Oleh : Pdm. Dr. (C). Fredrik Dandel, ST, STh, M.Ag, M.Th.
Pendahuluan:
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, setiap orang yang menyatakan diri
sebagai pengikut Yesus pasti ingin hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Namun,
apakah kita benar-benar siap untuk mengikuti Dia? Banyak orang mungkin merasa
bahwa menjadi pengikut Kristus adalah perjalanan yang mudah, penuh dengan
berkat dan kenyamanan. Tapi apakah itu yang Yesus ajarkan? Dalam Lukas
14:25-35, Yesus memberikan pengajaran yang sangat jelas dan menantang, yang
mengungkapkan apa artinya menjadi murid-Nya sejati. Di sini, Yesus tidak hanya
berbicara tentang kasih atau pengampunan, tetapi tentang pengorbanan, komitmen,
dan perhitungan yang harus dilakukan sebelum kita memutuskan untuk
mengikutinya.
Pada saat Yesus hidup dan mengajar di Israel, bangsa Israel berada di bawah pemerintahan Romawi. Mereka mengalami penindasan dan pembatasan kebebasan, serta merasa terpinggirkan dalam banyak aspek kehidupan mereka. Masyarakat Yahudi sangat menginginkan pembebasan dari penjajahan Romawi, dan banyak orang berharap bahwa Mesias yang dijanjikan akan datang untuk membebaskan mereka secara politik dan sosial. Harapan mereka adalah Mesias yang kuat, seperti raja yang memimpin mereka dalam perang melawan penjajah. Namun, Yesus datang dengan sebuah misi yang berbeda: bukan untuk membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, melainkan untuk membawa pembebasan rohani, mengajarkan tentang kerajaan Allah yang tidak terikat pada kuasa duniawi.
Di dunia yang semakin sibuk dan penuh dengan godaan ini, kita sering kali tergoda untuk mencari jalan yang lebih mudah, yang menawarkan kenyamanan dan kemudahan. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hidup sebagai pengikut-Nya adalah perjalanan yang melibatkan pengorbanan pribadi, pengorbanan waktu, dan terkadang pengorbanan hubungan. Dalam khotbah ini, kita akan menggali lebih dalam apa yang Yesus maksud dengan menjadi pengikut-Nya yang sejati. Ini bukanlah panggilan yang harus kita ambil dengan ringan, tetapi sebuah panggilan untuk hidup sepenuhnya bagi-Nya, siap untuk melepaskan apa pun yang menghalangi kita untuk mengikutinya dengan sepenuh hati.
1. Menghitung Biaya Pengikut Sejati (Lukas 14:25-30)
Orang Yahudi pada zaman Yesus sangat menghargai kebijaksanaan dan pengertian tentang bagaimana bertindak dengan hati-hati sebelum membuat keputusan besar. Dalam budaya Yahudi, ada banyak ajaran yang menekankan pentingnya merencanakan dan menghitung biaya sebelum memulai suatu proyek besar. Yesus menggunakan perumpamaan tentang raja yang hendak berperang (Lukas 14:31) dan seorang yang hendak membangun menara (Lukas 14:28) untuk menggambarkan pentingnya menghitung biaya sebelum mengikuti-Nya. Ini adalah ajaran yang sangat relevan bagi orang-orang Yahudi yang telah terbiasa dengan perencanaan yang cermat dalam kehidupan mereka. Kedua perumpamaan ini juga mengingatkan kita bahwa
mengikuti Yesus bukanlah keputusan yang bisa diambil secara sembarangan,
melainkan keputusan yang harus didasarkan pada pemahaman penuh akan tantangan
dan pengorbanan yang akan kita hadapi.
Dalam Matius 7:24-27, Yesus juga berbicara tentang dua jenis orang yang mendengar perkataan-Nya: yang satu membangun rumah di atas batu, dan yang lainnya membangun rumah di atas pasir. Yesus mengatakan bahwa orang yang membangun rumah di atas batu adalah orang yang mendengarkan dan melakukan perkataan-Nya. Hal ini mengajarkan bahwa membangun hidup kita di atas dasar yang kuat, yaitu iman kepada Yesus dan ketaatan kepada firman-Nya memerlukan perhitungan yang matang. Membangun hidup rohani yang kokoh tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, tetapi memerlukan komitmen yang mendalam.
Selain itu, dalam Filipi 3:7-8, Paulus juga
berbicara tentang perhitungan yang sama dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa
segala yang dianggapnya sebagai keuntungan sebelum mengenal Kristus, kini ia
anggap sebagai kerugian karena Kristus. Paulus menghitung biaya dari mengikuti
Yesus, yang berarti melepaskan segala hal yang dianggap berharga di dunia ini.
Ia siap menanggung segala kerugian demi mendapatkan Kristus. Seperti Paulus,
kita juga dipanggil untuk menghitung biaya mengikuti Yesus, untuk memahami bahwa
itu mungkin memerlukan pengorbanan, baik dalam hal kedudukan, harta, ataupun
bahkan hubungan kita dengan orang lain. Ini semua adalah bagian dari panggilan
untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati.
2. Menyadari Pengorbanan yang Diperlukan (Lukas
14:26-27)
Pada zaman Yesus, pengorbanan dan penderitaan adalah konsep yang sangat dikenal oleh orang Yahudi, khususnya dalam konteks pengorbanan hewan di Bait Allah untuk penebusan dosa. Namun, pengorbanan pribadi yang dimaksudkan oleh Yesus adalah sesuatu yang jauh lebih mendalam. Dia mengajarkan bahwa untuk mengikuti-Nya, seseorang harus siap untuk menanggung salib, yang mengandung makna penderitaan dan pengorbanan pribadi. Konsep ini bertentangan dengan harapan banyak orang Yahudi yang melihat Mesias sebagai sosok yang akan membebaskan mereka secara fisik dan memberikan mereka kekuasaan politik. Yesus, di sisi lain, mengingatkan mereka bahwa penderitaan dan pengorbanan adalah bagian dari panggilan untuk mengikut Dia
Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa menjadi
pengikut-Nya memerlukan pengorbanan yang besar. Dalam Lukas 14:26, Yesus
berkata, "Jika seorang datang kepada-Ku dan tidak membenci bapanya,
ibunya, isterinya, anak-anaknya, dan saudara-saudaranya, bahkan nyawanya
sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Tentu saja, kata
"membenci" di sini tidak berarti bahwa kita harus benar-benar
membenci orang-orang yang kita cintai. Membenci dalam bacaan ini berasal dari kata Yunani "miseō" (μισέω) dapat diterjemahkan
sebagai "membenci," tetapi dalam konteks ayat ini, lebih tepatnya
mengandung pengertian "memilih untuk tidak mengutamakan" atau
"menempatkan di bawah" sesuatu yang lain. Ini bukan berarti kita
harus benar-benar membenci orang-orang yang kita cintai, tetapi lebih kepada
penekanan pada pentingnya mengutamakan kasih kita kepada Yesus di atas segala
hubungan atau komitmen lainnya.
Yesus mengajarkan bahwa kita harus siap untuk
mengutamakan Dia di atas segala sesuatu, bahkan di atas keluarga dan diri kita
sendiri. Pengorbanan ini adalah suatu panggilan untuk hidup dalam komitmen yang
sepenuhnya kepada Kristus, dan ini berarti bahwa segala sesuatu yang kita
cintai di dunia ini tidak boleh menghalangi kita untuk mengikutinya. Dalam
konteks ini, Yesus mengingatkan kita bahwa mengikuti-Nya berarti siap untuk
menghadapi tantangan besar, termasuk pengorbanan dalam hubungan dan aspek kehidupan
kita.
Bacaan lain yang dapat menguatkan ajaran ini
terdapat dalam Matius 10:37-39, di mana Yesus berkata, "Barangsiapa
mengasihi bapanya atau ibunya lebih dari pada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan
barangsiapa mengasihi anaknya lebih dari pada Aku, ia tidak layak
bagi-Ku." Yesus kembali mengingatkan kita bahwa kasih kita kepada-Nya
harus mengatasi segala kasih yang ada di dunia ini. Pengorbanan yang
dimaksudkan di sini bukan hanya tentang meninggalkan sesuatu, tetapi tentang
penyerahan diri secara penuh kepada Tuhan, mengutamakan kehendak-Nya di atas
segala keinginan kita.
Filipi 3:8 juga berbicara tentang pengorbanan yang
diperlukan untuk mengikuti Kristus. Paulus menulis, "Aku menganggap
semuanya itu rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, jauh lebih
mulia daripada semuanya itu." Paulus menunjukkan bahwa pengorbanan
terbesar yang bisa dilakukan adalah melepaskan segala hal yang kita anggap
berharga untuk memperoleh Kristus. Ini adalah gambaran nyata dari pengorbanan
yang dibutuhkan untuk mengikuti Yesus: melepaskan yang duniawi untuk mengejar
apa yang kekal.
3. Menjadi Garam (Lukas 14:34-35)
Yesus mengakhiri bagian ini dengan sebuah
peringatan yang sangat kuat tentang pentingnya menjadi garam yang baik. Dalam
Lukas 14:34-35, Yesus berkata, "Garam adalah baik, tetapi jika garam itu
menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak berguna lagi, selain dibuang
dan diinjak orang." Di sini, Yesus menggunakan garam sebagai simbol untuk
menunjukkan peran pengikut-Nya di dunia ini. Garam pada zaman Yesus memiliki
banyak kegunaan: sebagai pengawet, penambah rasa, dan pengawet makanan. Begitu
juga, pengikut Kristus dipanggil untuk memberikan pengaruh yang positif dan
berbeda di dunia ini.
Menjadi pengikut sejati Yesus berarti kita harus
memiliki pengaruh yang nyata dalam masyarakat. Sebagai garam, kita tidak hanya
dipanggil untuk hidup bagi diri kita sendiri, tetapi untuk memberi dampak yang
baik bagi orang lain dan bagi dunia ini. Garam yang kehilangan rasa atau
fungsinya tidak lagi berguna, demikian pula seorang pengikut Kristus yang
kehilangan kesaksian atau tidak lagi hidup sesuai dengan ajaran-Nya akan
kehilangan dampak positifnya. Tugas kita sebagai pengikut Kristus adalah
menjadi terang di dunia yang gelap dan garam yang memberi rasa dan pengawetan
bagi dunia yang rusak ini.
Bacaan lain yang sangat relevan dengan pengajaran
ini terdapat dalam Matius 5:13-16, di mana Yesus mengatakan, "Kamu
adalah garam dunia. Tetapi jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia
diasinkan? Tidak berguna lagi selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah
terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."
Yesus menyatakan dengan jelas bahwa pengikut-Nya adalah garam dan terang bagi
dunia. Pengikut Kristus dipanggil untuk membawa perubahan, menjadi pengaruh
yang positif di tengah masyarakat, serta menyinari kegelapan dunia dengan hidup
yang bercahaya melalui perbuatan baik dan kesaksian iman.
Kolose 4:5-6 juga memberi penekanan pada pentingnya
kehidupan yang memberikan dampak positif: "Hiduplah dengan penuh hikmat
terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah perkataanmu
selalu penuh kasih, sehingga dengan bijaksana kamu dapat mengetahui bagaimana
seharusnya kamu memberi jawaban kepada tiap-tiap orang." Ini adalah
panggilan untuk hidup bijaksana dan memberi dampak positif melalui perkataan
dan perbuatan kita, agar hidup kita menjadi saksi yang nyata dari kasih dan
kebenaran Kristus.
Kesimpulan:
Saudara-saudari yang terkasih, pengajaran Yesus
dalam Lukas 14:25-35 mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus sejati
tidaklah mudah dan memerlukan komitmen yang mendalam. Mengikuti Yesus bukan
sekadar tentang menerima berkat-Nya, tetapi juga tentang menghitung biaya yang
harus dibayar, siap untuk mengorbankan apa pun yang menghalangi kita untuk
hidup sepenuhnya bagi-Nya. Yesus mengajarkan kita untuk memprioritaskan kasih
kita kepada-Nya di atas segala sesuatu, bahkan hubungan kita dengan keluarga dan
diri kita sendiri.
Yesus juga menantang kita untuk menjadi pengikut
yang siap menanggung salib, yaitu siap menghadapi kesulitan dan penderitaan
sebagai bagian dari panggilan kita. Mengikut Kristus berarti siap untuk
mengorbankan, namun juga siap menerima berkat yang jauh lebih besar dari segala
hal yang kita lepaskan untuk-Nya. Seperti yang ditulis oleh Paulus dalam Filipi
3:8, "Aku menganggap semuanya itu rugi, karena pengenalan akan Kristus
Yesus, Tuhanku, jauh lebih mulia daripada semuanya itu."
Akhirnya, Yesus mengingatkan kita bahwa sebagai
pengikut-Nya, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang di dunia ini. Kita
harus hidup dengan dampak positif, memberikan pengaruh yang membawa perubahan
baik di sekitar kita. Kita dipanggil untuk menunjukkan perbedaan melalui hidup
kita, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sebagai garam, kita memberi rasa
dan pengaruh, dan sebagai terang, kita menyinari kegelapan dunia dengan kasih
dan kebenaran Kristus.
Marilah kita menghitung biaya, mengerti
pengorbanan yang diperlukan, dan berkomitmen untuk hidup sebagai pengikut
Kristus yang sejati—menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Semoga hidup kita
selalu memuliakan Tuhan, memberikan dampak yang baik, dan menjadi saksi yang
hidup akan kasih-Nya.
Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih untuk panggilan-Mu
yang mulia. Kami menyadari bahwa menjadi pengikut-Mu membutuhkan komitmen dan
pengorbanan. Tolong kami untuk menghitung biaya dan memberikan hidup kami
sepenuhnya untuk-Mu. Berikan kami keberanian untuk mengikuti-Mu meskipun dalam
kesulitan dan tantangan. Biarlah hidup kami menjadi garam yang baik, memberi
pengaruh positif bagi dunia ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar