Minggu, 08 Februari 2026

Kasih yang Mengampuni dan Memulihkan. 2 Korintus 2:5–11

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, ST, STh, MAg, MTh.

Pendahuluan

Kasih sering kali disalahpahami sebagai sikap yang selalu lembut dan menghindari konflik. Namun Alkitab menunjukkan bahwa kasih sejati tidak pernah menutup mata terhadap dosa. Justru karena kasih, dosa harus dihadapi dengan serius demi kebaikan orang yang bersalah dan demi kesehatan rohani jemaat.

Di jemaat Korintus, Paulus menghadapi situasi yang sulit: ada dosa yang nyata, disiplin telah dijalankan, dan sekarang muncul tantangan baru, bagaimana bersikap terhadap orang yang telah ditegur itu. Di sinilah kita melihat bahwa kasih Kristen bukan hanya soal keberanian menegur, tetapi juga kerendahan hati untuk mengampuni.

Melalui 2 Korintus 2:5–11, Paulus menuntun jemaat untuk memahami bahwa tujuan akhir kasih Allah bukan penghukuman, melainkan pemulihan. Kasih yang sejati selalu bergerak dari teguran menuju pengampunan, dan dari pengampunan menuju pemulihan.

1. Kasih Menegur Dosa demi Kebaikan Jemaat (ayat 5–6)

Paulus menegaskan bahwa dosa seseorang membawa dukacita bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh jemaat. Ini menunjukkan bahwa gereja adalah satu tubuh, sehingga penderitaan satu anggota memengaruhi yang lain. Karena itu, kasih tidak bisa bersikap pasif terhadap dosa yang merusak persekutuan.

Disiplin yang dilakukan jemaat Korintus bukanlah tindakan kebencian, melainkan ekspresi kasih yang bertanggung jawab. Paulus menyatakan bahwa hukuman itu “sudah cukup,” artinya disiplin memiliki tujuan yang jelas dan batas yang sehat. Kasih tidak pernah bertujuan menghancurkan, tetapi menyadarkan.

Prinsip ini ditegaskan juga dalam Ibrani 12:6, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.” Demikian pula Amsal 27:5–6 mengatakan bahwa teguran yang nyata lebih baik daripada kasih yang tersembunyi. Kasih sejati berani menegur dosa, tetapi selalu dengan tujuan pemulihan, bukan penghancuran.

2. Kasih Mengampuni dan Menguatkan yang Bertobat (ayat 7–8)

Setelah tujuan disiplin tercapai, kasih harus mengambil langkah berikutnya, yaitu mengampuni. Paulus dengan jelas meminta jemaat untuk mengampuni dan menghibur orang tersebut, supaya ia tidak tenggelam dalam dukacita yang berlebihan. Tanpa pengampunan, disiplin justru bisa berubah menjadi beban yang mematikan secara rohani.

Paulus memahami kondisi jiwa orang yang bertobat—rasa bersalah yang mendalam bisa menyeret seseorang pada keputusasaan. Karena itu, jemaat dipanggil bukan hanya untuk menghentikan hukuman, tetapi secara aktif meneguhkan kasih. Kasih perlu dinyatakan, bukan sekadar dirasakan.

Prinsip ini sejalan dengan Mazmur 34:19, bahwa TUHAN dekat kepada orang yang patah hati, serta Yesaya 57:15, yang menyatakan bahwa Allah menghidupkan semangat orang yang remuk. Yesus sendiri berkata dalam Matius 11:28 bahwa Ia memberi kelegaan bagi yang letih dan berbeban berat. Gereja dipanggil mencerminkan hati Kristus itu melalui pengampunan yang memulihkan.

3. Kasih Melindungi Jemaat dari Tipu Daya Iblis (ayat 9–11)

Paulus menutup nasihatnya dengan peringatan rohani yang serius: jika jemaat menolak mengampuni, Iblis akan memperoleh keuntungan. Kepahitan, dendam, dan relasi yang rusak adalah alat yang sering dipakai Iblis untuk menghancurkan gereja dari dalam.

Mengampuni bukan sekadar tindakan emosional, melainkan ketaatan rohani kepada Kristus. Paulus bahkan mengaitkan pengampunannya sendiri dengan hadirat Kristus, menegaskan bahwa pengampunan adalah bagian dari hidup yang tunduk kepada Tuhan.

Hal ini ditegaskan dalam Efesus 4:26–27, yang memperingatkan agar kita tidak memberi kesempatan kepada Iblis melalui amarah yang dipelihara. 1 Petrus 5:8 juga mengingatkan bahwa Iblis berjalan keliling seperti singa yang mengaum. Kasih yang mengampuni adalah benteng rohani yang menjaga kesatuan dan kesehatan jemaat.

Penutup

Kasih yang sejati tidak pernah berhenti pada teguran, tetapi selalu melangkah menuju pengampunan. Tanpa pengampunan, disiplin kehilangan maknanya; tanpa pemulihan, kasih kehilangan tujuannya. Paulus mengajarkan bahwa gereja yang dewasa adalah gereja yang tahu kapan harus tegas dan kapan harus memeluk.

Kristus sendiri telah memberi teladan tertinggi. Ia menegur dosa dengan kebenaran, tetapi mengampuni dengan kasih yang mengorbankan diri. Salib adalah bukti bahwa kasih Allah tidak mengabaikan dosa, namun juga tidak membiarkan manusia binasa di dalamnya.

Kiranya gereja Tuhan dipenuhi oleh kasih yang mengampuni dan memulihkan, kasih yang menyembuhkan jiwa, menjaga kesatuan, dan memuliakan Kristus di tengah dunia. Amin

Rabu, 04 Februari 2026

Keprihatinan dan Kasih dalam Pelayanan Lintas Gereja - Suatu Kesaksian

Oleh : Fredrik Dandel

Sekitar pertengahan bulan Januari tahun 2022, sebelum saya bergabung dengan Gereja Bethel Indonesia, waktu itu saya masih memegang jabatan sebagai Sekretaris Kecamatan Siau Barat Selatan juga sebagai Ketua Pembangunan (Pastori). Saya pernah menyampaikan sebuah keprihatinan secara terbuka di hadapan Jemaat Tuhan di salah satu gereja lokal tempat kami digembalakan. Keprihatinan tersebut muncul ketika seorang pelayan puji-pujian dari gereja lain diminta untuk melayani pada ibadah hari Minggu di gereja kami oleh gembala jemaat.

Sejujurnya, saya memandang bahwa pelayanan lintas gereja pada dasarnya adalah sesuatu yang baik dan dapat menjadi berkat, selama tidak mengganggu kesetiaan dan tanggung jawab seorang pelayan di gereja lokal tempat ia digembalakan. Hal ini pernah saya sampaikan sebelumnya, ketika pelayan yang sama diminta melayani dalam ibadah keluarga, pada saat gereja asalnya tidak sedang melaksanakan ibadah. Dalam situasi tersebut, saya melihatnya sebagai bentuk kebersamaan dan tidak menimbulkan keberatan di hati saya.

Namun, persoalan terasa berbeda ketika pelayanan diminta pada hari Minggu, saat gereja lokal tempat pelayan itu berjemaat juga sedang melaksanakan ibadah. Hari Minggu adalah momen yang sangat berharga bagi kehidupan jemaat, terlebih bagi gereja yang jumlahnya tidak banyak. Saya mencoba membayangkan perasaan hati seorang gembala sidang yang setia menggembalakan jemaatnya. Ketika satu keluarga tidak dapat hadir karena dengan alasan sedang diminta melayani di tempat lain.... !!! Hal itu tentunya dapat menghadirkan rasa kehilangan, kesedihan, bahkan luka yang tidak selalu terlihat. Bukan semata-mata karena berkurangnya tenaga pelayanan, tetapi karena kebersamaan dan ikatan rohani yang seharusnya terbangun dalam ibadah bersama menjadi terputus.

Atas dasar empati dan keprihatinan tersebut, dengan tegas saya menyampaikan bahwa hal ini perlu disikapi dengan sangat bijaksana. Saya melihat adanya potensi dampak yang kurang baik, baik bagi kehidupan internal jemaat maupun dalam relasi antar gereja. Komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan pengertian yang tulus antar para gembala perlu dikedepankan. Seyogyanya setiap pelayanan yang dilakukan sungguh-sungguh menjadi berkat, tanpa meninggalkan luka di hati para gembala dan jemaat lokal yang dengan setia melayani Tuhan di tempat mereka masing-masing. SEMOGA..... !!!

Minggu, 04 Januari 2026

PERSIAPAN HATI UNTUK REVIVAL. Teks Utama: Mazmur 51:12–15

PENDAHULUAN

Kebangunan rohani sering kali kita bayangkan sebagai ibadah yang penuh kuasa, gereja yang dipenuhi orang, dan suasana rohani yang menggetarkan. Namun Alkitab mengajarkan bahwa revival tidak pernah dimulai dari luar manusia, melainkan dari dalam hati. Tuhan tidak terlebih dahulu mengubah keadaan, tetapi mengubahkan manusia. Karena itu, sebelum kita berbicara tentang kebangunan di gereja, kota, atau bangsa, Firman Tuhan mengajak kita untuk bertanya: apakah hati kita sudah siap di hadapan Allah?

Mazmur 51 lahir dari salah satu momen tergelap dalam hidup Daud. Setelah ditegur oleh nabi Natan atas dosanya, Daud tidak melarikan diri dari Tuhan, tetapi justru datang dengan hati yang hancur dan jujur. Ia menyadari bahwa akar persoalannya bukan sekadar kesalahan moral, melainkan hati yang telah tercemar. Dari tempat pertobatan inilah kita belajar bahwa revival sejati sering kali lahir bukan dari kekuatan, melainkan dari kerendahan hati dan kejujuran di hadapan Allah.

Dalam Mazmur 51:12–15, kita melihat doa yang sangat mendalam, doa seorang hamba Tuhan yang rindu dipulihkan dari dalam ke luar. Daud memohon hati yang baru, hadirat Roh Kudus, sukacita keselamatan, dan hidup yang kembali dipakai Tuhan. Firman ini menuntun kita memahami bahwa persiapan hati adalah fondasi utama revival. Tanpa pembaruan hati, kebangunan rohani hanya akan menjadi semangat sesaat, bukan karya Allah yang mengubahkan.

I. HATI YANG DICIPTAKAN KEMBALI OLEH ALLAH (Mazmur 51:12)

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.”

Daud menyadari bahwa masalah utamanya bukan hanya perbuatan dosa, tetapi kondisi hatinya. Ia tidak berkata, “perbaiki aku,” melainkan, “ciptakanlah aku kembali.” Kata “jadikanlah” menunjuk pada karya penciptaan ilahi, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri.

Revival selalu dimulai ketika manusia berhenti memperbaiki diri dengan kekuatannya sendiri dan berserah penuh kepada karya anugerah Allah. Hati yang tahir bukan hasil disiplin moral semata, melainkan hasil sentuhan penciptaan ulang oleh Tuhan. Tanpa pembaruan hati, revival hanya akan menjadi euforia rohani yang sementara.

Persiapan hati untuk revival dimulai ketika kita mengizinkan Tuhan menjamah akar kehidupan kita, pikiran, motivasi, dan kehendak, bukan hanya perilaku lahiriah.

Ayat Pendukung:

1. Yehezkiel 36:26 – “Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru dan roh yang baru di dalam batinmu.”

2. 2 Korintus 5:17 – “Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.”


II. HATI YANG TETAP HIDUP DALAM HADIRAT ROH KUDUS (Mazmur 51:11)

“Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku!”

Setelah memohon hati yang baru, Daud berdoa agar hadirat Tuhan tidak meninggalkannya. Ia belajar dari sejarah Saul bahwa keberadaan Roh Kudus bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Bagi Daud, kehilangan hadirat Tuhan adalah bencana rohani yang paling besar.

Revival tidak terjadi di tempat yang hanya ramai secara rohani, tetapi di hati yang bergantung penuh pada kehadiran Roh Kudus. Tanpa Roh Tuhan, ibadah menjadi rutinitas dan pelayanan menjadi aktivitas kosong. Namun ketika Roh Kudus hadir dan memimpin, pembaruan sejati terjadi.

Persiapan hati untuk revival menuntut kerendahan hati untuk terus hidup dalam ketergantungan kepada Roh Kudus, bukan pada pengalaman masa lalu atau jabatan rohani.

Ayat Pendukung:

1. Keluaran 33:14 – “Kehadiran-Ku sendirilah yang akan menyertai engkau.”

2. Roma 8:9 – “Jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.”


III. HATI YANG DIPULIHKAN DALAM SUKACITA KESELAMATAN (Mazmur 51:12)

“Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena keselamatan dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela.”

Dosa tidak selalu membuat seseorang meninggalkan iman, tetapi sering kali merampas sukacita keselamatan. Daud masih mengasihi Tuhan, tetapi hatinya menjadi kering dan kehilangan kegairahan rohani. Karena itu, ia berdoa agar Tuhan membangkitkan kembali sukacita tersebut.

Revival selalu ditandai dengan kembalinya sukacita rohani, bukan sukacita emosional, melainkan kegembiraan karena diselamatkan oleh anugerah. Sukacita ini melahirkan “roh yang rela”: hati yang taat, lembut, dan siap dipimpin Tuhan.

Tanpa sukacita keselamatan, pelayanan menjadi beban. Dengan sukacita yang dipulihkan, ketaatan menjadi respons kasih.

Ayat Pendukung:

1. Nehemia 8:11 – “Sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu.”

2. Roma 14:17 – “Kerajaan Allah… adalah kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”


IV. HATI YANG DIPAKAI UNTUK MEMULIHKAN ORANG LAIN (Mazmur 51:13)

“Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.”

Daud memahami bahwa pemulihan pribadi bukan tujuan akhir. Hati yang telah disentuh Tuhan akan dipakai untuk memulihkan orang lain. Revival sejati selalu menghasilkan dampak misioner, orang yang dipulihkan akan menjadi saksi bagi sesamanya.

Kesaksian yang paling kuat bukan berasal dari kesempurnaan, melainkan dari hidup yang telah dipulihkan oleh anugerah. Tuhan sering memakai bekas luka pertobatan untuk membawa orang lain kembali kepada-Nya.

Persiapan hati untuk revival mencapai puncaknya ketika hidup kita menjadi alat Tuhan bagi pertobatan dan pemulihan banyak orang.

Ayat Pendukung:

1. Lukas 22:32 – “Engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

2. 2 Korintus 1:4 – “Ia menghibur kami… supaya kami sanggup menghibur mereka.”


PENUTUP

Revival bukan peristiwa yang kita atur, melainkan karya Allah yang lahir dari hati yang berserah. Mazmur 51 mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak terutama mencari ibadah yang ramai, tetapi hati yang hancur, tahir, dan rindu akan hadirat-Nya. Sebelum Allah membangkitkan umat-Nya secara luas, Ia terlebih dahulu membangkitkan manusia di hadapan-Nya, menciptakan hati yang baru dan memperbaharui roh yang teguh.

Karena itu, panggilan Firman hari ini bukan pertama-tama untuk melihat ke luar, tetapi ke dalam diri kita. Apakah sukacita keselamatan masih menyala? Apakah Roh Kudus masih kita rindukan lebih dari keberhasilan pelayanan? Revival sejati dimulai ketika kita berhenti mengandalkan pengalaman rohani masa lalu dan kembali datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah, berkata, “Tuhan, tanpa Engkau aku tidak sanggup berjalan.”

Kiranya doa Daud menjadi doa kita bersama: “Ciptakanlah hatiku kembali, ya Allah.” Jika doa ini lahir dari kedalaman hati umat Tuhan, maka kebangunan rohani bukan sekadar harapan masa depan, melainkan pekerjaan Allah yang sedang dimulai hari ini, di dalam hati kita, melalui hidup kita, dan akhirnya mengalir kepada banyak orang bagi kemuliaan nama-Nya.