Jumat, 21 Februari 2025

Kloke : Jam Dinding Tempoe Doeloe

Oleh : Fredrik Dandel (Pemerhati Budaya Siau).

Tulisan ini merupakan pengembangan dari tulisan sebelumnya yang diupload pada Group FB Kecamatan Siau Barat Selatan, pada 9 September 2019.


Secara turun-temurun, masyarakat di Pulau Siau, Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro menyebut jam dinding ini dengan nama "kloke." Mungkin nama tersebut diadopsi dari bahasa Inggris "clock" yang berarti jam. Sebagaimana juga bahasa Portugis yang mempengaruhi penggunaan kata "kadera" untuk menyebut kursi, begitu pula dengan penggunaan istilah "kloke" yang telah menjadi bagian dari kosa kata sehari-hari di banyak rumah tangga pada masyarakat Pulau Siau. Meskipun zaman terus berkembang, penggunaan kata tersebut tetap bertahan, menjadi warisan budaya yang mencerminkan sejarah panjang interaksi bahasa dan budaya di masyarakat kita.

Jam dinding jenis ini termasuk dalam kategori barang antik yang kini sudah sangat jarang ditemukan di rumah-rumah penduduk. Dulu, jam kloke merupakan salah satu barang yang hampir selalu ada di setiap rumah, sebagai penanda waktu yang praktis dan dapat diandalkan. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi dan hadirnya jam bateray terlebih lagi jam digital, keberadaan jam kloke semakin langka. Bahkan, banyak keluarga yang mungkin tidak lagi mengenal atau menggunakan jam jenis ini.

Di rumah kami sendiri, kami memiliki sebuah kloke yang sudah sangat tua. Meskipun jam tersebut telah rusak dan tidak berfungsi dengan baik, saya selalu merasa tertarik untuk mengutak-atiknya. Dengan menggunakan kunci khusus yang merupakan kelengkapan jam tersebut, saya berusaha untuk memperbaikinya. Ketika berhasil, jam itu kembali berbunyi, mengingatkan saya akan kenangan masa lalu yang tidak bisa dilepaskan. Menariknya, jam ini tidak menggunakan baterai seperti jam modern pada umumnya. Sebagai gantinya, kloke ini menggunakan sistem pegas berbentuk spiral yang menjadi sumber tenaga utama yang menggerakkan mesin jam.

Salah satu keunikan dari kloke ini adalah bunyi dentang yang khas, yang selalu terdengar seiring dengan perubahan waktu. Dentangan tersebut menjadi semacam pengingat bagi seluruh penghuni rumah mengenai waktu yang terus berjalan. Jika jarum jam menunjukkan pukul 1, maka kloke akan berdentang satu kali. Begitu juga dengan pukul 12, baik siang maupun malam, jam ini akan berdentang sebanyak 12 kali. Dentangannya ini memiliki keunikan tersendiri yang tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga bagian dari suasana rumah yang menambah kehangatan dan kekhasan.

Namun, bagi mereka yang tidak familiar dengan bunyi ini, dentangan tersebut kadang bisa terdengar mengganggu. Beberapa orang bahkan merasa aneh atau takut terhadap suara dentang yang terus menerus menandakan waktu, terutama pada malam hari ketika rumah sepi dan sunyi. Bagi mereka yang terbiasa dengan jam digital yang lebih senyap, dentangan kloke yang keras dan teratur mungkin terdengar lebih seperti gangguan daripada sebuah pengingat waktu. Meski demikian, bagi yang sudah terbiasa, dentang kloke justru memberikan kenyamanan, menjadi bagian dari ritme kehidupan sehari-hari yang terasa lebih akrab dan penuh kenangan.

Meskipun kini jam kloke mulai tergeser oleh teknologi yang lebih praktis, banyak orang masih memiliki rasa nostalgia terhadap benda ini. Keunikan bentuk dan bunyi yang dihasilkan oleh jam kloke membuatnya menjadi lebih dari sekadar alat penunjuk waktu. Jam ini, dengan segala karakteristiknya yang khas, menyimpan banyak cerita dan kenangan, serta menjadi simbol dari sebuah era yang kini perlahan terlupakan. Bagi generasi yang tumbuh bersamanya, kloke bukan hanya sekadar barang antik, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya yang sangat berarti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar