Kamis, 12 Maret 2026

Dari Koin ke Kenangan Masa Kecil : Secuil Cerita dari Pantai Talawid



Suatu Sore pada 2 hari yang lalu, atau tepatnya Selasa, 10 Maret 2026, ketika saya hendak mandi di pantai Talawid, saya menemukan sebuah koin 25 rupiah yang terselip di celah batu-batuan di dasar laut. Koin kecil itu mungkin sudah lama berada di sana, digerus air laut dan waktu, sebelum saya bersihkan, warnanya terlihat kehijauan terkontaminasi dengan lumut dan sejenisnya. Saat saya mengambilnya dan memandangnya, seketika kenangan masa kecil terasa kembali hidup dalam ingatan.

Pada zaman kami masih kecil, uang 25 rupiah bukanlah sesuatu yang sepele. Nilainya sangat berarti bagi anak-anak seperti kami. Dengan satu koin kecil itu, kami sudah bisa membayar ongkos menonton televisi hitam putih sampai lima kali pada hari Minggu. Di masa itu, belum semua rumah memiliki televisi, sehingga kami biasanya berkumpul di rumah tetangga yang memilikinya, duduk berdesakan dengan teman-teman sebaya, menikmati acara dengan penuh kegembiraan.

Film yang paling sering kami tunggu adalah film Land of the Giants, yang oleh kami dulu disebut sebagai “film raksasa”, atau film Little House on the Prairie yang kami kenal sebagai “film Melly”. Biasanya film-film itu diputar setelah kami selesai makan siang pada hari Minggu yang cerah dan damai. Rasanya begitu sederhana, tetapi juga begitu membahagiakan.

Kini, koin 25 rupiah itu mungkin sudah tidak lagi bernilai secara ekonomi. Namun bagi saya, koin kecil yang ditemukan di antara batu-batu pantai itu adalah pengingat akan masa kecil yang penuh kehangatan, kebersamaan, dan kesederhanaan. Betapa indahnya masa itu—masa ketika kebahagiaan bisa lahir dari hal-hal kecil yang sederhana.

Menariknya, jika diperhatikan lebih dekat, pada koin tersebut tertera tahun pembuatan 1971. Artinya, hingga tahun ini koin itu telah berusia sekitar 55 tahun. Berdasarkan usianya yang telah melampaui setengah abad, benda kecil ini bahkan dapat dipandang sebagai bagian dari benda bersejarah yang memiliki nilai budaya. Dalam pengertian tertentu, koin tersebut dapat termasuk dalam kategori benda cagar budaya, karena usianya yang tua serta kemampuannya merekam jejak kehidupan dan memori sosial pada zamannya. Dengan demikian, koin kecil yang ditemukan di sela batu pantai itu bukan sekadar uang lama, tetapi juga saksi bisu perjalanan waktu dan kenangan masa lalu.

Selasa, 10 Maret 2026

Refleksi Empat Bulan Setelah Penurunan Jabatan




Empat bulan telah berlalu sejak saya meninggalkan kursi Sekretaris Badan dan menjalani amanah baru sebagai Kepala Bidang. Waktu berjalan perlahan namun pasti, seperti aliran sungai yang membawa seseorang melewati berbagai tikungan kehidupan. Dalam perjalanan waktu itu, saya banyak merenung tentang pekerjaan, pengabdian, dan makna keadilan dalam kehidupan seorang aparatur negara yang sekaligus adalah seorang pelayan Tuhan.

Selama menjalankan tugas sebagai Sekretaris Badan, saya berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya. Berbagai dokumen penting organisasi telah diselesaikan dengan penuh tanggung jawab: LKPJ, LAKIP, RANWAL, RENSTRA, Rencana Aksi, Rencana Kerja, Perjanjian Kinerja, serta berbagai dokumen strategis lainnya. Pekerjaan itu bukan sekadar urusan administratif, tetapi bagian dari sistem yang memastikan bahwa pemerintahan berjalan tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan dalam pekerjaan yang sering tidak terlihat, seperti penginputan dan pengelolaan data di SIPD, saya tetap berusaha melakukannya dengan teliti dan sungguh-sungguh.

Bagi saya, bekerja bukan hanya soal menyelesaikan tugas jabatan. Bekerja adalah bagian dari iman. Firman Tuhan mengajarkan, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Prinsip inilah yang selalu saya pegang, baik ketika saya berdiri di mimbar sebagai gembala jemaat maupun ketika saya duduk di meja kerja sebagai aparatur pemerintah. Saya percaya bahwa integritas dalam pekerjaan adalah kesaksian iman yang nyata.

Karena itu, ketika keputusan penurunan jabatan datang, muncul pertanyaan sederhana namun jujur dalam hati saya: jika selama ini pekerjaan itu telah saya lakukan dengan baik, mengapa saya harus diturunkan dari jabatan tersebut? Pertanyaan ini bukan lahir dari keinginan untuk mempersoalkan otoritas siapa pun, melainkan dari kerinduan akan sebuah keadilan yang wajar, bahwa kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh semestinya dinilai secara objektif.

Refleksi ini bahkan semakin terasa ketika dalam beberapa waktu terakhir saya kembali diminta untuk membantu menyelesaikan pekerjaan yang dahulu menjadi tanggung jawab saya sebagai Sekretaris Badan. Ketika muncul kendala dalam penyusunan dokumen atau penginputan sistem, saya kembali diminta untuk menyelesaikannya. Di satu sisi saya tidak lagi berada pada jabatan tersebut, tetapi di sisi lain kemampuan dan pengalaman yang saya miliki tetap dibutuhkan.

Situasi ini menghadirkan sebuah ironi yang sulit untuk tidak direnungkan. Seolah-olah pekerjaan yang dahulu saya lakukan tetap diakui kualitasnya, tetapi posisi yang dahulu melekat pada pekerjaan itu tidak lagi diberikan kepada saya. Bagi hati yang mencoba memahami keadaan, ini terasa seperti sebuah kisah yang belum sepenuhnya menemukan penjelasan yang utuh.

Namun sebagai seorang yang juga melayani sebagai gembala jemaat, saya belajar bahwa hidup tidak selalu menjawab semua pertanyaan kita dengan segera. Ada kalanya Tuhan mengizinkan seseorang melewati jalan yang tidak sepenuhnya dipahami. Dalam iman, kita diajar untuk tetap setia menjalani panggilan kita. Firman Tuhan berkata, “Siapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar ” (Lukas 16:10). Kesetiaan itulah yang terus saya pegang.

Karena itu hari ini saya memilih untuk tetap melangkah dengan hati yang tenang. Jabatan boleh berubah, tetapi komitmen untuk bekerja dengan baik tidak boleh berubah. Baik sebagai Kepala Bidang dalam tugas pemerintahan maupun sebagai gembala dalam pelayanan gereja, saya percaya bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang benar adalah ibadah kepada Tuhan.

Empat bulan ini telah menjadi masa perenungan yang dalam bagi saya. Saya belajar bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari jabatan yang kita pegang, tetapi dari kesetiaan kita menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita. Mungkin tidak semua usaha langsung dihargai, dan mungkin tidak semua keputusan terasa adil bagi manusia. Namun saya percaya bahwa Tuhan melihat setiap kerja yang dilakukan dengan jujur.

Pada akhirnya, waktu akan menjadi saksi bahwa seseorang pernah bekerja dengan sungguh-sungguh, pernah mengabdi dengan setia, dan tetap berdiri teguh dalam iman, baik ketika berada pada posisi yang tinggi maupun ketika ditempatkan pada posisi yang lebih rendah. Karena bagi saya, pekerjaan adalah panggilan, pengabdian adalah kesaksian, dan kesetiaan adalah bagian dari iman.