Kamis, 25 Desember 2025

Inkarnasi di Tengah Sejarah dan Kerendahan (Lukas 2:1-7)

Oleh Pdm Dr. (C) Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, ketika kita berbicara tentang Natal, sering kali pikiran kita langsung tertuju pada terang, lagu, dan sukacita. Namun Injil Lukas mengajak kita melihat lebih dalam: bahwa peristiwa Natal bukan sekadar kisah indah, melainkan peristiwa sejarah nyata di mana Allah masuk ke dalam dunia manusia.

Lukas tidak memulai kisah kelahiran Yesus dengan malaikat atau mujizat, tetapi dengan nama seorang kaisar, perintah sensus, dan perjalanan panjang sepasang suami istri yang sederhana. Melalui cara inilah Alkitab menegaskan bahwa inkarnasi terjadi di tengah sejarah dunia, bukan di luar realitas hidup manusia.

Lebih dari itu, Sang Anak Allah tidak lahir dalam kemegahan, melainkan dalam kerendahan, tanpa tempat di penginapan, dibaringkan di palungan. Dari awal, Allah menyatakan bahwa keselamatan tidak datang melalui kuasa dunia, tetapi melalui kasih yang rela merendahkan diri. Inilah kebenaran yang hendak kita renungkan melalui Lukas 2:1–7: Inkarnasi di tengah sejarah dan kerendahan.

I. Allah Menggenapi Rencana-Nya Melalui Sejarah Dunia (ayat 1–3)

“Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.”

Secara lahiriah, sensus ini adalah keputusan politik Romawi. Kaisar Agustus bertindak sebagai penguasa dunia, menunjukkan kontrol dan kekuasaannya atas rakyat. Namun secara rohani, Lukas ingin menegaskan bahwa Allah tetap berdaulat di atas keputusan penguasa dunia. Tanpa sadar, kaisar itu sedang menjadi alat Allah untuk menggenapi nubuat Mikha 5:1 bahwa Mesias harus lahir di Betlehem.

Ini mengajarkan bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah. Bahkan kebijakan yang tampak sekuler dan menekan pun dapat dipakai Allah untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya. Sejarah dunia tidak bergerak secara acak, tetapi berada di bawah tangan Allah yang berdaulat.

Bagi jemaat masa kini, ini memberi penghiburan: situasi politik, ekonomi, dan sosial yang sulit tidak pernah menggagalkan kehendak Tuhan. Allah tetap bekerja, bahkan melalui sistem dunia yang sering kali tidak adil atau tidak rohani.

Ayat Pendukung:

1. Amsal 21:1 – “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.”

2. Daniel 2:21a – “Dia mengubah waktu dan masa, Dia memecat raja dan mengangkat raja.”

II. Ketaatan yang Sederhana Membawa Penggenapan Besar (ayat 4–5)

“Lalu pergilah Yusuf dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud, yaitu Betlehem…”

Perjalanan dari Nazaret ke Betlehem bukan perjalanan mudah, terlebih bagi Maria yang sedang mengandung tua. Namun Yusuf dan Maria tetap taat. Mereka tidak tahu sepenuhnya dampak besar dari ketaatan itu, tetapi mereka memilih taat dalam hal yang sederhana.

Ketaatan Yusuf dan Maria terlihat biasa, bahkan melelahkan. Namun justru melalui ketaatan yang sunyi dan tidak disorot ini, Allah menghadirkan Sang Juruselamat dunia. Allah sering bekerja melalui ketaatan sehari-hari yang tampaknya kecil, tetapi bernilai kekal.

Bagi orang percaya, ini menantang kita untuk tetap setia dalam panggilan Tuhan, baik dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, maupun kehidupan pribadi, meskipun tidak ada tepuk tangan atau kemudahan. Ketaatan kepada Allah tidak pernah sia-sia.

Ayat Pendukung:

1. 1 Samuel 15:22b – “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan.”

2. Lukas 16:10 – “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”

III. Sang Juruselamat Lahir dalam Kerendahan dan Penolakan (ayat 6–7)

“Karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Yesus lahir bukan di istana, tetapi di palungan. Tempat kelahiran-Nya menunjukkan paradoks besar Injil: Raja semesta lahir dalam kemiskinan dan keterbatasan. Sejak awal hidup-Nya, Yesus sudah mengalami penolakan dunia.

Palungan adalah tempat makanan ternak, simbol kerendahan dan kesederhanaan. Allah tidak memilih kemegahan untuk menyatakan kasih-Nya, tetapi kerendahan agar manusia berdosa dapat mendekat tanpa takut. Inilah inkarnasi: Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia.

Aplikasi bagi jemaat sangat jelas: Allah hadir bukan hanya di tempat megah dan nyaman, tetapi juga di tengah keterbatasan hidup kita. Natal mengingatkan kita bahwa Kristus datang untuk mereka yang tidak punya tempat, yang tersisih, dan yang rendah hati.

Ayat Pendukung:

1. Filipi 2:6–7 – “Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba.”

2. 2 Korintus 8:9 – “Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya.”

Penutup

Saudara-saudari yang terkasih, Lukas 2:1–7 menegaskan bahwa Allah tidak jauh dari kehidupan manusia. Ia masuk ke dalam sejarah nyata, ke dalam dunia yang diatur oleh kekuasaan manusia, dan ke dalam hidup yang penuh keterbatasan. Inkarnasi mengingatkan kita bahwa di tengah situasi apa pun—baik yang kita pahami maupun yang membingungkan, Allah tetap bekerja setia menggenapi rencana keselamatan-Nya.

Lebih dari itu, kelahiran Yesus di palungan menunjukkan jalan Allah yang berbeda dari jalan dunia. Dunia mengejar kemegahan, tetapi Allah memilih kerendahan. Dunia mengandalkan kuasa, tetapi Allah menyatakan kasih melalui pengosongan diri. Karena itu, Natal bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan panggilan untuk hidup dalam kerendahan hati, ketaatan, dan kesetiaan kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita.

Akhirnya, marilah kita membuka ruang bagi Kristus dalam hati dan hidup kita. Jangan sampai kesibukan, kenyamanan, atau kepentingan pribadi menutup pintu bagi kehadiran-Nya. Biarlah Sang Juruselamat yang lahir dalam kerendahan itu memerintah dalam hidup kita, membentuk karakter kita, dan memimpin langkah kita, hari ini dan sepanjang hidup kita. Amin.

Rabu, 10 Desember 2025

Janji Damai Sejahtera di Tengah Penantian. Bacaan Alkitab: Yesaya 40:1-11

Oleh : Pdm. Dr (C). Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

Pendahuluan

Shalom, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Minggu Advent kedua mengajak kita merenungkan pengharapan dan damai sejahtera yang dijanjikan Allah dalam kedatangan Yesus Kristus. Bacaan dari Yesaya 40 ini memberikan pesan penghiburan kepada umat Israel yang sedang mengalami penderitaan di pembuangan. Di tengah keputusasaan, Allah berfirman melalui Yesaya bahwa Dia akan membawa pemulihan dan pembebasan.

Sebagaimana umat Israel menantikan penggenapan janji Tuhan, kita juga hidup di masa penantian: menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua. Masa Advent ini menjadi waktu untuk menghibur hati, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, dan memperbaharui iman kita akan janji-Nya. Dalam khotbah hari ini, kita akan merenungkan tiga aspek dari Yesaya 40 yang relevan bagi kita sebagai orang percaya di masa kini.

1. Allah yang Menghibur dan Menyediakan Jalan (Yesaya 40:1-5)

Yesaya membuka dengan perintah Allah, "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku" (Yesaya 40:1). Pesan ini menunjukkan kasih Allah yang tidak melupakan umat-Nya, bahkan ketika mereka berada dalam penderitaan akibat dosa mereka sendiri. Allah yang menghibur adalah Allah yang tetap setia kepada janji-Nya, meskipun umat-Nya sering kali tidak setia. Ini mengingatkan kita pada Mazmur 34:18, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."

Ayat 3-5 menubuatkan seruan untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, yang kemudian digenapi dalam pelayanan Yohanes Pembaptis (Matius 3:3). Persiapan jalan ini berbicara tentang pertobatan: lembah yang ditutup menggambarkan hati yang rendah harus diangkat, dan gunung yang diratakan melambangkan kesombongan yang harus ditaklukkan. Dalam masa Advent, kita diajak untuk mempersiapkan hati kita dengan bertobat dari dosa-dosa yang menghalangi kedekatan kita dengan Tuhan.

Allah menjanjikan bahwa kemuliaan-Nya akan dinyatakan, dan semua manusia akan melihatnya (Yesaya 40:5). Ini adalah janji pengharapan yang pasti, sebagaimana dinyatakan dalam 2 Korintus 1:20, "Sebab Kristus adalah 'ya' bagi semua janji Allah." Kita dapat percaya bahwa dalam setiap penantian kita, Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang indah.

2. Keindahan dan Kelemahan Manusia di Hadapan Kemuliaan Allah (Yesaya 40:6-8)

Yesaya melanjutkan dengan pernyataan bahwa manusia seperti rumput yang layu dan bunga yang gugur (Yesaya 40:6-7). Ini adalah pengingat bahwa hidup manusia bersifat sementara, sementara firman Allah tetap kekal. Dalam dunia yang sering kali memuliakan kekayaan, kekuasaan, dan kecantikan, kita diingatkan bahwa semua itu tidak bertahan lama. Hanya firman Tuhan yang memiliki kekuatan untuk memberikan kehidupan yang sejati dan kekal (Matius 24:35).

Ayat ini juga mengingatkan kita untuk tidak menaruh kepercayaan pada hal-hal duniawi yang fana, tetapi pada Allah yang kekal. Yeremia 17:7 berkata, "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" Dalam masa Advent ini, kita diundang untuk merenungkan prioritas kita: apakah kita lebih sibuk mengejar hal-hal duniawi daripada mengejar kehendak Allah?

Firman Allah yang kekal juga menjadi penghiburan di tengah perubahan zaman. Ketika kita menghadapi ketidakpastian dalam hidup, kita dapat berpegang pada firman-Nya yang tidak pernah berubah. Dalam Ibrani 13:8, kita diingatkan bahwa "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." Ini adalah dasar pengharapan kita, bahwa Allah setia dan janji-Nya pasti digenapi.

3. Allah yang Memelihara dan Menuntun (Yesaya 40:9-11)

Ayat 9-11 menggambarkan Allah sebagai Gembala yang memimpin umat-Nya dengan penuh kelembutan. Dia tidak hanya berkuasa, tetapi juga penuh kasih. Gambaran ini sangat relevan dalam masa Advent, ketika kita mengenang kedatangan Yesus sebagai Sang Gembala Baik yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yohanes 10:11).

Allah sebagai Gembala juga berarti Dia peduli terhadap kebutuhan kita, baik fisik maupun rohani. Dalam Mazmur 23:1, Daud berkata, "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku." Di tengah kekhawatiran hidup, kita diundang untuk percaya bahwa Tuhan akan memelihara kita sesuai dengan rencana-Nya. Advent adalah waktu untuk memperbarui iman kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita.

Selain itu, gambaran Gembala yang memeluk anak domba dan menuntun induk-induknya dengan hati-hati (Yesaya 40:11) menunjukkan kelembutan Allah. Dia memahami kelemahan kita dan memberikan kasih karunia-Nya. Dalam Matius 11:28-29, Yesus mengundang kita yang letih lesu untuk datang kepada-Nya, dan Dia akan memberi kelegaan. Marilah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada pemeliharaan Sang Gembala Baik.

Penutup

Saudara-saudara yang terkasih, Yesaya 40 mengingatkan kita bahwa Allah setia pada janji-Nya. Dia adalah Allah yang menghibur, memelihara, dan menuntun umat-Nya. Dalam masa Advent ini, marilah kita mempersiapkan hati kita, memperbaharui iman kita, dan membawa penghiburan bagi dunia yang membutuhkan kasih Allah.

Senin, 08 Desember 2025

“Bangun dan Bersiap: Kristus Datang Sebentar Lagi” Teks Utama: Matius 24:36–44.

Oleh : Pdm. Dr.(C) Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

PENDAHULUAN

Masa Adventus mengarahkan gereja kepada makna penantian. Kata Adventus secara etimologi berasal dari bahasa laitin ad = menuju, ke arah; dan Venire = datang. Kata ini berpadanan dengan kata parousia dalam bahasa Yunani yang berarti kedatangan Kristus. Dengan demikian Adventus berarti “kedatangan”, baik kedatangan Kristus yang pertama dalam inkarnasi, maupun kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Adventus I secara liturgis selalu menyoroti kedatangan Kristus yang kedua, sehingga fokusnya bukan hanya kepada Natal, tetapi kepada kesadaran eskatologis bahwa Kristus akan datang sebagai Raja.

Matius 24:36–44 menegaskan sikap yang harus dimiliki oleh murid Kristus dalam menghadapi kedatangan-Nya. Yesus tidak menyuruh kita menghitung tanggal, tetapi berjaga-jaga. Ayat 42 berkata, “Karena itu berjagalah,” bukan “karena itu menebak-nebaklah.” Advent adalah masa untuk menata hidup, membangun kesadaran rohani, dan memperbaharui iman.

Khotbah ini akan membahas empat poin utama dari perikop ini. Setiap poin dilengkapi dengan dua ayat pendukung dari kitab lain agar jemaat mendapat kekuatan penegasan Alkitabiah yang lebih luas. Tujuannya adalah agar jemaat tidak hanya memahami makna Advent, tetapi juga terdorong untuk hidup siap sedia menyambut kedatangan Kristus.

POIN 1 — KEDATANGAN KRISTUS ADALAH PASTI, TETAPI WAKTUNYA TIDAK DIKETAHUI (Matius 24:36)

Ayat pendukung:

1. Kisah Para Rasul 1:7 – “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu…”

2. 1 Tesalonika 5:2 – “Hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.”

Yesus menegaskan bahwa tentang hari dan saat kedatangan-Nya, “tidak seorang pun yang tahu.” Ungkapan ini menekankan kepastian peristiwa tetapi ketidakpastian waktu. Ketidakpastian waktu bukan dibuat untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga fokus murid-murid tetap pada kesiapan, bukan spekulasi. Ketidaktahuan ini menolong orang percaya hidup dalam kesadaran rohani yang terus-menerus, bukan hanya musiman.

Kisah Para Rasul 1:7 memperkuat hal ini: Allah tidak memberi otoritas kepada manusia untuk mengetahui masa dan waktu. Dengan kata lain, yang Tuhan inginkan bukan pengetahuan tentang tanggal, melainkan ketaatan. Penekanan ini mematahkan kecenderungan manusia untuk terjebak dalam kepanikan eskatologis atau perhitungan akhir zaman. Tuhan menghendaki iman yang bersandar pada kedaulatan-Nya.

Ayat 1 Tesalonika 5:2 menegaskan bahwa hari Tuhan datang “seperti pencuri pada malam,” yang berarti tidak terduga dan tidak dapat diprediksi. Dalam masa Advent ini, jemaat diajak untuk tidak membangun iman di atas rasa ingin tahu, tetapi pada kesadaran bahwa hidup harus selalu siap. Kepastian kedatangan Kristus harus mendorong kita hidup saleh, sementara ketidakpastian waktunya menolong kita untuk tidak lengah.

POIN 2 — KEDATANGAN KRISTUS AKAN DATANG SECARA TIBA-TIBA, SEPERTI PADA ZAMAN NUH (Matius 24:37–39)

Ayat pendukung:

1. Ibrani 11:7 – Iman Nuh menyelamatkan keluarganya.

2. 2 Petrus 3:10 – Hari Tuhan “akan tiba seperti pencuri.”

Yesus membandingkan kedatangan-Nya dengan zaman Nuh: orang makan, minum, kawin, dan dikawinkan, semua aktivitas normal, tetapi dijalani tanpa kesadaran rohani. Masalahnya bukan pada aktivitas itu, tetapi pada kelalaian rohani yang membuat mereka buta terhadap peringatan Tuhan. Demikian pula generasi ini: kesibukan dunia sering kali membuat hati tidak sensitif terhadap hal-hal surgawi. Advent mengajak kita waspada.

Ibrani 11:7 menegaskan iman Nuh: ia percaya akan sesuatu yang belum terlihat. Sementara dunia menganggap pesan Tuhan sebagai sesuatu yang aneh, Nuh membangun bahtera dalam ketaatan. Dunia pada masa itu hidup seperti biasa, tetapi tanpa kesadaran bahwa murka Allah sudah dekat. Adventus I mengingatkan jemaat agar tidak hidup seperti dunia yang hanya sibuk mengejar hal-hal fana.

2 Petrus 3:10 kembali menegaskan bahwa hari Tuhan akan tiba secara tiba-tiba, seperti pencuri. Ketidaktiba-tibaan ini menguji apakah seseorang sedang berjaga atau lengah. Advent adalah waktu untuk mengevaluasi apakah hidup kita hanya diisi rutinitas, atau kita sungguh-sungguh membangun bahtera iman setiap hari. Mereka yang hidup seperti Nuh akan siap menyambut Kristus.

POIN 3 — KEDATANGAN KRISTUS AKAN MEMBEDAKAN MEREKA YANG SIAP DAN YANG TIDAK SIAP (Matius 24:40–41)

Ayat pendukung:

1. 2 Timotius 2:19 – “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya.”

2. Lukas 17:34–35 – Dua orang bersama, satu dibawa, satu ditinggalkan.

Gambaran dua orang di ladang dan dua wanita di penggilingan menunjukkan bahwa aktivitas luar tidak menentukan keselamatan seseorang. Dua orang dapat bekerja di tempat yang sama, melayani di gereja yang sama, bahkan tinggal dalam rumah yang sama, tetapi memiliki kondisi rohani yang berbeda. Kesetiaan pribadi menentukan apakah seseorang siap atau tidak ketika Kristus datang. Ini bersifat sangat pribadi.

2 Timotius 2:19 mengatakan bahwa Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya. Artinya, pemisahan yang terjadi pada hari kedatangan Kristus bukan karena keberuntungan atau kebersamaan lahiriah, tetapi karena kualitas hubungan pribadi dengan Tuhan. Tidak cukup hanya “ikut kegiatan gereja,” tetapi harus ada hati yang sungguh-sungguh mengasihi dan taat kepada Tuhan. Advent menjadi panggilan untuk evaluasi pribadi.

Lukas 17:34–35 menegaskan ulang gambaran ini: dua orang bersama, satu diambil, satu ditinggalkan. Keduanya terlihat sama dari luar, tetapi Tuhan memisahkan mereka berdasarkan hati. Advent mengingatkan kita bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang otomatis. Jemaat harus memeriksa diri: apakah hidup kita sungguh-sungguh siap jika Tuhan datang hari ini? Advent menegaskan: hanya mereka yang setia yang akan menyambut-Nya dengan sukacita.

POIN 4 — ADVENTUS MEMANGGIL KITA UNTUK BERJAGA DAN HIDUP DALAM KEKUDUSAN (Matius 24:42–44)

Ayat pendukung:

1. 1 Petrus 1:13–16 – “Sabukkanlah pinggang pikiranmu… jadilah kudus.”

2. Roma 13:11–14 – “Sudah saatnya untuk bangun dari tidur.”

Yesus menutup ajaran ini dengan perintah tegas: “Karena itu berjagalah!” Berjaga berarti menjaga hati tetap bersih, pikiran tetap terarah, dan hidup tetap dalam kesadaran rohani. Ini bukan berjaga dalam ketakutan, tetapi berjaga dalam kerinduan akan kedatangan Raja. Advent mengingatkan bahwa iman yang sejati adalah iman yang hidup dalam kesiapsiagaan.

1 Petrus 1:13–16 menegaskan bahwa kita harus “menyabukkan pinggang pikiran” dan hidup dalam kekudusan, sebab Allah yang memanggil kita adalah kudus. Kekudusan bukan sekadar moralitas, tetapi respons cinta kepada Tuhan yang akan datang kembali. Advent menjadi momen untuk memperbaharui komitmen terhadap kekudusan, bukan hanya dalam perilaku, tetapi dalam kerinduan hati.

Roma 13:11–14 mengatakan bahwa “hari keselamatan sudah dekat” dan karena itu kita harus menanggalkan perbuatan kegelapan dan memakai perlengkapan senjata terang. Ini adalah gambaran paling jelas tentang makna Advent: bangun dari tidur rohani dan hidup dalam terang. Adventus I memanggil jemaat untuk membuang dosa yang membelenggu dan mengenakan Kristus sebagai pakaian hidup.

KESIMPULAN

Adventus menegaskan bahwa Kristus pasti datang kembali. Waktunya tidak kita ketahui, kedatangannya tiba-tiba, pemisahannya jelas, dan respons kita haruslah berjaga dalam kekudusan. Masa Advent bukan hanya persiapan Natal, tetapi persiapan hidup menyambut Pengantin Sorgawi.

Kiranya dalam masa Advent tahun ini, jemaat hidup dengan hati yang siap, mata yang waspada, dan hidup yang kudus. Biarlah Tuhan mendapati kita setia, bukan lengah. Maranatha! Tuhan Yesus datang segera.