Rabu, 12 September 2012

Menara Eiffel di Kota Bitung Prov. Sulawesi Utara.

Oleh : Fredrik Dandel, ST.


Menara Eiffel dengan Latar Belakang Gereja Centrum.
Merupakan replika dari Menara Eiffel yang ada di Kota Paris – Prancis. Sebutan lain dari menara ini adalah Menara BRI, sebuah Bank (BRI) terletak dipersimpangan di sebelah Selatan Menara. Disebut juga sebagai Menara Kota Bitung, tulisan BITUNG berada tepat di persimpangan sebelah Selatan, di depan Bank BRI.

Didirikan sejak akhir Tahun 1980-an berdasarkan ide dari salah seorang Walikota Bitung yang dimasa mudanya sempat mengenyam pendidikan di Paris - Prancis, menara dengan ketinggian kurang lebih 30 meter ini berdiri kokoh di tengah kota Bitung tepatnya di Jalan Sam Ratulangi – Bitung. 
Di ujung menara dipasang jangkar kapal yang menggambarkan Bitung sebagai Kota Pelabuhan dan Kota Bahari. 

Suasana di Pusat Kota Bitung.
Beberapa Bangunan penting yang mengitari sekeliling Menara ini adalah : Rumah Sakit Angkatan Laut dan Gereja GMIM Centrum Kota Bitung di Sebelah Utara,  sedangkan disebelah Selatan adalah Bank BRI Cabang Bitung. Menara ini  juga berada tidak jauh dari Kantor Walikota Bitung serta Pasar di Pusat Kota Bitung.

Cara Mencapai Lokasi :
 
Dari Kota Manado : 
Dari Bandara Sam Ratulangi Manado, anda dapat menumpang taxi langsung menuju ke Kota Bitung, dipastikan sopir taxi yang ada disana mengetahui tentang keberadaan menara ini. 
Jika anda menumpang angkutan umum, anda harus melalui terminal Paal 2 di Manado, naik Bus jurusan Bitung dengan tarif Rp. 7.500,- anda akan diantar sampai ke Terminal Tangkoko - Bitung, selanjutnya dari Terminal Tangkoko anda dapat menumpang angkot ke pusat kota Bitung dengan tarif Rp. 2.500,-. Beritahukan kepada sopir bahwa anda akan turun di Menara BRI atau dekat Rumah Sakit Angkatan Laut. 

Dari Pelabuhan Bitung : 
Alat Transportasi di Kota Bitung.
Anda dapat menumpang ojek dengan membayar tarif Rp. 5.000,-. Atau naik angkot dengan tarif Rp. 2.500,-. Jarak dari Pelabuhan Bitung ke menara ini kurang lebih 300 meter. 
Atau jika anda mau bersabar ........... anda dapat menumpang Bendi (alat trasportasi yang ditarik dengan Kuda) transportasi yang satu ini hanya dapat ditemui di negeri Nyiur Melambai .................. pasti menyenangkan ................. !!!
 

Menara, Patung dan Monumen di Kota Bitung, Prov. Sulawesi Utara

Koleksi Foto : Fredrik Dandel, ST.
 
1. Menara Eiffel.
Menara Eiffel dengan Latar Belakang Gereja Centrum.
Patung Ikan.

3. Monumen Dr. J.P. Risal.
Monumen Dr. J.P. Risal.


4. Patung Dotu/Opo Xaverius Dotulong.

Patung Dotu/Opo Xaverius Dotulong.

 5. Tugu KB Mandiri.
 
Tugu Keluarga Berencana Mandiri.

6. Monumen Pahlawan Samudera.
 
Monumen Pahlawan Samudera.
7. Monumen J. Runtukahu & J. Pusung di Girian.

U Seke Ne Tuama Waranei Um Banua R. Runtukahu dan J. Pusung.

8. Patung Ikan di Kantor Walikota Bitung.

Patung Ikan Hiu dan Ikan Tuna, Lokasi Kantor Walikota Bitung.

Rabu, 29 Agustus 2012

BATU DERENDUNG (Potensi Wisata Kampung Mahuneni, Kec. Siau Barat Selatan, Kab. Sitaro, Prov. Sulut)


Oleh : Fredrik Dandel, ST.
Batu Derendung, nampak dari arah Singkaha.
Kampung Mahuneni Kec. Siau Barat Selatan, Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro, Prov. Sulawesi Utara menyimpan banyak potensi wisata, baik wisata alam maupun wisata sejarah yang belum dioptimalkan dengan baik. Salah satu potensi wisata alam / pantai yang terdapat di Kampung Mahuneni adalah Batu Derendung.

Batu Derendung merupakan endapan dari batuan breksi lava yang membujur panjang ke arah laut membentuk delta yang bagian permukaannya agak runcing yang kalau dicermati dengan saksama mirip stupa pada sebuah candi. Bedanya, stupa pada candi merupakan buatan tangan manusia, stupa pada batu derendung adalah asli buatan alam. Batuan erupsi gunungapi yang membeku menyusul pukulan ombak selama beratus bahkan mungkin ribuan tahun lalu telah mengukir relief-relief indah yang menambah keelokan batu Derendung. 
Relief Batu Derendung, nampak bak stupa.

Entah siapa yang lebih dahulu menamai Batu Derendung, yang jelas bahwa Batu ini disebutkan sebagai Batu Derendung, karena dipercayai batu ini sebagai dinding (derendung) yang berfungsi untuk membentengi / melindungi kampung dari hempasan ombak baik ombak angin tenggara (Timuhe) maupun ombak angin barat (Bahe) yang terkenal ganas menghantam wilayah ini. Ada juga yang mengatakan bahwa batu ini merupakan dinding pembatas (derendung) antara Dusun Singkaha dengan Dusun Talawid Tua.
 
Kerikil Putih mengitari perjalanan ke Batu Derendung.
Untuk mencapai lokasi di Batu Derendung dapat ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 200 meter menyusuri pesisir pantai Singkaha ke arah barat laut. Disepanjang perjalanan ini, kita disuguhkan dengan keelokan pesisir pantai dengan kerikil putih yang terhampar menawan hampir di setiap sudut-sudut pantai. Memang ketika air laut sedang naik, perjalanan lewat pantai ini tidak dapat ditempuh. Salah satu alternatif yang ditawarkan adalah dari Tambung ke arah Selatan menuju tepi pantai, melewati SMP dan SMK Negeri Talawid. Dapat pula dirintis jalan dari Kantor Camat Siau Barat Selatan, mendaki perbukitan Tambung. Sayangnya jalan ini masih sulit untuk dilalui, karena memang belum pernah dikelolah. Ketika mencoba untuk mensurvei jalan ini, penulis teringat perjalanan menuju wisata pantai Pintu Kota yang menjadi icon Kota Ambon. Bedanya objek wisata Pintu Kota telah dioptimalkan dengan baik oleh pemerintah setempat.

Rabu, 01 Agustus 2012

VILLA PARENGKUAN (Salah Satu Situs Bersejarah Peninggalan Kerajaan Siau yang Terabaikan).


Oleh : Fredrik Dandel, ST.

Disebut dengan nama Villa Parengkuan, karena dibangun oleh Raja Parengkuan. Raja Frans P. Parengkuan adalah salah seorang raja yang pernah memerintah Kerajaan Siau, sekitar Tahun 1937 s/d 1945. Yang mulia raja yang berasal dari Minahasa (Keresidenan Manado) ini merupakan raja terakhir Kerajaan Siau yang diangkat oleh Pemerintah Belanda menggantikan Raja Hendrik Yanis (1934 – 1937). Kerajaan Siau (sekarang merupakan bagian dari Kab. Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Prov. Sulawesi Utara), merupakan salah satu kerajaan yang sempat eksis di nusantara, didirikan oleh Raja Lokongbanua sejak 500 tahun yang lalu. Keberadaannya dibuktikan dengan berbagai-bagai tulisan kuno serta situs bersejarah yang dapat ditemukan di daerah ini. Salah satu situs sejarah yang ada disamping beberapa makam raja-raja adalah Villa Parengkuan.


Villa Parengkuan berada pada lokasi yang tidak jauh dari Danau Kapeta. Danau yang merupakan satu-satunya danau yang berada di P. Siau ini, dapat dicapai melalui M’burake, Kampung Talawid, Kec. Siau Barat Selatan sejauh lebih dari 1100 meter ke sebelah Timur Laut.  Villa Parengkuan berada kurang lebih 100 meter di sebelah Utara Danau Kapeta, setelah mendaki perbukitan dengan kemiringan lereng 30o. Diperkirakan Villa Parengkuan merupakan tempat peristirahatan sang Raja yang gemar berkuda ini, dalam melepaskan kepenatannya setelah seharian mengawasi proyek pengerjaan jalan yang menghubungkan Ulu dan Kampung Talawid, Kec. Siau Barat Selatan.

Sayangnya salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Siau ini terkesan tidak diperdulikan oleh Pemerintah setempat. Puing-puing bangunan yang roboh berserakan disekitar lokasi villa hampir tidak terlihat karena telah ditutupi oleh semak belukar. Salah seorang warga yang sempat membersihkan area di sekitar villa tersebut beberapa tahun yang lalu, mengaku sempat terkejut saat melihat sebuah bangunan yang nampak seperti goa yang dipenuhi oleh batang-batang pohon dan semak.

Kiranya dengan publikasi pendek ini, dapat menggugah banyak kalangan terutama Pemda setempat serta instansi terkait yang menangani Benda Cagar Budaya untuk dapat merunut sejarah secara lengkap serta dapat merekonstruksi / memugar bangunan bersejarah ini. Semoga ........... !!!!

Selasa, 10 Juli 2012

Kec. Lembeh Utara, Kota Bitung, Prov. Sulawesi Utara


1.         Geografis.
Kecamatan Lembeh Utara adalah merupakan bagian integral dari Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Secara geografis terletak pada posisi 1°25'52" – 1°32'58" LU dan 125°13'40" - 125°18'13" BT. Luas wilayah Kecamatan Lembeh Utara adalah 2.766,00  Ha atau setara dengan 8,82 % dari luas Kota Bitung.
Kecamatan Lembeh Utara berbatasan dengan :
  • Sebelah Utara           :       Laut Maluku
  • Sebelah Selatan        :       Kecamatan Lembeh Selatan
  • Sebelah Barat           :       Kec. Aertembaga
  • Sebelah Timur          :       Laut Maluku

Tabel 1. Luas Kecamatan Lembeh Utara Menurut Kelurahan Tahun 2009
KELURAHAN
Village
Luas (Ha)
Area
%
1
2
3
Mawali
Pintukota
Batukota
Gunung Woka
Kareko
Binuang
Motto
Nusu
Lirang
Posokan

500
300
150
186
128
132
410
446
214
300
18,08
10,85
5,42
6,72
4,63
4,77
14,82
16,12
7,74
10,85
Jumlah / Total
2.766
100,00
Sumber : Kota Bitung dalam Angka 2010

2.         Kesampaian Daerah
          Untuk mencapai lokasi di Kecamatan Lembeh Utara, dapat ditempuh dari Kota Bitung dengan menggunakan angkutan laut baik berupa Long Boat maupun dengan motor tempel. Perjalanan laut ini dapat ditempuh dengan memakan waktu ± 45 menit. Untuk mencapai titik lokasi ditempuh dengan berjalan kaki atau menyewa kendaraan roda 2 (dua). Kendaraan Roda 4 (empat) di daerah ini belum dapat ditemukan, disebabkan karena sarana jalan raya sementara dalam proses pengerjaan.

3.         Demografi.
Jumlah Penduduk Kecamatan Lembeh Utara Tahun 2009 adalah 9.613 jiwa yang terdiri dari Laki-laki 4977 Jiwa dan Perempuan 4636 Jiwa (Sumber : Kota Bitung dalam angka 2010 – hal 53), mata pencaharian penduduk umumnya adalah nelayan, petani serta beberapa diantaranya sebagai pegawai negeri sipil.

Tabel 2. Jumlah Penduduk Kecamatan Lembeh Utara Tahun 2012
KELURAHAN
Village
Jumlah KK

Jumlah Jiwa
Laki-Laki
Perempuan
1
2

3
4
Mawali
Pintukota
Batukota
Gunung Woka
Kareko
Binuang
Motto
Nusu
Lirang
Posokan
647
315
176
167
-
270
218
227
208
150
2.208
1.081
683
567
-
945
689
703
691
517
1.123
573
353
-
-
503
-
-
355
267
1.085
508
330
-
-
442
-
-
336
240
Jumlah / Total
-
-
-
-
Sumber : Data dari Kecamatan Lembeh Utara Tahun 2012
Ket : - (belum terdata).

4.         Iklim
Seperti daerah lainnya di Indonesia, di Kecamatan Lembeh Utara hanya dikenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Keadaan ini berkaitan erat dengan arus angin yang bertiup di wilayah ini. Pada bulan Oktober sampai dengan bulan April biasanya terjadi hujan. Hal ini disebabkan karena angin bertiup dari arah Barat/Barat Laut yang banyak mengandung air. Sedangkan pada bulan Juni sampai dengan bulan September biasanya terjadi musim kemarau. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh arus angin dari arah Timur yang tidak banyak mengandung air. Secara umum suhu rata-rata per bulan hasil pengukuran Stasiun Meteorologi Bitung pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : suhu terendah terjadi pada bulan April yakni 27,4OC dan tertinggi 28,5OC pada tiga bulan terakhir yaitu bulan Oktober, November dan Desember.

5.         Litologi.
Secara keseluruhan batuan penyusun Pulau Lembeh terdiri atas Batuan gunungapi tua, yang terdiri atas tufa, tufa lapili, breksi, pecahan batuapung, dan aliran lava. Umumnya bersifat andesitan sampai basalan. Sebagian dari breksi mengandung sisipan tufa batupasir, batulempung, dan lensa batugamping.


6.         Hidrogeologi.
Daerah bagian puncak digolongkan sebagai daerah airtanah langkah. Berangsur-angsur ke arah bawah di bagian kaki gunung, produktivitas akuifernya bertambah, mengingat secara alami pengisian airtanah di bagian atas gunung akan mengalir ke bagian kaki gunung. Banyaknya mataair yang terdapat di daerah tekuk lereng atau daerah peralihan antara kaki dan tubuh gunung, seperti di daerah Batukota, mendukung pernyataan tersebut di atas.