Oleh : Fredrik Dandel
Sekitar pertengahan bulan Januari tahun 2022, sebelum saya bergabung dengan Gereja Bethel Indonesia, waktu itu saya masih memegang jabatan sebagai Sekretaris Kecamatan Siau Barat Selatan juga sebagai Ketua Pembangunan (Pastori). Saya pernah menyampaikan sebuah keprihatinan secara terbuka di hadapan Jemaat Tuhan di salah satu gereja lokal tempat kami digembalakan. Keprihatinan tersebut muncul ketika seorang pelayan puji-pujian dari gereja lain diminta untuk melayani pada ibadah hari Minggu di gereja kami oleh gembala jemaat.
Sejujurnya, saya memandang bahwa pelayanan lintas gereja pada dasarnya adalah sesuatu yang baik dan dapat menjadi berkat, selama tidak mengganggu kesetiaan dan tanggung jawab seorang pelayan di gereja lokal tempat ia digembalakan. Hal ini pernah saya sampaikan sebelumnya, ketika pelayan yang sama diminta melayani dalam ibadah keluarga, pada saat gereja asalnya tidak sedang melaksanakan ibadah. Dalam situasi tersebut, saya melihatnya sebagai bentuk kebersamaan dan tidak menimbulkan keberatan di hati saya.
Namun, persoalan terasa berbeda ketika pelayanan diminta pada hari Minggu, saat gereja lokal tempat pelayan itu berjemaat juga sedang melaksanakan ibadah. Hari Minggu adalah momen yang sangat berharga bagi kehidupan jemaat, terlebih bagi gereja yang jumlahnya tidak banyak. Saya mencoba membayangkan perasaan hati seorang gembala sidang yang setia menggembalakan jemaatnya. Ketika satu keluarga tidak dapat hadir karena dengan alasan sedang diminta melayani di tempat lain.... !!! Hal itu tentunya dapat menghadirkan rasa kehilangan, kesedihan, bahkan luka yang tidak selalu terlihat. Bukan semata-mata karena berkurangnya tenaga pelayanan, tetapi karena kebersamaan dan ikatan rohani yang seharusnya terbangun dalam ibadah bersama menjadi terputus.
Atas dasar empati dan keprihatinan tersebut, dengan tegas saya menyampaikan bahwa hal ini perlu disikapi dengan sangat bijaksana. Saya melihat adanya potensi dampak yang kurang baik, baik bagi kehidupan internal jemaat maupun dalam relasi antar gereja. Komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan pengertian yang tulus antar para gembala perlu dikedepankan. Seyogyanya setiap pelayanan yang dilakukan sungguh-sungguh menjadi berkat, tanpa meninggalkan luka di hati para gembala dan jemaat lokal yang dengan setia melayani Tuhan di tempat mereka masing-masing. SEMOGA..... !!!