Senin, 08 Desember 2025

“Bangun dan Bersiap: Kristus Datang Sebentar Lagi” Teks Utama: Matius 24:36–44.

Oleh : Pdm. Dr.(C) Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

PENDAHULUAN

Masa Adventus mengarahkan gereja kepada makna penantian. Kata Adventus secara etimologi berasal dari bahasa laitin ad = menuju, ke arah; dan Venire = datang. Kata ini berpadanan dengan kata parousia dalam bahasa Yunani yang berarti kedatangan Kristus. Dengan demikian Adventus berarti “kedatangan”, baik kedatangan Kristus yang pertama dalam inkarnasi, maupun kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Adventus I secara liturgis selalu menyoroti kedatangan Kristus yang kedua, sehingga fokusnya bukan hanya kepada Natal, tetapi kepada kesadaran eskatologis bahwa Kristus akan datang sebagai Raja.

Matius 24:36–44 menegaskan sikap yang harus dimiliki oleh murid Kristus dalam menghadapi kedatangan-Nya. Yesus tidak menyuruh kita menghitung tanggal, tetapi berjaga-jaga. Ayat 42 berkata, “Karena itu berjagalah,” bukan “karena itu menebak-nebaklah.” Advent adalah masa untuk menata hidup, membangun kesadaran rohani, dan memperbaharui iman.

Khotbah ini akan membahas empat poin utama dari perikop ini. Setiap poin dilengkapi dengan dua ayat pendukung dari kitab lain agar jemaat mendapat kekuatan penegasan Alkitabiah yang lebih luas. Tujuannya adalah agar jemaat tidak hanya memahami makna Advent, tetapi juga terdorong untuk hidup siap sedia menyambut kedatangan Kristus.

POIN 1 — KEDATANGAN KRISTUS ADALAH PASTI, TETAPI WAKTUNYA TIDAK DIKETAHUI (Matius 24:36)

Ayat pendukung:

1. Kisah Para Rasul 1:7 – “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu…”

2. 1 Tesalonika 5:2 – “Hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.”

Yesus menegaskan bahwa tentang hari dan saat kedatangan-Nya, “tidak seorang pun yang tahu.” Ungkapan ini menekankan kepastian peristiwa tetapi ketidakpastian waktu. Ketidakpastian waktu bukan dibuat untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga fokus murid-murid tetap pada kesiapan, bukan spekulasi. Ketidaktahuan ini menolong orang percaya hidup dalam kesadaran rohani yang terus-menerus, bukan hanya musiman.

Kisah Para Rasul 1:7 memperkuat hal ini: Allah tidak memberi otoritas kepada manusia untuk mengetahui masa dan waktu. Dengan kata lain, yang Tuhan inginkan bukan pengetahuan tentang tanggal, melainkan ketaatan. Penekanan ini mematahkan kecenderungan manusia untuk terjebak dalam kepanikan eskatologis atau perhitungan akhir zaman. Tuhan menghendaki iman yang bersandar pada kedaulatan-Nya.

Ayat 1 Tesalonika 5:2 menegaskan bahwa hari Tuhan datang “seperti pencuri pada malam,” yang berarti tidak terduga dan tidak dapat diprediksi. Dalam masa Advent ini, jemaat diajak untuk tidak membangun iman di atas rasa ingin tahu, tetapi pada kesadaran bahwa hidup harus selalu siap. Kepastian kedatangan Kristus harus mendorong kita hidup saleh, sementara ketidakpastian waktunya menolong kita untuk tidak lengah.

POIN 2 — KEDATANGAN KRISTUS AKAN DATANG SECARA TIBA-TIBA, SEPERTI PADA ZAMAN NUH (Matius 24:37–39)

Ayat pendukung:

1. Ibrani 11:7 – Iman Nuh menyelamatkan keluarganya.

2. 2 Petrus 3:10 – Hari Tuhan “akan tiba seperti pencuri.”

Yesus membandingkan kedatangan-Nya dengan zaman Nuh: orang makan, minum, kawin, dan dikawinkan, semua aktivitas normal, tetapi dijalani tanpa kesadaran rohani. Masalahnya bukan pada aktivitas itu, tetapi pada kelalaian rohani yang membuat mereka buta terhadap peringatan Tuhan. Demikian pula generasi ini: kesibukan dunia sering kali membuat hati tidak sensitif terhadap hal-hal surgawi. Advent mengajak kita waspada.

Ibrani 11:7 menegaskan iman Nuh: ia percaya akan sesuatu yang belum terlihat. Sementara dunia menganggap pesan Tuhan sebagai sesuatu yang aneh, Nuh membangun bahtera dalam ketaatan. Dunia pada masa itu hidup seperti biasa, tetapi tanpa kesadaran bahwa murka Allah sudah dekat. Adventus I mengingatkan jemaat agar tidak hidup seperti dunia yang hanya sibuk mengejar hal-hal fana.

2 Petrus 3:10 kembali menegaskan bahwa hari Tuhan akan tiba secara tiba-tiba, seperti pencuri. Ketidaktiba-tibaan ini menguji apakah seseorang sedang berjaga atau lengah. Advent adalah waktu untuk mengevaluasi apakah hidup kita hanya diisi rutinitas, atau kita sungguh-sungguh membangun bahtera iman setiap hari. Mereka yang hidup seperti Nuh akan siap menyambut Kristus.

POIN 3 — KEDATANGAN KRISTUS AKAN MEMBEDAKAN MEREKA YANG SIAP DAN YANG TIDAK SIAP (Matius 24:40–41)

Ayat pendukung:

1. 2 Timotius 2:19 – “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya.”

2. Lukas 17:34–35 – Dua orang bersama, satu dibawa, satu ditinggalkan.

Gambaran dua orang di ladang dan dua wanita di penggilingan menunjukkan bahwa aktivitas luar tidak menentukan keselamatan seseorang. Dua orang dapat bekerja di tempat yang sama, melayani di gereja yang sama, bahkan tinggal dalam rumah yang sama, tetapi memiliki kondisi rohani yang berbeda. Kesetiaan pribadi menentukan apakah seseorang siap atau tidak ketika Kristus datang. Ini bersifat sangat pribadi.

2 Timotius 2:19 mengatakan bahwa Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya. Artinya, pemisahan yang terjadi pada hari kedatangan Kristus bukan karena keberuntungan atau kebersamaan lahiriah, tetapi karena kualitas hubungan pribadi dengan Tuhan. Tidak cukup hanya “ikut kegiatan gereja,” tetapi harus ada hati yang sungguh-sungguh mengasihi dan taat kepada Tuhan. Advent menjadi panggilan untuk evaluasi pribadi.

Lukas 17:34–35 menegaskan ulang gambaran ini: dua orang bersama, satu diambil, satu ditinggalkan. Keduanya terlihat sama dari luar, tetapi Tuhan memisahkan mereka berdasarkan hati. Advent mengingatkan kita bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang otomatis. Jemaat harus memeriksa diri: apakah hidup kita sungguh-sungguh siap jika Tuhan datang hari ini? Advent menegaskan: hanya mereka yang setia yang akan menyambut-Nya dengan sukacita.

POIN 4 — ADVENTUS MEMANGGIL KITA UNTUK BERJAGA DAN HIDUP DALAM KEKUDUSAN (Matius 24:42–44)

Ayat pendukung:

1. 1 Petrus 1:13–16 – “Sabukkanlah pinggang pikiranmu… jadilah kudus.”

2. Roma 13:11–14 – “Sudah saatnya untuk bangun dari tidur.”

Yesus menutup ajaran ini dengan perintah tegas: “Karena itu berjagalah!” Berjaga berarti menjaga hati tetap bersih, pikiran tetap terarah, dan hidup tetap dalam kesadaran rohani. Ini bukan berjaga dalam ketakutan, tetapi berjaga dalam kerinduan akan kedatangan Raja. Advent mengingatkan bahwa iman yang sejati adalah iman yang hidup dalam kesiapsiagaan.

1 Petrus 1:13–16 menegaskan bahwa kita harus “menyabukkan pinggang pikiran” dan hidup dalam kekudusan, sebab Allah yang memanggil kita adalah kudus. Kekudusan bukan sekadar moralitas, tetapi respons cinta kepada Tuhan yang akan datang kembali. Advent menjadi momen untuk memperbaharui komitmen terhadap kekudusan, bukan hanya dalam perilaku, tetapi dalam kerinduan hati.

Roma 13:11–14 mengatakan bahwa “hari keselamatan sudah dekat” dan karena itu kita harus menanggalkan perbuatan kegelapan dan memakai perlengkapan senjata terang. Ini adalah gambaran paling jelas tentang makna Advent: bangun dari tidur rohani dan hidup dalam terang. Adventus I memanggil jemaat untuk membuang dosa yang membelenggu dan mengenakan Kristus sebagai pakaian hidup.

KESIMPULAN

Adventus menegaskan bahwa Kristus pasti datang kembali. Waktunya tidak kita ketahui, kedatangannya tiba-tiba, pemisahannya jelas, dan respons kita haruslah berjaga dalam kekudusan. Masa Advent bukan hanya persiapan Natal, tetapi persiapan hidup menyambut Pengantin Sorgawi.

Kiranya dalam masa Advent tahun ini, jemaat hidup dengan hati yang siap, mata yang waspada, dan hidup yang kudus. Biarlah Tuhan mendapati kita setia, bukan lengah. Maranatha! Tuhan Yesus datang segera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar