Jumat, 19 Juli 2024

Legenda di Balik Nama Kampung Talawid dan Mahuneni

Oleh : Fredrik Dandel, ST, STh, MAg.

(Pemerhati Budaya Siau - Sibarsel; Anggota Tim Penulis Cerita Rakyat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Kepl. Sitaro).

 

Pendahuluan

Kisah ini merupakan cerita rakyat dari Kampung Talawid dan Kampung Mahuneni yang dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi. Masyarakat mempercayai bahwa pemberian nama Talawid dan Mahuneni bukanlah terjadi secara kebetulan, melainkan lahir dari suatu perjuangan yang spektakuler sebagai bentuk upaya penduduk dalam mempertahankan hidup dari berbagai tantangan alam yang keras. Penggalan cerita ini pernah dituliskan dan dipublikasikan oleh beberapa teman-teman sebagaimana disebutkan dalam referensi di bagian akhir tulisan. Penulis mencoba menarasikannya Kembali, dengan harapan cerita ini menjadi lebih familiar bagi pembaca baik Masyarakat Kampung Talawid, Mahuneni, Sitaro dan juga pembaca lainnya dari luar Sitaro. Semoga bermanfaat.

 

Bermula dari Eneraha

Di sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Kampung Talawid dan Kampung Mahuneni, terdapat sebuah komunitas kecil yang bermula dari Eneraha. Pada masa itu, bersama penduduk setempat tinggal juga seorang Belanda yang hidup rukun dan telah menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Mereka hidup harmonis dengan alam sekitar, berbekal sebagai petani yang mengandalkan tanaman pala sebagai komoditas utama, yang tumbuh subur di lahan-lahan membuat mereka bergantung pada mata air sebagai sumber kehidupan mereka.

Pada suatu hari, ketika musim kemarau mulai mengeringkan mata air di Eneraha, kekhawatiran mulai menghinggapi hati penduduk. Tanah yang subur perlahan mengering, dan sumber-sumber air yang biasa mereka andalkan mulai surut.

Seorang petualang yang sering menjelajahi hutan sekitar, datang dengan berita yang mengubah arah hidup mereka. "Saya telah menemukan sumber air yang melimpah di sebelah Bulude," ucapnya dengan semangat, ketika ia kembali ke Eneraha dengan berita tersebut.

Penduduk Eneraha yang khawatir dengan ketersediaan air segera berkumpul di bawah pohon rindang yang tumbuh di dekat aliran terakhir air yang tersisa. Orang Belanda yang tinggal bersama mereka, yang sudah akrab dengan bahasa dan adat istiadat setempat, juga turut hadir dalam pertemuan tersebut. Dia duduk di antara mereka dengan pakaian yang sudah terbiasa ia kenakan, sambil melihat wajah-wajah yang dipenuhi perasaan was-was.

"Sumber air baru di sekitar Bulude? Bagaimana caranya kita bisa sampai ke sana?" tanya seorang pemuda dengan rambut panjang yang terselip di bawah kepala topi.

Orang Belanda itu tersenyum, "Saya pernah mendengar tentang Bulude. Meskipun perjalanan akan sulit, namun saya yakin kita bisa menemukan jalannya."

"Penduduk setempat mungkin bisa membantu kita menavigasi jalur yang tepat," saran seorang perempuan tua dengan mata yang tajam, yang sering diundang untuk memberi saran di dalam hal apapun.

"Mungkin kita harus segera bersiap-siap untuk perjalanan ini," kata seorang pemuda bersemangat, mengangkat semangat semua yang hadir.

Dengan persetujuan bersama, mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang menuju Bulude, melewati lereng-lereng curam dan jalan setapak yang sering dilalui oleh para petani dan pengumpul kayu bakar. Dengan mata air sebagai tujuan, penduduk desa mengikuti jejak-jejak yang pernah dilalui sebelumnya oleh para petualang.

 

Tantangan di Perjalanan

Perjalanan menuju Bulude tidaklah mudah. Mereka harus meniti lereng-lereng curam yang dipenuhi dengan tanaman pala, dan tanaman lainnya. Orang Belanda yang tinggal bersama mereka, meskipun tidak terbiasa dengan medan yang sulit, tetap gigih berjalan di antara penduduk setempat yang lincah menavigasi jalur tersebut, meski memerlukan kehati-hatian ekstra dalam setiap langkahnya.

Di tengah perjalanan, ketika mereka sedang istirahat sejenak di tepi jalan setapak yang sempit, Belanda itu bertanya, "Bagaimana kalian bisa begitu terampil menavigasi medan yang sulit ini?"

Seorang pemuda yang terlihat lebih berpengalaman menjawab dengan bangga, "Kami terbiasa menghadapi lereng-lereng curam ini sejak kecil. Tanaman pala yang kami tanam memerlukan perawatan dan pemeliharaan yang teliti di lahan-lahan curam seperti ini."

Belanda itu mengangguk mengerti, semakin terkesan dengan kegigihan dan pengetahuan yang dimiliki oleh penduduk setempat.

Di tengah perjalanan, ketika mereka harus melewati tebing yang tinggi dan berbatu, Belanda itu tampak kesulitan menyesuaikan diri dengan medan yang keras.

"Tala-Awi," desahnya, menahan napas ketika melewati satu titik terjal yang terlihat sulit untuk dinaiki.

Seorang penduduk setempat yang berjalan di dekatnya tersenyum, "Tala-Awi? Apakah anda tidak yakin bisa melanjutkan perjalanan ini."

Belanda itupun tersenyum penuh arti, “kita harus bisa …. !!!” katanya bersemangat.

Mereka semua berhenti sejenak untuk istirahat, mengumpulkan kekuatan dan membangun semangat baru untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang.

Setelah melewati beberapa jam perjalanan yang menantang, mereka akhirnya tiba di puncak perbukitan, mereka memandang kembali ke bawah, melihat sejenak jejak langkah mereka ketika berupaya mendaki bukit itu. Belanda itu tersenyum puas, sambil berkata : “Kita namai tempat itu Tala- Awi saja ya” yang kemudian diiyakan oleh penduduk. Nama ini kemudian berkembang menjadi nama kampung Talawid.

 

Panorama Indah dari Bulude

Pada sore hari, ketika matahari hampir tenggelam di ufuk barat, mereka akhirnya tiba di Bulude. Mereka semua merasa lega, karena ternyata dari Bulude ini menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan. Mereka bisa melihat dengan jelas pemandangan yang memukau di depan mata. Sumber air yang melimpah, serta pantai yang luas dan indah yang terhampar di kejauhan.

"Lihat di sana, Pantai itu sungguh luas," ujar seorang pemuda sambil menunjuk ke arah pantai. "Mahuene, pantai dengan pasir putih yang begitu indah."

Belanda itu tersenyum, mengingat kata-kata yang pernah ia dengar sebelumnya. "Mahuene, ya? Nama yang cocok untuk tempat itu," katanya sambil mengamati dengan rasa kagum.

Di sebelah timur, Nampak pula suatu mata air yang melimpah mengalir dengan jernih dari celah-celah batu di lereng bukit.

"Pemandangan ini sungguh luar biasa," ucap seorang pemuda sambil menatap air yang mengalir dengan tenang di bawahnya. "Inilah yang kita cari selama ini."

Belanda yang tinggal bersama mereka mengangguk setuju, terkesima dengan keindahan alam yang mereka temui. "Sungguh luar biasa betapa alam bisa memberikan kita segalanya," katanya sambil tersenyum.

Saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, warna-warna oranye dan merah memantul di atas permukaan air yang tenang, menciptakan pemandangan yang begitu memukau.

"Kita harus memulai membangun kehidupan baru di sekitar tempat ini," kata seorang perempuan tua dengan suara yang hangat. "Kita bisa membangun pemukiman dan menjaga alam ini dengan baik." Lanjutnya.

Penduduk Eneraha segera bergerak, bekerja sama untuk membangun pondok-pondok sederhana di sekitar Bulude. Mereka menggunakan kayu-kayu dan bahan-bahan alami lainnya yang didapati dari tempat sekitarnya untuk membangun tempat tinggal sementara mereka.

Sementara itu, sebagian penduduk lainnya mulai menjelajahi sekitar pantai yang luas dan indah di bawahnya. Pasir putih yang bersih dan air laut yang jernih menjadi daya tarik utama bagi mereka. Mereka menyaksikan keindahan alam yang begitu mempesona, dan segera mereka menamainya "Mahuene," yang berarti "banyak pasir" dalam bahasa setempat.

"Pantai Mahuene, tempat yang memukau," ucap seorang pemuda dengan penuh kekaguman.

Belanda yang tinggal bersama mereka merasa senang melihat bagaimana penduduk setempat dengan cepat beradaptasi dan merespons dengan lingkungan baru mereka.

Dengan penuh semangat dan harapan baru, penduduk dari Eneraha mulai membangun komunitas kecil mereka di Bulude, menggunakan pengalaman mereka dalam bercocok tanam pala untuk menghasilkan kehidupan baru di tanah yang subur ini.

 

Perpindahan ke Pantai Mahuene

Setelah beberapa waktu tinggal di Bulude dan membangun pemukiman sementara mereka, penduduk ini kemudian mulai merasa tertarik untuk mengikuti jejak rekan-rekan mereka yang lain, ke arah pantai yang mereka sebut Mahuene. Pasir putih yang luas dan air laut yang jernih telah memikat hati mereka sejak kedatangan pertama mereka di Bulude.

Suatu pagi, ketika matahari terbit dengan sinar keemasan yang memantul di atas permukaan air, seorang pemuda dari Eneraha mengajukan ide, "Mengapa kita tidak menjelajahi pantai Mahuene? Kita bisa mencari tempat yang lebih nyaman untuk menetap di sana."

Belanda yang tinggal bersama mereka, yang telah menyesuaikan diri dengan kehidupan di pedalaman, juga merasa tertarik dengan gagasan tersebut. "Pantai Mahuene tampak begitu menarik. Mungkin kita dapat menemukan tempat yang cocok untuk pemukiman permanen di sana."

Dengan semangat baru, penduduk Eneraha mulai mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju pantai Mahuene. Mereka membawa peralatan yang mereka butuhkan untuk mendirikan pemukiman, serta bekal makanan dan air untuk perjalanan mereka.

Perjalanan ke pantai Mahuene tidaklah mudah. Mereka harus melintasi lereng-lereng yang agak curam dan hutan yang lebat, yang sebelumnya jarang dilalui orang. Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mereka tiba di tujuan akhir mereka.

"Pemandangan ini sungguh mempesona," ucap seorang perempuan sambil menghirup udara laut yang segar. "Pasir putih dan air laut yang begitu jernih."

Mereka segera mulai mencari lokasi yang cocok untuk membangun pemukiman permanen mereka. Beberapa pemuda membentangkan tenda sementara sambil yang lain mulai mengumpulkan kayu dan bahan-bahan alami lainnya untuk konstruksi.

Belanda itu tersenyum, melihat bagaimana penduduk Eneraha dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru mereka. "Ini adalah awal yang baik untuk kehidupan baru kita di Mahuene," katanya dengan penuh harapan.

Dengan semangat yang membara, mereka mulai membangun pondok-pondok sederhana dan tempat tinggal lainnya di sekitar pantai Mahuene. Mereka berharap dapat menjadikan tempat ini sebagai rumah baru mereka, di mana mereka dapat hidup berdampingan dengan alam yang indah dan melimpah.

 

Serangan Wabah

Kehidupan di Mahuene berjalan damai dan penuh harapan bagi penduduk yang telah menetap di pantai itu. Mereka berhasil membangun pemukiman sederhana dan menikmati keindahan alam serta hasil laut yang melimpah. Namun, kehidupan mereka segera terancam oleh kehadiran yang tak terduga: wabah demam berdarah.

Musim hujan yang berikutnya membawa hujan lebat yang memicu berkembang biaknya nyamuk di sekitar pantai Mahuene. Nyamuk-nyamuk ini membawa virus yang menginfeksi penduduk, menyebabkan demam tinggi dan gejala lain yang mengancam nyawa.

Pertama-tama, beberapa anak kecil mulai merasakan demam tinggi yang tidak kunjung reda. Seorang ibu panik ketika anaknya yang biasanya aktif terbaring lemah tak berdaya di pangkuan. "Ini tidak mungkin terjadi," bisiknya dengan mata berkaca-kaca. "Anak-anak lain juga mulai sakit."

Penduduk segera menyadari bahwa mereka menghadapi wabah serius. Mereka berusaha keras untuk merawat yang sakit dan mencegah penyebaran lebih lanjut. Tetapi, dengan sumber daya yang terbatas dan akses terbatas ke perawatan medis modern, situasi menjadi semakin buruk.

Seorang pemuda mencoba mengingat kata-kata orang tua mereka, tentang "Mateni," istilah lokal untuk nyamuk. "Inilah Mateni yang mereka bicarakan," katanya dengan nada pahit. "Mereka membawa penyakit dan kematian."

Belanda yang tinggal bersama mereka juga terkena dampaknya. Meskipun tidak terbiasa dengan kondisi tropis yang memungkinkan berkembang biaknya nyamuk, dia berusaha membantu dengan pengetahuan dan pengalamannya. "Kita harus bertahan," ujarnya dengan suara tegas. "Kita harus mencari cara untuk melawan wabah ini."

Masyarakat Mahuene bersatu padu, mencoba segala cara untuk melindungi diri mereka dari gigitan nyamuk. Mereka membakar daun-daun tertentu yang dikenal memiliki sifat pengusir nyamuk, meskipun efektivitasnya terbatas. Mereka juga mengisolasi yang sakit dan menjaga kebersihan lingkungan sebaik mungkin.

Namun, wabah terus menyebar dengan cepat di antara penduduk. Semakin banyak yang jatuh sakit, dan semakin banyak pula yang kehilangan nyawa mereka.

Dalam keputusasaan, mereka akhirnya meminta bantuan dari kota terdekat. Mereka mengirim pesan untuk meminta obat-obatan dan bantuan medis yang mendesak.

Sementara itu, seorang perempuan tua mengadakan pertemuan di tengah malam. "Kita harus berdoa," katanya dengan suara gemetar. "Doa adalah satu-satunya harapan kita sekarang."

Masyarakat Mahuene bersatu dalam doa, memohon perlindungan dan kesembuhan bagi mereka yang sakit. Mereka menghadapi ujian yang sangat besar, dan masa depan mereka tampak suram di bawah bayang-bayang wabah yang tak terlihat ini.

 

Persatuan Menghadapi Cobaan

Meskipun terpuruk dalam ketakutan akan wabah yang melanda, masyarakat Mahuene tidak menyerah begitu saja. Mereka bergandengan tangan dalam upaya melawan mateni, menyatukan kekuatan dan tekad untuk melindungi yang tersisa dari serangan mematikan ini.

Saat malam menjelang, sebuah rapat darurat digelar di tengah desa. Di bawah cahaya gemerlap api obor, suara perempuan tua dari Eneraha bergema, "Kita tidak boleh menyerah pada teni ini! Kita harus bersatu dan mencari cara untuk melawan."

Beberapa pemuda yang tangguh, meskipun merasakan ketakutan dalam hati mereka, mengangguk setuju. "Kita harus mencoba segala cara yang ada. Kita bisa membakar lebih banyak daun, atau mencari obat alami yang mungkin bisa menolong," ujar salah satu dari mereka dengan semangat.

Belanda yang tinggal bersama mereka turut berbicara, "Saya akan mencoba menghubungi teman-teman saya di kota terdekat. Barangkali mereka bisa mengirimkan bantuan medis atau obat-obatan yang dibutuhkan."

Pagi-pagi buta, sekelompok penduduk Mahuene keluar dengan semangat yang baru. Mereka menyebarkan daun-daun pengusir teni di sekitar pemukiman mereka. Beberapa yang lain menemui seorang dukun dari desa tetangga, berharap akan ramuan tradisional yang dapat menyembuhkan penyakit yang mengerikan ini.

Sementara itu, di tengah desa, para ibu dan nenek sibuk merawat yang sakit dengan perawatan tradisional mereka sendiri. Mereka mengoleskan ramuan herbal yang diyakini dapat menurunkan demam dan mengusir mateni yang mengancam.

Seminggu berlalu dengan ketegangan dan doa yang terus menerus. Beberapa orang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi tidak sedikit yang tetap berjuang untuk hidup mereka. Setiap langkah yang diambil diiringi dengan harapan dan kekhawatiran yang mendalam.

Pada hari yang cerah setelah hujan deras mereda, sebuah perubahan terlihat di Mahuene. Lebih sedikit penduduk yang terbaring sakit, dan semangat untuk bangkit kembali mulai terasa di udara. Mereka yang telah sembuh mulai kembali bekerja di ladang dan memperbaiki rumah yang terlantar.

Pohon pala dan kelapa yang telah diabaikan selama wabah kembali menjadi sumber kehidupan. Hasil laut yang kaya kembali memberi mereka kekuatan untuk menghadapi masa depan yang lebih cerah. Masyarakat Mahuene belajar dari pengalaman pahit mereka dan semakin bersatu dalam menghadapi cobaan apa pun yang akan datang.

Di antara reruntuhan dan puing-puing kehidupan mereka yang hampir hancur, mereka menemukan kekuatan dalam persatuan mereka. Bersama, mereka membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat dan kerja keras, mereka dapat mengatasi bahkan serangan mateni yang mengerikan itu.

Mahuene, yang sebelumnya hampir runtuh oleh kekuatan mateni, bangkit kembali dengan semangat baru. Mereka menjadi contoh bagi desa-desa sekitar tentang bagaimana persatuan dalam cobaan dapat mengubah nasib sebuah komunitas.

 

Penutup

Seiring berjalannya waktu, Kampung Talawid terus tumbuh dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di Sangihe. Setiap tahunnya, penduduknya terus berupaya membangun dan memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari sejarah yang kaya dan warisan budaya yang berharga.

Pada tahun 2006, tanda penghormatan atas perjalanan mereka yang panjang terwujud dalam keputusan Pemerintah Sangihe untuk memekarkan Kampung Talawid menjadi dua kampung yang terpisah: Kampung Talawid dan Kampung Mahuneni. Keputusan ini tidak hanya bertujuan untuk mengakui dan menghormati warisan budaya mereka, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk lebih memperkuat kedua kampung tersebut dalam pengelolaan wilayah dan pemerintahan setempat.

Pemekaran tersebut memberikan kesempatan bagi masing-masing kampung untuk fokus pada pembangunan infrastruktur, pelayanan masyarakat, serta pelestarian lingkungan dan budaya. Kampung Talawid dan Kampung Mahuneni terus bekerja keras untuk menjaga kelestarian lingkungan alam mereka yang indah, sambil merawat dan mempertahankan tradisi-tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejak tahun 2007, kedua kampung tersebut telah menjadi wilayah administratif Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, yang menegaskan keberadaan dan kontribusi mereka dalam konteks lebih luas dari pemerintahan lokal. Dengan perubahan ini, komunitas di Kampung Talawid dan Kampung Mahuneni semakin kuat dalam menjalin persatuan dan kesatuan, serta semakin mantap dalam menghadapi tantangan masa depan. Mereka berharap dapat terus memberikan warisan yang berharga bagi generasi mendatang, sambil menjaga keutuhan dan keberlanjutan lingkungan serta budaya mereka yang unik.


Sekian … dan Terimakasih…. !!!

 

Referensi

Igel Gahagho (24 Oktober 2023), Sulut Aktual, diakses pada tanggal 7 Juli 2024 melalui Situs : https://www.sulutaktual.com/2023/10/24/jejak-sejarah-kampung-talawid-dari-tala-awi-hingga-mahuene-dan-mateni/.

Pelma Piter, Penjabat Kapitalau Talawid, narasumber yang diwawancarai langsung pada sabtu, 8 Juli 2024.

Steven Aling, Objek Wisata Sitaro, Negeri 47 Pulau, diakses pada 7 Juli 2024 melalui situs : https://clippingnews2011.blogspot.com/2011/06/legenda-kampung-talawid-dan-mahuneni.html?spref=bl.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar