Sabtu, 15 Februari 2025

Hidup dalam Perdamaian dan Sukacita Kristus

 


Bacaan : Filipi 4:2-9

Oleh : Pdm. Dr. (C). Fredrik Dandel, ST. S.Th, M.Ag, M.Th.

Pendahuluan:

Saudara-saudari yang terkasih, hidup kita di dunia ini seringkali dipenuhi dengan permasalahan, ketegangan, dan kecemasan. Kita seringkali terperangkap dalam perasaan tidak nyaman atau tidak damai akibat konflik dalam hubungan, kecemasan terhadap masa depan, atau bahkan stres dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ketika menghadapi tantangan dan kesulitan ini, kita cenderung merasa terbebani, gelisah, dan kehilangan arah. Dunia yang kita huni sering kali menawarkan solusi sementara yang tidak mampu memberikan kedamaian sejati yang kita butuhkan. Ketika kita mencoba menghadapinya dengan kekuatan kita sendiri, kita sering kali merasa lelah dan frustrasi.

Dalam Filipi 4:2-9, kita menemukan sebuah pengajaran yang relevan bagi kita hari ini. Rasul Paulus menulis kepada jemaat Filipi yang sedang menghadapi berbagai permasalahan, baik itu dari luar maupun dalam gereja itu sendiri. Jemaat Filipi pada waktu itu mengalami ketegangan internal, terutama antara dua wanita, Euodia dan Sintikhe, yang terlibat dalam konflik. Paulus juga menyadari tantangan-tantangan eksternal yang dihadapi oleh jemaat, seperti penganiayaan dan tekanan dari luar gereja. Beberapa penganiayaan yang mereka alami meliputi: Penganiayaan oleh Penguasa Romawi, Ketika Paulus dan Silas pertama kali menginjili di Filipi, mereka dipersekusi oleh penduduk setempat dan akhirnya dipenjarakan karena dianggap mengganggu ketertiban umum dan merusak kepercayaan tradisional (Kisah Para Rasul 16:16-24). Keterasingan Sosial dan Ekonomi: Menjadi seorang Kristen di masyarakat yang mayoritas menganut agama tradisional atau kepercayaan politeisme dapat membuat seseorang terisolasi dalam kehidupan sosial. Konflik dengan Orang-orang Yahudi Lokal: Di Filipi, terdapat komunitas Yahudi yang mungkin juga menjadi sumber konflik bagi jemaat Kristen. Juga Tantangan Moral dan Budaya: Gaya hidup Romawi yang sangat berbeda dengan ajaran Kristen. Ini mencakup pengaruh dewa-dewa Romawi, gaya hidup hedonistik, dan budaya yang menekankan keberhasilan duniawi. Dalam situasi yang penuh kecemasan ini, Paulus memberikan prinsip-prinsip hidup yang dapat membawa kita kepada kedamaian sejati, yaitu damai sejahtera yang datang dari Allah.

"Hidup dalam Perdamaian dan Sukacita Kristus," bukanlah sekadar sebuah ajakan untuk hidup tanpa masalah, tetapi lebih kepada bagaimana kita, sebagai orang percaya, dapat menemukan kedamaian dan sukacita yang datang dari Allah dalam setiap keadaan. Dalam teks ini, Paulus mengajarkan kita bahwa meskipun dunia ini penuh dengan kecemasan, kita dipanggil untuk hidup dengan perspektif yang berbeda, sebuah perspektif yang berfokus pada iman kepada Tuhan yang memegang kendali atas segala hal. Sukacita yang diajarkan oleh Paulus bukanlah sukacita duniawi yang sementara, tetapi sukacita yang berasal dari kedekatan dengan Tuhan dan pengertian bahwa Dia senantiasa bersama kita. Perdamaian yang kita cari bukanlah hasil dari menghindari masalah, tetapi kedamaian yang datang melalui penyerahan penuh kepada Allah dan hidup dalam kehendak-Nya.

I. Menghargai Perdamaian dalam Hubungan (Filipi 4:2-3)

Filipi 4:2-3 berkata, "Euodia kunasehati dan Syntyche kunasehati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia, tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pemberitaan Injil, bersama dengan Clemens dan semua rekan sekerjaku yang namanya tercantum dalam kitab kehidupan."

Paulus memulai bagian ini dengan mengingatkan dua perempuan di jemaat Filipi, Euodia dan Syntyche, yang tampaknya sedang mengalami ketegangan atau perbedaan pendapat. Mereka adalah rekan kerja Paulus dalam pemberitaan Injil, tetapi kini mereka terlibat dalam perselisihan yang mempengaruhi keharmonisan di jemaat. Euodia dan Syntyche dikenal sebagai dua perempuan yang telah berjuang bersama Paulus dalam penyebaran Injil di Filipi. Mereka tidak hanya terlibat dalam pelayanan tetapi juga dalam pengajaran dan perawatan jemaat. Ketegangan antara keduanya menunjukkan bahwa meskipun mereka memiliki kontribusi besar dalam pekerjaan Tuhan, mereka juga manusia biasa yang rentan terhadap konflik. Hal ini mengingatkan kita bahwa bahkan dalam pelayanan, hubungan antar individu bisa terpengaruh oleh perbedaan pendapat atau ketidaksetujuan. Meskipun demikian, Paulus dengan lembut menegur mereka, mengingatkan mereka untuk sehati sejiwa dalam Tuhan, karena kesatuan dan perdamaian dalam tubuh Kristus adalah hal yang sangat penting untuk menghindari perpecahan dalam jemaat. Dalam Efesus 4:3, Paulus menulis, "Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera." Paulus mengajarkan bahwa dalam tubuh Kristus, kita dipanggil untuk menjaga kesatuan dan perdamaian, bahkan ketika ada perbedaan pendapat atau ketegangan. Kesatuan ini tidak hanya berdampak pada hubungan pribadi, tetapi juga pada kemajuan pemberitaan Injil itu sendiri, yang sering terhambat oleh perpecahan dan konflik dalam gereja."

Paulus tidak hanya mengingatkan mereka untuk berdamai, tetapi juga meminta jemaat untuk membantu mereka agar bisa kembali berdamai. Ini adalah gambaran yang jelas bahwa dalam hidup berjemaat, perdamaian dan kesatuan dalam Kristus sangat penting. Ketika ada konflik, kita diajak untuk menjadi mediator dan saling menolong agar keharmonisan tetap terjaga dalam tubuh Kristus. Ini mengingatkan kita pada ajaran Matius 18:15-17, yang mengajarkan kita bagaimana menghadapi konflik dalam gereja, yaitu dengan pendekatan yang penuh kasih dan usaha untuk mendamaikan pihak-pihak yang berselisih. Sebagai tubuh Kristus, kita diajak untuk tidak membiarkan perpecahan berkembang, tetapi untuk menjadi agen perdamaian yang aktif dalam kehidupan jemaat. Ini mencerminkan prinsip kasih dan pengertian yang harus ada dalam setiap hubungan antar anggota tubuh Kristus, seperti yang tertulis dalam Kolose 3:13, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah kamu seorang akan yang lain, apabila ada yang mempunyai keluhan terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk berusaha menjaga perdamaian, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam kehidupan jemaat. Konflik dapat terjadi, tetapi kita harus berusaha untuk menyelesaikannya dengan kasih dan pengertian, mengingat bahwa kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus.

II. Sukacita dalam Tuhan (Filipi 4:4-5)

Filipi 4:4-5 berkata, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat."

Paulus mengingatkan kita untuk bersukacita senantiasa dalam Tuhan. Dalam Bahasa Yunani dituliskan Χαίρετε ἐν Κυρίῳ πάντοτε· πάλιν ἡ λέγω, Χαίρετε = Chaírete en Kyríō pántote; pálin hē légō, Chaírete." Sukacita yang dimaksud di sini adalah Sukacita yang berasal dari kedekatan dengan Kristus dan bukan dari keadaan duniawi yang bisa berubah-ubah. Sukacita ini adalah buah dari kehidupan yang dipenuhi dengan pengenalan akan Tuhan dan pengharapan kepada-Nya. Meskipun kita menghadapi kesulitan atau penderitaan, kita bisa menemukan sukacita dalam kebenaran bahwa Tuhan ada bersama kita dan kita diselamatkan dalam Kristus. Dalam Roma 5:3-4, Paulus mengajarkan, "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah dalam penderitaan kita, karena kita tahu bahwa penderitaan itu menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan." Sukacita Kristen bersumber dari pengharapan dalam Kristus yang tetap teguh dan tidak tergoyahkan meski kita berada dalam kesulitan. Hal ini sejalan dengan ajaran dalam Yakobus 1:2-3, "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai percobaan, karena kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan

Paulus mengulangi perintah ini, “Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Ini menunjukkan betapa pentingnya sukacita dalam kehidupan orang Kristen. Sukacita bukan hanya sekadar perasaan, tetapi keputusan untuk berfokus pada Tuhan, berterima kasih atas kasih karunia-Nya, dan memilih untuk bersyukur meskipun situasi tidak selalu ideal. Sukacita ini juga mencerminkan kesadaran akan kedekatan Tuhan yang tidak terpisahkan, seperti yang dikatakan dalam Mazmur 16:11, "Engkau menunjukkan jalan hidup kepadaku; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa." Dengan bersukacita dalam Tuhan, kita mengungkapkan iman kita bahwa Allah hadir dan bekerja di tengah segala keadaan.

Paulus juga mengajak kita untuk menunjukkan kelemahlembutan kita kepada orang lain. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk berperilaku lemah lembut, sabar, dan penuh kasih kepada sesama, mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita.

III. Jangan Kuatir, Serahkan Segala Kekuatiran kepada Tuhan (Filipi 4:6-7)

Filipi 4:6-7 mengajarkan kita, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."

Kekuatiran adalah perasaan yang hampir semua orang alami dalam kehidupan. Ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak pasti atau tantangan yang besar, kekuatiran sering kali muncul dengan begitu kuat. Kekuatiran bisa datang dari berbagai hal, mulai dari masalah pekerjaan, kesehatan, hingga hubungan pribadi. Ketika kita fokus pada masalah tersebut, perasaan cemas dan khawatir bisa menguasai pikiran kita, memengaruhi cara kita berpikir, dan bahkan memengaruhi tubuh kita secara fisik. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan ini, kekuatiran menjadi bagian dari kenyataan hidup yang sulit untuk dihindari.

Dalam Filipi 4:6-7, Paulus memberikan nasihat yang penuh hikmat. Dia dengan jelas mengingatkan kita untuk "tidak kuatir tentang apa pun". Ini bukan berarti kita tidak boleh merasa khawatir atau tidak peduli, tetapi Paulus mengajak kita untuk mengubah cara kita merespons kecemasan. Alih-alih membiarkan kecemasan menguasai hidup kita, kita diminta untuk menyampaikan segala keinginan dan kekhawatiran kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan. Hal ini mengingatkan kita pada ajaran Tuhan Yesus dalam Matius 6:25-34, di mana Yesus dengan jelas berkata, "Jangan khawatir tentang hidupmu, apa yang akan kamu makan atau minum, atau tentang tubuhmu, apa yang akan kamu pakai" (Matius 6:25). Yesus mengajarkan bahwa kekhawatiran tentang kebutuhan hidup sehari-hari hanya akan menambah beban, tetapi Tuhan mengetahui segala kebutuhan kita dan akan menyediakannya. Ketika kita membiarkan kecemasan menguasai kita, kita sebenarnya meragukan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan. Sebaliknya, Yesus mengajak kita untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, karena jika kita melakukannya, segala kebutuhan kita akan dipenuhi. Dengan cara yang sama, Paulus mengajak kita untuk membawa segala kecemasan kita kepada Tuhan dalam doa dan mengingat bahwa Dia selalu peduli dan siap memberikan ketenangan hati.

Lebih dari sekadar menyampaikan kekhawatiran kita, Paulus juga menekankan pentingnya ucapan syukur dalam doa kita. Bersyukur kepada Tuhan, meskipun dalam situasi yang sulit, adalah cara untuk mengingat kebaikan dan kesetiaan-Nya. Ketika kita berdoa dengan hati yang penuh syukur, kita membuka hati kita untuk merasakan damai sejahtera Allah yang luar biasa. Paulus menjelaskan bahwa dengan melakukan ini, kita akan menerima damai sejahtera Allah yang melampaui segala pengertian. Damai sejahtera ini bukan hanya mengatasi kekuatiran kita tetapi juga menjaga hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Dengan kata lain, meskipun keadaan di sekitar kita mungkin tidak berubah, Allah memberikan kedamaian batin yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata suatu kedamaian yang hanya dapat kita rasakan ketika kita sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada-Nya.

IV. Fokus pada Hal-hal yang Benar dan Mulia (Filipi 4:8)

Filipi 4:8 berkata, "Finally, brothers and sisters, whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable, if anything is excellent or praiseworthy, think about such things."

Setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai berita buruk dan kekhawatiran yang dapat menguasai pikiran kita, namun Tuhan memanggil kita untuk tidak membiarkan pikiran kita terperangkap dalam hal-hal negatif. Paulus dalam Filipi 4:8 mengajak kita untuk memfokuskan pikiran kita pada hal-hal yang positif, benar, dan memuliakan Tuhan. Paulus mengingatkan kita bahwa kita memiliki kendali atas apa yang kita pikirkan, dan dengan memilih untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang baik dan benar, kita bisa mengalihkan fokus kita dari kekuatiran dan menemukan kedamaian yang datang dari Allah. Ketika kita mengarahkan pikiran kita pada hal-hal yang mulia dan memuliakan Tuhan, kita diberi kekuatan untuk tetap teguh menghadapi tantangan hidup.

Dalam Kolose 3:2, Paulus mengajarkan, "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi," yang mengingatkan kita untuk mengalihkan perhatian kita pada hal-hal yang penuh dengan kebaikan, kebenaran, dan pengharapan, sebagaimana Tuhan telah mengaruniakan kepada kita melalui firman-Nya. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga pikiran kita tetap tenang, tetapi juga menjalani hidup dengan perspektif iman yang mengutamakan kasih dan pengharapan yang datang dari Tuhan. Memfokuskan pikiran pada hal-hal yang memuliakan Tuhan membawa kita pada hidup yang penuh damai dan sukacita. Dalam Roma 12:2, Paulus juga mengingatkan kita untuk "janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu," yang berarti kita diajak untuk memperbaharui pikiran kita agar semakin mencerminkan karakter Kristus. Dengan memikirkan hal-hal yang benar, mulia, dan penuh pujian, kita tidak hanya memperbaharui pikiran kita, tetapi juga semakin menjadi serupa dengan Kristus.

V. Berlatih Hidup dalam Perintah Tuhan (Filipi 4:9)

Filipi 4:9 berkata, "Apa yang telah kamu pelajari dan terima dan dengar dan lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu."

Paulus mengingatkan jemaat Filipi bahwa kehidupan yang penuh damai sejahtera tidak hanya datang dari mendengarkan ajaran Tuhan, tetapi juga dari melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan, “Apa yang kamu pelajari dan terima dan dengar dan lihat padaku, itu harus kamu lakukan,” yang menunjukkan bahwa ajaran Kristus seharusnya diterapkan dalam tindakan nyata. Kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, bukan hanya sebagai teori atau pengetahuan, tetapi sebagai prinsip yang memandu setiap keputusan dan tindakan kita. Hal ini sejalan dengan ajaran Yakobus 1:22, yang berkata, "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja", karena hanya dengan melakukannya kita dapat mengalami transformasi sejati dalam hidup kita.

Ketika kita hidup sesuai dengan firman Tuhan, kita tidak hanya menjadi saksi bagi dunia akan kasih dan kebenaran-Nya, tetapi kita juga akan merasakan damai sejahtera-Nya yang menyertai kita. Filipi 4:9 menjelaskan bahwa "damai sejahtera Allah" akan menjaga hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Ini adalah janji yang indah bagi setiap orang yang menghidupi firman Tuhan dalam kehidupannya. Seperti yang dijelaskan dalam Matius 7:24-25, Yesus menggambarkan orang yang mendengar dan melakukan firman-Nya sebagai orang yang membangun rumah di atas batu karang yang kokoh, yang tidak akan goyah meskipun datang badai. Dengan hidup sesuai dengan ajaran Tuhan, kita diberi kekuatan untuk bertahan dalam segala situasi dan merasakan kedamaian yang melampaui pengertian kita, karena kita tahu bahwa Tuhan selalu menyertai kita.

Kesimpulan:

Saudara-saudari yang terkasih, Filipi 4:2-9 mengajarkan kita banyak hal penting untuk hidup yang damai, penuh sukacita, dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita diajak untuk menjaga perdamaian dalam hubungan, untuk terus bersukacita dalam Tuhan, untuk menyerahkan kecemasan kita kepada-Nya, untuk memfokuskan pikiran pada hal-hal yang baik, dan untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan. Ketika kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, kita mengalami damai sejahtera yang melampaui segala akal dan menjaga hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Sukacita yang kita terima bukanlah hasil dari keadaan eksternal, tetapi berasal dari hubungan kita dengan Tuhan dan keyakinan bahwa Dia memegang kendali atas segala hal. Marilah kita berlatih untuk hidup sesuai dengan firman-Nya, menjaga pikiran kita dari hal-hal negatif, dan selalu mengandalkan kasih dan kuasa Tuhan yang membawa kedamaian sejati ke dalam hidup kita. Amin

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar