Rabu, 19 Februari 2025

Menjadi Pengikut Sejati Yesus (Bacaan : Lukas 14:25-35)


Oleh : Pdm. Dr. (C). Fredrik Dandel, ST, STh, M.Ag, M.Th.

Pendahuluan:

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, setiap orang yang menyatakan diri sebagai pengikut Yesus pasti ingin hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, apakah kita benar-benar siap untuk mengikuti Dia? Banyak orang mungkin merasa bahwa menjadi pengikut Kristus adalah perjalanan yang mudah, penuh dengan berkat dan kenyamanan. Tapi apakah itu yang Yesus ajarkan? Dalam Lukas 14:25-35, Yesus memberikan pengajaran yang sangat jelas dan menantang, yang mengungkapkan apa artinya menjadi murid-Nya sejati. Di sini, Yesus tidak hanya berbicara tentang kasih atau pengampunan, tetapi tentang pengorbanan, komitmen, dan perhitungan yang harus dilakukan sebelum kita memutuskan untuk mengikutinya.

Pada saat Yesus hidup dan mengajar di Israel, bangsa Israel berada di bawah pemerintahan Romawi. Mereka mengalami penindasan dan pembatasan kebebasan, serta merasa terpinggirkan dalam banyak aspek kehidupan mereka. Masyarakat Yahudi sangat menginginkan pembebasan dari penjajahan Romawi, dan banyak orang berharap bahwa Mesias yang dijanjikan akan datang untuk membebaskan mereka secara politik dan sosial. Harapan mereka adalah Mesias yang kuat, seperti raja yang memimpin mereka dalam perang melawan penjajah. Namun, Yesus datang dengan sebuah misi yang berbeda: bukan untuk membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, melainkan untuk membawa pembebasan rohani, mengajarkan tentang kerajaan Allah yang tidak terikat pada kuasa duniawi. 

Di dunia yang semakin sibuk dan penuh dengan godaan ini, kita sering kali tergoda untuk mencari jalan yang lebih mudah, yang menawarkan kenyamanan dan kemudahan. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hidup sebagai pengikut-Nya adalah perjalanan yang melibatkan pengorbanan pribadi, pengorbanan waktu, dan terkadang pengorbanan hubungan. Dalam khotbah ini, kita akan menggali lebih dalam apa yang Yesus maksud dengan menjadi pengikut-Nya yang sejati. Ini bukanlah panggilan yang harus kita ambil dengan ringan, tetapi sebuah panggilan untuk hidup sepenuhnya bagi-Nya, siap untuk melepaskan apa pun yang menghalangi kita untuk mengikutinya dengan sepenuh hati.

1. Menghitung Biaya Pengikut Sejati (Lukas 14:25-30)

Orang Yahudi pada zaman Yesus sangat menghargai kebijaksanaan dan pengertian tentang bagaimana bertindak dengan hati-hati sebelum membuat keputusan besar. Dalam budaya Yahudi, ada banyak ajaran yang menekankan pentingnya merencanakan dan menghitung biaya sebelum memulai suatu proyek besar. Yesus menggunakan perumpamaan tentang raja yang hendak berperang (Lukas 14:31) dan seorang yang hendak membangun menara (Lukas 14:28) untuk menggambarkan pentingnya menghitung biaya sebelum mengikuti-Nya. Ini adalah ajaran yang sangat relevan bagi orang-orang Yahudi yang telah terbiasa dengan perencanaan yang cermat dalam kehidupan mereka. Kedua perumpamaan ini juga mengingatkan kita bahwa mengikuti Yesus bukanlah keputusan yang bisa diambil secara sembarangan, melainkan keputusan yang harus didasarkan pada pemahaman penuh akan tantangan dan pengorbanan yang akan kita hadapi.

Dalam Matius 7:24-27, Yesus juga berbicara tentang dua jenis orang yang mendengar perkataan-Nya: yang satu membangun rumah di atas batu, dan yang lainnya membangun rumah di atas pasir. Yesus mengatakan bahwa orang yang membangun rumah di atas batu adalah orang yang mendengarkan dan melakukan perkataan-Nya. Hal ini mengajarkan bahwa membangun hidup kita di atas dasar yang kuat, yaitu iman kepada Yesus dan ketaatan kepada firman-Nya memerlukan perhitungan yang matang. Membangun hidup rohani yang kokoh tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, tetapi memerlukan komitmen yang mendalam.

Selain itu, dalam Filipi 3:7-8, Paulus juga berbicara tentang perhitungan yang sama dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa segala yang dianggapnya sebagai keuntungan sebelum mengenal Kristus, kini ia anggap sebagai kerugian karena Kristus. Paulus menghitung biaya dari mengikuti Yesus, yang berarti melepaskan segala hal yang dianggap berharga di dunia ini. Ia siap menanggung segala kerugian demi mendapatkan Kristus. Seperti Paulus, kita juga dipanggil untuk menghitung biaya mengikuti Yesus, untuk memahami bahwa itu mungkin memerlukan pengorbanan, baik dalam hal kedudukan, harta, ataupun bahkan hubungan kita dengan orang lain. Ini semua adalah bagian dari panggilan untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati.

2. Menyadari Pengorbanan yang Diperlukan (Lukas 14:26-27)

Pada zaman Yesus, pengorbanan dan penderitaan adalah konsep yang sangat dikenal oleh orang Yahudi, khususnya dalam konteks pengorbanan hewan di Bait Allah untuk penebusan dosa. Namun, pengorbanan pribadi yang dimaksudkan oleh Yesus adalah sesuatu yang jauh lebih mendalam. Dia mengajarkan bahwa untuk mengikuti-Nya, seseorang harus siap untuk menanggung salib, yang mengandung makna penderitaan dan pengorbanan pribadi. Konsep ini bertentangan dengan harapan banyak orang Yahudi yang melihat Mesias sebagai sosok yang akan membebaskan mereka secara fisik dan memberikan mereka kekuasaan politik. Yesus, di sisi lain, mengingatkan mereka bahwa penderitaan dan pengorbanan adalah bagian dari panggilan untuk mengikut Dia

Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa menjadi pengikut-Nya memerlukan pengorbanan yang besar. Dalam Lukas 14:26, Yesus berkata, "Jika seorang datang kepada-Ku dan tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, dan saudara-saudaranya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Tentu saja, kata "membenci" di sini tidak berarti bahwa kita harus benar-benar membenci orang-orang yang kita cintai. Membenci dalam bacaan ini berasal dari kata Yunani "miseō" (μισέω) dapat diterjemahkan sebagai "membenci," tetapi dalam konteks ayat ini, lebih tepatnya mengandung pengertian "memilih untuk tidak mengutamakan" atau "menempatkan di bawah" sesuatu yang lain. Ini bukan berarti kita harus benar-benar membenci orang-orang yang kita cintai, tetapi lebih kepada penekanan pada pentingnya mengutamakan kasih kita kepada Yesus di atas segala hubungan atau komitmen lainnya.

Yesus mengajarkan bahwa kita harus siap untuk mengutamakan Dia di atas segala sesuatu, bahkan di atas keluarga dan diri kita sendiri. Pengorbanan ini adalah suatu panggilan untuk hidup dalam komitmen yang sepenuhnya kepada Kristus, dan ini berarti bahwa segala sesuatu yang kita cintai di dunia ini tidak boleh menghalangi kita untuk mengikutinya. Dalam konteks ini, Yesus mengingatkan kita bahwa mengikuti-Nya berarti siap untuk menghadapi tantangan besar, termasuk pengorbanan dalam hubungan dan aspek kehidupan kita.

Bacaan lain yang dapat menguatkan ajaran ini terdapat dalam Matius 10:37-39, di mana Yesus berkata, "Barangsiapa mengasihi bapanya atau ibunya lebih dari pada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya lebih dari pada Aku, ia tidak layak bagi-Ku." Yesus kembali mengingatkan kita bahwa kasih kita kepada-Nya harus mengatasi segala kasih yang ada di dunia ini. Pengorbanan yang dimaksudkan di sini bukan hanya tentang meninggalkan sesuatu, tetapi tentang penyerahan diri secara penuh kepada Tuhan, mengutamakan kehendak-Nya di atas segala keinginan kita.

Filipi 3:8 juga berbicara tentang pengorbanan yang diperlukan untuk mengikuti Kristus. Paulus menulis, "Aku menganggap semuanya itu rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, jauh lebih mulia daripada semuanya itu." Paulus menunjukkan bahwa pengorbanan terbesar yang bisa dilakukan adalah melepaskan segala hal yang kita anggap berharga untuk memperoleh Kristus. Ini adalah gambaran nyata dari pengorbanan yang dibutuhkan untuk mengikuti Yesus: melepaskan yang duniawi untuk mengejar apa yang kekal.

3. Menjadi Garam (Lukas 14:34-35)

Yesus mengakhiri bagian ini dengan sebuah peringatan yang sangat kuat tentang pentingnya menjadi garam yang baik. Dalam Lukas 14:34-35, Yesus berkata, "Garam adalah baik, tetapi jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak berguna lagi, selain dibuang dan diinjak orang." Di sini, Yesus menggunakan garam sebagai simbol untuk menunjukkan peran pengikut-Nya di dunia ini. Garam pada zaman Yesus memiliki banyak kegunaan: sebagai pengawet, penambah rasa, dan pengawet makanan. Begitu juga, pengikut Kristus dipanggil untuk memberikan pengaruh yang positif dan berbeda di dunia ini.

Menjadi pengikut sejati Yesus berarti kita harus memiliki pengaruh yang nyata dalam masyarakat. Sebagai garam, kita tidak hanya dipanggil untuk hidup bagi diri kita sendiri, tetapi untuk memberi dampak yang baik bagi orang lain dan bagi dunia ini. Garam yang kehilangan rasa atau fungsinya tidak lagi berguna, demikian pula seorang pengikut Kristus yang kehilangan kesaksian atau tidak lagi hidup sesuai dengan ajaran-Nya akan kehilangan dampak positifnya. Tugas kita sebagai pengikut Kristus adalah menjadi terang di dunia yang gelap dan garam yang memberi rasa dan pengawetan bagi dunia yang rusak ini.

Bacaan lain yang sangat relevan dengan pengajaran ini terdapat dalam Matius 5:13-16, di mana Yesus mengatakan, "Kamu adalah garam dunia. Tetapi jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak berguna lagi selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi." Yesus menyatakan dengan jelas bahwa pengikut-Nya adalah garam dan terang bagi dunia. Pengikut Kristus dipanggil untuk membawa perubahan, menjadi pengaruh yang positif di tengah masyarakat, serta menyinari kegelapan dunia dengan hidup yang bercahaya melalui perbuatan baik dan kesaksian iman.

Kolose 4:5-6 juga memberi penekanan pada pentingnya kehidupan yang memberikan dampak positif: "Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah perkataanmu selalu penuh kasih, sehingga dengan bijaksana kamu dapat mengetahui bagaimana seharusnya kamu memberi jawaban kepada tiap-tiap orang." Ini adalah panggilan untuk hidup bijaksana dan memberi dampak positif melalui perkataan dan perbuatan kita, agar hidup kita menjadi saksi yang nyata dari kasih dan kebenaran Kristus.

Kesimpulan:

Saudara-saudari yang terkasih, pengajaran Yesus dalam Lukas 14:25-35 mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus sejati tidaklah mudah dan memerlukan komitmen yang mendalam. Mengikuti Yesus bukan sekadar tentang menerima berkat-Nya, tetapi juga tentang menghitung biaya yang harus dibayar, siap untuk mengorbankan apa pun yang menghalangi kita untuk hidup sepenuhnya bagi-Nya. Yesus mengajarkan kita untuk memprioritaskan kasih kita kepada-Nya di atas segala sesuatu, bahkan hubungan kita dengan keluarga dan diri kita sendiri.

Yesus juga menantang kita untuk menjadi pengikut yang siap menanggung salib, yaitu siap menghadapi kesulitan dan penderitaan sebagai bagian dari panggilan kita. Mengikut Kristus berarti siap untuk mengorbankan, namun juga siap menerima berkat yang jauh lebih besar dari segala hal yang kita lepaskan untuk-Nya. Seperti yang ditulis oleh Paulus dalam Filipi 3:8, "Aku menganggap semuanya itu rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, jauh lebih mulia daripada semuanya itu."

Akhirnya, Yesus mengingatkan kita bahwa sebagai pengikut-Nya, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang di dunia ini. Kita harus hidup dengan dampak positif, memberikan pengaruh yang membawa perubahan baik di sekitar kita. Kita dipanggil untuk menunjukkan perbedaan melalui hidup kita, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sebagai garam, kita memberi rasa dan pengaruh, dan sebagai terang, kita menyinari kegelapan dunia dengan kasih dan kebenaran Kristus.

Marilah kita menghitung biaya, mengerti pengorbanan yang diperlukan, dan berkomitmen untuk hidup sebagai pengikut Kristus yang sejati—menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Semoga hidup kita selalu memuliakan Tuhan, memberikan dampak yang baik, dan menjadi saksi yang hidup akan kasih-Nya.

Doa: 

Tuhan Yesus, terima kasih untuk panggilan-Mu yang mulia. Kami menyadari bahwa menjadi pengikut-Mu membutuhkan komitmen dan pengorbanan. Tolong kami untuk menghitung biaya dan memberikan hidup kami sepenuhnya untuk-Mu. Berikan kami keberanian untuk mengikuti-Mu meskipun dalam kesulitan dan tantangan. Biarlah hidup kami menjadi garam yang baik, memberi pengaruh positif bagi dunia ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar