Oleh : Fredrik Dandel, ST.
(Ditulis kembali dari postingan 25-03-2018 di Group FB Kec. Siau Barat Selatan)

Pesisir pantai yang sekarang ini, dahulunya merupakan habitat yang
subur dari tanaman sagu, sehingga orang tua kami menamai tempat ini
"dalhung humbia". Dari "dalhung humbia" ini sejauh kurang lebih 100
meter ke arah laut adalah wilayah pesisir pantai yang merupakan hutan
mangrove (sisa2 tanaman mangrove masih dapat ditemukan terbenam dalam
pasir).
Sekitar tahun 80an, pesisir pantai ini banyak ditumbuhi dengan tanaman menjalar "batata pante" yang
dalam bahasa Siau dibilang "derere". Buah dari derere ini dipakai oleh
anak2 masa itu sebagai peluru untuk "pepiti". Sebuah permainan perang
yang sebenarnya cukup berbahaya, tapi kami sukai.

Perubahan demi perubahan terjadi, pesisir pantai semakin hari semakin
menjorok ke darat. Untuk mengurangi abrasi yang berkepanjangan,
Pemerintah Kab. Kepl. Sitaro saat ini telah membangun talut penahan
ombak. Hasilnya telah dirasakan oleh masyarakat baik sebagai pengaman
badan rumah dari terjangan ombak, tempat rekreasi, pun sebagai tempat
berenang yang nyaman bagi anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar