Sabtu, 25 Januari 2025

Terang yang Membawa Pengharapan

Yesaya 9:2 "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar..." 

Oleh : Pdm. Fredrik Dandel, S.T, S.Th, M.Ag, M.Th.

(Khotbah ini pertama kali saya khotbahkan pada tgl. 1 Desember 2024 pada saat Perayaan Pra Natal Wanita Bethel Indonesia di Gereja GBI Mala-Siau).

Pendahuluan:

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus, kita hidup di dunia yang sering kali diliputi oleh kegelapan. Kegelapan ini bisa datang dalam berbagai bentuk—dosa, penderitaan, kekelaman rohani, bahkan ketakutan dan kecemasan yang tak terungkapkan. Seperti bangsa Israel pada zaman Yesaya, kita juga terkadang merasa terperangkap dalam kegelapan hidup, tanpa arah yang jelas. Namun, dalam kegelapan itulah, Allah memberikan pengharapan yang luar biasa. Yesaya 9:2 berkata, "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar..."

Ayat ini menggambarkan kedatangan terang yang membawa harapan, terang yang tidak hanya menerangi dunia ini tetapi juga membawa keselamatan, kehidupan, dan pembaruan. Terang ini adalah Yesus Kristus, Sang Terang Dunia. Ketika kita memandang kepada-Nya, kita tidak hanya melihat cahaya yang memancar di tengah kegelapan, tetapi kita juga melihat pengharapan yang tak terhingga—pengharapan yang membawa kita keluar dari kegelapan dosa dan memulihkan hubungan kita dengan Allah.

Hari ini, kita akan merenungkan betapa pentingnya terang ini dalam kehidupan kita. Terang yang membawa pengharapan, yang memampukan kita untuk berjalan dengan iman di tengah-tengah dunia yang penuh tantangan ini. Semoga melalui firman Tuhan hari ini, kita dapat semakin memahami betapa besar kasih Allah yang mengirimkan terang-Nya ke dalam hidup kita, dan bagaimana kita dipanggil untuk merespons terang tersebut dengan hidup yang penuh pengharapan.

1. Kegelapan: Kondisi Umat Manusia Tanpa Allah

(kegelapan = ḥōšek melambangkan dosa dan penderitaan). Kekelamam = aravel. Dalam konteks teologi, ḥōšek sering dihubungkan dengan keadaan tanpa Tuhan. Kehadiran Tuhan adalah terang, sementara ketiadaan-Nya sering digambarkan sebagai kegelapan. Dalam Yesus Kristus, Sang Terang Dunia, ḥōšek diatasi oleh terang ilahi.

Yesaya 9:2 menggambarkan kegelapan sebagai kondisi bangsa Israel yang hidup jauh dari Allah. Kegelapan ini melambangkan dosa, pemberontakan, dan konsekuensi yang memisahkan manusia dari hubungan dengan Sang Pencipta. Bangsa Israel sering kali berbalik kepada ilah-ilah palsu dan mengabaikan hukum-hukum Tuhan, yang menyebabkan mereka jatuh ke dalam penderitaan dan keputusasaan (Yesaya 8:21-22). Kondisi ini relevan untuk kita hari ini, di mana dosa masih menciptakan jarak antara manusia dengan Allah, menjadikan hati manusia gelap dan kehilangan arah.

Tanpa terang Allah, manusia kehilangan arah rohani. Dalam Amsal 4:19 dikatakan, “Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.” Ketika manusia mengandalkan hikmatnya sendiri, mereka tersesat dan berjalan di jalan yang membawa kebinasaan. Kegelapan di sini juga meliputi keputusasaan, ketakutan, dan penderitaan yang dihasilkan dari kehidupan tanpa pengenalan akan Allah. Hati yang kosong tanpa Allah sering mencari kepuasan dalam hal duniawi, tetapi semua itu berakhir sia-sia.

Dalam konteks pribadi, kita juga bisa mengalami kegelapan dalam bentuk pergumulan, dosa tersembunyi, atau ketakutan akan masa depan. Kabar baiknya adalah kegelapan bukanlah akhir cerita. Advent mengingatkan kita bahwa Allah tidak membiarkan manusia tinggal dalam kegelapan. Sebaliknya, Dia mengutus terang-Nya untuk membawa pembebasan. Mazmur 18:28 berkata, “Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku.”

2. Terang yang Besar: Janji Kedatangan Sang Mesias

Dalam bahasa Ibrani, kata untuk terang adalah "אוֹר" (ʾōr). ōr dapat merujuk pada: 1. Terang fisik, seperti cahaya dari matahari, bulan, atau sumber lain. 2. Terang simbolik, yang melambangkan kehidupan, kebenaran, atau kehadiran Allah. 3. Terang rohani, yang menggambarkan pencerahan, keselamatan, atau pengharapan yang berasal dari Tuhan.

Dalam teologi, ʾōr sering dipahami sebagai perwujudan kehadiran Allah. Yesus Kristus diidentifikasi sebagai "Terang Dunia" dalam Yohanes 8:12, yang merupakan penggenapan dari banyak nubuatan tentang terang dalam Perjanjian Lama, seperti Yesaya 9:2. Kehadiran terang berarti penyingkiran kegelapan, baik secara fisik maupun rohani.

Yesaya 9:2 memberikan nubuatan yang mengarahkan perhatian kepada Kristus, Sang Terang Dunia. Terang ini melambangkan kehadiran Allah yang membawa harapan, keselamatan, dan kehidupan baru. Yohanes 1:4-5 menegaskan, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Kehadiran Yesus adalah pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa dan mengarahkan mereka kembali kepada terang kebenaran.

Yesus tidak hanya membawa terang, tetapi Dia sendiri adalah terang itu. Dalam Yohanes 8:12, Yesus berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Dengan terang-Nya, Yesus membuka jalan bagi manusia untuk memiliki hubungan yang dipulihkan dengan Allah. Terang ini memberikan kehidupan yang penuh makna, bukan hanya untuk dunia ini, tetapi juga untuk kekekalan.

Pengharapan yang dibawa oleh terang Kristus memberikan sukacita di tengah kegelapan. Sebagaimana bangsa Israel yang berjalan di tengah penderitaan dapat melihat harapan di depan mereka, kita juga dipanggil untuk bersandar pada Kristus sebagai sumber pengharapan di tengah tantangan hidup. Roma 15:13 mengingatkan kita bahwa Allah adalah sumber pengharapan: “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu.”

3. Respons Manusia terhadap Terang

Yesaya 9:2 tidak hanya menyatakan bahwa terang telah datang, tetapi juga menantang kita untuk merespons terang itu. Terang ini bukan untuk diamati saja, tetapi untuk diterima dengan iman. Yohanes 3:19-21 menegaskan bahwa respons manusia terhadap terang menentukan nasib rohaninya: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” Menerima terang Kristus berarti bertobat dari dosa dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia. Dalam Matius 5:14-16, Yesus berkata bahwa kita adalah terang dunia yang harus memancarkan terang itu melalui perbuatan baik, sehingga nama Bapa di surga dimuliakan. Kehadiran kita di dunia ini adalah untuk menjadi saksi Kristus, membawa kasih, pengharapan, dan kebenaran kepada orang-orang di sekitar kita. Terang Kristus tidak hanya mengubah hidup kita, tetapi juga hidup orang lain melalui kita.

Advent juga adalah waktu refleksi untuk melihat apakah kita benar-benar hidup sebagai anak-anak terang. Efesus 5:8-9 berkata, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.” Respons kita terhadap terang menunjukkan apakah kita sungguh-sungguh berjalan dalam kehendak Allah atau masih terjebak dalam kegelapan dunia ini.

Penutup:

Yesaya 9:2 mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya dalam kegelapan. Kristus, Sang Terang Dunia, datang untuk membawa pengharapan dan keselamatan. Dalam masa Advent ini, mari kita memperbarui iman kita kepada-Nya, hidup dalam terang-Nya, dan menjadi saluran terang bagi dunia di sekitar kita.

Doa: "Ya Tuhan, terima kasih untuk terang-Mu yang menyinari hati kami. Tolong kami untuk hidup seturut kehendak-Mu, menjauhi kegelapan, dan menjadi saksi terang-Mu bagi dunia. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar