Oleh : Fredrik Dandel, ST.
(Ditulis Kembali dari https://web.facebook.com/groups/375590465825555 dan telah dimuat dalam https://kompaq.id/read/lainnya/sasahara/2020/05/23/songko-sosok-perempuan-misterius-peneror-orang-berpergian-sendiri-di-malam-hari/ ).
Jika kita mencoba melakukan pencarian di Om Google, maka yang muncul adalah gambar topi nasional Indonesia, yang lebih dikenal dengan nama kopiah. Walaupun memiliki nama yang serupa, makna kata "songko" yang digunakan oleh masyarakat Siau dan Suku Sangihe memiliki konotasi yang sangat berbeda. Songko dalam konteks ini merujuk pada sesuatu yang jauh lebih mistis, yaitu sebuah entitas yang berhubungan dengan dunia gaib: orang yang dianggap sebagai penyihir atau makhluk yang memiliki kekuatan sihir. Ini mirip dengan tokoh-tokoh seperti suanggi, taharoti, dan sebagainya.
Menurut D. Brilman dalam bukunya yang berjudul Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud yang diterbitkan oleh BPS GMIST pada tahun 1986, pada halaman 57 disebutkan bahwa songko-songko adalah wanita-wanita yang berkeliaran pada malam hari. Mereka tidak hanya menakut-nakuti orang yang tinggal sendirian, tetapi juga sering kali menimbulkan malapetaka bagi orang-orang yang sedang tidur, bahkan merampok kuburan-kuburan. Dalam pandangan masyarakat Siau, hingga kini mereka mengenali keberadaan songko melalui suara khasnya, yaitu suara "kok, kok, kok", yang sering kali diulang tiga kali dalam sekali berkokok. Jika suara ini terdengar pelan, itu menandakan bahwa songko tersebut berada cukup dekat dengan pendengar, namun jika suaranya terdengar keras atau nyaring, berarti ia berada cukup jauh.
Cerita-cerita yang disampaikan oleh orang tua zaman dahulu sering menggambarkan songko sebagai makhluk yang menyerang orang yang sedang sendirian di malam hari. Konon, ia akan menyerang dengan cara menyambar korban melalui kedua kaki dan tangannya yang ditekuk sejajar, lalu membawanya terbang di udara. Korban yang tertangkap akan dibawa terbang dan dimainkan di atas langit, dilepaskan dari ketinggian, kemudian ditangkap lagi sebelum akhirnya dibebaskan begitu saja. Dampaknya, korban yang lemah dan kelelahan akan ditinggalkan. Namun, ada cerita yang menyebutkan bahwa jika korban yang diserang memiliki kekuatan fisik dan keberanian, maka keadaan bisa berbalik, dan songko bisa saja dikalahkan dan dipermalukan. Menariknya, ketika tertangkap, songko biasanya menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.
Dalam melakukan aksi terbangnya, Songko biasanya akan meramu obat-obatan yang ditaruh dalam sebuah belanga (kuring) dan disembunyikannya diantara rumpun pisang. Orang yang mengerti dan ingin menangkapnya (memingka) akan mencari belanga/kuring tersebut dan membalikan/menumpahkannya. Maka Songko yang sedang beraksi/terbang akan mendarat dengan terpaksa/jatuh.
Selain itu, ada pula istilah Songko Babalhe, yang merujuk pada songko yang berjenis kelamin laki-laki. Konon, songko jenis ini lebih berbahaya dibandingkan dengan songko perempuan, meskipun kemunculannya tidak terlalu umum.
Di masa kini, meskipun banyak masyarakat yang sudah tidak lagi takut kepada songko, cerita-cerita tentang makhluk ini masih tetap hidup dalam ingatan dan tradisi lisan. Bahkan, saya pribadi pernah mencoba untuk menangkapnya beberapa kali, meskipun hasilnya belum membuahkan hasil. Namun, kepercayaan terhadap songko ini tetap menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Siau dan Sangihe yang terus berkembang.
Meskipun tak ada yang bisa membuktikan secara ilmiah tentang keberadaan songko, fenomena ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara masyarakat dengan dunia gaib serta tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat yang percaya akan hal ini juga menunjukkan keberanian dan rasa ingin tahu yang tinggi, berusaha melawan atau membuktikan kekuatan makhluk yang selama ini hanya hidup dalam cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar