nya sering kali tidak setia. Ini mengingatkan kita pada Mazmur 34:18, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."

Ayat 3-5 menubuatkan seruan untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, yang kemudian digenapi dalam pelayanan Yohanes Pembaptis (Matius 3:3). Persiapan jalan ini berbicara tentang pertobatan: lembah yang ditutup menggambarkan hati yang rendah harus diangkat, dan gunung yang diratakan melambangkan kesombongan yang harus ditaklukkan. Dalam masa Advent, kita diajak untuk mempersiapkan hati kita dengan bertobat dari dosa-dosa yang menghalangi kedekatan kita dengan Tuhan.

Allah menjanjikan bahwa kemuliaan-Nya akan dinyatakan, dan semua manusia akan melihatnya (Yesaya 40:5). Ini adalah janji pengharapan yang pasti, sebagaimana dinyatakan dalam 2 Korintus 1:20, "Sebab Kristus adalah 'ya' bagi semua janji Allah." Kita dapat percaya bahwa dalam setiap penantian kita, Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang indah.

2. Keindahan dan Kelemahan Manusia di Hadapan Kemuliaan Allah (Yesaya 40:6-8)

Yesaya melanjutkan dengan pernyataan bahwa manusia seperti rumput yang layu dan bunga yang gugur (Yesaya 40:6-7). Ini adalah pengingat bahwa hidup manusia bersifat sementara, sementara firman Allah tetap kekal. Dalam dunia yang sering kali memuliakan kekayaan, kekuasaan, dan kecantikan, kita diingatkan bahwa semua itu tidak bertahan lama. Hanya firman Tuhan yang memiliki kekuatan untuk memberikan kehidupan yang sejati dan kekal (Matius 24:35).

Ayat ini juga mengingatkan kita untuk tidak menaruh kepercayaan pada hal-hal duniawi yang fana, tetapi pada Allah yang kekal. Yeremia 17:7 berkata, "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" Dalam masa Advent ini, kita diundang untuk merenungkan prioritas kita: apakah kita lebih sibuk mengejar hal-hal duniawi daripada mengejar kehendak Allah?

Firman Allah yang kekal juga menjadi penghiburan di tengah perubahan zaman. Ketika kita menghadapi ketidakpastian dalam hidup, kita dapat berpegang pada firman-Nya yang tidak pernah berubah. Dalam Ibrani 13:8, kita diingatkan bahwa "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." Ini adalah dasar pengharapan kita, bahwa Allah setia dan janji-Nya pasti digenapi.

3. Allah yang Memelihara dan Menuntun (Yesaya 40:9-11)

Ayat 9-11 menggambarkan Allah sebagai Gembala yang memimpin umat-Nya dengan penuh kelembutan. Dia tidak hanya berkuasa, tetapi juga penuh kasih. Gambaran ini sangat relevan dalam masa Advent, ketika kita mengenang kedatangan Yesus sebagai Sang Gembala Baik yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yohanes 10:11).

Allah sebagai Gembala juga berarti Dia peduli terhadap kebutuhan kita, baik fisik maupun rohani. Dalam Mazmur 23:1, Daud berkata, "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku." Di tengah kekhawatiran hidup, kita diundang untuk percaya bahwa Tuhan akan memelihara kita sesuai dengan rencana-Nya. Advent adalah waktu untuk memperbarui iman kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita.

Selain itu, gambaran Gembala yang memeluk anak domba dan menuntun induk-induknya dengan hati-hati (Yesaya 40:11) menunjukkan kelembutan Allah. Dia memahami kelemahan kita dan memberikan kasih karunia-Nya. Dalam Matius 11:28-29, Yesus mengundang kita yang letih lesu untuk datang kepada-Nya, dan Dia akan memberi kelegaan. Marilah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada pemeliharaan Sang Gembala Baik.

Penutup

Saudara-saudara yang terkasih, Yesaya 40 mengingatkan kita bahwa Allah setia pada janji-Nya. Dia adalah Allah yang menghibur, memelihara, dan menuntun umat-Nya. Dalam masa Advent ini, marilah kita mempersiapkan hati kita, memperbaharui iman kita, dan membawa penghiburan bagi dunia yang membutuhkan kasih Allah.

Senin, 08 Desember 2025

“Bangun dan Bersiap: Kristus Datang Sebentar Lagi” Teks Utama: Matius 24:36–44.

Oleh : Pdm. Dr.(C) Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

PENDAHULUAN

Masa Adventus mengarahkan gereja kepada makna penantian. Kata Adventus secara etimologi berasal dari bahasa laitin ad = menuju, ke arah; dan Venire = datang. Kata ini berpadanan dengan kata parousia dalam bahasa Yunani yang berarti kedatangan Kristus. Dengan demikian Adventus berarti “kedatangan”, baik kedatangan Kristus yang pertama dalam inkarnasi, maupun kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Adventus I secara liturgis selalu menyoroti kedatangan Kristus yang kedua, sehingga fokusnya bukan hanya kepada Natal, tetapi kepada kesadaran eskatologis bahwa Kristus akan datang sebagai Raja.

Matius 24:36–44 menegaskan sikap yang harus dimiliki oleh murid Kristus dalam menghadapi kedatangan-Nya. Yesus tidak menyuruh kita menghitung tanggal, tetapi berjaga-jaga. Ayat 42 berkata, “Karena itu berjagalah,” bukan “karena itu menebak-nebaklah.” Advent adalah masa untuk menata hidup, membangun kesadaran rohani, dan memperbaharui iman.

Khotbah ini akan membahas empat poin utama dari perikop ini. Setiap poin dilengkapi dengan dua ayat pendukung dari kitab lain agar jemaat mendapat kekuatan penegasan Alkitabiah yang lebih luas. Tujuannya adalah agar jemaat tidak hanya memahami makna Advent, tetapi juga terdorong untuk hidup siap sedia menyambut kedatangan Kristus.

POIN 1 — KEDATANGAN KRISTUS ADALAH PASTI, TETAPI WAKTUNYA TIDAK DIKETAHUI (Matius 24:36)

Ayat pendukung:

1. Kisah Para Rasul 1:7 – “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu…”

2. 1 Tesalonika 5:2 – “Hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.”

Yesus menegaskan bahwa tentang hari dan saat kedatangan-Nya, “tidak seorang pun yang tahu.” Ungkapan ini menekankan kepastian peristiwa tetapi ketidakpastian waktu. Ketidakpastian waktu bukan dibuat untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga fokus murid-murid tetap pada kesiapan, bukan spekulasi. Ketidaktahuan ini menolong orang percaya hidup dalam kesadaran rohani yang terus-menerus, bukan hanya musiman.

Kisah Para Rasul 1:7 memperkuat hal ini: Allah tidak memberi otoritas kepada manusia untuk mengetahui masa dan waktu. Dengan kata lain, yang Tuhan inginkan bukan pengetahuan tentang tanggal, melainkan ketaatan. Penekanan ini mematahkan kecenderungan manusia untuk terjebak dalam kepanikan eskatologis atau perhitungan akhir zaman. Tuhan menghendaki iman yang bersandar pada kedaulatan-Nya.

Ayat 1 Tesalonika 5:2 menegaskan bahwa hari Tuhan datang “seperti pencuri pada malam,” yang berarti tidak terduga dan tidak dapat diprediksi. Dalam masa Advent ini, jemaat diajak untuk tidak membangun iman di atas rasa ingin tahu, tetapi pada kesadaran bahwa hidup harus selalu siap. Kepastian kedatangan Kristus harus mendorong kita hidup saleh, sementara ketidakpastian waktunya menolong kita untuk tidak lengah.

POIN 2 — KEDATANGAN KRISTUS AKAN DATANG SECARA TIBA-TIBA, SEPERTI PADA ZAMAN NUH (Matius 24:37–39)

Ayat pendukung:

1. Ibrani 11:7 – Iman Nuh menyelamatkan keluarganya.

2. 2 Petrus 3:10 – Hari Tuhan “akan tiba seperti pencuri.”

Yesus membandingkan kedatangan-Nya dengan zaman Nuh: orang makan, minum, kawin, dan dikawinkan, semua aktivitas normal, tetapi dijalani tanpa kesadaran rohani. Masalahnya bukan pada aktivitas itu, tetapi pada kelalaian rohani yang membuat mereka buta terhadap peringatan Tuhan. Demikian pula generasi ini: kesibukan dunia sering kali membuat hati tidak sensitif terhadap hal-hal surgawi. Advent mengajak kita waspada.

Ibrani 11:7 menegaskan iman Nuh: ia percaya akan sesuatu yang belum terlihat. Sementara dunia menganggap pesan Tuhan sebagai sesuatu yang aneh, Nuh membangun bahtera dalam ketaatan. Dunia pada masa itu hidup seperti biasa, tetapi tanpa kesadaran bahwa murka Allah sudah dekat. Adventus I mengingatkan jemaat agar tidak hidup seperti dunia yang hanya sibuk mengejar hal-hal fana.

2 Petrus 3:10 kembali menegaskan bahwa hari Tuhan akan tiba secara tiba-tiba, seperti pencuri. Ketidaktiba-tibaan ini menguji apakah seseorang sedang berjaga atau lengah. Advent adalah waktu untuk mengevaluasi apakah hidup kita hanya diisi rutinitas, atau kita sungguh-sungguh membangun bahtera iman setiap hari. Mereka yang hidup seperti Nuh akan siap menyambut Kristus.

POIN 3 — KEDATANGAN KRISTUS AKAN MEMBEDAKAN MEREKA YANG SIAP DAN YANG TIDAK SIAP (Matius 24:40–41)

Ayat pendukung:

1. 2 Timotius 2:19 – “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya.”

2. Lukas 17:34–35 – Dua orang bersama, satu dibawa, satu ditinggalkan.

Gambaran dua orang di ladang dan dua wanita di penggilingan menunjukkan bahwa aktivitas luar tidak menentukan keselamatan seseorang. Dua orang dapat bekerja di tempat yang sama, melayani di gereja yang sama, bahkan tinggal dalam rumah yang sama, tetapi memiliki kondisi rohani yang berbeda. Kesetiaan pribadi menentukan apakah seseorang siap atau tidak ketika Kristus datang. Ini bersifat sangat pribadi.

2 Timotius 2:19 mengatakan bahwa Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya. Artinya, pemisahan yang terjadi pada hari kedatangan Kristus bukan karena keberuntungan atau kebersamaan lahiriah, tetapi karena kualitas hubungan pribadi dengan Tuhan. Tidak cukup hanya “ikut kegiatan gereja,” tetapi harus ada hati yang sungguh-sungguh mengasihi dan taat kepada Tuhan. Advent menjadi panggilan untuk evaluasi pribadi.

Lukas 17:34–35 menegaskan ulang gambaran ini: dua orang bersama, satu diambil, satu ditinggalkan. Keduanya terlihat sama dari luar, tetapi Tuhan memisahkan mereka berdasarkan hati. Advent mengingatkan kita bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang otomatis. Jemaat harus memeriksa diri: apakah hidup kita sungguh-sungguh siap jika Tuhan datang hari ini? Advent menegaskan: hanya mereka yang setia yang akan menyambut-Nya dengan sukacita.

POIN 4 — ADVENTUS MEMANGGIL KITA UNTUK BERJAGA DAN HIDUP DALAM KEKUDUSAN (Matius 24:42–44)

Ayat pendukung:

1. 1 Petrus 1:13–16 – “Sabukkanlah pinggang pikiranmu… jadilah kudus.”

2. Roma 13:11–14 – “Sudah saatnya untuk bangun dari tidur.”

Yesus menutup ajaran ini dengan perintah tegas: “Karena itu berjagalah!” Berjaga berarti menjaga hati tetap bersih, pikiran tetap terarah, dan hidup tetap dalam kesadaran rohani. Ini bukan berjaga dalam ketakutan, tetapi berjaga dalam kerinduan akan kedatangan Raja. Advent mengingatkan bahwa iman yang sejati adalah iman yang hidup dalam kesiapsiagaan.

1 Petrus 1:13–16 menegaskan bahwa kita harus “menyabukkan pinggang pikiran” dan hidup dalam kekudusan, sebab Allah yang memanggil kita adalah kudus. Kekudusan bukan sekadar moralitas, tetapi respons cinta kepada Tuhan yang akan datang kembali. Advent menjadi momen untuk memperbaharui komitmen terhadap kekudusan, bukan hanya dalam perilaku, tetapi dalam kerinduan hati.

Roma 13:11–14 mengatakan bahwa “hari keselamatan sudah dekat” dan karena itu kita harus menanggalkan perbuatan kegelapan dan memakai perlengkapan senjata terang. Ini adalah gambaran paling jelas tentang makna Advent: bangun dari tidur rohani dan hidup dalam terang. Adventus I memanggil jemaat untuk membuang dosa yang membelenggu dan mengenakan Kristus sebagai pakaian hidup.

KESIMPULAN

Adventus menegaskan bahwa Kristus pasti datang kembali. Waktunya tidak kita ketahui, kedatangannya tiba-tiba, pemisahannya jelas, dan respons kita haruslah berjaga dalam kekudusan. Masa Advent bukan hanya persiapan Natal, tetapi persiapan hidup menyambut Pengantin Sorgawi.

Kiranya dalam masa Advent tahun ini, jemaat hidup dengan hati yang siap, mata yang waspada, dan hidup yang kudus. Biarlah Tuhan mendapati kita setia, bukan lengah. Maranatha! Tuhan Yesus datang segera.

Rabu, 01 Oktober 2025

BENARKAH KEMATIAN YESUS DI SALIB ADALAH RENCANA IBLIS ?

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

Kematian Yesus di Salib, jelas bukanlah merupakan rencana Iblis. Buktinya Iblis acapkali menggagalkan kematian Yesus melalui Jalan Penyaliban. Berikut beberapa dalilnya dalam Alkitab : 

Pertama; saat Yesus dilahirkan di Betlehem, Iblis melalui Herodes telah berupaya untuk membunuh Dia. (Mat.2:13). Jika Yesus berhasil dibunuh, bagaimana mungkin misi penyaliban akan terjadi ???

Kedua; saat Yesus berumur 30 tahun dan akan mulai pelayanan-Nya, Iblis menggoda Yesus sebanyak 3 kali (Mat. 4:1-11;  Mrk. 1:12-13; Luk. 4:1-13). Dengan menjatuhkan Yesus, Iblis tentunya mau menggagalkan Salib.  

Ketiga; ketika Yesus sedang melakukan tugas pelayananNya, beberapa kali orang-orang Yahudi (tentunya karena bapak mereka adalah Iblis seperti kata "orang itu") berupaya membunuh Yesus dengan cara melempariNya dengan batu (Yoh.8:59, 10:31-33; bandingkan dengan Im. 24:16), melemparkan Dia dari tebing (Luk. 4:29), bahkan dengan cara lain melalui tipu muslihat (Mat. 26:3–4; Mrk. 14:1–2; Luk. 22:2). Jika kematian ini terjadi, Salib tentu gagal ... !!!

Keempat; saat Yesus mulai memberitakan tentang kematian-Nya, Petrus (yang dikuasai Iblis) berupaya untuk menghalangi kematianNya tersebut yang membuat Yesus harus menghardik Petrus dengan mengatakan "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku....... (Mat. 16:21-23; Mrk. 8:31-33). Ini sangat jelas, Iblis tidak menghendaki Yesus mati disalib... !!! 

Dengan demikian, kematian Yesus di salib bukanlah rencana Iblis, karena sejak kelahiran-Nya, awal pelayanan-Nya, saat Ia melayani, hingga menjelang kematian-Nya, Iblis terus berupaya menggagalkan jalan salib ..... !!!

Semoga dengan penjelasan ini, Saudara-Saudara Seiman, tidak mau disesatkan oleh oknum-oknum yang ditunggangi oleh Iblis.... Waspadalah ....... !!! Salam dari hamba-Nya (FD)



Jumat, 19 September 2025

Dari Ijazah SMA Menuju Gelar Doktor : Ketika Iman yang Diucapkan Mulai Digenapi Tuhan. Kesaksian Pribadi

Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

Awal tahun 1995 adalah titik awal sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saat itu, saya mengikuti Diklat Prajabatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Maluku. Saya baru saja lulus SMA setahun sebelumnya dan bersyukur bisa diterima sebagai CPNS di usia muda. 

Di tengah suasana pelatihan itu, terjadi sebuah momen yang tampaknya sepele, tapi ternyata menyimpan benih besar dalam hidup saya. Saya terlibat perdebatan dengan seorang teman CPNS mengenai gelar pendidikan tertinggi. Saya menyatakan bahwa Doktor adalah gelar tertinggi dalam jenjang pendidikan, setelah Sarjana (S1) dan Magister (S2). Namun teman saya bersikukuh bahwa Profesor adalah gelar tertinggi. Saya menjelaskan bahwa Profesor bukan gelar akademik, melainkan jabatan fungsional yang diberikan kepada dosen atau peneliti yang memenuhi kualifikasi tertentu. Sedangkan gelar Doktor adalah jenjang akademik formal tertinggi yang bisa diraih di dunia pendidikan.

Perdebatan itu memuncak hingga saya, dengan penuh keyakinan berkata, "Kelak saya akan meraih gelar Doktor, meskipun hari ini saya hanya CPNS dengan ijazah SMA." Teman saya tertawa. Ia menganggap ucapan saya itu sebagai mimpi kosong, terlalu tinggi untuk seseorang yang bahkan belum menempuh kuliah. Saya tidak marah, tapi kalimat itu menjadi sebuah janji iman yang saya ucapkan dengan polos, namun sungguh-sungguh.

Jalan Panjang Penuh Tikungan

Waktu berjalan. Ucapan itu perlahan menghilang dari ingatan saya. Bukan karena saya tak percaya lagi, tapi karena kenyataan hidup saat itu memang begitu berat. Melanjutkan kuliah S1 saja terasa sangat sulit. Namun demikain, saya tetap mencoba. Pertengahan tahun 1995, saya mulai kuliah di jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon. Sayangnya, belum setahun berjalan, saya terpaksa drop out. Saya harus mengikuti Diklat Teknisi Preparasi Mineral, Batuan, dan Fosil di Bandung selama lebih dari sebulan. Ketika kembali, teman-teman saya sudah menyelesaikan ujian akhir semester 2, dan saya kehilangan semangat untuk melanjutkan.

Saya baru bisa kembali kuliah pada tahun 2005, kali ini di Universitas Pattimura Ambon, jurusan Teknik Industri. Puji Tuhan, saya berhasil menyelesaikan studi dan diwisuda pada tahun 2010. Namun, mimpi lama itu, untuk menjadi seorang Doktor kembali saya kubur dalam-dalam. Kesempatan untuk studi lanjut sebenarnya ada, tetapi saya memilih pindah tugas ke Kota Bitung, Sulawesi Utara. Kesibukan kerja, penyesuaian hidup serta minimnya Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan studi sampai ke level Magister, membuat saya untuk sementara waktu menunda berpikir tentang studi S2, apalagi S3.

Tahun 2015, saya kembali pindah tugas ke kampung halaman saya di Pulau Siau. Situasi di daerah membuat saya makin pesimis. Rasanya, mustahil bagi saya untuk melanjutkan studi. Ini daerah kepulauan Bung. Sedangkan di Kota Bitung yang masih dekat dengan Ibu Kota Provinsi sudah sulit melanjutkan studi, apalagi di daerah Kepulauan yang jauh. Namun Tuhan ternyata belum selesai bekerja.

Tuhan Membuka Jalan yang Tak Terpikirkan

Tahun 2018, saat ada keinginan untuk melanjutkan S2 di Universitas Terbuka, saya justru memilih memulai kuliah S1 Teologi di STT Rumah Murid Kristus - Bitung. Panggilan untuk melayani rupanya lebih besar mendorong saya untuk belajar Teologi. Saya percaya, ini adalah jalan yang Tuhan bukakan untuk membentuk karakter dan pemahaman iman saya. Saya menyelesaikan Pendidikan S1 Teologi ini pada tahun 2021. Tamat S1 Teologi ini malah lebih memacu semangat saya untuk melanjutkan ke jenjang S2. Masa-masa itu, Covid-19 melanda dunia, dan berimbas juga pada dunia pendidikan. 

Pembatasan untuk berkumpul, memungkinkan penyelenggaraan pendidikan melalui kuliah On Line, yang tentunya mengharuskan calon mahasiswa menguasai teknologi informasi yang sedang berkembang pesat. Saya memanfaatkan kesempatan emas ini dengan memilih Program Studi Magister Pastoral Konseling di Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia (STTBI) Jakarta. Pertimbangan saya dalam memilih Program Studi ini adalah disamping masih jarang diminati oleh mahasiswa, juga ilmunya dapat saya praktekan di tempat kerja.  Pada tahun 2023, saya lulus program Magister tersebut. Tanpa menunda waktu, saya langsung mendaftar program Doktor (S3) dalam bidang Doctor of Ministry setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbing tesis saya di Prodi Magister Pastoral Konseling STTBI. Saat ini, saya telah memasuki semester lima, dan sedang mempersiapkan proposal disertasi.

Kadang saya termenung, merenungkan bagaimana Tuhan mengingat ucapan iman yang saya sendiri hampir lupakan. Dulu saya berkata dengan penuh keyakinan, di tengah keterbatasan, bahkan saat belum memiliki gelar apapun. Hari ini, saya melihat ucapan itu sedang digenapi Tuhan selangkah demi selangkah. Jika Tuhan mengizinkan, pada tahun depan (2026), saya akan menyelesaikan studi dan resmi menyandang gelar Doktor. Bukan untuk kesombongan, tapi sebagai kesaksian kepada anak cucu tentang kuasa Tuhan yang sanggup menggenapi janji-Nya dalam hidup siapa saja yang percaya dan tidak menyerah.

Penutup: Ucapan Iman Bukan Sia-sia

Apa yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah bahwa tidak ada ucapan iman yang sia-sia di hadapan Tuhan. Meskipun orang lain menertawakan, bahkan kita sendiri mungkin sempat meragukannya, Tuhan tetap bekerja di balik layar hidup kita. Terkadang, jalan yang kita tempuh tidak lurus. Ada kegagalan, penundaan, dan keputusan yang tampaknya keliru. Tapi Tuhan bisa memakai semuanya untuk mengarahkan kita kembali kepada panggilan dan janji-Nya.

Hari ini saya bersaksi, bahwa Tuhan setia. Ia bukan hanya mendengar doa kita, tetapi juga mengingat janji-janji yang kita ucapkan dalam iman, meski itu sepatah kalimat yang kita sampaikan puluhan tahun sebelumnya. Bagi siapa pun yang sedang berjalan dalam proses, teruslah percaya. Jangan pernah meremehkan kekuatan iman, sekecil apa pun itu. Jika Tuhan bisa melakukannya dalam hidup saya, Dia juga sanggup melakukannya dalam hidup Anda.

Efesus 3:20 (TB)

"Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita."

Kamis, 21 Agustus 2025

Dari Ejekan Menjadi Kesempatan. Kisah Para Rasul 17:18–34

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh

Pendahuluan

Ketika Paulus tiba di Atena, ia memasuki salah satu pusat filsafat dunia. Kota itu penuh patung dewa dan pusat diskusi publik. Di pasar dan ruang debat seperti Areopagus, para filsuf berkumpul untuk membicarakan ide-ide baru. Di tengah budaya yang bangga akan kebijaksanaan manusia, Paulus berdiri sebagai pemberita Injil Yesus Kristus. Kehadirannya segera mengundang reaksi keras, termasuk ejekan. Salah satunya, mereka menyebutnya “peleter” (ayat 18), sebuah hinaan yang merendahkan kredibilitasnya.

Kata “peleter” (spermologos) berarti “pengumpul remah-remah kata” atau “pengoceh yang tak berisi”. Mereka menganggap Paulus seperti burung yang memungut biji-bijian tanpa memahami nilainya. Bagi para filsuf, ajaran Paulus tentang kebangkitan adalah sesuatu yang aneh, bahkan bodoh. Namun, ejekan itu tidak mematahkan semangatnya. Sebaliknya, Paulus justru melihatnya sebagai pintu untuk membagikan kabar baik kepada mereka.

Dalam perjalanan hidup kita, sering kali hinaan atau penolakan bisa menjadi kesempatan untuk bersaksi. Rasul Petrus menulis, “Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab” (1 Petrus 3:15). Paulus mempraktekkan prinsip ini di Atena: ia tidak marah, tidak tersinggung, melainkan memanfaatkan momen itu untuk menyampaikan kebenaran Injil.

Poin 1 – Tetap Fokus di Tengah Ejekan (Kis. 17:18–21)

Ejekan bisa membuat orang kehilangan fokus. Namun, Paulus tidak terjebak untuk membalas hinaan mereka. Ia tidak sibuk membela diri, melainkan tetap pada inti misinya: memberitakan Yesus dan kebangkitan. Dalam ayat 18, meskipun disebut “peleter”, Paulus tidak mundur. Ini menunjukkan kerendahan hati dan keteguhan hati seorang pelayan Kristus.

Sikap ini selaras dengan 2 Timotius 2:24–25: “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah kepada semua orang, pandai mengajar, sabar, dan dengan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan.” Paulus memilih jalan sabar, bukan marah, dan itu membuatnya tetap memiliki peluang berbicara lebih jauh di Areopagus.

Dalam pelayanan atau kesaksian, kita akan menemui orang yang menolak bahkan menghina kita. Reaksi pertama yang harus kita pelajari dari Paulus adalah tetap fokus pada misi. Jangan biarkan ejekan mengalihkan perhatian dari tujuan utama: membawa orang kepada Kristus.

Poin 2 – Menggunakan Bahasa dan Budaya Mereka (Kis. 17:22–28)

Ketika Paulus berdiri di Areopagus, ia tidak langsung mengutip kitab Perjanjian Lama. Ia mulai dari apa yang dikenal oleh audiensnya: patung “Kepada Allah yang tidak dikenal” (ayat 23). Ia membangun jembatan komunikasi melalui sesuatu yang relevan dengan budaya mereka. Bahkan, ia mengutip penyair Yunani, “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (ayat 28), yang berasal dari karya-karya puisi lokal.

Pendekatan ini sejalan dengan 1 Korintus 9:22, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” Paulus menyesuaikan bahasa dan cara penyampaiannya tanpa mengurangi kebenaran Injil.

Pelajaran bagi kita: untuk menjangkau hati orang, kita harus memahami latar belakang, bahasa, dan pola pikir mereka. Injil tidak berubah, tetapi cara kita mengemasnya harus bisa masuk ke konteks pendengar.

Poin 3 – Menyampaikan Kebenaran Secara Tegas (Kis. 17:29–34)

Setelah membangun jembatan dengan audiensnya, Paulus tidak berhenti di titik aman. Ia dengan tegas menyatakan bahwa Allah memanggil semua orang untuk bertobat (ayat 30) dan bahwa ada hari penghakiman yang pasti, di mana Yesus akan menjadi Hakim yang adil, dibuktikan dengan kebangkitan-Nya (ayat 31). Di sini, Paulus tidak kompromi: kebenaran Injil tetap disampaikan secara penuh.

Yohanes 8:32 berkata, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Tetapi kebenaran itu juga sering menimbulkan perlawanan. Di Atena, sebagian mengejek, sebagian menunda, dan sebagian percaya (ayat 32–34). Reaksi itu wajar, karena Firman Allah selalu membagi respon manusia menjadi dua: menerima atau menolak.

Pelajaran yang kita dapatkan adalah, tugas kita bukan membuat semua orang setuju, tetapi setia menyampaikan kebenaran. Hasilnya ada di tangan Tuhan. Paulus menabur benih Injil, dan Tuhan yang memberi pertumbuhan (1 Korintus 3:6).

Kesimpulan

Perjalanan Paulus di Atena mengajarkan bahwa ejekan bukanlah akhir dari pelayanan, melainkan awal dari kesempatan. Ia tidak membiarkan hinaan “peleter” mematikan semangatnya. Ia tetap fokus, membangun jembatan budaya, dan akhirnya menyampaikan kebenaran Injil dengan tegas.

Dalam kehidupan kita, mungkin kita juga akan dicap “peleter”, “fanatik”, atau “aneh” karena iman kita. Namun, seperti Paulus, kita dipanggil untuk tetap berdiri teguh dan menjadikan setiap kesempatan sebagai sarana untuk memuliakan Kristus.

Ejekan hanyalah suara sementara, tetapi Firman Tuhan adalah kebenaran yang kekal. Jika kita setia, Tuhan dapat mengubah momen yang tampak memalukan menjadi kesaksian yang menyentuh hati banyak orang. Dan siapa tahu, dari satu momen itu, ada Dionisius atau Damaris (ayat 34) yang akan percaya karena kesaksian kita.