Sabtu, 15 Juni 2013

MEMI, Sebuah Mitos yang Bisa Berulang ?

MITOS tentang MEMI kembali mencuat di Kampung Talawid. Penyebabnya Oma Mbau Ba, penduduk setempat dikabarkan sempat menghilang di Hutan Belliang dan baru diketemukan kurang lebih dua jam yang lalu (kira-kira jam 21.00 WITA).
Informasi yang dirangkum dari berbagai sumber baik lewat kabar yang beredar di Facebook maupun Telepon Seluler menyebutkan. Wanita tua tersebut berhasil ditemukan oleh warga kedua kampung Talawid dan Mahuneni setelah melalui pencarian semenjak sore harinya. Anehnya, beliau ditemukan di bawah Kalu Nunu (pohon beringin). Kejadian ini telah membuat kepanikan yang luar biasa penduduk setempat hingga sekarang. Di setiap sudut-sudut kampung menjadi pusat berkumpulnya masyarakat membicarakan peristiwa ini.

Peristiwa menghilangnya warga dan kemudian ditemukan di Kalu Nunu, bukanlah baru kali ini terjadi di sana. Penuturan orang-orang tua dulu sering mengkaitkan hal ini dengan istilah "Niwuni Memi" yang artinya disembunyikan oleh Memi. Entahlah bagaimana wujud dari "Memi" tersebut masihlah menjadi tanda tanya. Tapi mitos ini kemudian sering dijadikan sebagai peringatan orang tua kepada anak-anak supaya tidak bermain sembunyi-sembunyi terutama di malam hari, karena takut disembunyikan oleh makluk yang satu itu di Kalu Nunu.

Rabu, 12 Juni 2013

MEMBEDAH SEJARAH TEMPOE DOELOE LEWAT LAGU TRADISIONAL MASYARAKAT SIAU (Khususnya Masyarakat di Kec. Siau Barat Selatan).


Oleh : Fredrik Dandel, ST.
Masyarakat Pulau Siau sejak jaman dahulu merupakan masyarakat yang berbudaya. Hal ini dibuktikan bukan hanya karena pulau Siau dan sekitarnya pada lebih dari 500 tahun yang lalu telah menjadi sebuah negeri yang berdaulat dengan bentuk Kerajaan Siau. Tetapi juga dapat ditemukan dari cerita tempoe doeloe yang dikisahkan secara lisan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Kisah yang diceritakan secara lisan seringkali diabadikan lewat syair-syair lagu. Umumnya syair lagu tersebut syarat dengan makna sejarah atau peristiwa yang dialami oleh masyarakat waktu itu. Seperti halnya syair dalam lagu berikut :

Nakataku si kami lima
Nikarusang u pamo
Palhiangheng e napapedi
Senggo e naghaghede

Pundalhe simbua nailang
Pundalhe simbua nailang
Pundalhe simbua nailang
Nikerea su Sawang u patung.

Lirik lagu diatas, menceritakan tentang suatu peristiwa yang menimpa lima orang yang pastinya berasal dari P. Siau. Dalam suatu perjalanan pelayaran mereka mengalami kerusakan Pamo (salah satu alat transportasi tradisional). Kerusakan tersebut rupanya amatlah hebat, sebab yang mungkin terjadi adalah karena terjangan ombak angin barat yang terkenal ganas, sehingga menyebabkan rusaknya penahan sema-sema (paliahenge napapedi), layar robek (Senggo e naghaghede) serta kehilangan dayung (pundalhe simbua nailang).
Dapat dibayangkan, ketika 3 (tiga) hal yang sangat dibutuhkan dalam pelayaran ini semuanya tak lagi berfungsi. Tentunya suatu hal yang sangat menghantui pikiran mereka, bahwa kematian akan segera menjemput, dan inilah yang sangat menakutkan mereka (Nakataku si kami lima).
Kelima orang tersebut, entah siapa dan berasal dari kampung mana ? sulitlah dipastikan identitasnya. Sekalipun ada orang tua yang mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi di dekat Tonggeng Singkaha yang terkenal sangat berbahaya. Hal ini dapatlah dipertegas dengan syair lagu berikut ini :

Batuwulang, Niambangeng,
Kiawang, Hiung, Kinali,
Lehi, Pehe, Ondong, Paniki,
Paseng, Peling, Laghaeng,

Batusenggo, Eneraha,
Talawide, Mahuneni,
Tonggeng Singkaha berbahaya,
Tonggeng Bahu Sirungang.

Dari syairnya, dapat dipastikan bahwa pencipta lagu tersebut adalah warga masyarakat Kampung Talawid / Kamp. Mahuneni Kec. Siau Barat Selatan. Penggubah lagu mengetahui benar bahwa Tonggeng Singkaha adalah sebuah tanjung yang berbahaya. Mengapa berbahaya ? Berdasarkan penuturan beberapa orang tua yang saya tanyakan, disamping peristiwa yang menimpa 5 (lima) orang dalam Pamo seperti dikisahkan di atas, umumnya mereka juga mengaminkan bahwa tonggeng singkaha itu telah menelan banyak korban, terutama di seputar daerah Batu Derendung. Terungkaplah sebuah kisah tentang satu keluarga yang sempat hilang tak tahu rimbanya tatkala mereka melewati Tonggeng Singkaha ini dalam perjalanan pengembaraan mereka. Sampai sekarang cerita / mitos ini sangat membekas di hati masyarakat Kampung Talawid dan Kampung Mahuneni, sekalipun tidak diabadikan dalam syair lagu.

Ada pula syair lagu tradisional lainnya yang berbunyi seperti demikian :

Bulude Lisung
Bongkong Baliang
Tonggene Bahu
Bawa Singkaha

I Sire Epa
Nipunialang
Mahuneni
Soang Tamawala

Dalam lagu ini, penyair yang dapat dipastikan adalah masyarakat Kampung Mahuneni Kec. Siau Barat Selatan mencoba mengutarakan kecintaannya kepada Kampung halaman dengan mengabadikan empat lokasi sebagai penanda Kampung Mahuneni yakni : 1. Bulude Lisung, 2. Bongkong Baliang, 3. Tonggeng Bahu, serta 4. Tonggeng Singkaha.

Bersambung ................................

MARS KORPRI

Lagu Mars KORPRI ditetapkan berdasarkan Keputusan Musyawarah Nasional VI KORPRI Nomor Kep-09/MUNAS/2004 tanggal 30 Nopember 2004. Lagu Mars KORPRI masih berlaku, namun diberikan kewenangan kepada DPP KORPRI untuk menghubungi penciptanya apabila akan dilakukan penyesuaian aslinya. Berikut adalah lirik lagu Mars Korpri :

Tempo di Marcia
Con Vigore
Teks/Musik : EL Pohan

MARS KORPRI

Satukan irama langkahmu
Bersatu tekad menuju ke depan
Berjuang bahu-membahu
Memberikan tenaga tak segan

Membangun negara yang jaya
Membina bangsa besar sejahtera
Memakai akal dan daya
Membimbing membangun mengemban

Berdasar Pancasila
Dan Undang-Undang Dasar Empat Lima
Serta dipadukan oleh haluan negara
Kita maju terus

Di bawah Panji Korpri
Kita mengabdi tanpa pamrih
Di dalam naungan Tuhan Yang Maha Kuasa
Korpri maju terus

Kamis, 30 Mei 2013

BERAPA JUMLAH PEMILIH DI KEC. SIAU BARAT SELATAN ?


Oleh : Fredrik Dandel, ST.

Pertanyaan diatas, seharusnya bisa dijawab dengan pasti baik oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kab. Kepl. Sitaro, maupun oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kab. Kepl. Sitaro. Sayangnya, saya tidak punya relasi ke sana. Dan ketika mencoba mensearch diinternet tentang data dimaksud, penulis hanya mendapatkan data jumlah pemilih tetap yang ada di Kab. Kepl. Sitaro secara keseluruhan tanpa menyebutkan secara terinci per kecamatan. Menurut Ketua KPU Sitaro Sitaro Pricilya Ch. Bawole, SE. kepada SwaraManado.com pada Selasa, 02 April 2013 sebagaimana dilansir pada http://www.swaramanado-online.com/index.php/daerah/sitaro/3157-kpud-sitaro-rapat-pleno-rekapitulasi-dpt.html, mengatakan : “Sampai dengan hari ini jumlah pemilih masing-masing laki-laki sebanyak 25.981 dan perempuan 26.817, sehingga total pemilih sampai dengan saat ini adalah 52.798 pemilih, dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) 181,".

Untuk menjawab keingintahuan tetang berapa jumlah pemilih khususnya di Kec. Siau Barat Selatan, dibawah ini saya mencoba untuk menganalisanya berdasarkan Surat Suara yang didistribusikan oleh KPU Sitaro dari sumber Manado Post Edisi Kamis, 30 Mei 2013 serta mencoba membandingkannya dengan data Sensus Penduduk Tahun 2010.

SUMBER MANADO POST

Data Manado Post menulis angka sbb :
Kec. Siau Timur                    :     Surat Suara 13.176               Kotak Suara 42.
Kec. Siau Barat                     :     Surat Suara 6.486                 Kotak Suara 22.
Kec. Siau Timur Selatan       :     Surat Suara 6.113                 Kotak Suara 22.
Kec. Siau Barat Selatan        :     Surat Suara 3.490                 Kotak Suara 13.
Kec. Siau Barat Utara           :     Surat Suara 3.323                 Kotak Suara 11.
Kec. Siau Tengah                  :     Surat Suara 1.465                 Kotak Suara 6.
Kec. Tagulandang                 :     Surat Suara 9.651                 Kotak Suara 32.
Kec. Tagulandang Utara       :     Surat Suara 3.194                 Kotak Suara 12.
Kec. Tagulandang Selatan    :     Surat Suara 3.481                 Kotak Suara 12.
Kec. Biaro                            :     Surat Suara 2.670                 Kotak Suara 9.
Catatan : Untuk kotak suara menyesuaikan dengan jumlah TPS. Sedangkan surat suara sesuai dengan jumlah warga yang masuk dalam DPT dan ditambah 2,5 persen dari jumlah DPT sebagai surat suara cadangan, sebagaimana dijelaskan oleh Bung Fidel Malumbot, S.Sos (Anggota KPU Sitaro).

Dari data diatas, dapat dihitung jumlah pemilih yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kec. Siau Barat Selatan berkisar pada angka antara 3.404 jiwa dan 3.405 jiwa. (Pembulatan kebawah maupun pembulatan keatas).

DATA SENSUS PENDUDUK TAHUN 2010

Data sensus Penduduk Tahun 2010 sebagaimana diperoleh dari Buku Statistik Kec. Siau Barat Selatan 2011 mencatat bahwa, Jumlah penduduk Kec. Siau Barat Selatan adalah 4.064 jiwa yang terdiri atas 2.041  jiwa perempuan dan 2.023 jiwa laki-laki.

Dari jumlah penduduk tersebut diatas yang tercatat sebagai Pemilih di Kec. Siau Barat Selatan Tahun 2010 adalah sbb :


Desa
Penduduk
Pemilih

[1]
[2]
[3]

1.       TANAKI
585
480

2.       KAPETA
699
574

3.       TALAWID
681
521

4.       MAHUNENI
640
493

5.       BATUSENGGO
568
450

6.       LAGHAENG
534
422

7.       MAKOA
357
250

Jumlah
4,064
3.190






Sumber  : Kantor Camat Siau Barat Selatan dan SP 2010

KESIMPULAN :

Dari kedua sumber di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan sbb :
1.       Jumlah Pemilih di Kec. Siau Barat Selatan mencapai angka 3.405 jiwa.
2.   Bahwa jumlah pemilih di wilayah Kec. Siau Barat Selatan telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan data Sensus Penduduk Tahun 2010. Analisis peningkatan jumlah pemilih tersebut diasumsikan disebabkan oleh 2 (dua) faktor sbb : 1). Meningkatnya jumlah pemilih pemula, atau dengan kata lain bertambahnya jumlah penduduk yang telah mencapai usia 17 Tahun pada Tahun 2013, 2). Ketambahan jumlah Penduduk yang disebabkan oleh kepindahan penduduk dari tempat lain dan masuk ke wilayah Kec. Siau Barat Selatan.
3.     Kecamatan Siau Barat Selatan merupakan Kecamatan dengan jumlah pemilih terbesar ke 4 (empat) untuk Pulau Siau, dan jumlah pemilih terbesar ke 5 (lima) di seluruh Kab. Kepl. Sitaro.

Jumat, 19 April 2013

LITOLOGI / BATUAN DAERAH KOTA BITUNG


Ditulis kembali dari buku : Pertambangan dan Geologi Kota Bitung, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Bitung, 2010.

Secara umum Daerah Bitung dan sekitarnya disusun oleh batuan volkanik yang berumur Kuarter (Qv) yang terdiri atas lava, bom, lapili dan abu yang sebagian kecil ditutupi oleh endapan (Qs) yang terdiri atas pasir lanau, konglomerat dan lempung napalan (EFENDI, 1976).
Berdasarkan pemetaan geologi permukaan dan pendugaan reseistivitas bawah permukaan, maka daerah Bitung umumnya disusun oleh batuan  volkanik dan volkaniklastik yang sebagian ditutupi oleh endapan permukaan. Batuan-batuan ini dapat dikelompokan berdasarkan ciri litologinya kedalam 5 satuan :
1.      Satuan tufa-breksi
2.      Satuan lava
3.      Satuan tefra
4.      Satuan aluvium sungai
5.      Satuan aluvium pantai.

1.   Satuan Tufa-Breksi

Satuan tufa-breksi terdiri atas lava andesit, tufakasar-halus, tufa lapili berbatuapung, breksi tufa lapili dan breksi. Pengelompokan batuan-batuan ini dalam keadaan satu satuan didasarkan pada kesatuan ciri litologi yang menunjukkan satu sumber dan proses pembentukan berupa kesamaan komposisi mineral dan kelanjutan tatanan litologinya.

Satuan tufa-breksi merupakan batuan terluas penyebarannya meliputi sebagian besar daerah selidikan. Sebaran ini di bagian barat hingga kearah utara hingga membentuk morfologi pebukitan, dan bagian tengah membentuk morfologi kerucut gunung api Duasudara, sedangkan bagian selatan hingga ke arah timur umumnya membentuk morfologi bergelombang dan pegunungan serta sebagian membentuk daratan.

Batuan-batuan penyusunnya umumnya tersingkap di permukaan secara alami pada tebing alur sungai dan pantai, sebagian lagi disingkap melalui penggalian untuk pembuatan sumur gali dan penambangan bahan galian serta pemotongan punggungan bukit untuk pembuatan ruas jalan, sedangkan batuan penyusun yang berada jauh dipermukaan dilakukan melalui pendugaan resistivitas di atas permukaan dan pendugaan potensial diri dapa lubang bor dalam

Batuan lava andesit basaltis merupakan batuan beku ekstrusif di daerah ini yang merupakan pencerminan jenis magma asalnya. Singkapannya sulit dijumpai di dalam satuan tufa breksi ini, kecuali singkapan lava di sepanjang pantai utara sekitar kaki lereng G. Tangkoko-Batuangus yang dikelompokan kedalam satuan batuan tersendiri, karena memiliki sebaran yang cukup luas disekitar kerucut G. Tangkoko.

Singkapan lava andesit penyusun satuan tuva – breksi ini hanya dijumpai di hulu K. Danowudu yang keberadaannya didukung oleh dugaan resitivitas dari atas permukaan di sekitar Danowudo (GBT 1) yang menunjukkan adanya batuan jenis ini  pada kedalaman 14-30 meter di bawah permukaan tanah setempat (bmt). Sedangkan disekitar Pinokalan (GBT 5) mulai dijumpai pada kedalaman 32 meter (bmt) dengan nilai resistivitas yang tertinggi 10.000 Ohm.m. Korelasi kedua titik duga tersebut menguak adanya retas batuan ini di antara batuan piroklastik yang dicirikan oleh adanya kesinambungan litilogi bearah utara – selatan pada kedalaman tersebut. Namun ada gejala keidaksinambungan ke arah timur dengan tidak dijumpai lava pada kedalaman tersebut pada titik duga yang berdekatan (GBT 2). Hal ini ditunjukkan oleh penurunan harga resistivitas (2.550 Ohm.m) yang ditafsir sebagai lapisan breksi pada kedalaman sekitar itu (13 – 55 bmt). Sedangkan titik duga lainnya tidak menunjukkan adanya jenis batuan ini, sehingga retas andesit ini ditafsir sebagai lidah lava yang menjulur dari arah barat hingga berakhir disekitar Danowudu dan Pinokalan.
Petunjuk lain tentang keberadaan batuan lava didapatkan dari logging sumur bor disekitar Madidir Weru (SP 1) yang menujukkan adanya lava andesit mulai pada kedalaman 55 meter hingga kedalaman maksimum pemboran 60 m dengan nilai potensial diri 60 mV. Belum dapat ditafsir hubungan antara lava andesit disekitar Madidir Weru ini dengan lava andesit yang ada disekitar Danowudu-Pinokalan, sebab kedalaman maksimum titik duga resistivitas disekitar tersebut baru mencapai kedalaman maksimum 47 m dengan resistivitas 300 yang ditafsirkan sebagai breksi disekitar Wangurer Atas (GBT 9). Sedangkan titik duga yang lebih dalam lagi tidak menunjukkan adanya jenis batuan tersebut, seperti yang tampak pada titik duga disekitar Girian Atas (GBT 7 dan 8) yang mencapai kedalaman 65 – 110 m bmt dan disekitar Manembo-nembo (GBT 13) yang mencapai kedalaman 87 m bmt yang hanya memberikan nilai resistivitas 26 – 45 Ohm.m yang ditafsir tufa kasar – lapili.

Sedangkan lava andesit penyusun satuan tersebut yang dijumpai ditebing barat lembah alur K. Danowudu memperlihatkan struktur blok atau aa-lava yang dibatasi oleh bidang-bidang rekahan berjarak 1 – 2 m yang sebagian memancarkan air tanah sebagai mata air. Singkapan lain dapat dijumpai di hulu K. Kayuwale Kecil sekitar Pinasungkulan yang diduga merupakan kelanjutan dari lidah lava yang tersingkap di Danowudu tersebut. Singkapannya umumnya masih segar dengan warna abu-abu gelap sebagai cerminan dari kandungan mineral umumnya plagioklas dan piroksen sebagai fenokris berukuran halus – sedang (< 3 mm) yang tertanam dalam masa dasar afanitis dalam kemasan tekstur porfiritis dan struktur masif. Sebagian melapuk ringan sampai sedang membentuk tanah regolit pasiran hingga sedikit lempungan dengan warna abu-abu kecoklatan sebagai cermin dari oksidasi kandungan mineral mafiknya.

Sedangkan tufa breksi sebagai batuan utama penyusun satuan tufa-breksi umumnya dapat dijumpai disebagian besar daerah selidikan, singkapan paling luas dapat dijumpai mulai dari potongang punggungan bukit untuk ruas jalan disekitar Madidir hingga daratan abrasif Winenet, bandingkan dengan lava andesitis hanya tersingkap di hulu K. Danowudu dan K. Kayuwale Kecil. Ciri singkapan menunjukkan perselingan batuan volkaniklastik halus dan kasar yang berlapis tipis hingga masif. Sedangkan pola sebarannya menunjukkan dominasi breksi tufa lapili disekitar Danowudu hingga Batupi\utih, tufa kasar – lapili. Batuapung di Tandurusa hingga Makawidey. Pola sebaran permukaan ini didukung oleh pola sebaran bawah permukaan dari dugaan resistivitas yang menunjukkan adanya dominasi breksi tufa lapili berbatuapung disekitar Pinokalan hingga Manembo-nembo, dominasi breksi disekitar Girian Weru hingga Pinangunian dan didominasi tufa halus kasar berbatuapung disekitar Girian hingga Aertembaga.

Singkapan tufa – breksi memperllihatkan struktur berlapis tipis hingga masif volkanikklastik halus yang berukuran abu (< 4 mm) dan volkanikklastik kasar berukuran lapili - blok (4 – 250 mm). Batuan-batuan ini dalam keadaan segar berwarna abu-abu terang hingga gelap sebagai cerminan kandungan mineral andesistis yang umumnya berupa felspar, hornblenda dan piroksen dalam bentuk pecahan kristal maupun kepingan gelas dan batuan. Lapikan sempurnanya membentuk lapisan tipis tanah andosol yang berwarnas coklat kekuningan hingga kemerahan sebagai tanah lempung lateritis yang meliputi hampir seluruh permulaan batuan. Setempat dijumpai ubahan hidrotermal berupa lempungan kaolin yang berwarna putih yang dijumpai dipotongan kaki lereng bukit sekitar Pinasungkulan.

Tufa halus dan kasar masing-masing disusun oleh pecahan kristal felspar dan piroksen yang berbentuk menyudut dan berukuran abu halus (< 0,06 mm) dan abu kasar (0,06 – 4 mm).) Butiran kristalnya tersebar merata di dalam gelas volkanik dengan kemasan tekstur klastik halus yang terpilah baik. Kehadiran fragmen batuan andesit balatis berwarna abu-abu gelap dan batuapung berwarna abu-abu terang dan berstruktur vesikular yang berukuran lapili ( 64 mm) dalam jumlah yang cukup banyak (60 %) di dalam kemasan batuan tufa ini menyebabkan pilahan butirannya memburuk dan membentuk tufa lapili. Fragmen batuapung menunjukkan struktur bersusun terbalik, sedangkan batuan andesit bersusun normal akibat mekanisme jatuhan material piroklastik eksplosif.

Breksi tufa lapili merupakan tufa lapili dengan kandungan yang proporsional (30 – 60 %) antara fragmen berukuran lapili (< 64 mm) dan blok (> 64 mm), lebih dari 60 % fragmen berukuran blok akan membentuk breksi. Didalan jenis batuan tufa lapili dan breksi ini tampak adanya pergeseran kelimpahan kandungan antara fragmen batuan andesit balastis. Kadang-kadang fragmen batuan andesit balastis menunjukkan gejala terelaskan yang menunjukkan adanya aliran mineral oleh gas panas seperti kenampakan breksi yang dijumpai disekitar Tandurusa. Sedangkan disekitar Makawidey dijumpai adanya breksi laharik yang dicirikan oleh kandungan fragmen batuan seperti adanya fragmen tufa yang membundar yang menyebar tidak merata di dalam matriks limpur tufaan di dalam kemaan terbuka dan pilahan buruk aliran material oleh air permukaan.

2.   Satuan Lava Andesit

Satuan lava andesit terdiri atas lava andesit dan breksi autoklasik. Pengelompokan batuan-batuan ini kedalam satu satuan didasarkan pada kesatuan ciri litologi yang menunjukkan satua sumber dan proses pembentukan berupa kesamaan komposisi mineral dan kelanjutan tatanan litoliginya yang berbeda dengan batuan volkanik dan volkanilistik  yang menyusun satuan tufa-breksi. Jika pada satuan tufa-breksi yang lebih dominan adala batuan volkanikklastik, maka pada satuan lava ini yang lebih dominan adalah batuan volkaniknya.

Dominasi batuan volkanik efusif tersebut berkaitan erat dengan aktivitas G. Tongkoko dan Batuangus yang umumnya melelhkan lava selama perioda  keaktifannya. Satuan lava andesit tersebar mulai dari puncak kerucut G. Tangkoko dan kerucut parasitnya G. Batuangus hingga ke kaki-kaki lerengnya membentuk morfologi kerucut volkanik G. Tangkoko dan dataran lava Tg. Batuangus. Batuan-batuan penyusunnya umumnya tersingkap dipermukaan secara alami sepanjang tebing pantai.

Singkapan lava andesit penyusun satuan tersebut yang dijumpau disepanjang tebing pantai utara – timur kaki lereng kerucut G. Tangkoko memperlihatkan struktur masif dan blok atau aa-lava yang dibatasi oleh bidang-bidang rekahan berjarak 1 – 2 m. Singkapan batuan ini umumnya masih segar dengan warna abu-abu gelap sebagai cerminan dari kandungan mineral umunya plagioklas dan piroksen sebagai fenokris berukuran halus – sedang (< 3 mm) yang tertanam dalam masa dasar afanitis dalam kemasan tekstur porfiritis dan strutuk masif, kadang-kadang memperlihatkan struktur aliran oleh kesejajaran fenokrisnya. Sebagian melapuk ringan sampai sedang membentuk tanah regolit pasiran hingga sedikit lempungan dengan warna abu-abu kecoklatan sebagai cerminan dari oksidasi kandungan mineral mafiknya. Pelapukan terutama tampak pada permukaan batuan dan bidang rekahannya.

Leleran lava andesit tersebut menindih batuan klastika kasar yang berfragmen blok-blok  batuan sejenis yaitu andesit dan tertanam didalam matriks tufa litik dari batuan sejenis. Karakteristik menunjukkan adanya breksiasi dari lava andesit oleh aliran mineral akibat hembusan gas vulkanis eksplosif membentuk breksi aliran autoklastik.


3.   Satuan tefra

Satuan tefra merupakan endapan jatuhan piroklastik yang belum terkonsolidasi membentuk batuan, namun masih bersifat urai atau lepas. Pengelompokkan material batuan ini kedalam satu satuan didasarkan ciri litologis yang berbeda dengan ciri litologi material batuan sebelumnya yang telah terkonsolidasi.

Endapan tefra tersebut terdiri atas material volkanis eksplosif berkomposisi andesit basalis yang berwarna abu-abu gelap kehitaman, berukuran abu hingga lapili (< 25 mm) dan berbentuk menyudut. Terendapkan dalam struktur bersusun normal di dalam kemasan yang terpilah sedang – buruk atau bergradasi baik. Sumur uji tempat pemercontoan tanah tak-terganggu (TBT 1) menunjukkan perulangan struktur susunan normal tersebut yang dibatasi oleh bidang batas lapukan berupa pasir lempungan lateritis. Ciri litologi ini menunjukkan perulangan perioda  pengendapannya, sehingga dapa ditafsirkan paling sedikit terjadi empat kali pengendapan letakan bawah udara material piroklastik eksplosif. Ekslposifitas sumber material tefra ini cukup kuat, sehingga materialnya menutupi hampir seluruh daerah Bitung dan sekitarnya dengan ketebatan yang bervariasi sesuai bentanglahan asal tempat pengendapannya, sedangkan pola sebarannya dipengaruhi oleh kedudukan relatif pusat erupsi terhadap arah tiupan angin.

Hasil pemataan geologi permukaan dan pendugaan bawah permukaan melalui bentangan resistivitas, uji penetrasi konus dan sumuran menunjukkan bahwa material tefra umumnya menyebar di bagian barat daerah selidikan yang menunjukkan bahwa angin yang melalui pusat erupsi G. Tangkoko dan Duasudara dan membawaserta materialnya berhembus dari arah timur. Ketebalan maksimum (7,60 m) dijumpai disekitar Danowudu (SBT 3) yang merupakan bentanglahan lembah K. Girian antar kerucut volkanis G. Klabat dan Duasudara yang bertindak sebagai cekungan pengendapan.
 
4.   Satuan Aluvium Sungai 

Satuan aluvium sungap merupakan endapan aliran epiklasik yang sebagian telah terkonsolidasi lemah dan sebagian lagi masih terurai lepas-lepas. Pengelompokkan material batuan ini kedalam satu satuan didasarkan pada ciri lilologis yang berbeda dengan ciri litologi material batuan sebelumnya yang telah terkonsolidasi kuat membentuk batuan.

Endapan tersebut terdiri atas material epiklastik berukuran bongkahan hingga pasir dari berbagai batuan asal seperti andesit, breksi dan tufa hasil erosi dan transportasi aliran air sungai yang diendapkan disekitar tepian alur sungai. Bentuk material umumnya telah membudar akibat abrasi selama transportasi dan terendapkan dalam pilahan baik. Material kasar relatif terendapkan lebih dahulu dibandingkan dengan material halus, baik secara laretal maupun vertikal. Secara lateral dicirikan oleh endapan bongkahan dibagian hulu sungai dan pasir dibagian hilirnya, sedangkan sevara vertikal dicirikan oleh struktur bersusun normal.

Oleh karena proses pembentukannya dipengaruh oleh aliran air sungai, maka sebarannya berada di sekitar lembah beraliran sungai yaitu di lembah K. Girian dan K. Batuputih. Ketebalan dan sebarannya dipengaruhi oleh kekuatan aliran sungai dan bentanglahan lembah. Kekuatan aliran tergantung pada volume air dan gradien alur, makin besar kedua faktor tersebut, maka makin kuat alirannya. Volume air akan meningkat pada musim penghujan, sedangkan gradien membesar ke arah hulu, maka kekuatan aliran maksimum berada pada kondisi tersebut, sehingga erosi terjadi di zona ini. Secara berangsur ke arah hilir kekuatan aliran yang membawa material erosif melelmah akibat pengecilan gradien alur, sehingga terjadi pengendapan di zona ini. Hasil pemetaan geologi permukaan  dan pendugaan bawah permukaan melalui bentangan resistivitas (BP 1 – 4) menunjukkan bahwa ketebalan aluvium disekita Batuputih mencapai 40 m.

5.   Satuan Aluvium Pantai.

Satuan aluvium pantai merupakan endapan arus dan gelombang pantai di zona pasang surut. Umumnya berkomposisi epiklastik darat yang berukuran pasir hingga lempung, kadang-kadang lumpur yang masih bersifat urai atau lepas-lepas. Pengelompokan material batuan ini kedalam satu satuan didasarkan pada ciri litologis yang berbeda dengan ciri lotologi material batuan sebelumnya yang sebagian telah terkonsolidasi lemah dan mengandung material berukuran bongkah. 

Endapan tersebut terdiri atas material epiklastik berukuran pasir hingga lanau, setempat lempungan organis dan lumpuran sebagai endapan rawa pantai. Bentuk material selain telah sangat membundar, juga terpilah sagat bail oleh gelombang dan terjangan arus alaut pasang. Pengendapan terjadi pada saat surut akibat penurunan kekuatan arus dan gelombang membentuk endapan gumuk pantai membusur disekitar muara K. Girian dan K. Batuputih.