Bacaan Alkitab : Yohanes 1:19-28
Oleh : Pdm. Dr.(C). Fredrik Dandel, S.T, S.Th, M.Ag, M.Th.
Pendahuluan:
Saudara-saudari yang terkasih, dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus, salah satu hal yang sangat penting adalah mengenal siapa diri kita dalam Tuhan. Hal ini bukan hanya tentang mengetahui nama atau latar belakang kita, tetapi lebih mendalam tentang identitas rohani kita yang ditemukan dalam Kristus. Sebagai orang Kristen, identitas kita tidak lagi ditentukan oleh dunia atau pengakuan manusia, tetapi oleh hubungan kita dengan Tuhan dan panggilan-Nya atas hidup kita.
Kisah Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 1:19-28 ini mengajarkan kita banyak hal, terutama tentang bagaimana kita harus memahami identitas kita dalam Kristus. Yohanes sangat tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, dan hal itu memengaruhi setiap tindakannya. Ia tidak mencari ketenaran atau pujian untuk dirinya sendiri, melainkan fokus pada tujuan yang lebih besar, yaitu untuk mempersiapkan hati orang-orang untuk kedatangan Mesias, Yesus Kristus. Dalam perjalanan hidup kita, kita juga dipanggil untuk mengenal siapa kita dalam Kristus, untuk tidak terjebak dalam pencarian pujian dunia, dan untuk menjadi saksi yang setia bagi-Nya.
Dengan memahami identitas kita dalam Kristus, seperti Yohanes yang tahu persis peranannya dalam rencana Tuhan, kita juga diajak untuk hidup dengan tujuan yang jelas: memuliakan Tuhan dan membawa orang kepada-Nya. Marilah kita menggali lebih dalam pelajaran yang dapat kita ambil dari kesaksian Yohanes Pembaptis, untuk semakin mengerti bagaimana kita seharusnya hidup sebagai saksi Kristus yang sejati.
1. Yohanes Menyadari Identitasnya (Yohanes 1:19-23)
a. Yohanes Menegaskan Bukan Mesias
Pada
ayat 19-23, Yohanes Pembaptis dihadapkan dengan pertanyaan dari utusan-utusan
yang datang kepadanya, yang ingin tahu apakah dia adalah Mesias, Elia, atau
nabi yang diharapkan. Dalam jawabannya, Yohanes dengan tegas menegaskan bahwa
dirinya bukanlah Mesias. Meskipun banyak orang yang datang untuk dibaptis oleh
Yohanes dan berharap dia adalah Mesias, ia tidak pernah mengklaim lebih dari
apa yang seharusnya ia perankan. Yohanes mengidentifikasi dirinya sebagai
"suara yang berseru-seru di padang gurun" (Yohanes 1:23), yang
merujuk pada nubuat Yesaya 40:3, yang berbunyi, "Suara yang berseru-seru
di padang gurun: Persiapkan jalan bagi TUHAN, luruskanlah jalan bagi Allah
kita." Dengan demikian, Yohanes secara jelas mengerti bahwa peranannya
adalah untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus, bukan untuk menjadi sosok yang
disembah.
b. Kesadaran Akan Peran yang Diberikan Tuhan
Yohanes
memahami dengan baik bahwa tugas utamanya bukan untuk meraih popularitas atau
membangun citra diri, melainkan untuk mengarahkan orang-orang kepada Mesias.
Dalam Matius 3:11, Yohanes berkata, "Aku membaptis kamu dengan air sebagai
tanda pertobatan, tetapi Dia yang datang kemudian, yaitu yang lebih kuat
daripada aku, akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan api." Ia tidak
merasa perlu untuk mengklaim gelar besar, karena ia tahu bahwa perannya adalah
untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus yang lebih besar. Dalam hal ini, Yohanes
menunjukkan sikap rendah hati yang luar biasa.
Kesaksian
Yesus tentang Yohanes dalam Matius 11:11 semakin menggarisbawahi kedalaman
kesadaran Yohanes akan identitasnya. Yesus berkata, "Aku berkata kepadamu:
Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak ada yang lebih besar
daripada Yohanes Pembaptis." Ini adalah pengakuan yang luar biasa dari
Yesus tentang kesetiaan Yohanes dalam melaksanakan tugasnya. Meski Yohanes
tidak mencari popularitas atau pujian, Yesus menilai dia sebagai pribadi yang
besar karena kerendahan hati dan kesetiaannya kepada panggilan Tuhan.
Pelajaran untuk kita:
Kesadaran
Yohanes akan identitasnya mengajarkan kita untuk hidup dengan rendah hati,
tanpa mencari perhatian atau pengakuan diri, melainkan untuk memuliakan Tuhan
dalam segala hal. Sebagaimana Yohanes mengarahkan semua perhatian kepada Yesus,
kita juga dipanggil untuk menyadari peran kita dalam rencana Tuhan, menggunakan
talenta dan pengaruh yang kita miliki untuk membawa orang lebih dekat
kepada-Nya. Kita diingatkan untuk hidup dengan kerendahan hati, sebagaimana
diajarkan dalam Filipi 2:3, "Dengan rendah hati anggaplah orang lain lebih
utama dari diri sendiri."
2. Yohanes Menyaksikan Yesus yang Akan Datang (Yohanes 1:24-27)
a. Yohanes Menyaksikan Yesus yang Lebih Besar
Dalam
Yohanes 1:26-27, Yohanes dengan jelas menyatakan kepada para utusan bahwa
meskipun ia membaptis dengan air, ada yang lebih besar yang akan datang
setelahnya. Ia berkata, "Di antara kamu ada seorang yang tidak kamu kenal,
yaitu Dia yang akan datang setelah aku, yang tidak layak aku buka tali
sandal-Nya." Dengan rendah hati, Yohanes mengakui bahwa dirinya tidak
layak berada di dekat Yesus, meskipun banyak orang datang kepadanya untuk
dibaptis. Kesadaran ini menunjukkan sikap kerendahan hati yang luar biasa dari
Yohanes, yang tidak mencoba memposisikan dirinya sebagai pusat perhatian,
tetapi justru menempatkan Yesus sebagai yang utama. Yohanes memahami dengan
jelas bahwa meskipun ia memiliki peran penting dalam mempersiapkan jalan bagi
Mesias, ia hanyalah alat Tuhan yang mengarahkan orang kepada-Nya. Ini
mengajarkan kita bahwa semakin kita mengenal Kristus, semakin kita menyadari
bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus mengarah kepada-Nya, bukan untuk
kemuliaan kita sendiri.
b. Kesaksian yang Membuka Mata Orang untuk Mengenal Yesus
Selain
membaptis, Yohanes juga menyaksikan tentang kedatangan Yesus yang lebih besar.
Yohanes memahami bahwa kedatangan Yesus adalah penggenapan dari janji
keselamatan yang Tuhan berikan kepada umat-Nya. Dalam Yohanes 3:30, Yohanes
berkata, "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." Ini
menunjukkan bahwa Yohanes tidak hanya merendahkan diri, tetapi juga mengarahkan
semua perhatian kepada Yesus sebagai pusat dari keselamatan. Dalam
kesaksiannya, Yohanes menegaskan bahwa dirinya bukanlah pusat dari keselamatan,
tetapi Yesuslah yang seharusnya menjadi pusat perhatian dan pujian. Dengan cara
ini, Yohanes tidak hanya membaptis orang-orang, tetapi juga membuka mata mereka
untuk mengenal siapa Yesus yang datang untuk menyelamatkan mereka.
Pelajaran untuk kita:
Kesaksian Yohanes mengajarkan kita untuk selalu mengarahkan hidup kita kepada Kristus. Sebagai pengikut-Nya, kita bukanlah pusat perhatian atau pujian, melainkan alat yang digunakan Tuhan untuk memperkenalkan Yesus kepada dunia. Dalam kehidupan kita, apakah kita sudah hidup dengan tujuan yang sama seperti Yohanes, yaitu untuk memperkenalkan Kristus kepada orang lain dan menjadikan Dia pusat dari segala sesuatu yang kita lakukan? Sebagaimana Yohanes semakin mengecil, kita pun dipanggil untuk membiarkan Kristus semakin besar dalam hidup kita, agar melalui hidup kita orang dapat melihat kemuliaan-Nya.
3. Yohanes Menjadi Pembuka Jalan untuk Mesias (Yohanes 1:28)
a. Yohanes Membaptis sebagai Persiapan untuk Yesus
Dalam Yohanes 1:28, kita membaca bahwa Yohanes berada di Betani, di seberang sungai Yordan, tempat ia membaptis orang-orang. Baptisan yang dilakukannya bukanlah sekadar sebuah ritual, melainkan sebuah tindakan pertobatan yang bertujuan untuk mempersiapkan hati orang-orang agar siap menerima kedatangan Mesias. Sebagaimana yang tertulis dalam Matius 3:2, Yohanes menyerukan, "Bertobatlah, karena Kerajaan Surga sudah dekat!" Dengan membaptis orang-orang, Yohanes mengajak mereka untuk bersiap menerima Tuhan yang akan datang untuk menyelamatkan mereka, yaitu Yesus Kristus. Baptisan Yohanes adalah panggilan untuk pertobatan, mengarahkan orang kepada kesadaran akan kebutuhan mereka akan penyelamat yang akan datang. Ini adalah bagian dari rencana Tuhan agar umat-Nya siap untuk menerima Yesus, yang akan membawa keselamatan yang sejati.
b. Menyadari Tugas Kita Sebagai Alat Tuhan
Seperti Yohanes yang membaptis untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias, kita juga dipanggil untuk menjadi alat Tuhan yang mempersiapkan jalan bagi Kristus dalam hidup orang lain. Tugas kita tidak hanya sebatas mengajarkan atau memperkenalkan Yesus, tetapi juga untuk membantu orang lain memahami pentingnya pertobatan dan iman kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka. Dalam Lukas 3:16, Yohanes menegaskan, "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Dia yang datang setelah aku lebih berkuasa daripada aku. Aku tidak layak membuka tali sepatu-Nya; Dia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan api." Yohanes dengan rendah hati menyatakan bahwa meskipun ia memiliki peran penting dalam mempersiapkan kedatangan Yesus, ia tidak lebih besar dari Dia yang akan datang setelahnya. Kita dipanggil untuk menjalankan peran yang sama—memperkenalkan Kristus kepada dunia dan mempersiapkan hati orang untuk menerima-Nya.
Pelajaran untuk kita:
Melalui teladan Yohanes, kita diingatkan bahwa tugas kita adalah menjadi alat yang digunakan Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus. Dalam hidup kita, kita harus hidup dengan pertobatan dan kesetiaan kepada Tuhan, agar dapat membawa orang lain kepada Kristus dan mengarahkan mereka untuk menerima-Nya sebagai Juruselamat. Seperti Yohanes yang menyadari bahwa dirinya bukanlah pusat, kita pun dipanggil untuk hidup dengan tujuan yang sama: mempersiapkan jalan bagi Tuhan dalam hidup orang lain. Apakah kita sudah menjalani hidup kita dengan tujuan untuk mempersiapkan kedatangan Kristus dalam hati orang lain, sebagaimana Yohanes membimbing orang untuk menerima Yesus?
Kesimpulan:
Saudara-saudari yang terkasih, melalui kesaksian hidup Yohanes Pembaptis, kita
diajak untuk lebih dalam mengenal identitas kita dalam Kristus. Yohanes
menunjukkan kepada kita bahwa mengenal diri dalam Kristus berarti hidup dengan
kesadaran yang jelas tentang siapa kita di hadapan Tuhan, bukan untuk mencari
ketenaran atau pengakuan dunia, tetapi untuk memuliakan Tuhan dan
memperkenalkan Kristus kepada orang lain. Seperti Yohanes yang dengan rendah
hati mengarahkan semua perhatian kepada Yesus, kita pun dipanggil untuk hidup
dengan tujuan yang sama: menjadikan Kristus sebagai pusat dari segala sesuatu
dalam hidup kita.
Yohanes menunjukkan bahwa hidup kita seharusnya tidak berfokus pada diri sendiri, melainkan pada panggilan kita untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus dalam hidup orang lain. Sebagai saksi yang setia, kita harus selalu siap untuk memperkenalkan Kristus, mengarahkan orang pada pertobatan, dan membantu mereka mengenal dan menerima Yesus sebagai Juruselamat. Apakah kita sudah hidup dengan kesadaran ini, menjadi alat Tuhan untuk mempersiapkan jalan-Nya di dunia ini?
Marilah kita merenungkan dan menjadikan teladan Yohanes Pembaptis sebagai panduan dalam hidup kita, agar kita dapat mengenal diri kita dengan benar dalam Kristus, hidup dengan rendah hati, dan menjadi saksi yang setia, mempersiapkan jalan bagi kedatangan-Nya. Tuhan memberkati kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar